Hijrahnya Bunga Desa

Hijrahnya Bunga Desa
Flashback End


__ADS_3

Setelah memutuskan cintanya dengan Fandi, Mawar juga memutuskan keluar dari sekolah. Selain biaya yang menjadi alasan, Mawar juga ingin melarikan diri dari cintanya. Ia tidak ingin terus menerus hidup dalam ketidakpastian.


"Ana... Ana..." tanpa sadar Mawar tertidur. Ia dibangunkan teman sekamarnya karena di panggil oleh pembina Asrama.


"Jam berapa ini?" tanya Mawar mengusap-usap matanya.


"Baru jam delapan sudah tidur, Buruan Sono Mam Maria memanggil mu."


Dengan tubuh yang masih terasa lemas, Mawar bangkit dan pergi ke ruang Mam Maria.


"Mam memanggil ku?"


"Yupz, Kemarilah Ana."


Mawar menganggukkan kepalanya dan duduk di depan Mam Maria.


"Seperti peraturan yang sudah-sudah, Di sini tidak boleh mengenakan hijab apalagi cadar seperti itu, Jadi mulai besok kamu harus lepas dan memotong rambut mu!"


"Apa!? Tapi sponsor bilang Aku boleh mengenakan hijab?"


"Itu jika kamu ingin bekerja di Arab Saudi, Itupun di mulai saat keberangkatan, Jika di sini kamu tetap harus melepaskan hijab dan memotong rambut mu."


"Tapi Aku tidak bisa Mam, Disini ada staff laki-laki juga."


"Kamu harus melakukannya karena itu peraturannya."


"Jika Aku tidak mau?"


"Maka kami harus membayar denda untuk itu."


Mendengar itu Mawar terdiam. Uang tabungannya sudah tak seberapa karena selama ini ia rutin mengirim untuk berobat dan kebutuhan Ayahnya. Perhiasan pun hanya yang menempel di leher dan jemarinya.


"Bagaimana Ana?"

__ADS_1


"A-e... Aku akan memikirkannya, Permisi."


Mawar langsung meninggalkan ruangan dan kembali ke kamarnya.


Di sisi lain Simba kembali ke Jakarta menemani Nurul untuk mengungkapkan keluh kesahnya tentang kenyataan yang ia dengar.


Mendengar cerita itu Nurul tertawa dan mentoyor kening Simba.


"Aowwhh... Ngapain sih! Ada orang sedih malah main toyor-toyor aja."


"Kalau jatuh cinta itu otak di pake." ujar Nurul menempelkan jari telunjuknya di kening Simba.


"Ana hanya menceritakan cintanya hingga menikah dengan Gurunya yang pengecut itu, Tapi dia tidak menceritakan setelah pernikahannya kan?"


Seperti orang bingung, Simba hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Makanya kalau ada orang ngomong tuh di cerna, Jangan asal Telen mentah-mentah." Nurul menjeda ucapannya beberapa saat.


"Sekarang dengarkan Aku, Ana memang pernah menikah, Tapi setelah ijab suaminya pergi meninggalkannya."


"Ya itu benar." Nurul terus melanjutkan ceritanya hingga sampai dimana Mawar menyerah dan melarikan diri dengan bekerja di luar negeri dan bertemu dengan dirinya yang saat itu tengah berlibur.


Mendengar semua cerita itu, Simba merasa begitu iba karena di usianya yang masih begitu muda, Mawar harus mengalami kisah cinta yang pahit dan berstatus janda. Namun hati kecilnya masih ingin mengetahui lebih banyak tentang Mawar dari mulutnya sendiri.


"Simba setiap orang memiliki masa lalu, Yang terpenting sekarang adalah Ana telah menjadi pribadi yang jauh lebih baik."


"Baiklah, Gue pulang."


"Loh, Kok pulang? Hey Simba...!"


Tanpa mempedulikan teriakan Nurul, Simba melaju cepat dengan motor kesayangannya.


Begitu sampai rumah, Simba baru merasakan sakit di bagian lutut dan telapak tangannya. Dengan mandiri ia mengambil air hangat untuk membersihkan lukanya, Setelah itu ia mengambil obat dan perban untuk membalutnya.

__ADS_1


"Hey apa yang kamu lakukan jagoan!" tanya Zayn bergegas lari membantu Simba yang tengah mengikat perban dengan bantuan giginya.


"Apa kamu tidak lagi membutuhkan bantuan Papa mu?" omel Zayn sambil mengikatkan perban di telapak tangan Simba.


Simba hanya diam memikirkan pengakuan Mawar dan cerita Nurul tentang masa lalunya.


"Hey ada apa, Kenapa diam saja?" tanya Zayn yang menatap Simba murung.


"E-e... Tidak." jawabnya singkat.


"Bukankah kita sahabat? Sejak kapan kamu main rahasia-rahasiaan sama Papa?"


"Papa... Sebenarnya Aku sedang merasa ragu akan perasaan ku, Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan karena ternyata Ana..." Simba menceritakan semuanya tentang masa lalu Mawar.


Mendengar semua cerita tentang Mawar, Zayn nampak tidak terkejut. Ia menghelai nafas panjang sembari menepuk-nepuk bahu Simba.


"Dengarkan Papa, Setiap orang memiliki masa lalu, Ntah masa lalu yang baik maupun masa lalu yang kelam. Jangankan Ana yang telah berhijrah, Bahkan jika belum berhijrah sekalipun dia masih berhak menemukan seseorang yang mencintainya dengan tulus." Zayn menjeda ucapannya.


"Kamu tau, Papa lebih banyak melakukan kemaksiatan di masa lalu, Tapi Mama mu menerima itu dengan ikhlas. Padahal Mama mu bisa saja memilih Ustadz Adnan jauh lebih bagus agamanya."


Simba hanya fokus diam mencerna setiap kata yang terucap dari Ayahnya seperti yang Nurul katakan.


"Om Zayd juga demikian, Ia menerima Tante Zahia dengan sangat tulus sekalipun Tante Zahia kala itu telah berstatus janda. Jadi menurut Papa, Jika kamu benar-benar mencintainya, Kejar dia... Jangan pedulikan statusnya maupun masa lalunya seperti apa."


Setelah mendengar semua itu, Simba mengukir senyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian ia bangkit mengambil jaket dan juga kunci motornya.


"Hey mau kemana Singa ku!" teriak Zayn.


"Mengejar calon menantu mu Papa." teriak Simba sembari berlari meninggalkan rumah.


Bersambung...


πŸ“Œ innalilahi wa innailaihi roji'un Mama saya telah berpulang ke Rahmatullah, Mohon bantu kirimkan Fatihah untuk beliau

__ADS_1


Siti Masitoh binti Sumasdar. Terimakasih πŸ₯ΊπŸ™


__ADS_2