
Arjuna terus memaksakan keinginanya untuk kuliah. Dengan gigih ia menjabarkan apa yang akan ia raih di masa depan. Rumah yang bagus, gaji besar, punya mobil dan bisa memberangkatkan simboknya ke tanah suci.
“Mbok, Juna janji kalau nanti sudah sukses, Juna akan bahagiain Simbok. Beli rumah dan tanah untuk Simbok. Nabung untuk Simbok berangkat haji,” janji Arjuna tentang kenikmatan masa depan jika nanti ia lulus sekolah.
“Tapi Lhe, Simbok ga punya uang untuk biaya kamu kuliah.” Selalu itu yang meluncur dari wanita berusia empat puluh tahun itu.
“Lha Simbok ‘kan jualan?” sanggah Arjuna masih teguh mempertahankan mimpinya.
“Jualan jamu ga seberapa dapatnya. Sudah syukur bisa untuk hidup dan biaya sekolah kalian. Abimanyu dan Mentari juga masih butuh sekolah, Lhe.”
“Halah Simbok ini! Lebih mementingkan Abimanyu dan Mentari. Masa depanku tak dipikirkan sama sekali!” cecar Arjuna merasa ibunya pilih kasih.
“Ya, bukan begitu tho Lhe. Kamu kan sudah lulus SMA. Harusnya kamu bantuin Simbok nyari duit,” pintanya menasihati.
“SMA dapat kerja apa? Paling buruh pabrik,” tukas Arjuna kesal. “Aku ga mau jadi buruh pabrik. Kerjanya pakai otot gajinya kecil.”
“Ya sudah, bantuin Mas Giman saja di warung baksonya,” usul Mbok Sam langsung ditolak sang anak.
“Ga mau aku kerja rodi.” Arjuna membanting kursi kayu bekas ia duduk. Meninggalkan ibu bermata sayu memandang punggungnya yang kian menjauh.
Pertengkaran Mbok Sam dan Arjuna tak terelakkan. Meskipun sudah dinasihati puluhan kali namun Arjuna tak bergeming. Pemuda itu tetap pada pendiriannya. Puncaknya sudah beberapa hari ini Arjuna tak menyapa ibunya. Selalu buang muka saat beradu tatap dengan Mbok Sam.
“Juna kemana, Sam?” tanya Biyung saat makan bersama selepas magrib.
Menu sederhana tersaji di meja. Sayur lombok, oseng pepaya dan tempe goreng sungguh memanggil-manggil ingin disantap. Ditambak krupuk gendar di toples, tambah bikin kriuk-kriuk saat makan.
“Ga tahu Yung, dari pagi belum pulang,” jawab Mbok Sam gusar. “Kamu tahu kemana masmu?” tanyanya kepada kedua anaknya.
“Tadi siang aku lihat di rumah Pakde Tedjo,” jawab Mentari sesudah menyuap nasi.
“Ngapain dia di rumah Pakdemu?” terka Mbok Sam.
“Numpang tidur kali Mbok, Rumah Pakde ‘kan besar dan bagus. Tidurnya pasti juga di spring bed,” sambung Abimanyu.
Mbok Sam menelan nasinya berat. Memang benar rumahnya masih bilik bambu. Namun alhamdulillah tidurnya sudah pakai ranjang kayu beralaskan kasur kapuk.
“Besok kamu jemput Juna. Ga enak kalau dia numpang makan dan tidur di rumah Tedjo meski masih kerabat sendiri!” titah Biyung.
Almarhum ibunya PakTedjo itu kakaknya Biyung. Namun semenjak ibunya meninggal, Pak Tedjo berubah kepada Biyung karena Biyung orang miskin. Sedangkan usaha kelontong dan warung jamu Pak Tedjo di Jakarta sukses besar. Mampu menjadikannya orang paling kaya di kampung ini.
********
Selepas rapi beres-beres rumah dan masak, Mbok Sam bergegas ke rumah Pak Tedjo.
Rumah mewah itu terlihat rame oleh anak-anak nongkrong. Maklum Pak Tedjo lebih sering merantau di Jakarta. Pulang kampung jika ada keperluan atau ada kerabat dan tetangga yang hajatan.
“Assalamualaikum.” Mbok Sam melepas sandalnya.
__ADS_1
“Waalaikumsalam,” jawab anak-anak serempak.
“Cari Juna, Mbok?” tanya Ari tanpa basa basi.
“Iya. Mana anaknya?” tanya Mbok Sam sembari celingak-celinguk mencari anaknya.
“Jun, dicariin nih?” teriak Ari.
Tak berapa lama seorang pemuda berwajah ganteng muncul dari dalam rumah, Wajahnya seketika berubah geram.
“Ayo Lhe, pulang!” ajak Mbok Sam.
“Aku ga akan pulang kalau Simbok belum setuju kalau aku kuliah!” rajuk Arjuna.
Mata anak-anak itu menatap ke arahnya dan Mbok Sam tanpa kedip. Kasak-kusuk mulai tak enak terdengar di telinga.
“Kita pulang dulu! Kita bicarakan dulu bersama Biyung,” ucapnya lemah lembut.
“Kalau sampai aku ga kuliah, lebih baik aku kabur,” ancam Arjuna serius.
Arjuna berjalan pulang meninggalkan ibunya. Dengan buru-buru, Mbok Sam mengekor Arjuna pulang.
************
Keinginan Arjuna untuk kuliah begitu kuat. Mbok Sam dan Biyung tak mampu membendung keinginan itu. Wanita yang sudah banyak guratan itu hanya bisa pasrah mengiyakan keinginan anaknya.
Mbok Sam memegang lembut tangan Abimanyu. Mengusapnya berkali-kali. Butuh kekuatan untuk membujuk anak keduanya mengalah.
“Bim, kamu ngalah ga sekolah ya! Demi masmu.” Mbok Sam menghembuskan napas panjang. Meski berat namun hal ini tak boleh disimpan.
Abimanyu menatap mata sayu ibunya lekat-lekat. Wajah yang lebih tua dari umurnya itu penuh guratan perjuangan. Tak sampai hati Abimanyu menolak permintaan ibunya.
“Iya, Mbok!” jawabnya sambil mengangguk pelan. Padahal di lubuk hatinya yang paling dalampun, ia ingin menikmati masa putih abu-abu.
“Alhamdulillah.” Mbok Sam tersenyum.
“Makasih ya Bim, sudah mengerti keadaan Simbok.”
*********
Dengan ceria Arjuna menghampiri keluarganya yang sedang asyik duduk di lincak teras depan.
“Mbok, aku sudah daftar di kampus swasta. Uang masuknya lima belas juta.” Arjuna
menunjukkan berkas-berkas dari kampus.
“Kenapa ga lewat UMPTN saja sih, Mas? Biar dapat negeri jadi biayanya lebih murah,” ujar Abimanyu membuat raut wajah kakaknya berubah.
__ADS_1
“Aku gagal ikut UMPTN.”
“Mungkin bisa dicoba tahun depan lagi biar bisa masuk kampus negri.” Ucapan Mbok Sam tak disukai Arjuna.
“Kalau nunggu tahun depan, kelamaan Mbok lulusnya,” jawab Arjuna mulai kesal.
“Tapi lima belas juta itu ga sedikit. Uang dari mana?” jelas Mbok Sam tetap tak meluluhkan hati anaknya.
“Simbok bisa jual sawah,” jawab Arjuna cepat.
“Kalau sawah dijual, kita mau makan dari mana?” hardik Biyung tiba-tiba. “Lagian sawah itu punyaku, seenaknya mau jual-jual.”
Arjuna melengos. Tak berani menatap mata tajam neneknya. Meski mata itu sudah tua, tapi ketajamannya masih bisa merobek-robek hati bila marah.
“Simbok bisa jual emas,” usul Arjuna enteng.
“Pokoknya aku ga mau tahu. Tahun ini aku harus kuliah. Titik!”
Seperti biasa Arjuna selalu meninggalkan perdebatan kuliah ini dengan rasa kesal.
Pikiran anak muda yang belum tahu susahnya mencari uang, selalu menggampang semua hal. Menganggap pendapatnya paling benar padahal keliru.
Dengan tatapan kosong, Mbok Sam melihat punggung Arjuna yang langsung ke luar rumah hingga tak terlihat lagi. Anak pertamanya itu memang keras kepala. Apa yang diingin harus diiyakan, Tak pernah mau mendengar nasihat baik itu dari Biyungnya sendiri. Kadang Mbok Sam dibuat bingung menghadapi anak tertuanya.
******
Mbok Sam menghitung lembar demi lembar uang hasil penjualan semua perhiasan. Gelang, kalung, anting dan cicin itu hanya terjual sembilan juta. Maklum Mbok Sam hanya bisa membeli emas murah bukan yang dua puluh empat karat. Itupun ia beli untuk dipakai saat sedang membantu hajatan, dipakai ke kondangan atau saat lebaran. Maklum orang desa selalu memakai perhiasan pada saat-saat penting seperti itu.
“Masih kurang berapa?” Tiba-tiba Biyung mengejutkan Mbok Sam yang sedang duduk di meja makan.
“Baru sembilan juta, Yung,” jawabnya lirih.
Biyung menyodorkan sebuah gelang beserta suratnya.
“Ini beratnya sepuluh gram. Jual saja untuk nambahin uang kuliah Juna,” ucap Biyung.
“Jangan Yung, ini kan simpanan Biyung bertahun-tahun,” tolak Mbok Sam tak enak.
“Gapapa. Aku ngasih buat cucu.” Biyung terus memaksa.
Mata Mbok Sam berkaca-kaca. Trenyuh dengan kasih mertuanya. Biyung mau merawat anak-anaknya saat dirinya merantau ke Jakarta untuk bertahan hidup. Sekarang, ia merelakan gelang pemberian almarhum Pak tuwo untuk menambah uang kuliah cucunya.
************
Lincak : tempat duduk panjang dari bambu
Pak Tuwo : kakek
__ADS_1