
Senyum sumringah menghiasi wajah Arimbi. Hari ini adalah hari yang ditunggu. Dia akan ke pasar membeli perlengkapan bayi. Dari semalam, ia sudah heboh mau beli ini itu. Maklum anak pertama, gadis ini ingin semuanya serba baru.
Wajah Pak Tejo dan Bu Tejo tampak sewot ketika Arjuna masuk ke dalam dengan membawa sebungkus nasi lalu menyeduh kopi sendiri.
“Kamu mau ke mana? Pagi-pagi sudah rapi?” tanya Bu Tejo ketika anaknya ikut ke meja makan.
Arjuna ikut dalam lingkaran meja makan itu.
“Mau ke pasar, Bu. Beli perlengkapan bayi,” jawab Arimbi riang.
“O…punya duit juga,” jawab Bu Tejo menyepelekan.
“Alhamdulillah Bu, ada kalau cuma sedikit,” jawab Arjuna canggung.
“Bu, ikut berangkat bareng ga?” ajak Pak Tejo yang sudah selesai sarapan.
“Iya, ikut!” Bu Tejo mengekor suaminya ke luar rumah.
Tinggal Arjuna dan Arimbi masih asyik menikmati sarapan.
“Mas, nanti kita beli baju, popok, perlak, gendongan, tas, kaos kaki, sepatu, kasur bayi, selimut,kain bedongan,” cerocos Arimbi mengulang perkataannya sebelum tidur semalam.
“O iya, beli kereta bayi juga, ya!” lanjutnya lagi dengan mata berbinar.
Arjuna hanya terdiam. Tak menanggapi ucapan istrinya. Ia tak ingin merusak kebahagiaan Arimbi jika ia tahu uang yang dipunya tidak cukup untuk membeli semua.
*******
Mata Arimbi berbinar mendapati tumpukan baju dan segala macam pernik perlengkapan bayi di toko yang begitu besar itu. Dengan suka cita, putri Bu Tejo itu memasukan perlengkapan bayi sesuka hati ke dalam keranjang.
“Dek, belanjanya secukupnya saja!” ucap Arjuna sembari berbisik.
“Lho, ini juga secukupnya aku ambil. Semua memang yang dibutuhkan dede nanti,” jawab Arimbi santai.
“Tapi duitnya ga cukup kalau beli ini semua.” Kali ini ucapan Arjuna membuat Arimbi bertanya-tanya.
“Emang Mas punya uang berapa?” selidik Arimbi membuat wajah Arjuna sedikit pias.
“Tiga ratus ribu.”
Arimbi mendengus kesal. Uang segithu dapat apa? Kenapa ia kemarin tak menanyakan jumlah uang yang dimiliki suaminya? Biar ia tak berapi-api membeli perlengkapan bayi. Ia kira uang suaminya segepok sehingga ia bebas belanja.
Dengan kesal, ia mengurangi belanjaannya hingga tinggal separo. Ia hanya membeli beberapa barang pokok saja dalam jumlah sedikit.
__ADS_1
Uang tiga ratus ribu pas untuk membeli satu plastik sedang perlengkapan bayi. Dengan muka masam, Arimbi melangkah pulang.
“Kenapa ga bilang sih, uangnya cuma tiga ratus ribu?” tukas Arimbi kesal.
“Aku tak mau merusak kebahagianmu yang begitu senang mau belanja perlengkapan bayi, Dek,” elak Arjuna.
“Kalau sudah begini sama aja! Kamu sudah bikin aku kecewa!” tukas Arimbi kesal. Mendahului langkah suaminya.
Arjuna hanya bisa menatap sendu punggung istrinya. Sejauh ini memang ia belum bisa membahagiakan dia. Tapi bukan ini juga maunya. Dia selalu mengetuk pintu rezeki dari satu kantor ke kantor lainnya. Tapi sayang nasib baik belum berpihak padanya. Perjuangannya belum membuahkan hasil.
********
Wajah masam Arimbi yang baru pulang dari pasar menghadirkan tanda tanya pada Bu Tejo dan Hana yang sedag asyik ngobrol di ruang tamu.
“Lho, ada apa ini?” tanya Bu Tejo pada anaknya yang sudah duduk di sofa. Tampak Arjuna menyusul di belakang.
“Mana belanjaannya? Katanya belanja perlengkapan bayi?” lanjut Bu Tejo.
“Tuh,” Arimbi menunjuk dengan dagunya ke arah plastik hitam yang dipegang Arjuna.
“Cuma segithu?” ucap Hana ikut bertanya.
“Uangnya cuma cukup beli itu doang,” sungut Arimbi.
“Untung kemarin ibu telpon kakakmu. Nanyain bekas baju bayi milik Sheila. Nih dibawain sampai tiga kardus.” Bu Tejo membuka kardus berisi baju-baju bekas.
“Masih bagus-bagus ini. Maklum barang mall,” sambung Hana pamer.
“Ini, masih ada labelnya?” Bu Tejo memperlihatkan beberapa barang.
“Oh, itu kado dari teman-teman kantorku dan teman-teman kantor Mas Desta.”
“Enak ya kalau punya suami mapan itu. Bisa beli ini itu tanpa harus mikir,” sindir Bu Tejo sambil melirik Arjuna yang sibuk memainkan ujung kaosnya.
“Besok, mbak bawain kereta bayi milik Sheila.”
Karena asyik memilah-milah baju, Arimbi tak mengacuhkan perkataan Bu Tejo dan Hana yang melukai perasaan suaminya.
********
“Lega aku Mas, dapat lungsuran baju buat anak kita. Yang baru juga banyak.”
“Jadi nanti ga khawatir jika hujan, stok baju anak kita banyak.”
__ADS_1
“Mana itu barang Matahari semua lho, Mas. Pasti mahal harganya.”
“Enak banget ya Mbak Hana. Udah dia kerja jadi Manager Bank, suaminya bos showroom mobil lagi.”
Sambil terus memijit kaki istrinya, Arjuna hanya terdiam mendengar semua cerita Arimbi tanpa menimpali. Andai ia bisa menjawab, sebenarnya ia sakit hati dengan ucapan kalimat yang begitu menyanjung kakak dan iparnya.
Jika ia punya uang segunung tentu ia akan memberikan apa saja demi kebahagian sang istri. Seumur-umur Mbok Sam belum pernah menbandingkan dirinya dengan siapapun meski dengan adiknya, Abimanyu. Bagi Mbok Sam, dia adalah anak kebanggaan yang akan mengangkat derajat orang tua.
“Coba kamu sudah mapan, Mas. Tentu kita bisa beli sendiri semua perlengkapan dede bayi tak perlu nunggu lungsuran dari Mbak Hana."
“Beruntungnya jadi Mbak Hana itu. Dari awal nikah hidupnya sudah enak. Punya rumah sendiri tanpa perlu ngontrak di petakan sempit. O iya, Mas, rumah Mbak Hana itu besar banget dan mewah. Di setiap kamarnya itu pakai AC.”
“Terus motor di rumah itu ada dua. Sering gonta ganti mobil karena suaminya punya showroom mobil.”
“Pokoknya Mbak Hana itu wanita paling beruntung di dunia. Dicintai sepenuh hati oleh Mas Desta yang mapan dan kaya.”
“Padahal kalau dilihat-lihat, wajah Mbak Hana itu standart. Lebih cantikan aku. Tapi hidupnya memang mujur dibanding aku.”
Arjuna menghentikan pijatannya.
“Lho, Mas kok sudah? Kan aku masih capek?” rajuk Arimbi yang tak digubris Arjuna.
Pemuda lulusan sarjana itu melenggang ke luar. Duduk di teras sembari melihat kendaraan yang berlalu lalang. Rumah besar ini membuatnya kecil dan tak terlihat.
Secinta-cintanya ia pada Arimbi, toh dia cuma manusia biasa. Yang bisa sakit hati jika terus dipojokkan. Dibanding-bandingkan dengan Desta yang jauh segalanya jelas membuatnya bagai butiran debu di tumpukan emas. Harusnya sebagai istri, Arimbi bisa menjaga perasaannya. Bukan ikut seperti mereka yang terus menganggapnya ga ada.
“Kopi, Mas!” Paijo membawa dua cangkir kopi dan seplastik gorengan.
“Udah, makasih,” tolak Arjuna halus.
“Tenang, ini beli pakai uang sendiri Mas Juna bukan kopi dan gorengan Bu Tejo,” sahut Paijo sambil tertawa.
“Mas Paijo bisa aja.”
“Mas Juna sabar ya! Itu bedanya Mas kalau kita miskin, dihina dan tak dianggap.” Paijo menghembuskan asap rokok yang dia hisap sehingga menghadirkan asap di sekitar.
“Tapi, Paijo yakin, suatu saat Mas Juna bisa sesukses Mas Desta. Bahkan lebih sukses darinya.” Doa tulus Paijo.
“Aamiin.” Arjuna mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Malam makin larut namun dua lelaki itu masih asyik dengan obrolan yang seru. Tertawa sampai terpingkal-pingkal. Membuat Arjuna lupa sejenak kedudukannya sebagai mantu di rumah besar ini.
******
__ADS_1