
“Mbi, bagaimana hubunganmu dengan Tristan?” tanya Pak Tejo saat sedang sarapan.
“Baik-baik saja, Pak,” jawab Arimbi sembari menyuapi Nabila yang akan sekolah.
“Kapan Tristan melamar kamu?” selidik Bu Tejo membuat Arimbi sedikit kaget. “Sudah lama lho kalian pacaran, takut jadi omongan tetangga.”
“Iya Bu, nanti aku tanya sama Mas Tristan kapan mau melamar aku.”
“Moga ga seperti kejadian yang sudah-sudah ya Mbi, percintaanmu yang kandas di tengah jalan!” harap Bu Mukidi. “Ibu itu sedih kalau denger kamu diomongin tetangga gonta-ganti pacar padahal sudah janda.”
Arimbi menghela napas panjang. Sesak rasanya status janda selalu menjadi bahan gunjingan. Apalagi tiga mantan pacarnya dulu selalu menolak menikahinya karena alasan dirinya janda dengan dua anak. Semoga kali ini Tristan berbeda dengan pacar-pacanya sebelumnya.
“Mas, kapan kamu mau melamarku?” pertnyaan Arimbi di warung pecel ayam itu seketika memuat Tristan tersedak.
“Uhuk, uhuk.” Dengan sigap Tristan langsung meneguk es jeruknya hingga tandas.
“Kenapa, Mas? Ada yang salah dengan pertanyaanku?” selidik Arimbi dengan rasa kaget yang ditunjukan Tristan.
“Kamu juga ga mau menikahiku gara-gara statusku yang janda?” imbuhnya mengenang kisah cinta sebelumnya.
“Bu..bu..bukan begitu, Sayang.” Tristan salah tingkah.
“Terus kapan kamu mau melamarku?” desak Arimbi menemukan celah. “Kita pacaran sudah hampir setahun lho, Mas.”
Tristan meremas lembut jemari kekasihnya seolah ingin menenangkan hati kekasihnya yang sedang gelisah.
“Secepatnya aku akan melamarmu,” janjinya membuat Arimbi berbinar.
“Tapi dengan satu syarat!” lanjutnya membuat janda muda di depannya mengernyitkan kening.
“Apa?” tanya Arimbi tanpa basa basi.
“Setelah kita menikah, aku ga mau anak-anakmu ikut kita.”
Sebuah syarat yang membuat Arimbi terperanjat. Arimbi menarik jemarinya dari genggaman Tristan dan menatap laki-laki di depannya dengan sedikit emosi.
“Kenapa?” Arimbi meminta penjelasan. “Mereka kan anak-anakku.”
“Ya mereka memang anak-anakku tapi bukan anakku,” jawab Tristan menyinggung perasaan Arimbi.
“Seharusnya kamu paham Mas, jika menikahi janda juga harus mau menerima anak-anaknya!” tegas Arimbi.
“Iya kalau ayahnya meninggal aku bisa terima,” jawab Tristan. “Tapi ini kan ayahnya masih ada, masa iya aku yang merawat anaknya.
“Enakan ayahnya dong, berat di aku,” imbuh Tristan tanpa memperdulikan perasaan Arimbi.
Tenggorokan Arimbi tercekat. Embun mulai menggenangi kelopak matanya. Tak bisa berkata apa-apa. Ia tak ingin mengemis cinta di tempat umum.
__ADS_1
“Sayang, pikirkan ucapanku kembali.” Tristan kembali menggenggam jemari kekasihnya. “Ini buat kebaikan kita,” rayunya.
**********
Ucapan Tristan terus terngiang di ingatan. Tapi meninggalkan anak-anak jelas bukan perkara mudah. Tapi jika dia terus bersama anak-anaknya, bisa-bisa seumur hidup menjanda.
Sebuah pesan masuk membuyarkan lamunan Arimbi. Sebuah struk transfer.
[ Sudah aku transfer buat anak-anak ], pesan dari Arjuna membuatnya bahagia.
Akhir-akhir ini Arjuna mengirim uang berlebih yang dari biasanya cuma lima ratus ribu menjadi dua juta. Arimbipun tak menanyakan uang sebanyak itu. Baginya sudah dapat uang sudah cukup. Dia tak mau lagi tahun tentang hal apapun dari mantan suaminya yang kini hidup miskin.
[ Ya, makasih ], balasnya singkat.
“Mbi, kapan Tristan melamar kamu?” tanya Bu Tejo yang sudah ada aja di ruang tamu bersama Pak Tejo dan Hana.
Sekilas Arimbi menatap kakaknya yang makin cantik saja di usia kepala tiga.
“Tristan mau menikahiku tapi ada syaratnya, Bu,” cerita Arimbi.
“Apa?” tanya Pak Tejo cepat.
Arimbi menghela napas sebelum menjawab pertanyaan orang tuanya.
“Syaratnya anak-anak tak ikut aku setelah menikah,” jawab Arimbi membuat semua terkejut.
“Tapi Bu…”
“Benar kata ibumu!” potong Pak Tejo cepat. “Itu jalan tebaik untukmu melepas status janda!” tandasnya lalu pergi ke kamat yang langsung diekor istrinya.
“Bagaimana ini, Mbak?” tanya Arimbi pada Hana saat orang tuanya sudah hilang dalam pandangan.
“Kenapa kamu tak kembali saja ke Arjuna?” saran Hana membuat adiknya tekejut. “Aku dengar dia sudah kerja kantoran dan tinggal di rumah dinas yang nyaman,” kalimat Hana selanjutnya lebih mengejutkan.
“Mbak, tahu darimana?” selidik Arimbi.
“Kemarin Mas Desta ketemu saat perusahaan tempat kerja Mas Desta meeting dengan perusahaan di mana Arjuna kerja.”
“Kenapa Mas Juna ga cerita ya?” pikir Arimbi menerka-nerka.
“Mungkin kamu tidak nanya,” tukas Hana.
“Jika benar Mas Arjuna sudah hidup mapan lagi, ada baiknya aku rujuk saja. Ini pasti juga baik untuk tumbuh kembang anak-anak,” ucap Arimbi dalam hati.
*********
Rasa rindu Mbok Sam kepada cucunya membuat Arjuna terpaksa mengunjungi rumah mantan mertua. Beruntung rumah besar mertuanya itu hanya ada Arimbi dan anak-anak.
__ADS_1
“Simbok kangen sama Nabila dan Fildan,” ucap Arjuna sesampainya di rumah Pak Tejo. “Boleh aku pinjam anak-anak sebentar!”
Arimbi mengamati mantan suaminya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ada rasa penasaran karena ucapan Hana dengan kenyataan berbalik seratus delapan puluh derajat. Pakaian yang dikenakan Arjuna masih pakaian lusuh yang ia pakai saat jualan cilok. Lalu sepeda motor yang ia pakai untuk menjemput adalah sepeda motor bututnya dulu.
“Boleh Arimbi?" Arjuna meminta izin lagi dan membuyarkan lamunan sang mantan istri.
“Boleh, Mas,” jawabnya dengan senyum.
“Terima kasih.”
“Mas!” panggil Arimbi lagi. “Boleh aku ikut?” pintanya ingin membuktikan ucapan sang kakak.
“Boleh.” Arjuna mengiyakan.
Setengah jam kemudian mereka sampai ke rumah dinas Arjuna. Rumah asri dengan sentuhan mewah itu membuat mata Arimbi takjub. Belum mobil Expander yang terparkir di halaman rumah.
“Assalamualaikum,” ucap Arjuna menghadirkan Mbok Sam dan Mentari keluar rumah.
“Waalaikumsalam,” sahut Mbok Sam dan Mentari bersamaan.
“Cucu-cucuku,” ucap Mbok Sam bahagia langsung memeluk kedua cucunya.
“Mbok,” ucap Arimbi yang lalu mencium punggung tangan mantan mertuanya.
“Arimbi,” sambut Mbok Sam hangat.
“Mentari di sini juga?” tanya Arimbi ramah.
“Iya Mbak, aku kuliah di sini,” sahut Mentari.
“Iya, Mentari dikuliahin Arjuna,” imbuh Mbok Sam membuat Arimbi iri. Pikir Arimbi, enak saja uang mantan suaminya dihambur-hamburkan ma adiknya. Harusnya Nabila dan Fildan yang berhak atas uang Juna.
“Ayo, Sayang, kita main di dalam!” ajak Mbok Sam menggiring cucu-cucunya ke dalam yang kemudian diekor oleh Mentari. Tinggal Arjuna dan Arimbi di teras rumah.
“Mas, kenapa tak bilang kalau kamu sudah kerja kantoran lagi?” tanya Arimbi mencoba akrab.
“Masuk yuk!” bukannya menjawab Arjuna malah meninggalkan Arimbi sehingga membuat wanita cantik itu dongkol.
Kebersamaan Mbok Sam dan cucu-cucunya berakhir di waktu senja. Tampak mereka puas sekali bermain. Ditambah Arimbi terlihat akrab dengan mantan mertuanya yang dulu tidak dia suka.
“Jun, ada baiknya kamu dan Arimbi rujuk lagi,” nasihat Mbok Sam mengejutkan pasutri yang sudah berpisah itu. Arimbi menatap malu-malu mantan suaminya itu.
“Demi anak-anak,” imbuh Mbok Sam membuat Arimbi kegirangan.
“Sudah sore, sebaiknya aku antar anak-anak pulang,” sahut Arjuna menghindar makin membuat Arimbi marah.
Sepanjang perjalanan Arimbi tampak kesal. Sudah diacuhkan, Arjuna mengantar mereka pakai motor butut padahal ada mobil Expander.
__ADS_1
*******