
Usaha meminta bantuan sudah maksimal. Cari pinjaman ke sana ke maripun sudah dilakukan.
Namun sayang malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih. Hasil usaha keras Arjuna bertahun-tahun kini masuk balai lelang bank.
Sedih, hancur, marah, tidak rela berekecamuk dalam jiwa. Dengan rasa sedih Arimbi dan Arjuna meninggalkan rumah yang begitu banyak kenangan itu.
Pasutri dengan dua anak ini krmbali menempati kontrakan tiga petak yang sempit jika dihuni oleh empat kepala. Nabilapun terpaksa pindah ke SD Negeri agar tanpa biaya.
“Ini semua gara-gara kamu, Mas!” Arimbi menyalahkan. “Coba kamu ga selingkuh, harta kita masih utuh.”
“Ini juga salahmu,” Arjuna balik menuding.
“Kok salahku?” umpat Arimbi tak terima disalahkan.
“Iya. Kamu itu istri yang tak becus ngurus suami. Ga menghargai suami sedikipun!”
“Lha, aku kan sibuk ngurus anak-anak dan diriku sendiri,” kilah Arimbi. “Kamu sudah dewasa, harusnya kamu bisa ngurus diri sendiri.”
“Kalau aku harus ngurus diri sendiri, apa gunanya kamu sebagai istri?"tandas Arjuna membuat Arimbi tersinggung.
Perempuan cantik itu terduduk marah di kasur dengan wajah cemberut dan mata memerah. Tampak butiran bening mulai menggenang di kelopak mata.
*****************
Arjuna tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Padahal ia sudah ke sana ke mari mencari kerja tanpa mengenal lelah. Sementara keuangan terus menipis.
“Mas, mending kamu bantuin bapak dan ibu di toko daripada kamu luntang-lantung ga jelas begini,” saran Arimbi ketika Arjuna tak kunjung mendapatkan pekerjaan.
“Ga ah,” tolak Arjuna cepat. “Tak tahan aku dengan mulut orang tuamu.”
“Tapi kita butuh makan lho, Mas!” Arimbi mendengus kesal. “Beras dan susu Fildan habis,” keluh Arimbi.
“Nantilah, aku jualan saja!” janji Arjuna. “Itu lebih baik daripada sakit hati jadi karyawan bapakmu.”
******************
Arjuna mengelap keringat di kening dengan menggunakan handuk kecil yang terkalung di leher. Terik mentari tak menghalanginya untuk terus menjajakan cilok keliling perumahan dan sekolah. Ada empat perut yang harus ia isi tiap harinya.
__ADS_1
Menjelang magrib, sang kepala keluarga itu kembali ke rumah. Letih berasa merontokkan semua tulang. Biasa kerja di tempat teduh dan ber-AC, kini ia harus bergelut dnegan panas dan debu jalanan.
“Minta uang dong Mas, buat beli beras, pampers dan susu Fildan!” todong Arimbi tanpa membuatkan minuman untuk sang suami.
Arjuna mendongak. Menatap tak suka dengan kelakuan istrinya. Ia mengambil uang lima puluh ribu dan mengangsurankannya ke tangan Arimbi.
“Kok cuma segini?” protes Arimbi dengan muka cemberut.
“Dapat untungnya cuma segithu.”
“Ini mana cukup untuk beli beras dan susu?” Arimbi makin kesal.
“Ya sudah beli berasnya seliter saja. Beli susu yang kecil. Lalu sisanya buat beli lauk dan jajan anak-anak!” titah Arjuna tak digubris sang istri. Arimbi melengos ke dalam begitu saja.
**************
Kehidupan Arjuna makin hari makin memprihatinkan. Sudah kerja keras tapi perhatian Arimbi makin hilang entah ke mana.
“Hari ini masak apa?” tanya Arjuna saat pulang kerja tak mendapati apapun di dapur.
“Tuh, ada telur, dadar saja sendiri!” sahut Arimbi yang masih asyik dengan ponsel.
“Bikin saja sendiri!” sahut Arimbi dengan nada ketus.
Kehidupan susah nyatanya tak membuat Arimbi berubah malah tambah tak menghargai suaminya. Terus setiap hari tak ada makanan dan secangkir kopi saat ia di rumah.
Dengan kasar Arjuna mengambil ponsel milik Arimbi dan membantingnya ke kasur.
Kesabarannya habis sudah. Dadanya naik turun menahan amarah. Sementara Arimbi terkejut dan amarahnya tak terkendali.
“Apa-apan sih kamu, Mas?” sentak Arimbi geram.
“Kamu itu ya kerjaannya cuma hape, hape dan hape,” umpat Arjuna.
“Itu hiburan aku satu-satnya semenjak kita jatuh miskin,” lawan Arimbi.
“Kamu itu ya benar-benar ga berubah. Sudah suami jualan dari pagi hingga magrib, tiap di rumah ga ada makanan ataupun secangkir kopi.”
__ADS_1
“Ya salah kamu sendiri, ngasih uang belanja cuma lima puluh ribu. Mana cukup sehari?” Lagi-lagi Arimbi menyalahkan suaminya.
“Benar-benar ya, kamu ga bisa dibilangin!” tangan Arjuna mengepal. Andai saja ia tak ingat Nabila dan Fildan, mungkin kepalan tinju itu sudah mendarat di pipi mulus Arimbi.
“Makanya cari duit yang banyak! Biar kita bisa hidup layak lagi,” tukas Arimbi. “Ga seperti ini, sempit-sempitan di kontrakan petak.”
*****************
Arjuna bak hidup membujang. Ketika sarapan ia harus membeli ke depan dan membuat kopi sendiri. Saat makan siang ia singgah ke warteg untuk mengisi perut. Menjelang magrib, biasanya ia akan membuat telor ceplok atau sekedar membuat mie dan kopi. Semuanya dilakukan sendiri tanpa bantuan sang istri.
Sikap Arjunapun kini berubah, tak semanis dulu. Lebih banyak diam daripada ngobrol dengan Arimbi. Jika anak-anaknya belum tidur, biasanya ia menemani Fildan bermain dan Nabila belajar.
Sedang Arimbi, ia biasa saja dengan perubahan suaminya. Ia memang akan terus menghukum Arjuna, bagaimana rasanya bila tidak diurusi istri dan direpotkan dengan dua anak. Berharap dengan itu, Arjuna akan bekerja siang dan malam agar mereka bisa hidup layak lagi.
“Kok, cuma tiga puluh ribu?” protes Arimbi saat uang makan berkurang.
“Yang dua puluh ribu buat aku makan, ngopi dan beli bensin,” jawab Arjuna yang masih asyik menikmati mie rebus campur telur dan taburan cabe rawit.
“Egois banget sih?” cecar Arimbi. “Mentingin diri sendiri.”
“Gapapa daripada aku mati kelaparnan.”
****************
Arimbi rindu masa-masa hidup berkecukupan. Ke mana-mana naik mobil. Makan apa saja bisa dibeli. Tiap bulan tak lupa shoping dan jalan-jalan lalu diupload di dunia maya.
Perawatanpun sebulan dua kali dilakukan. Skincare mahal tak ketinggalan untuk menjaga wajah cantikmya.
Namun semua itu tinggal masa lalu. Hanya bisa dikenang tapi tak bisa diulang. Boro-boro untuk shoping, buat beli bakso saja belum tentu bisa seminggu sekali makan. Uang makan dari Arjuna hanya cukup beli beras satu liter, telur, dan lauk seadanya. Sisanya jajan kedua anaknya.
Ibu dua anak itu mulai tertekan dengan hidupnya yang sekarang. Semua memori berputar di kepala. Tentang keangkuhan Pak Tejo dan Bu Tejo, kemakmuran sang kakak, mertua yang dianggapnya pelit dan tentang perselingkuhan sang suami.
“Arrrrrrggggggg!” pekikmya. “Ini semua gara-gara Mbok Sam!” umpatnya geram.
“Andai saja ia mau menjual rumah dan sawah warisan Biyung, mungkin hari ini aku masih tinggal di rumah bagusku.”
“Dasar mertua pelit, ga tahu diuntung!”
__ADS_1
Arimbi terus mengumpat. Merutuki kemalangan nasib. Dan sedihnya ia menggunakan mertua sebagai kambing hitam atas nasib buruk yang menimpanya. Rupanya teguran dari Allah ini tak membuat mata hatinya terbuka lalu minta maaf kepada wanita yang sudah memperjuangkan pendidikan Arjuna demi masa depan yang lebih baik. Malah membuat kebenciannya kepada Mbok Sam makin menjadi.
**************