
“Beneran kalian mau tinggal di sini?” tanya Pak Tejo memastikan ketika malam-malam putri dan menantu yang tak diterimanya itu datang ke rumah.
“Iya, Pak. Mas Juna kena PHK, perusahaan tempat kerjanyanya bangkrut,” jawab Arimbi tak berani menatap wajah ayah dan ibunya yang angkuh.
“Kenapa ga cari kerja lagi?” Bu Tejo ikut bertanya.
“Sudah sebulan ini nyari kerja ke sana ke mari tapi belum dapat, Bu,” jawab Arjuna akhirnya.
“Kirain lulusan sarjana bisa gampang cari kerja,” sindir Pak Tejo. “Ternyata jadi pengangguran juga.”
“Terus gaji Arjuna setahun ini ke mana?” Bu Tejo ingin tahu.
“Habis, Bu. Gaji Mas Juna cuma cukup buat makan dan bayar kontrakan,” jawab Arimbi malu dengan keadaan hidupnya.
“Ga jaminan tho, gelar sarjana hidupnya sukses? Juna ini rezekinya kecil, ya hidupnya tetep saja blangsak meski sekolah setinggi langit.”
“Kasihan banget tho nasibmu, Arimbi. Udah hidup enak malah sekarang hidup blangsak.”
Arjuna hanya bisa terdiam saat caci maki itu terlontar dari mulut mertuanya. Ia tak mampu menyanggah meski itu benar adanya. Demi Arimbi bisa hidup layak, ia harus rela berkorban perasaan.
“Kalian boleh tinggal di sini! Tapi harus inget kalau cuma numpang!” Pak Tejo memperjelas.
“Terima kasih, Pak, Bu!” jawab Arimbi sumringah. “Bu, aku belum makan,” lanjut Arimbi sambil mengelus perut gendutnya.
“Ya ampun kamu ga dikasih makan sama, Juna? Kebangetan banget sih!” keluh Bu Tejo kasar. “Kamu mau makan apa?” tanyanya.
“Nasi goreng,” jawab Arimbi cepat.
“Jo, Paijo!” teriak Bu Tejo dengan sopirnya.
“Tolong beliin nasi goreng satu ya!” titahnya.
“Lho, kan orangnya dua, Bu?” tawar Paijo.
“Anakku kan cuma satu ya belinya satu,” tegasnya tanpa memandang wajah Arjuna yang sudah seperti orang yang tak dianggap.
“Ibu dan Bapak mau istrirahat dulu. Tungguin Paijo bentar lagi juga balik.”
Suami istri itu hendak melangkah tapi diurungkan saat Bi Surti membawakan teh dan kopi untuk Arimbi dan Arjuna.
“Makasih, Bi.” Arjuna meneguk kopi itu karena memang sudah haus.
“Kali ini kopinya gratis ya! Besok-besok beli sendiri!” tukas Bu Tejo membuat Arjuna berat menelan kopi itu meski cuma berupa cairan.
Tanpa perduli perasaan mantunya, suami istri itu masuk ke dalam kamar. Tak berapa lama Paijo datang.
“Ini Non, nasi gorengnya!”
“Makasih, Pak!” ucap Arimbi kemudian Paijo berlalu.
__ADS_1
Arimbi langsung membuka bungkusan. Semerbak nasi goreng menggugah selera.
“Mas mau?” tawar Arimbi yang dijawab dengan gelengan kepala.
“Buat kamu aja.”
Arjuna berharap ada sisa di bungkusan itu untuk mengganjal perutnya yang memang hanya terisi nasi pagi tadi. Tapi sayang, saking laparnya, Arimbi tak menyisakan nasi itu meski cuma satu sendok.
Arimbi melipat bungkus kosong itu dan membuangnya ke tempat sampah. Lalu mengajak Arjuna masuk ke kamar. Kamar yang besar dan nyaman. Dilengkapi AC pula. Arimbi langsung berbaring dan tidur. Rasa letih membuatnya cepat terlelap.
Sementara Arjuna terus menatap istrinya yang terlelap. Pemuda tampan itu bahagia, istrinya bisa tidur dengan layak. Meski ia tahu, esok hari tak mudah untuk dijalani. Meski dia menikahi anak orang kaya namun kehadirannya di sini tak diharapkan.
*********
Arjuna sudah rapi, bersiap wawancara kerja pagi ini. Di meja makan tampak mertuanya sedang sarapan. Pengantin yang sebentar lagi mau menjadi orang tua itu, duduk bersamaan. Arjuna tampak mengamati sekeliling. Pasalnya nasi uduk dan teh manis yang di meja tinggal satu.
“Nasi uduk di Mpok Mimin tinggal tiga, jadi belinya cuma tiga,” jelas Bu Tejo dengan wajah judes.
“Mas,” panggil Arimbi.
“Buat adek saja,” jawabnya mengulas senyum.
Arimbi membuka bungkusan lalu menikmati sarapan itu sendiri.
“Mas, jangan lupa lho buat beli perlengkapan bayi,” ucap Arimbi memecah sunyi di meja makan.
“Belum, Bu.” Arimbi menggeleng.
“Dulu, Mbakmu Hana waktu hamil enam bulan saja sudah beli perlengkapan bayi lengkap. Lha ini kamu mau brojol masa belum beli apa-apa? Keterlaluan banget suami kamu itu. Beda dengan Desta, suaminya Hana,” cecar Bu Tejo membandingkan mantunya.
Arjuna hanya menunduk sembari menelan saliva. Dari kemarin pagi perutnya baru terisi nasi sekali. Rasa lapar menghantui namun apa daya tak ada jatah makan untuknya di sini.
“Mas, cari kerja dulu ya! Doakan biar cepat dapat kerja.” Pamit Arjuna yang disambut dengan uluran tangan istrinya.
“Aamiin.”
*************
Arjuna menyusuri gang. Rasa lapar yang melilit membuatnya ingin segera ke kontrakan Mbok Sam. Tapi mengingat jika pagi begini Mbok Sam berjualan, ia urungkan niatnya. Dia mampir ke warung membeli sepotong roti dan segelas air mineral.
“Berapa, Bu?”
“Dua ribu.”
Arjuna mengulurkan uang pas. Semoga sarapan pagi yang seadanya ini mampu menyanggah tubuhnya saat ia mencari kerja.
Anak sulung Mbok Sam itu mendatangi tempat-tempat kerja yang memanggilnya ‘tuk wawancara di tempat yang berbeda. Namun sayang, lima tempat yang ia kunjungi itu tak membuahkan hasil. Akhirnya dia pulang dengan tangan kosong.
“Assalamualaikum.” Arjuna langsung masuk ke kontrakan Mbok Sam yang sempit. Lalu merebahkan badan di kasur.
__ADS_1
“Dari mana kamu, Lhe?” tanya Mbok Sam yang baru selesai masak.
“Nyari kerja, Mbok.”
“Udah dapet?”
“Belum,” jawab Arjuna lesu.
“Kok susah ya, Lhe cari kerja? Padahal lulus sarjana?” keluh Mbok Sam prihatin dengan keadaan anaknya.
“Masak apa, Mbok?” tanya Arjuna yang tergoda bau wangi masakan ibunya.
“Sayur sop dan sambel cuek.”
Arjuna berdiri, mengambil mangkok lalu mengisinya dengan nasi dan masakan Mbok Sam. Terasa nikmat sekali ia menikmati masakan itu dalam kondisi makanan masih panas.
Dua mangkok tandas masuk ke perut sehingga menghadirkan sendawa di akhir acara makan. Arjuna lalu bergegas tidur. Angin sepoi-sepoi dari kipas usang Mbok Sam langsung membuatnya terlelap.
*************
Sore menjelang, Arjuna bergegas pulang ke rumah mertuanya. Namun sebelum pulang, ia menyempatkan makan dan menikmati secangkir kopi hitam buatan sang ibu. Dia masih bersyukur, meski di rumah mertuanya ia kelaparan, namun jika cuma nasi dan lauk seadanya, Mbok Sam masih mampu memberi.
“Mbok, boleh aku pinjam uang?” pinta Arjuna sore itu.
“Untuk apa?”
“Untuk membeli perlengkapan bayi.”
“O iya, ya, bentar lagi Arimbi melahirkan.” Mbok Sam beranjak ke lemari kecil dan mengambil dompet lusuh dari lipatan baju.
“Simbok cuma punya empat ratus ribu,” tangan itu menyodorkan uang ke Arjuna.
“Makasih ya, Mbok. Nanti kalau aku sudah dapat kerja, aku balikin,” janji Arjuna.
*********
Rumah besar mertuanya tampak lengang. Hanya terlihat Arimbi yang sedang asyik menonton TV.
“Dapet kerjanya, Mas?” sambut Arimbi antusias.
“Belum.” Arjuna duduk di samping istrinya.
“Lalu, buat beli perlengkapan bayi darimana?” raut wajahnya kembali cemberut.
“Besok kita ke pasar ya! Beli perlengkapan bayi,” hibur Arjuna menghadirkan binar bahagia di wajah sang istri.
“Beneran, Mas?” Arimbi memastikan janji suaminya. Dan Arjuna hanya mengangguk.
********
__ADS_1