Hijrahnya Bunga Desa

Hijrahnya Bunga Desa
Mengejar Cinta


__ADS_3

Dengan langkah yang lemah ia meninggalkan rumah Mawar dan kembali menghubungi Nurul.


"Gimana?" tanya Nurul dari ujung telpon.


"Semua sudah terlambat."


"Maksudnya?"


"Ana sudah berangkat ke PT penyalur tenaga kerja wanita."


"Hey Jagoan! Dia hanya baru berangkat ke PT yang masih satu kota dengan Ana tinggal. Bukan ke luar angkasa."


"Apa yang coba ingin kamu katakan?"


"Emang bener yah kata orang, Cinta itu bikin bodoh!"


"Kau bilang Aku bodoh?!"


"Kalau bukan bodoh apa? Ana baru berangkat ke PT, Dan setiap hari Minggu dia boleh di kunjungi..."


"Aku tidak ingin mengunjunginya tapi Aku ingin memintanya untuk tetap tinggal dan tidak bekerja di luar negeri."


"Bisa, Kamu bisa membatalkan keberangkatannya asal kamu membayar denda yang di minta oleh PT."


"Kalau begitu Aku akan membatalkannya sekarang juga."


"Hey Simba... Tuttt Tuttt Tuttt..."


Lagi-lagi Simba tidak mendengarkan Nurul yang masih belum menutup telponnya ia kembali ke rumah Mawar untuk menanyakan alamat PT dimana Mawar akan berproses untuk bekerja di luar negeri.


Nasib baik Simba tidak terlambat karena begitu ia sampai Lily sudah bersiap meninggalkan rumah peninggalan orang tua mereka.


Meskipun dengan wajah juteknya, Lily memberikan alamat PT yang Mawar naungi.


Tidak peduli hari apa, Simba langsung menuju alamat tersebut, Ia tidak ingin lagi menunggu satu detik saja untuk berjumpa dengan pujaan hatinya.

__ADS_1


Sesampainya di pelataran PT, Simba di hentikan oleh satpam yang menjaga PT tersebut.


"Hey... Stop... Stop... Stop..." Pak Satpam menahan motor Simba dengan berdiri tepat di depannya.


"Ini parkiran khusus untuk staff."


"Ahh Gak peduli," ucap Simba yang langsung menerobos masuk ke dalam kantor.


"Mas... Mas..." Satpam terus mengejarnya masuk dan menarik kedua tangan Simba ke belakang.


"Ada apa ini?" tanya seorang pria pemilik PT tersebut.


"Gak tau nih Pak, Main terobos aja."


"Baiklah." Pria tambun itu memberi isyarat pada satpam untuk meninggalkan ruangan. Kemudian ia duduk di kursi kebanggaannya sambil menyalakan rokok yang terselip di jemarinya.


Melihat Pria itu asyik menghi*ap rokoknya tanpa mengatakan sepatah katapun Simba menggebrak meja di hadapannya.


"Hey santai saja Bung!" ucap pria itu yang langsung berdiri.


"Sejak tadi Aku sudah bersabar tapi Anda malah menguji kesabaran saya!"


"Dari tadi kek, Bikin naik darah aja!"


Setelah meredam emosinya Simba mengungkapkan niatnya untuk menemui Mawar.


"Ana? Ana siapa, Orang mana?"


Dengan menahan kekesalan di hatinya Simba yang memang tidak tahu nama panjang Mawar hanya memberikan alamat yang Nurul berikan. Namun setelah di periksa, Simba harus menelan kekecewaan karena Mawar sudah di bawa ke Jogjakarta untuk melakukan serangkaian tes kesehatan sebagai syarat untuk menjadi tenaga kerja wanita di luar negeri.


"Kapan dia kembali?"


"Mungkin sore, Bisa juga malam."


Mendengar itu Simba tidak sabar untuk menunggu dan meminta alamat untuk menyusulnya. Namun pemilik PT tidak mau memberikannya karena dia tidak ingin kehilangan sumber uangnya.

__ADS_1


"Berapa yang Anda inginkan?"


"Maksudnya?"


"Sudahlah jangan berpura-pura, Anda tidak mau melepaskan Ana karena Anda tidak ingin kehilangan pemasukan Anda kan?"


"Itu realistis, Aku sudah mengeluarkan uang untuk keperluannya, Untuk cek kesehatan nya dan lain-lain, Jika dia kamu bawa pergi begitu saja, Saya rugi dong."


"Maka dari itu katakan berapa uang yang kamu inginkan?"


Setelah berpikir beberapa menit, Pria tambun itu membisikan nominal uang yang harus Simba transfer ke rekeningnya. Tanpa berpikir lagi, Simba menyetujuinya. Namun sebelum itu Simba meminta agar Mawar di pulangkan saat itu juga.


Pemilik PT pun tidak keberatan dan langsung menyuruh anak buahnya untuk membawa Mawar kembali ke PT.


Dua jam menunggu, Akhirnya Simba dapat melihat Mawar turun dari mobil yang mengantarnya. Mawar yang merasa bingung karena tidak tahu mengapa ia di kembalikan ke PT lebih dulu begitu terkejut melihat Simba berada di sana.


"Simba..." lirihnya.


"Ana..."


"Simba sedang apa kamu di sini?"


"Aku mencari mu?"


"Mencari ku? Untuk apa?"


"Untuk menghentikan mu pergi, Untuk meminta mu menjadi istri ku."


Mendengar apa yang Simba katakan Mawar sampai tercengang. "Bagaimana bisa dengan mudah Simba mengatakan itu sementara mereka belum mengenal satu sama lain?" Mawar hanya bisa membatin, Tak percaya dengan apa yang Simba katakan.


"Ana... Katakan sesuatu."


"Apa yang harus ku katakan?" tak terbuai dengan tawaran yang Simba katakan. Mawar dengan tegas menyatakan alasannya.


"Pertama Kita tidak saling mengenal, Kedua kamu belum tahu siapa Aku, Kamu juga belum tahu apakah Aku sudah menikah atau belum, Bagaimana bisa kamu meminta ku menjadi istri mu? Bagaimana jika Aku adalah istri dari seseorang?"

__ADS_1


Mendengar itu Simba terdiam. Sejak melihat Mawar Simba hanya yakin jika Mawar adalah jodohnya sehingga ia tidak memikirkan hal lain selain gigih mengejarnya.


Bersambung...


__ADS_2