HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
SELINGKUH PASCA MELAHIRKAN


__ADS_3

Semenjak kelahiran anak kedua, perhatian Arimbi menghilang. Tak ada lagi sarapan atau secangkir kopi hitam di pagi hari. Tiap pulang kerja, meja makan kosong melompong. Gosok bajupun sekarang terpaksa dilaundry. Itu sebabnya sepulang kerja Arjuna tak langsung pulang ke rumah. Ia selalu mampir untuk mengisi perut terlebih dahulu. Kalau sedang mood, setelah makan ia akan pulang. Tapi kalau moodnya sedang jelek, ia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah judi bersama Tedi.


Apa Arimbi komplen dengan kebiasaannya pulang malam? Ternyata tidak. Istrinya itu biasa saja setiap ia pulang terlambat. Tak ada teguran. Cuma kadang kalau sedang libur di rumah, Nabila yang suka protes.


“Kok ayah sekarang pulangnya malam terus sih?”


“Ayah lagi banyak kerjaan di kantor Sayang, ” jawab Arjuna berkilah.


“Ya, sudah Nabila sepedaan dulu ya sama teman-teman!” pamit Nabila berlalu.


“Dek, kamu ga masak?” tanya Arjuna pada Arimbi yang asyik rebahan dengan memegang ponsel.


“Aku capek, Mas! Baru selesai ngepel dan nyuci baju.”


“Nyuci baju kan juga pakai mesin cuci, Dek. Di mana capeknya?”tukas Arjuna membuat Arimbi marah.


“Mas, bawel banget sih!” sungutnya. “Kalau laper tinggal delivery order, makanan datang sendiri.”


“Bukan begitu maksudku, Dek!” Arjuna menyadari kesalahannya. “Masalahnya kamu sudah lama banget ga masak, ga buatin aku kopi. Aku kan kangen masakan istriku.”


“Bawel!” sentaknya. “Aku tuh capek tiap malam begadang ngurusin Fildan. Siang tuh waktunya istirahat, santai-santai.”


Arjuna terpaku. Sesak memenuhi dadanya. Andai belum punya anak mungkin ia akan menceraikan istrinya yang tak perhatian itu.


Hanya bicara serius dengan dirinya jika minta ini itu dan minta jatah uang belanja. Kerja kerasnya untuk membahagiankan anak, istri ternyata tak dihargai Arimbi.


Kian hari pikirannya menjadi kacau. Tak ada lagi semangat kerja di kantor. Semua luntur seiring waktu cinta Arimbi yang memudar.


Dengan malas-malasan, ia menyantap makan sorenya selepas pulang dari kantor. Sebuah suara gaduh di kasir menarik perhatian.


Tampak kasir dan satpam restoran sedang memarahi sekelompok pelajar.


“Ayo, siapa yang mau bayar?” tanya kasir dengan ketus.


“Dia Mbak.” Tunjuk sekelompok pelajar itu pada seorang gadis berkepang dua.


“Masalahnya, dompetku hilang,” kilah sang gadis.


“Tapi kamu sendiri yang janji, traktir kita-kita di restoran mahal pas ulang tahunmu!” semprot salah satu pelajar.

__ADS_1


Tampak gadis itu mulai kebingungan. Muka merah padam tak menghilangkan kecantikannya.


“Pokoknya saya ga mau tahu, kalian harus bayar!” paksa sang kasir. “Kalau tidak, akan saya laporkan ke sekolah biar kalian kena skors!”


“Jangan, Mbak!” jawab mereka serempak.


“Ya sudah bayar sekarang!” kali ini Pak Satpam yang bicara.


“Mau bayar pakai apa? Duit saja kami ga punya,” keluh salah satu pelajar mulai terisak.


“Gimana sih kalian, mau makan kok ga bawa uang?” tukas Pak Satpam.


“Kita kan tadi rencananya ditraktir sama si Nindi. Eh tahunya dia ga punya uang,” keluh pelajar berambut pendek.


“Bukan ga punya uang tapi dompet aku hilang!” Nindi_si kepang dua membela diri.


“Biar saya saja yang bayar makanan mereka.” Kehadiran Arjuna yang tak diundang, mengundang perhatian semua. Segera Arjuna membayar semua makanannya dan makanan para si pelajar.


“Hu, lain kali kalau ga punya duit jangan sok-sokan nraktir di tempat yang mahal!” umpat seorang pelajar diikuti tatapan sinis yang lain.


Tanpa mengucap terima kasih mereka langsung pergi. Tinggal tersisa Nindi.


“Iya, sama-sama,” jawab Arjuna tak lepas dari wajah ayu ABG itu.


“Kalau begitu aku pulang dulu ya!” pamit Nindi yang langkahnya langsung dicegah Arjuna dengan pertanyaan.


“Rumahmu di mana? Biar saya antar sekalian!”


“Ga usah, Mas! Saya bisa pulang sendiri naik angkot!” tolak Nindi ga enak hati.


“Gapapa!” paksa Arjuna tak bisa membuat Nindi berkutik.


Di dalam mobil, sepanjang perjalanan banyak cerita yang bergulir dari bibir tipis Nindi.


Tentang orang tuanya, saudara, teman-teman dan sekolahnya. Arjuna sedikit terhibur dengan celotehan remaja itu.


*************


Hari-hari Arjuna makin berwarna semenjak kehadiran Nindi. Gadis belia itu begitu perhatian dengannya yang memang kurang kasih sayang seorang istri. Selalu mengingatkan untuk makan setiap Arjuna di kantor. Menyempatkan jalan di hari biasa atau di hari Sabtu. Nindi juga cukup tahu jika hari libur Arjuna khusus untuk anak dan istrinya.

__ADS_1


“Makasih ya Mas, sudah beliin HP baru,” ucap Nindi bahagia, akhirnya setelah sekian lama mendambakan HP keluaran terbaru, kesampaian juga.


“Kamu suka?”


“Suka banget,” jawab Nindi manja sambil memeluk pinggang Arjuna.


Pelukan itu menghangat. Apalagi aroma wangi rambut Nindi begitu menggoda. Ditambah mereka sedang di tempat sepi. Setan beraksi dan mampu menghasut dua sejoli yang beda usia cukup jauh itu untuk melanggar norma agama.


***************


Keluarga Nindi menyambut kehadiran Arjuna dengan terbuka. Meski mereka tahu jika Arjuna sudah mempunya anak dan istri. Sambutan yang hangat inilah, yang membuat Arjuna betah untuk berlama-lama di rumah Nindi yang sederhana.


Nindi juga termasuk cewek idaman. Setiap bertandang ke rumah, gadis belia itu selalu membuatkan Arjuna kopi dan masak untuk dimakan bersama.


“Beneran ini Nindi yang masak?” tanya Arjuna memastikan.


“Iya, ini semua masakan Nindi,” jawab si ibu. “Kenapa, ga enak ya, Nak?” tanyanya lagi khawatir.


“Enak kok, Bu,” puji Arjuna. “Makanya, saya tanya beneran ini masakan Nindi? Zaman sekarang jarang anak gadis yang pinter masak.”


“Dari kecil, Nindi memang sudah hobi masak. Dan masakannya lebih enak dari masakan ibu,” sambung si bapak.


“Wah, beruntung sekali ya nanti yang bisa dapetin Nindi,” goda Arjuna sambil melirik Nindi yang tersipu malu.


“Saya berharap nanti jodohnya Nindi itu sudah mapan dan sukses,” ujar si bapak. “Saya kasihan lihat Nindi dari kecil hidup susah dan kekuarangan.”


“Ibu berharap sih, habis lulus SMA, Nindi langsung dapat kerja, biar dapat gaji untuk bayar hutang-hutang orang tuanya,” harap si ibu.


“Bapak dan ibu punya hutang?” tanya Arjuna bersimpati.


“Punya, Nak Arjuna,” sahut si ibu. “Kemarin bapak masuk rumah sakit gara-gara kolestrol dan asam urat. Dirawat sepuluh hari habis sepuluh juta.”


“Memang ga pakai BPJS?” tanya Arjuna.


“Gimana kami punya BPJS kalau pekerjaan bapak aja serabutan. Mau bayar pakai apa?” keluh si ibu. “Kadang ada yang nyuruh ikut jadi kuli kadang juga nganggur. Penghasilan ibu jadi buruh cuci juga ga seberapa.”


Arjuna miris mendengar cerita sedih dari keluarga gadis remaja yang beberapa hari ini mengusik hatinya, Ternyata di balik wajah cantik itu, banyak tersimpan kesedihan karena beban hidup.


**************

__ADS_1


__ADS_2