
Tiga tahun kemudian...
Arjuna terus semangat menjalani profesinya tanpa malu meski ia direndahkan. Karena itu satu-satunya sumber penghasilan untuk ia bisa menafkahi istri, orang tua dan mertua.
“Masa, sudah numpang cuma ngasih tiga ratus ribu,” cibir Bu Tejo. “Desta saja yang hidup terpisah, selalu ngasih dua juta.”
Muka Arimbi langsung memerah menahan malu. Pukulan tersendiri untuknya setiap bulan ibunya selalu membanding-bandingkan Arjuna dengan Desta.
“Tuh kan Mas, dengar sendiri, kalau kamu itu tidak bisa diandelin jadi suami. Bisanya cuma bikin aku malu di depan ibu!” cecar Arimbi sesudah masuk kamar.
“Iya, maaf. Bisanya Mas cuma ngasih segithu,” kilah Arjuna.
“Udahlah, bulan depan ga usah ngasih ke ibu lagi. Daripada sudah ngasih masih dibanding-bandingin!” ucap Arimbi habis kesabaran pada ibunya.
“Ya sudah, aku nurut. Jatah Ibu dikasih ke Simbok saja ya!”
“Ga, ga, ga!” tolak Arimbi kasar. “Kalau ibuku ga dapat ya simbok ga dapat jatah juga!”
“Ya, ga bisa githu! Ngasih ortu itu wajib sebagai bakti kepada orang tua.”
“Iya, kalau sudah kaya sih ga masalah. Tapi kamu itu masih kere. Buat anak istri saja masih kurang. Dan ingat, kamu itu numpang di rumah mertua bukan di rumah ibu kamu!”
“Oke!” bentak Arjuna. “Besok, aku pindah dari sini! Biar tidak selalu kamu remehkan sebagai suami!” tukas Arjuna mengakhiri pertengkaran.
Arjuna sungguh kecewa dengan Arimbi. Tak menyangka bertahun-tahun ia bekerja tapi tak pernah dihargai. Di saat ia terus diinjak-injak oleh mertuanya, eh sang istri malah ikut-ikutan. Tak mengerti sama sekali dengan posisinya.
******
Seperti biasa Arjuna mengerjakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Menyapu, mengepel, membersihkan meja kerja dan membuatkan karyawan kopi. Maklum hampir semua karyawan di sini begitu menyukai kopi buatan Arjuna karena memang enak.
“Juna, dipanggil Pak Yanto tuh?” ujar Toni, teman OBnya di kantor.
“Dipanggil? Ada apa ya?” tanya Arjuna khawatir.
“Apa aku punya salah ya, Ton?”
“Udah temuin saja, daripada mikir yang enggak-enggak!’ Toni mendorong Arjuna dari dapur.
“Tok…tok..tok!”
“Iya masuk!” terdengar suara Yanto dari dalam ruangan.
Arjuna membuka pintu. “Bapak panggil saya?” tanyanya masih di pintu.
“Masuk Jun!” perintahnya kemudian. “Duduk!”
Agak ragu Arjuna duduk menghadap lelaki yang seumuran dengannya itu.
__ADS_1
“Gini, Jun, saya ingin menawarkan posisi akuntan di kantor kita karena akuntan yang lama baru saja resign.” Yanto membuka obrolan. “Bagaimana kamu mau?”
“Beneran Pak?” tanya Arjuna tak percaya dengan kabar baik itu.
“Bener Jun. Kamu itu bisa diandalkan. Daripada aku nyari lagi mending kamu saja yang gantiin posisi itu.”
“Iya Pak, saya mau,” ucap Arjuna antusias.
“Ya sudah baca perjanjiannya ya! Di sini tertera jika gaji kamu sepuluh juta.”
“Apa Pak? Sepuluh juta?” tanya Arjuna hendak melonjak saking karena kagetnya.
“Iya, Juna.” Yanto memastikan.
“Masyaallah, makasih Pak.”
Arjuna dengan teliti membaca surat perjanjian itu lalu membubuhkan tanda tangan. Ingin segera ia pulang, mengabarkan berita baik itu kepada Arimbi. Tentu hati istrinya akan begitu senang jika pekerjaannya bukan lagi OB melainkan staf akuntan dengan gaji sepupuh juta.
Sesampai di rumah, Arjuna bergegas menemui Arimbi yang sedang rabahan sembari main gawai di kamar. Tampak Nabila anteng main di karpet.
“Sayang, ada yang mau kukabarkan,” ujarnya bahagia.
“Apa? Mau pindah?” cibir Arimbi. “Emang mampu bayar kontrakan bagus?”
Seketika binar bahagia itu redup. Percuma juga ia mengbarkan kabar baik ini, toh tetap tak dianggap sang istri. Biar saja ia simpan berita baik ini. Nanti sajalah kalau sudah punya rumah sendiri, baru ia bilang.
*******
“Gapapa sekali-kali pakai baju rapi biar ga kelihatan jadi OB lagi,” jawab Arjuna sembari menyantap sarapannya yang ia beli sendiri.
“Banyak gaya. Kalau OB ya tetap OB meski beda pakaian,” sindir Bu Tejo sinis.
Arjuna santai saja menanggapi ucapan sang mertua. Toh tak lama lagi dia bakal pindah rumah, tak lagi di rumah besar ini.
*******
Tiga bulan kemudian uang DP KPR sudah di tangan. Dengan suka cita, ia mengambil sebuah rumah berlantai dua siap huni. Tiga kamar yang lumayan luas. Kamar tamu, ruang makan, ruang keluarga, dapur yang siap pakai, dua kamar mandi, teras yang nyaman dan garasi yang muat satu mobil.
“Dek, aku mau pindah,” ujarnya siang itu membuat Arimbi terkejut.
Diletakkan gawai di atas bantal. Sedikit pesimis, ia menyahuti ucapan suaminya.
“Emang punya duit buat bayar kontrakan yang layak?”
“Ada. Bayar rumah dua lantaipun aku bisa.”
Arimbi mengerling. Tak habis pikir dengan bualan sang suami.
__ADS_1
“Kalau halu tuh jangan tinggi-tinggi,” celotehnya. “Kalau jatuh, sakit.”
“Ya sudah kalau ga percaya?” jawab Arjuna enteng masih mengemasi barang-barangnya dan milik Nabila. “Mau ikut ga?” ajak Arjuna sekali lagi.
Setengah hati, Arimbi mulai mengemasi barang-barangnya. Sebenarnya belum rela ia meninggalkan rumah besar orang tuanya itu. Tapi kalau terus-terusan di sini, iapun pasti makan hati jika Arjuna terus dibanding-bandingkan dengan Mas Desta dan calon suami Nita.
“Bu, kami pamit mau pindah!” pamit Arjuna hanya ditanggapi dengan senyum sinis.
“Emang mampu bayar kontrakan sendiri?” sindir Pak Tejo. “Masih syukur di sini, rumah nyaman tapi gratis.”
“Insyaallah mampu, Pak,” sahut Arjuna berani menatap mertuanya.
“Paling tahan sebulan kamu ngontrak. Habis itu balik lagi ke sini karena ga bisa bayar kontrakan,” doa Bu Tejo.
“Insyaallah tidak, Bu.” Arjuna masih berani menjawab, membuat kedua mertuanya makin keki.
************
Arimbi terpukau menatap rumah dua lantai di depan mata. Rumah yang sudah rapi dan sedap dipandang.
“Rumah siapa ini, Mas?” tanya Arimbi masih dengan takjub.
“Rumah kita.” Jawaban yang bikin istrinya tercengang.
“Duit darimana kamu buat beli?” Sang istri sangsi.
“Dicicil dari gajiku.”
“Mana mungkin, Mas! Gaji OB bisa buat nyicil rumah sebagus ini?”
“Udah tiga bulan ini, aku ga jadi OB lagi tapi akuntan di kantor,” jawab Arjuna membuat mata istrinya berbinar.
“Mas kok ga bilang?”
“Mau ngasih surprise saja,” kilahnya berbohong. Padahal waktu itu ia mau memberi kabar, tapi karena terus-terusan dicibir sang istri, jadinya disimpan saja.
“Masuk, yuk!” Arjuna mengambil kunci.
Arimbi makin dibuat takjub dengan isi rumah yang sudah dipenuhi dengan perabot mahal. Kamar yang nyaman dan sesuai keinginannya. Sekarang ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Menjadi istri seorang pemuda yang mampu menjamin hidupnya dan Nabila.
“Makasih ya, Mas, atas semua kejutan ini!” Arimbi memeluk pinggang suaminya manja.
“Aku makin cinta dan sayang ma kamu.”
Arjuna lega, kekasihnya yang dulu telah kembali. Kekasih yang penuh perhatian dann cinta. Menghargainya menjadi suami. Lemah lembut tutur kata dan perilaku.
***
__ADS_1