HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
BU TEJO


__ADS_3

Status pacaran antara Arjuna dan Arimbi langsung terdengar seantero kampung. Menjadi buah bibir dari mulut ke mulut. Maklum Arimbi adalah kembang desa. Tentu banyak pemuda yang patah hati mendengar berita itu.


Kabar burung itupun sampai juga ke telinga orang tua Arimbi di Jakarta. Seketika Pak Tejo dan Bu Tejo meradang. Tanpa menunggu lama, Bu Tejo langsung pulang kampung guna memberi wejangan pada anak gadisnya yang salah jalan.


Arimbi dan Arjuna itu masih punya silsilah keluarga yang sama. Biyung itu adalah adik dari ibunya Pak Tejo. Jadi dalam silsilah, Arimbi itu kakaknya Arjuna. Dalam adat jawa tidak dibolehkan menikah karena kedudukan dalam silsilah, si cewek lebih tua.


“Bener kamu pacaran sama Juna?” Bu Tejo menggelar sidang yang dihadiri keluarga besar.


Arimbi hanya bisa menunduk sebagai terdakwa. “Iya.”


Seketika juragan jamu itu langsung geram. Tak habis pikir dengan kelakuan anak gadisnya.


“Kamu tahu kalau kita itu masih saudara Arjuna dan tidak dibolehkan menikah?” tanya Bu Tejo tajam.


“Tahu, Bu,” jawab Arimbi masih menunduk.


“Kamu tahu status sosial kita ma Arjuna itu beda?” tanya Bu Tejo lagi.


“Tahu, Bu.”


“Kalau sudah tahu kenapa kamu malah nekat pacaran sama Juna?”


“Karena aku mencintainya.”


“Cinta, cinta!” sentak Bu Tejo mengagetkan Arimbi. “Tahu apa kamu tentang cinta? Masih bocah ingusan saja ngomongin cinta.”


Mata Bu Tejo jalang menatap anaknya. “Kamu kira rumah tangga itu cukup makan cinta saja?” tukasnya ketus.


“Rumah tangga itu butuh duit untuk makan, untuk beli baju, untuk beli rumah!” jelas Bu Tejo dengan napas memburu.


Hening beberapa saat. Tak ada yang berani bersuara. Keluarga besar itu tak ubahnya penonton yang menikmati kemurkaan seorang ibu pada anaknya.


“Putuskan Juna!” titah Tejo meruntuhkan kerajaan cinta Arimbi yang baru saja dibangun.


“Tapi Bu…”


“Tidak ada bantahan!” potong Bu Tejo cepat. “Kamu tahu kan, ibumu ini tak suka dibantah!”


***********


Langkah riang mengantar Arjuna bertandang ke rumah kekasihnya. Ia tersenyum mendapati Bu Tejo yang berdiri di depan pintu.


“Assalamualaikum.” Arjuna mencium punggung tangan calon mertuanya.


“Waalaikumsalam,” jawab Bu Tejo ketus tanpa memandang Arjuna.


“Kapan pulang dari Jakarta, De?”


“Kemaren.”


“Arimbi ada, Budhe?” Arjuna masuk ke tujuan awal.


“Arimbi pergi.”


Tampak Arjuna sedikit kikuk dengan sambutan Bu Tejo. Tak biasanya wanita separuh baya di depannya itu bersikap dingin. Biasanya selalu ramah dan mengumbar senyum.


“O iya Jun, tolong tinggalkan Arimbi!” tegas Bu Tejo bicara membuat Arjuna bertanya-tanya.

__ADS_1


“Tapi kenapa, Budhe?”


“Saya tidak setuju saja, kamu dengan anak saya,” jawabnya enteng.


“Tapi kami saling mencintai.” Jawaban Arjuna menghadirkan senyum sini Bu Tejo.


“Rumah tangga itu bukan hanya butuh cinta tapi butuh harta.” Bu Tejo menatap tajam anak ingusan di depannya. “Dan kamu ga punya harta karena kamu miskin!” tandasnya membuat sakit hati.


“Mungkin saat ini aku masih miskin Budhe tapi percayalah dengan gelar sarjana aku mampu mengumpulkan banyak harta dan bisa membahagiakan Arimbi.” Arjuna tak patah semangat menyakinkan calon mertua.


Semangat Arjuna hanya ditanggapi dengan senyum meremehkan dari Bu Tejo.


“Sayangnya saya tak percaya dengan kata-katamu. Gelar sarjana bukan jaminan hidupmu sukses.”


Arjuna tak mampu berkata-kata lagi. Ultimatum Bu Tejo tak bisa diterima begitu saja. Namun pemuda itu berharap Arimbi masih mau memperjuangkan cinta mereka.


*******


Dipaksa putus saat sayang-sayangnya, tentu tak mudah bagi Arimbi. Sepanjang hari gadis itu menangisi kisah cintanya yang tragis.


Hampir seminggu Arimbi tak bertemu kekasihnya. Tak tahu kabar beritanya. Beruntung, ia punya teman dekat sebaik Lesti.


“Sudah tho, jangan nangis terus!” hibur Lesti yang tak tega sahabatnya nangis terus sepanjang hari.


“Aku kangen sama Mas Juna, Les,” jawab Arimbi terus memeluk boneka panda besar hadiah dari pacarnya.


“Ya, sabar saja! Kalau jodoh juga ga kemana.”


“Tapi bapak dan ibu ga merestui hubungan kami. Alasannya kami masih saudara.”


“Ya sudah, putus saja!” jawab Lesti enteng.


“Terus kamu mau apa? Ibumu kan sudah nyuruh kamu mutusin Juna.”


“Tapi ga tega aku mutusin Mas Juna, Les.” Arimbi bingung. “Dia lagi skripsi. Takutnya kalau aku putusin, dia ga konsen dengan skripsinya.”


“Tunggu sampai Juna wisuda. Setelah itu putusin dia!” saran Lesti makin membuat Arimbi sedih.


“Ya udah, ngebakso yuk! Daripada kamu sedih terus,” ajak Lesti kemudian.


“Ga boleh keluar selain ke sekolah. Ke sekolahpun sekarang diantar Mas Wawan.” Arimbi mendengus kesal.


“Mungkin kalau sama aku boleh kali,” jawab Lesti masih membujuk.


Arimbi mengambil sweater lalu memakainya. Baru sampai di ruang tengah, ekor mata Bu Tejo menghentikan langkah mereka.


“Mau ke mana kalian?” tanya Bu Tejo menyelidik membuat bulu kuduk mereka merinding.


“Be..beli bakso, Bu,” jawab Lesti takut dengan sorot mata itu.


“Wan, beliin bakso!” titah Bu Tejo kepada kakak Arimbi.


Bergegas cowok yang berusia tiga tahun lebih tua dari Arimbi itu pergi setelah menerima uang dari ibunya.


Lesti menatap Arimbi yang menunduk. Ada iba untuk sahabatnya yang sedang patah hati itu. Namun apa dayanya, Bu Tejo lebih kuasa atas Arimbi daripada dirinya.


“Aku pulang dulu ya!” pamit Lesti kemudian.

__ADS_1


“Lho, ga nunggu bakso dulu?” tanya Bu Tejo.


“Engga, Bu. Makasih,” tolak Lesti tersenyum.


“Sudah sore, mau nyapu latar dulu!” Lesti hilang dalam pandangan.


Sepeninggalan Lesti, Arimbi tampak canggung menghadapi ibunya. Gadis tujuh belas tahun itu masih menunduk. Sedang Bu Tejo menatapnya tajam.


“Kamu, jangan cari-cari alasan untuk ketemu Arjuna!” jelas Bu Tejo tajam.


“Engga kok Bu. Emang pingin bakso.” Arimbi tak berkutik.


“Sekarang kalau mau apa-apa tinggal bilang ke Masmu Wawan. Dia ibu tugaskan untuk selalu ngawasin kamu!”


Hidup Arimbi sekarang bagai burung di sangkar emas. Tak bisa bebas pergi kemanapun ia mau.


************


Lesti mengejar Arimbi yang baru keluar dari kelas. Napas ngos-ngosannya mengundang tawa kembang desa itu. Mereka memang satu sekolah namun beda jurusan. Lesti mengemban amanat yang harus disampaikan kepada sahabatnya sebelum Arimbi ketemu Wawan. Maklum Arimbi selalu dijemput kakaknya.


“Ada titipan buat kamu.” Lesti mengeluarkan sepucuk surat bersampul biru. “Dari Juna.”


Arimbi tertegun melihat surat dari kekasihnya itu. Dipandanginya beberapa saat sebelum Lesti mengingatkannya.


“Cepat simpan di tas. Jangan sampai ketahuan Wawan apalagi ibumu.”


Arimbi buru-buru membuka tas dan meletakkan surat itu ke buku tulis.


“Makasih ya, Les.”


“Iya, sama-sama,” jawab Lesti tersenyum. “Ya sudah aku duluan ya! Takut ketinggalan bis Wahyu.”


Lesti berlari, berpacu dengan waktu kedatangan bus jurusan Solo – Watu kelir.


********


Arimbi mengunci pintu kamar. Bayangan surat cinta dari sang kekasih melambai-lambai minta dibaca. Sedikit gemetar ia membuka amplop bergambar hati itu.


“Dear Cintaku”


Semoga dirimu sehat selalu dan dalam lindungan Allah SWT


Tak mudah memendam rasa rindu ini. Aku rindu senyummu, wajah cantikmu dan semua keceriaan kekasihku.


Meski cinta kita terhalang restu orang tua tapi aku akan memperjuangkannya. Karena aku yakin kamu adalah jodohku. Bidadari yang sudah diciptakan Allah untukku.


Berjanjilah selalu setia denganku. Sekuat tenaga aku akan berjuang membahagiankanmu. Menjadikanmu ratu di hidupku.


Jangan menyerah pada badai ini. Yakinlah, kamu tak sendiri. Ada aku yang selalu mencintaimu.


Dari,


Arjuna


Air mata Arimbi jatuh perlahan. Dipeluknya erat-erat kertas dan amplop itu. Gadis itu makin percaya dengan kekuatan cinta yang tak kan pernah lekang oleh waktu. Ia yakin, cinta mereka akan mengalahkan semua rintangan.


*******

__ADS_1


latar : halaman rumah


__ADS_2