
Rumah tangga Arjuna makin memanas meski sekarang Nindi pergi dari kehidupan Arjuna. Kini urusan utang piutang yang menjadi pemicu pertengkaran mereka setiap hari.
“Ini gara-gara kamu sih Mas, selingkuh dengan wanita matre!” tuding Arimbi menyalahkan Arjuna, sumber dari permasalahan ini.
“Udah ga ada gunanya saling menyalahkan,” tangkis Arjuna.
“Coba kamu setia, tidak lirak-lirik sana sini, mungkin hidup kita tenang ga mikirin hutang sebesar delapan puluh juta.” Arimbi masih saja menyalahkan Arjuna.
“Andai saja kamu perhatian. Ngurusin aku. Ga hanya sibuk dandan, shoping, perawatan dan main ponsel mungkin aku ga selingkuh!” hardik Arjuna kesal disalahkan terus.
“Tapi, ini memang salahmu!” lawan Arimbi.
“Tapi kesalahanku ini berawal dari kecuekanmu! Tak menghargaiku sebagai seorang suami!” sentak Arjuna langsung membuat Arimbi diam.
Dia kesal suaminya kini malah menyalahkannya padahal jelas-jelas yang salah itu Arjuna. Tak becus menjadi kepala keluarga.
***************
Waktu terus berjalan. Tenggat waktu pembayaran hutang ke rentenir tinggal menghitung hari. Sedang tak sepeserpun uang dipegang. Ingin pinjam di kantor, keuangan kantor sedang pailit. Pinjam kesana kemari tak ada yang percaya.
“Mas, kedatangan saya ke sini mau pinjam uang delapan puluh juta untuk bayar rentenir.” Arjuna mengutarakan niat hati saat bertamu ke rumah Desta sore itu.
“Kamu pinjam rentenir?” tanya Hana menatap Arimbi dan Arjuna bergantian.
“Iya, untuk selingkuhannya,” tukas Arimbi ketus sembari melirik sebentar ke arah Arjuna. Tampak suaminya hanya menghela napas.
“Kenapa tidak jual mobilmu saja?” tukas Desta.
“Kalau mobil dijual, kita kalau pergi-pergi pakai apa?” tanya Arjuna seakan tak suka dengan usul iparnya.
“Saya bisa hargai enam puluh juta, kalau mau,” imbuh Desta lagi. “Kamu butuh uang cepet kan? Dari tahun ke tahun harga mobil itu makin menurun.”
Arimbi dan Arjuna saling berpandangan. Tak rela sebenarnya jika mobil dilepas. Tapi jika tidak, ia bisa habis-habisan dimaki sama rentenir bahkan bisa-bisa dihajar sampai babak belur.
“Masa cuma enam puluh juta?” protes Arjuna. “Aku kan sudah nyicil tiga tahun.”
“Oke, tujuh puluh juta, kalau mau.” Desta menambah tawarannya.
“Seratus juta kali, Mas.” Arimbi ikut bicara. “Biar ada sisa kalau udah bayar hutang.”
Desta tersenyum. “Rugi dong kalau aku beli seratus juta plus masih ada angsuran dua tahun lagi,” ucap Desta membuat pasutri itu mati kutu.
“Mau ga? Kalau ga mau, uangnya mau kuputar lagi. Kebetulan ada orang yang sedang cari dan mau jual mobil!” desak Desta makin membuat Arimbi dan Arjuna tak berkutik.
“Baik, kalau begitu!” ucap Arjuna kemudian.
Uang tujuh puluh juta sudah di genggaman. Namun pasutri itu masih dipusingkan dengan uang sepuluh juta. Kemana mencari uang sebannyak itu dalam waktu seminggu. Meski malu, akhirnya terpaksa Arjuna meminta bantuan sang mertua.
“Pak, Bu, tolong beri kami uang sepuluh juta untuk bayar hutang ke rentenir!” pinta Arimbi dengan rasa malu.
“Hah sepuluh juta?” Bu Tejo terbelalak. “Emang kamu kira uang sepuluh juta itu sedikit?” umpatnya lagi.
__ADS_1
“Tolonglah kami, Bu! Kalau tidak, kami pasti dihajar habis-habisan,” keluh Arimbi mulai terisak.
“Yang punya hutang siapa? Yang harus bayar siapa?” sindir Pak Tejo.
“Tolong Pak, sekali ini saja!” pinta Arimbi terus memelas. “Anggap saja, aku minta cicilan dari warisan,” sambung Arimbi membuat kedua orang tuanya terbelalak.
“Mbi, Mbi, ngenes banget sih hidup kamu. Sudah cantik, anak orang kaya, kok dapat suami yang ngajak hidup blangsak.” Bu Tejo menyesalkan kemalangan anak bungsunya.
“Baik, bapak kasih cuma-cuma sepuluh juta,” ujar Pak Tejo akhirnya.
**************
Perkara hutang rentenir selesai. Namun rentetan musibah belum berhenti menghampiri rumah tangga Arjuna dan Arimbi. Selepas isya, Indra_sang pemilik rumah judi bertandang ke rumah.
“Gimana kabarnya, Jun?” tanya Indra basa-basi di ruang tamu.
“Baik, Bos,” jawab Arjuna gugup. Teringat utang yang belum dibayar.
Tampak Arimbi hanya menyimak pembicaraan mereka.
“Lama ya kamu ga ke tempatku?” tanya Indra lagi.
“Sibuk, Bos.”
“Sibuk sama daun muda,” sindirnya sambil menyesap kopi. Kemudian kepulan asap rokok mengudara.
“Kamu tahu maksud kedatangan aku ke sini?” lanjutnya kemudian hanya dijawab gelengan kepala oleh Arjuna.
“Masa sih ga tahu? Atau pura-pura ga tahu?” sindir Indra lagi.
“Tuh pinter.” Indra mengacungkan jempol. “Kapan bayar?” tagih Indra.
“Kalau punya duit, Bos.”
“Aku ga mau nunggu lama ya, Jun. Hutang kamu yang lima belas juta harus lunas bulan depan, titik ga pakai koma!” tandas Indra membuat mata Arimbi terbelalak.
“Oke Bos, saya usahakan!” janji Arjuna.
“Saya tunggu janjimu! Awas kalau tidak, kamu tanggung akibatnya!” ancamnya lalu pamit.
“Mas, bagaimana kamu punya hutang sebanyak itu?” hardik Arimbi. “Kamu main judi?”
“Iya,” jawab Arjuna letih.
“Kamu itu ya Mas, bikin kesel saja!” bentak Arimbi. “Udah selingkuh, main judi. Sekarang hutangnya numpuk sana-sini.”
“Semua sudah terlanjur, ga perlu disesali.”
“Apa ga perlu disesali?” sanggah Arimbi. “Hidup susah seperti ini gara-gara ulahmu?”
“Cukup!” bentak Arjuna khilaf. “Kamu jangan bisanya marah-marah saja! Sekarang bantuin aku cara dapetin uang utnuk bayar hutang!”
__ADS_1
Arimbi menatap jalang kepada suaminya. Sosok yang lemah lembut kini hilang. Beganti menjadi sosok temperamental.
“Minta saja sama Simbok. Dia kan baru dapat warisan dari biyung,” ujar Arimbi spontan yang langsung disetujui Arjuna.
“Betul juga, ya!”
**************
Keesokan harinya Arjuna dan Arimbi langsung pulang menggunakan Bus Handoyo. Sebelum matahari terbit mereka sudah sampai di rumah Bu Tejo yang ada di desa.
Siangnya mereka mengunjungi rumah warisan biyung, tempat Arjuna dilahirkan dan dibesarkan.
“Kok, pulang mendadak? Emang ada apa, Jun?” tanya Mbok Sam yang kehadiran sang anak di depan mata.
Mentari keluar dari dapur dengan membawa teh dan singkong goreng.
“Maksud Juna pulang, ingin minta bantuan Simbok untuk bayar hutang,” ujar Arjuna mengutarakan isi hati.
“Hutang?” Dahi Mbok Sam berkerut.
“Iya, hutang judi sampai lima belas juta,” tukas Arimbi sewot.
“Ya Allah, banyak banget hutangmu?” Mbok Sam mengelus dada.
“Makanya Mbok, kami minta tolong sama Simbok untuk bayarin utang kami,” ujar Arjuna memelas. “Kalau tidak dibayar, bisa-bisa anakmu ini mati dihajar bandar judi.”
“Tapi Simbok dapat uang darimana? Uang lima belas juta kan banyak sekali, Jun.”
“Ya, Simbok bisa jual rumah ini kan bisa,” paksa Arjuna.
“Kalau rumah ini dijual, Simbok dan Mentari mau tinggal di mana?” tukas Mbok Sam. “Selain rumah ini kami ga punya tempat tinggal lagi.”
“Ya sudah, jual saja sawah warisan Simbok,” usul Arimbi asal bersuara.
“Enak saja!” tukas Mentari.”Itu kan milikku.”
“Kamu masih kecil, buat apa punya sawah?” hardik Arimbi.
“Sawah itu kan bisa ditanami padi, buat makan aku sama Simbok,” kilah Mentari.
“Egois banget sih kamu sama saudara?” Masmu lagi kesusahan malah kamu ga bersimpati.” Arimbi makin nyolot.
“Emang kamu enggak?” tandas Mentari dengan sorot mata tajam. “Di mana letak hati nuranimu saat kamu maki-maki Simbok gara-gara sprei barumu dipakai Simbok buat selimut.” Mentari mengungkit masalah yang sudah lalu.
“Kamu!” Arimbi tak bisa menahan diri. Hampir saja tangannya melayang andai saja tak dihalangi oleh Arjuna.
“Kamu apa-apaan sih?” hardik Arjuna.
“Habisnya mulut anak kecil ini lancang sekali sama orang tua. “Arimbi tak terima.
“Kita ke sini minta tolong sama mereka. Jangan cari gara-gara!” tukasnya menambah geram Arimbi.
__ADS_1
Tanpa pamit mantu Mbok Sam itu pergi meninggalkan rumah sederhana itu.
************