
Waktu terus bergulir. Kondisi Biyung tak memberikan tanda-tanda membaik. Wanita senja itu hanya bisa melakukan semua aktivitas di tempat tidur.
Tiba-tiba rasa rindu pada kedua putrinya menyeruak. Semenjak ia masuk rumah sakit dan dinyatakan stroke, mereka tak pernah lagi pulang. Sesekali mereka menelpon, itupun hanya dalam hitungan menit.
“Ri, tolong teleponin budhe dan bulikmu!” pinta Biyung setelah sarapan sisuapin cucunya.
“Baik, Yung.” Mentari menekan nomor budenya. Tak berapa lama suara seorang ibu terdengar.
“Ada apa, Sam?” tanya Bu Mukidi.
“Biyung mau bicara, De,” jawab Menatari.
“O, kamu, Ri?” tanya Bu Mukidi. “Ya sudah, kasih Biyung!”
Ponsel berpindah tangan.
“Halo Nduk, piye kabare?” tanya Biyung.
“Baik Yung, ada apa?”
“Kapan kamu pulang?”
“Ga tahu, Yung. Toko baju lagi sepi dan aku kelilit hutang rentenir. Sehari harus bayar dua ratus ribu. Pusing aku jadinya. Mana Mas Mukidi sekarang jarang dapat tamu yang minta doa pelaris buat dagang atau naik jabatan,” keluh Bu Mukidi.
“Memang kamu ga kangen sama ibumu?” ujar Biyung.
“Ya kangen tho, Yung. Tapi mau gimana lagi, utangku lagi numpuk dan harus dibayar. Kalau bukan aku sendiri yang bayar siapa? Anak saja aku ga punya,” jelas Bu Mukidi panjang lebar.
“Yo wis, Nduk, ati-ati hidup di Jakarta!” pesan Biyung mengakhiri obrolan.
Tangan tua itu mengulurkan ponsel kembali ke cucunya. “Tolong, telponin bulikmu!”
Tak berapa lama terdengar suara anak ketiga Biyung. Mentari langsung mengulurkan ponsel itu kembali kepada Biyung.
“Iya, Yu,” sahutnya.
“Ini Biyung, Rat.”
“O, ada apa, Yung?”
__ADS_1
“Kapan kamu pulang?” tanya Biyung.
“Ga tahu, Yung, kapan. Anak-anakku lagi biaya gede buat buat sekolah dan kuliah. Mana toko mulai sepi karena banyak saingan,” keluh Ratmi.
“Memang kamu ga kangen sama Biyung?”
“Ya kangen,” jawab Ratmi. “Tapi gimana lagi. Kebutuhan anak-anakku banyak ,Yung dan aku harus kerja keras untuk masa depan mereka.”
“Yo wis, Nduk. Ati-ati hidup di Jakarta,” pesannnya sebelum percakapan berakhir.
“Nduk, bilangin sama Lek Marsih untuk manggil Pak Bayan, Pak RT dan kalau ada Pak Lurah sekalian!” titahnya.
“Baik, Yung.” Mentari berlalu.
Mata tua itu nanar menatap langit-langit kamar. Tak terasa butiran bening keluar dari sudut mata. Wanita itu mengelus dada, menahan sedih dan rindu. Anak kandungnya sendiri tak peduli dengannya padahal demi mereka ia berjuang sendirian setelah ditinggal sang suami pergi.
Dulu, Biyung bangga saat kedua putrinya sukses menjadi orang kaya. Berlimpah harta. Ia berpikir jika anak-anaknya kaya, maka hari tuanya akan terjamin. Namun nyatanya tidak. Sampai tuapun ia harus mencari nafkah sendiri. Karena kedua anaknya tidak rutin menafkahi hidupnya tiap bulan. Dan itupun hanya seratus atau dua ratus jika kirim uang.
Di saat sakitpun sama. Ketika raganya tak bisa kemana-mana, kedua anaknyapun tak tergerak hati utnuk merawatnya. Malah melimpahkan tugas merawat kepada sang mantu_Sam.
Beruntung Sam bersedia meski ia minta syarat setiap bulan Bu Mukidi dan Ratmi kirim uang untuk berobat dan membeli pampers Biyung. Namun nyatanya transferan itu hanya bertahan enam bulan saja. Setelah itu mereka tak peduli. Beruntung masih ada kiriman dari cucunya untuk berobat. Sedang untuk bertahan hidup, mantunya harus rela keliling kampung menjajakan gendar pecel.
“Yung, ini ada Pak Bayan, Pak RT dan Pak Lurah,” ujar Marsih yang langsung masuk ke kamar Biyung.
“Iya, Yung!” Mentari berlalu.
Ketiga tamu Biyung duduk menghadap pada wanita tua yang terbujur kaku. Sedang Marsih dan Mbok Sam berdiri di tepi ranjang,Tak berapa lama Mentari datang membawa minuman.
“Pak, tolong bikin surat wasiat untuk menyatakan kalau rumah ini saya wariskan kepada Sam dan sawah saya wariskan kepada Mentari,” ujar Mbok Sam megawali niatnya.
“Terus Pak Bayan, tolong dibantu untuk segera balik nama sertifikat rumah dan sawah atas nama mereka ya!”
“Baik Yung, akan segera saya urus!” janji Pak Bayan.
Obrolan mengalir. Penjelasan dari tokoh masyarakat itu ditulis rapi oleh Mentari. Satu jam kemudian mereka pamit pulang.
“Sam, tolong ambilin perhiasan di bawah bantal Biyung!” titah Biyung langsung diiyakan mantunya.
Mbok Sam menyodorkan bungkusan taplak meja model zaman dulu. Dengan cekatan Biyung membukanya. Tampak sebuah kalung, dua gelang, dua cincin dan sepasang giwang model kuno. Biyung mengambil satu cincin dan memberikannya kepada Marsih.
__ADS_1
“Ini buat kamu, Nduk. Makasih sudah merawat Biyung meski Biyung ini cuma nenek tirimu,” ujarnya berkaca-kaca.
“Ga usah, Yung!” tolak Marsih halus.
“Terima, Nduk!” paksa Biyung. “Anggap saja ini kenang-kenangan dari Biyung sebelum pergi.” Ucapan Biyung membuat Mentari, Marsih dan Mbok Sam terisak.
“Sam, simpan perhiasan ini untuk selametan Biyung nanti kalau sudah meninggal,” lanjutnya makin membuat ketiga wanita itu terisak.
“Kecuali cincin ini ya! Nanti berikan kepada Abimanyu untuk melamar calon istrinya kelak!” Biyung menunjukkan sebuah cincin bermata satu.
“Terima kasih, kalian sudah mau merawat Biyung.” Air mata mulai deras. “Tanpa kalian mungkin Biyung sudah mati dari kemarin-kemarin karena ga ada yang ngurus.” Kali ini suara Biyung seperti menahan marah. Mungkin kemarahan pada kedua anaknya yang tak menyayanginya.
****************
Sebulan kemudian berita duka datang. Biyung berpulang. Isak tangis dari anak, mantu dan cucu-cucunya membumbung tinggi. Seminggu kemudian sesudah selametan tujuh harian Biyung, ketiga tokoh masyarakat itu datang membicarakan wasiat Biyung.
Tampak Bu Mukidi, Pak Mukidi, Ratmi dan suami, Marsih, Mbok Sam, Mentari, Abimanyu, Arjuna, Arimbi dengan seksama menyimak ucapan dari Pak Lurah.
“Kemarin Biyung membuat surat wasiat jika rumah ini diwariskan kepada Mbok Sam dan sawah kepada Mentari,” ujar Pak Lurah membuat kedua anak Biyung terkejut.
“Ya, ga bisa githu dong, Pak!” protes Bu Mukidi.
“Status Sam dan Mentari kan cuma mantu dan cucu.”
“Jadi yang lebih berhak menerima warisan ya kami anak-anaknya.” Imbuh Ratmi yang juga tak terima dengan isi surat wasiat itu.
“Ga bisa Bu Mukidi dan Bu Ratmi. Surat wasiat ini sudah disahkan dan bermaterai,” jelas Pak Bayan.
“Kalau menurut Islam bukan begini pembagian warisan.” Haji Mukidi ikut bersuara. “Warisan itu hak atas anak yang ditinggalkan.”
“Maafkan kami Pak Haji. Kami hanya menuruti permintaan Biyung,” sahut Pak RT. “Katanya ini bentuk terima kasih Biyung kepada Mbok Sam dan Mentari karena sudah merawat beliau di saat sudah tua dan sakit.”
Seketika empat orang itu terdiam. Wajahnya pias menahan geram. Ucapan Pak RT begitu menohok mereka. Manusia-manusia yang tak mau merawat orang tua tapi mengharapkan warisan.
“Mungkin kalau mau banding bisa ke pengadilan. Tapi itu prosesnya tidak gampang dan berulang-ulang harus sidang,” lanjut Pak Lurah.
Bu Mukidi dan Ratmi mendengus kesal. Begitupun dengan suami mereka. Tak terima dengan pemikiran sepihak Biyung tanpa melibatkan mereka. Sejatinya mereka berharap mendapat warisan agar bisa dijual dan dijadikan uang untuk membayar hutang ke rentenir dan sekolah serta biaya kuliah.
Namun semuanya pupus gara-gara selembar surat wasiat yang sudah dicap jempol almarhum Biyung dan disahkan menurut hukum.
__ADS_1
Keempat pasang mata orang kaya itu melirik tajam ke arah Mbok Sam dan Mentari. Mereka merasa sudah didzolimi karena hak warisan mereka dirampas oleh mantu dan cucu Biyung.
*******