
Zayn dan Faza menjemput Simba di stasiun. Begitupula dengan Adnan dan Sakinah, Setelah mencapai kesepakatan damai, Petugas membiarkan mereka membawa anaknya masing-masing.
Sesampainya di parkiran, Faza memarahi Simba karena lagi-lagi berbuat ulah dan membahayakan keselamatannya.
"Setelah bekali-kali terjatuh dari pegunungan, Dari motor, Apa kali ini kamu juga ingin merasakan jatuh di atas rel? Bagaimana jika saat jatuh ada kereta yang lewat? Kenapa selalu membuat Mama sport jantung?"
"Tenanglah Sayang, Dia adalah Simba, Singa kita, Tidak akan ada yang terjadi dengannya." saut Zayn.
"Mas bilang tidak akan ada yang terjadi dengan nya? Lihatlah lututnya berdarah, Telapak tangannya juga."
"Sudahlah Mama ini hanya luka kecil, Aku masih bisa berlari seperti singa."
"Apa! Apa ini artinya kamu masih mau berlari mengejarnya?"
"Tentu saja, Seperti Papa yang tak gentar Bersaing Cinta Dengan Ustadz Adnan Maka Aku tak akan gentar mengejar Ana meskipun tubuhku beribu luka."
Adnan yang mendengar hal tersebut menoleh ke arah Faza. Begitupun dengan Sakinah yang melihat Faza kemudian melihat tatapan suaminya.
"Simba! Apa kamu akan membuat kedua orang tuaku perang dunia?" tanya Nurul yang membuat kedua orang tuanya tersentak dan mengalihkan pandangannya. Sementara Simba yang mengetahui Ustadz Adnan masih baru mau masuk ke mobilnya hanya menggaruk-garuk kepalanya.
Setelah Nurul dan kedua orang tuanya pergi, Zayn meminta Simba masuk ke mobilnya. Namun Simba menolak dan bersikeras mengendarai motor kesayangannya.
Faza yang merasa khawatir terus menoleh kebelakang melihat Simba yang mengikutinya dari belakang. Namun begitu sampai pertigaan, Simba tidak lagi nampak mengikuti mobil Ayahnya.
"Berhenti Mas!"
"Ada apa Sayang?" tanya Zayn menghentikan mobilnya.
"Puter balik Mas, Zaidan tidak ada."
"Paling dia mau ngejar Ana."
"Mas, Kenapa kamu tidak ada rasa khawatirnya, Bagaimana jika Zaidan jatuh, Dia sedang terluka."
Karena melihat kepanikan Faza, Akhirnya Zayn putar balik untuk memeriksa jalanan yang mereka lewat. Namun sampai mendekati stasiun mereka tidak melihat Simba jatuh seperti yang Faza khawatirkan.
"Zaidaaan... Kamu dimana nak..." ucap Faza sedih.
__ADS_1
"Biar Aku telpon."
Simba yang tengah menuju ke kampung halaman Mawar tidak mengangkat ponselnya. Ia fokus mengendarai motornya meskipun luka di kedua lutut dan telapak tangannya belum di obati sama sekali.
Sekitar pukul 07.30 wib Simba sampai ke alamat yang Nurul berikan kepadanya. Ia melepaskan helm dan sarung tangan sembari menahan perih akibat luka yang menempel pada sarung tangannya.
Kemudia ia melangkah mendekati rumah tersebut dan alangkah terkejutnya ia melihat Mawar keluar menggendong anak kecil berusia sekitar tiga tahun setengah. Simba terus memperhatikan Mawar yang kemudian duduk di teras rumah menci'umi anak kecil tersebut dengan begitu gemasnya, Membuat Simba seolah baru memikirkan apa yang selama ini tidak pernah ia pikirkan.
"Apa Ana sudah menikah, Dan apa itu anaknya?" batin Simba yang hatinya terasa teriris memikirkan hal itu.
"Kenapa Aku tidak pernah berpikir jika dia telah menikah, Dan kenapa Nurul juga tidak memberitahu ku?" Simba yang merasa patah hati sebelum menyatakan cintanya perlahan mundur dan kembali ke motornya. Ia meninggalkan rumah Mawar dan berhenti di pinggir jalan meratapi cintanya yang layu sebelum berkembang.
Beberapa menit kemudian Ponsel di saku celananya berdering. Simba yang melihat nama Nurul tertera di layar ponselnya mengangkatnya dengan lemas.
"Halo..."
"Simba, Apa kamu sudah sampai di rumah Ana?"
Simba hanya terdiam. Hatinya sangat sedih memikirkan wanita pujaannya telah memiliki suami dan seorang anak.
"Simba apa kamu mendengar ku, Kenapa kamu diam saja?"
"Apa maksud mu?"
"Kamu adalah teman ku, Kamu juga teman Ana kenapa kamu tidak mengatakan jika Ana sudah menikah dan memiliki anak, Dalam keadaan terluka Aku jauh-jauh datang ke rumahnya. Tapi kenapa kamu..."
"Tunggu! Apa yang kamu katakan Simba? Suami? Anak?" Nurul menjeda ucapannya mengingat-ingat anak siapa yang Simba bicarakan.
"Anak siapa lagi, Aku datang ke rumah Ana dan melihat Ana tengah menggendong anak kecil, Lalu..."
"Lalu kamu mengira itu adalah anak Ana?"
"Dimana otak mu Simba, Apa jika seorang perempuan menggendong anak kecil itu berarti adalah anaknya?"
Mendengar itu seketika pikiran Simba berubah. Ia meninggalkan Nurul yang masih mengoceh dan segera kembali ke rumah Mawar. Namun begitu sampai di sana, Bukanlah Mawar yang ia lihat melainkan Seorang wanita seksi yang tengah menggendong anak kecil yang sebelumnya Mawar gendong.
"Permisi..."
__ADS_1
Wanita itu menoleh, Menatap Simba dari ujung rambut hingga ujung kaki seakan terpesona dengan ketampanannya.
"Ya..."
"Mbak ini siapa yah?"
"Loh seharusnya Aku yang nanya Mas ini siapa, Kan Mas yang datang ke rumah saya."
"Oh maaf, Aku Simba, Aku datang mencari Ana, Apa Anaknya ada?"
"Selalu saja Mawar yang di cari, Sudah tidak kelihatan wajahnya pun masih saja pria-pria tampan sepertinya yang di cari Mawar. Gak lihat apah ada cewek cantik dan seksi di depannya." batinnya.
"Mbak Anda siapanya Ana yah?"
"Oh, Aku Lilyana kakaknya Mawar, E... Maksud ku Ana."
"Salam kenal Mbak, Jadi... Apa Anak ini juga anak Mbak Lilyana?"
"Ya." jawabnya sinis.
Simba bernafas lega, Ia menahan senyumnya karena kekhawatirannya ternyata salah.
"E-mm... Sekarang Ana nya mana?"
"Baru saja pergi."
"Pergi? Pergi kemana?"
"Ke PT penyalur tenaga kerja wanita."
"Lalu kapan dia kembali?"
"Mungkin tidak akan kembali sampai Ia berhasil terbang."
"Maksudnya?"
"Gini ya Mas, Sebelum dia terbang, Dia harus menjalani karantina paling sebentar satu bulan, Bahkan bisa juga tiga bulan. Jadi sampai dia terbang dan kontrak kerja selama dua tahun. Mungkin Aku tidak akan bertemu lagi dengan nya."
__ADS_1
"Apa!?" Simba kembali merasa harapannya pupus mendengar apa yang Lily jelaskan.
Bersambung...