Hijrahnya Bunga Desa

Hijrahnya Bunga Desa
Mengejar Kereta


__ADS_3

Tidak mau merepotkan Nurul dan orang tuanya, Malam harinya Mawar meminta izin untuk kembali ke kampung halaman. Meskipun Nurul memintanya tetap tinggal beberapa hari lagi. Namun Mawar bersikeras untuk pulang malam itu juga. Nurul pun tak bisa memaksa Mawar dan tak memiliki pilihan selain mengantarnya ke stasiun.


Sesampainya di stasiun Mawar memeluk Nurul dengan perasaan haru, Meskipun pertemanan mereka belum terjalin lama namun Mawar merasakan kenyamanan seperti memiliki saudara perempuan yang tidak ia dapatkan dari Lily.


"Lalu apa sekarang rencana mu?" tanya Nurul sembari melepaskan pelukannya.


"Sekarang Aku tidak memiliki siapapun lagi di kampung, Mungkin Aku akan kembali bekerja di luar negeri."


"Singapura lagi?"


"Aku ingin mencari pengalaman baru, Mmm... Mungkin Aku akan coba ke Hongkong," ucap Mawar tersenyum.


"Ana... Kenapa sih jauh-jauh kerja ke luar negeri, Aku bisa meminta Abi untuk memperkerjakan mu di perusahaan."


"Kerja apa di perusahaan, SMA saja gak selesai." Mawar tersenyum getir mengingat saat ia putus sekolah di kelas 2 SMA karena kendala biaya. Dan karena itu juga akhirnya Mawar memutuskan untuk bekerja di Singapura sebagai asisten rumah tangga.


"Itu tidak masalah Ana, Kamu teman ku, Abi pasti akan memberimu pekerjaan tanpa perlu ijazah."


"Tidak perlu, Seseorang yang memiliki ijazah lebih berhak mendapatkan pekerjaan itu."


"Hmmm... Ya sudah lah, Kamu memang tidak pernah menerima apapun bantuan ku." Nurul memasang wajah cemberut dan langsung di peluk oleh Mawar.


"Mbak Nurul sudah begitu baik pada ku, Apa yang Mbak Nurul lakukan selama ini sudah cukup."


"Ana... Berapa kali Aku mengatakan, Berhenti memanggilku Mbak, Panggil Aku Nurul, Ingat Aku satu tahun lebih muda daripada kamu."


Mawar tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Baiklah kalau begitu Aku masuk Yah."


"Hati-hati Ana."

__ADS_1


Mawar melangkah meninggalkan Nurul dan masuk ke dalam kereta.


Ketika kereta berbunyi tanda kereta akan segera berangkat, Simba yang berlari dengan begitu kencangnya menabrak Nurul yang akan keluar meninggalkan stasiun.


"Hey!" bentak Nurul yang kemudian terkejut setelah melihat yang ia tabrak adalah Simba.


"Simba!"


"Nurul?"


"Sedang apa kamu di sini? Kenapa berlarian seperti pencuri?"


"Nurul... Dimana Ana?"


"Ana?"


"Iya, Dimana Ana, Tadi Aku ke rumah mu dan kata Ibu mu kamu mengantar Ana ke stasiun."


Mendengar penjelasan Nurul dan bunyi kereta yang menandakan akan segera berangkat, Simba segera berlari menerobos masuk hingga menabrak petugas. Tidak peduli beberapa petugas mengejar dirinya serta menghiraukan keselamatannya, Simba terus berlari sekuat tenaga hingga ia tersungkur di rel kereta.


"Aowhhh..." ringis Simba memegangi lututnya.


"Simba!" teriak Nurul yang kembali ke dalam dan melihat Simba yang tengah di tolong oleh beberapa petugas dan calon penumpang lainnya.


"Simba, Apa kamu sudah gila, Kenapa kamu mengejarnya?"


"Diamlah kamu Nurul, Apa kamu tidak melihat keadaan ku?" dengan dipapah dua orang di kanan kirinya, Simba di suruh duduk di bangku tunggu.


"Cemen banget sih kamu baru luka gini doang!" dengan isengnya Nurul memencet lutut Simba yang terluka.


"A-a-aowhhh... Hey! Apa kamu sudah gila!" dengan kesal Simba menyingkirkan tangan Nurul. Namun Nurul hanya tertawa-tawa tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Dasar gadis gila!"


"Kamu tuh yang gila!"


"Kamu!"


"Kamu! Udah tau kereta sudah berjalan masih aja di kejar, Kalau pengin tau rumah Ana, Tinggal tanya Aku aja ngapain cari mati dengan mengejar kereta?"


"Eh... Tunggu, Kenapa Aku tidak kepikiran ke situ..."


"Karena kamu tuh Ogeb."


"Apa? Kamu ngatain Aku bego?"


"Aku gak bilang begitu."


"Sama aja, Itu hanya terbalik."


Mereka terus berdebat sampai petugas merasa bingung melihat keduanya tidak ada yang mau mengalah.


"Diam!"


Seketika itu juga Simba dan Nurul terdiam dan menatap petugas.


"Kalian harus ikut ke kantor karena telah berani menerobos masuk dan membuat keributan!"


"Tapi Pak... Aowwhhh sakit sekali..."


"Pura-pura aja tuh Pak."


Mendengar ucapan Nurul, Simba mengeratkan giginya seakan ingin membungkam mulut Nurul yang hanya tertawa melihat kekesalan Simba.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2