HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
BAKSO CINTA


__ADS_3

“Lhe, Mas Yadi nawarin kamu bantu-bantu kerja di warung baksonya.” Belum juga bakul jamu diturunkan dari gendongan, Mbok Sam sudah ceriwis memberi tahu kabar baik pada anaknya.


“Aku mau, Mbok,” sahut Abimanyu cepat.


“Besok, kamu pagi-pagi datang ya ke warung depan kecamatan. Biar besok Simbok antar!”


“Iya, Mbok.”


“Sekarang, timbain air dulu buat Simbok cuci botol-botol jamu ini!” titah Mbok Sam yang langsung diiyakan anaknya.


Abimanyu mengisi dua ember hitam lalu menggotongnya ke depan pintu kontrakan.


******


Pagi-pagi sebelum jualan, Mbok Sam mengantar Abimanyu ke warung bakso milik Yadi.


“Ini lho Mas Yadi, Abimanyu adiknya Arjuna,” tutur Mbok Sam.


“Wealah, kamu sudah gede ya Bima. Padahal dulu kamu itu suka nangis di kolong meja,” cerita Yadi sambil terkekeh mengingat masa kecil Abimanyu.


“Moso Mas?” tanya Abimanyu seperti lupa momen itu.


“Iya, aku inget itu. Kamu juga sukanya ngambilin jambu sama manggaku sampai simbokku marah-marah,” ujar Yadi tambah terkekeh.


“Udah, udah!” Mbok Sam menyudahi kelakaran itu. “Simbok titip Bima ya Mas, ajarin dia sampai pinter nyari duit.”


Mbok Sam pamit. Mulai menjajakan jamu gendongnya.


Dengan seksama, Abimanyu memperhatikan dengan detail setiap arahan Yadi. Tak lama anak itu mulai menyapu, mengepel dan mengelap meja dan kursi. Selesai itu, ia menata gelas, jeruk. Mengisi toples gula yang sudah kosong. Mengambil air teh yang sudah disaring ke teko besar.


Membantu temannya yang kewalahan membawa sawi dan mie bersamaan. Mengambil ayam kecap untuk mie ayam.


Memasukkan bakso-bakso berbagai ukuran ke gerobak. Membantu karyawan lain yang sedang membungkus saos dan sambal.


Warung Bakso Cinta siap dibuka. Senyum cerah tersungging dari para karyawan. Beberapa langganan memesan bakso dan mie ayam.


“Mar, kamu masih ingat ga ma Bima?” tanya


Yadi kepada adiknya yang baru selesai mandi.


“Bima_adiknya Arjuna yang suka nyuri mangga dan jambu itu?” jawab Damar disambut tawa kakaknya.

__ADS_1


“Yupz betul.” Yadi mengacungkan jempol. “Nih dia anaknya.” Lanjutnya sembari menepuk-nepuk pundak anak yang dimaksud.


“Udah gede ya?” sahut Damar.


“Ya iyalah, dia kan seumuran Asma.”


“Gimana kabar Masmu, Juna?” tanya Damar ingin tahu kabar teman kecilnya.


“Mas Juna kuliah di Solo, Mas,” jawab Abimanyu.


“Keren masmu itu. Dari kecil memang otaknya encer. Semoga nanti dia jadi orang sukses ya!” doa Damar untuk kebaikan teman kecilnya.


“Aamiin.” Abimanyu mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.


********


Tak butuh lama bagi Abimanyu untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Dalam waktu singkat, ia sudah akrab dengan semua karyawan Bakso Cinta. Semua pekerjaanpun sudah ia kuasai termasuk ‘nyotot’ alias membuat bulatan bakso. Jelas itu membuat Yadi dan Damar selaku pemilik warung puas dengan hasil kerjanya.


Gayanya yang pecicilan dan terkesan urakan membuat anak-anak dan para pelanggannya selalu senang jika bertemu dengannya. Dari hari ke hari langganan bakso bertambah.


Bahkan ada beberapa Pak Polisi yang suka mampir ke sana.


“Wah parah nih Bima. Ngerjain orang tua sampai ngakak begitu.” Seloroh Yadi tak tahan melihat wajah para Pak Polisi yang memerah menahan tawa sambil geleng-geleng kepala.


“Ga apa-apa Mas Yadi. Buat hiburan di sela-sela tugas,” jawab salah satu polisi.


“Berat tho Pak, tugas polisi itu?” tanya Abimanyu.


“Berat banget Bim, seberat hatiku menahan rindu,” jawab polisi yang lainnya mengundang tawa pengunjung warung. Rupanya Pak Polisi sudah ketularan virus dari Abimanyu.


************


Sebelum magrib warung bakso sudah tutup. Para karyawan berjibaku membereskan semua peralatan jualan dan bersih-bersih warung.


Mereka melaksanakan tugas masing-masing dan saling membantu jika tugas temannya belum selesai. Semua itu dilakukan agar tugas cepat selesai dan segera beristirahat. Rasa lelah sudah menyerang tubuh mereka.


Seperti biasa, sebelum karyawan bubar, Damar memberikan uang makan lima puluh ribu ke semua karyawan. Sengaja semua karyawan dikasih uang yang sama agar tidak terjadi kesenjangan sosial. Diharapkan uang harian itu bisa digunakan untuk jajan atau keperluan lainnya. Jika soal makan, semua karyawan diberi makan gratis tiga kali sehari. Cuma gaji mereka memang dibedakan berdasarkan lama kerja, dan kepandaian dalam bekerja.


Abimanyu tersenyum lalu memasukan uang itu ke saku celana. Dengan semangat ia kayuh sepeda tua peninggalan sang ayah yang dulunya buat belanja bahan-bahan bakso ke pasar. Jakarta di waktu malam sungguh indah dengan kerlap kelip lampu. Tapi tetap menyebalkan dengan hiruk pikuk suara kendaraan dan lalu lalang angkot yang tak beraturan.


**********

__ADS_1


“Assalamualaikum.” Dengan gontai Damar menghampiri kakak, ipar dan adiknya di ruang tamu. Mereka sedang asyik menikmati acara komedi di salah satu TV swasta.


“Makan dulu, Mar!” perintah Marni, sang kakak ipar.


“Nanti, Mbak!” Damar menyodorkan uang hasil warung kepada Yadi, sang kakak.


Dengan teliti Yadi dan Marni menghitung pundi-pundi rezeki mereka hari ini. Senyum mengembang di bibir mereka.


“Warung rame terus akhir-akhir ini,” ujar Marni.


“Mungkin berkah adanya Bima di sana,” jawab Damar.


“Kok bisa?” Marni mengernyitkan dahi.


“Sejak Bima datang memang banyak langganan baru di warung kita, Bu. Pak Polisi juga ada. Lagian Bima itu kerjanya cekatan, cepat tanggap kalau dikasih ilmu,” puji Yadi.


“Dia saja, sudah bisa bikin adoan bakso lho,” imbuh Damar.


“Dan mie ayam buatan Bima itu mengalahkan buatanku dan Mas Yadi. Enak banget bikin orang-orang ketagihan,” tambah Damar lagi.


“Makanya di sana, Bima spesialis bikin mie ayam. Request dari yang beli.”


“Beruntung sekali ya Mbok Sam punya anak seperti Bima. Sudah mau ngalah demi kuliah kakaknya, rajin nyari duit juga,” puji Marni simpati dengan karyawan barunya.


“Ga nyangka ya tuh bocah jadi anak kebanggaan Mbok Sam padahal petakilannya ga bisa dilukiskan dengan kata-kata.” Damar geleng-geleng kepala.


“Petakilan gimana?” tanya Marni penasaran.


“Dia kalau warung lagi sepi, suka dengerin lagu Didi Kempot sambil joget kaya Hanoman,” cerita Damar dengan terkekeh.


“Masa?” wajah Marni seperti tak percaya.


“Ya jelas, lagu favoritnya saja Hamoman Obong,” tutup Yadi membuat seisi ruangan tertawa.


Asmarani yang awalnya asyik dengan buku IPAnya mendadak penasaran dengan sosok Abimanyu yang sedang naik daun di warung bakso kakaknya. Gadis itu bertanya-tanya, seperti apa sih rupa tuh Abimanyu? Ganteng kali ya? Sehingga bisa menarik pelanggan.


“Besok, aku harus ke warung!” titah Asmarani pada diri sendiri. Tak sabar rasanya ingin melihat sosok itu. Sepertinya begitu disukai banyak orang.


“Seganteng apa sih tuh bocah? Apa seganteng Teuku Wisnu?” gumannya lagi dalam hati.


*****

__ADS_1


__ADS_2