Hijrahnya Bunga Desa

Hijrahnya Bunga Desa
Setuju


__ADS_3

Mawar masih berpikir keputusan apa yang harus ia ambil, Rasa trauma akan pernikahan yang belum sepenuhnya hilang dari hatinya menjadi pertimbangan tersendiri untuknya. Namun melihat kebaikan kedua orang tua Simba akhirnya dengan pelan Mawar menganggukkan kepalanya. Melihat itu seluruh keluarga tersenyum bahagia. Akan tetapi Simba mengingin kan satu kata keluar dari bibir Mawar secara langsung.


"Katakan Ana..."


"Ya." jawabnya seakan masih terasa berat ia ucapkan.


"Ya apa? Katakan apakah kamu bersedia menjadi istri ku?"


"Ya, Aku bersedia," ucapnya mantap.


Mendengar itu Simba langsung melompat kegirangan dan memeluk Faza yang lebih dekat dengannya.


"Ana setuju Mama... Ana Setuju, Eeummmuach..." dengan gemasnya Simba menci'um Faza membuat Zayn cemburu dan menarik kerah belakang Simba agar menjauh dari Faza.


"Sudah berapa kali Papa bilang, Kamu sudah dewasa jangan ciu'm Mama mu seperti itu!"


"Lalu Aku harus menci'um siapa, Ana masih belum muhrim."


"Sini biar Papa ciu'm, Eumuach Eumuach Eumuach..." Zayn menci'um Simba berkali-kali membuat Simba risih dan mengelap pipinya.


Faza hanya tertawa dan mendekati Mawar kemudian mengajaknya pergi dari sana. Simba yang menyadari hal tersebut langsung berteriak mempertanyakan kemana Faza akan membawa Mawar.


"Mama... Mau di bawa kemana calon isrti ku?"


"Yang jelas menjauh dari mu!" goda Zayn sambil merangkul pundaknya.


"Apa kalian pikir Aku akan berbuat macam-macam sebelum menikahi nya?" tanya Simba sembari menurunkan tangan Zayn dari pundaknya.

__ADS_1


"Ya... Jaga-jaga saja." saut Zayn.


"Jika dukun bisa membunuh tanpa menyentuh, Maka Aku bisa membuatnya rindu tanpa menyentuh, Jadi tidak ada gunanya menjauhkannya dari ku."


"Wow... Kata-kata yang bagus, Jika kamu mengatakan ini kepadanya pasti hatinya akan langsung meleleh."


"Aku akan mengatakannya setelah kita menikah."


•••


Sebelum mempersiapan pernikahan, Zayn mendatangi rumah Papa Faraz untuk memberitahukan rencana pernikahan cucu mereka. Meskipun Simba bukan cucu yang pertama. Namun pernikahan Simba akan menjadi pernikahan pertama di antara cucu keluarga Shaikh.


Seperti halnya Faraz yang menikah muda, Faraz pun tidak keberatan dengan keputusan tersebut. Hanya saja Faraz meminta Zayn menghubungi Zayd dan juga Zia untuk berkumpul di rumahnya agar ikut andil dalam pernikahan Simba.


"Bagaimana?" tanya Faraz begitu Zayn menutup ponselnya.


"Zayd masih ada rapat, Zia akan segera datang."


"Ana..."


"Mawardianah."


Zayn dan Faza yang menjawab bebarengan saling menatap karena jawabannya yang tidak sama.


"Jadi Ana atau Mawardianah?"


Zayn yang memang tidak tahu nama lengkap Ana hanya menatap Faza, Menunggu jawaban yang sama seperti Faraz.

__ADS_1


"Aku sudah sedikit berbincang dengannya, Nama lengkapnya adalah Mawardianah, Dulu saat masih di bangku sekolah ia di panggil Mawar, Tapi setelah memutuskan berhijrah ia tidak lagi mau menggunakan nama itu dan lebih suka di panggil Ana."


"Kak Zayn belum tau nama lengkapnya tapi sudah mengambil keputusan untuk menikahkan mereka berdua? Luar biasa."


Zayn dan lainnya menatap ke arah pintu. Dimana Zia yang baru datang langsung menyuarakan pendapatnya.


"Hey... Adik ku yang paling cantik, Apa kamu lupa bagaimana saat kamu jatuh cinta kepada pria dewasa yang usianya jauh lebih tua darimu?" tanya Zayn.


"Apa hubungannya?"


"Jelas ada, Bukankah kamu juga langsung tergila-gila kepadanya tanpa tahu siapa nama rumah dan apa saat itu Om Bryan sudah menikah atau belum?"


Zia terdiam dan mengulas senyum mengingat pertemuan pertamanya dengan Om Bryan.


"Sekarang kamu mengingatnya? Begitulah cinta sama seperti dirimu, Seperti diriku bahkan Zayd, Simba juga mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu siapa namanya."


"Hanya Opa Faraz yang sulit jatuh cinta pada Oma Alia ."


Lagi-lagi semua orang menoleh ke arah pintu mendengar suara Ziyan yang juga langsung memberikan pendapatnya.


"Ziyan kamu berani mengejek Opa mu?" tanya Faraz melotot.


Ziyan hanya tertawa dan merangkul keduanya pundak Alia.


"Maafkan Aku Oma, Jika Aku harus mengatakan ini untuk yang kesekian kalinya," ucap Ziyan mengecup ujung kening Alia penuh kasih.


"Tidak Papa Sayang..." jawab Alia singkat.

__ADS_1


"Kamu ini tidak jauh bedanya dengan Papa mu, Sama-sama menyebalkan," ucap Faraz memasang wajah kesalnya.


Bersambung...


__ADS_2