Hijrahnya Bunga Desa

Hijrahnya Bunga Desa
Cemburu


__ADS_3

Keesokan harinya setelah melaksanakan ibadah subuh, Simba memeluk Mawar yang akan keluar dari kamarnya.


"Mau kemana?" Hembusan nafas Simba di telinganya membuat Mawar meremang. Namun Mawar berusaha tenang dan berbalik badan menatap Simba.


"Aku akan pergi ke dapur."


"Untuk?"


"Membuat sarapan, Nyuci piring atau apa saja yang bisa di kerjakan."


"Itu tidak perlu, Semua sudah ada yang mengerjakan. Katakan kamu ingin apa, Aku tinggal menelfon maka pelayan akan membawanya kemari." dengan penuh semangat Simba mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas. Dan di saat bersamaan pula layar ponsel Mawar menyala.


Simba terus memperhatikan ponsel itu hingga beberapa detik kemudian panggilan telpon dari nomor yang tak di kenal pun masuk.


Simba menoleh ke belakang berniat ingin memberitahukan kepada Mawar. Namun belum sempat ia memberitahu Mawar segera mengambil ponselnya dan mematikan panggilan tersebut.


"Ana... Siapa dia, Kenapa langsung di matikan?"


"Mas Zaidan... Maafkan Aku."


"Maaf? Untuk apa, Apa telpon itu dari mantan suami mu?"


Mawar menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Katakan yang sebenarnya Ana, Sebelum kita menikah dia menelpon mu, Dan kamu sempat ragu untuk menikah dengan ku. Apa selama ini kamu masih berhubungan dengan nya, Kenapa kamu masih menyimpan kontaknya, Kenapa tak memblokirnya?" Simba terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Mawar. Hatinya benar-benar terbakar ketika istri yang baru ia nikahi masih belum sepenuhnya lepas dari masa lalunya.


"Ini tidak seperti yang Mas pikirkan,"


"Lalu seperti apa? Kenapa kamu tidak mengatakan jika kamu masih berhubungan dengannya saat Aku mengutarakan keinginan ku untuk menikahi mu, Kenapa kamu memilih menikah dengan ku jika kamu masih mencintainya, Bukankah sebelum akad Aku sudah mengatakan Aku tidak ingin ada penyesalan ketika kamu memilih menikah dengan ku!?" Tanpa memberi Mawar kesempatan untuk membela diri, Simba terus mengungkapkan kekesalannya.


Setelah itu ia meninggalkan kamar tanpa mempedulikan Mawar yang berusaha menghentikannya.


Triiing...


Pintu lift terbuka, Simba tidak mempedulikan Papa dan Mama nya ketika mereka berpapasan. Pandangannya lurus ke depan, Langkahnya terus maju menuju pintu keluar.


"Hey Singa ku, Mau kemana sepagi ini?" pekik Zayn.


"Zaidan... Kamu mau kemana, Kenapa kamu terlihat marah?" Faza berlari memegang lengan Simba untuk menghentikannya.


"Aku keluar sebentar Ma." jawabnya dingin.


"Tapi mau kemana, Kamu belum sarapan."


"Nanti aja Ma, Jangan khawatir." Simba menurunkan tangan Mamanya dan pergi menggunakan motor kesayangannya.


Mawar yang melihat hal tersebut hanya bisa pasrah dan kembali ke atas tanpa ada yang sempat melihatnya.

__ADS_1


"Kenapa dengan nya?" tanya Faza menghampiri Zayn dengan sedih.


"Jangan terlalu di pikirkan, Biasalah malam pertama, Mungkin dia belum berhasil menembus pertahanan Ana." bisik Zayn di ikuti tawa dan langsung di sikut oleh Faza.


"Pikirannya mesum mulu." dengan cemberut, Faza bergegas meninggalkan Zayn.


"Hey Sayang..." Zayn berlari mengejar Faza yang tidak jadi sarapan.


Seperti biasa, Jika ada masalah Simba selalu mendatangi Ziyan untuk meminta solusi atau sekedar mencurahkan isi hatinya. Begitu juga dengan hari ini. Meskipun masih pagi buta ia datang ke rumah sepupunya itu yang masih tinggal bersama Ayah dan ibunya.


Ting... Tong...


Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuknya, Karena tidak melihat Ziyan di ruang tamu maupun ruang makan, Simba langsung berlari ke atas menuju ke kamarnya.


Mendapati pintu yang tidak di kunci, Simba langsung membuka pintunya. Melihat Simba yang masih tertidur pulas dengan posisi tengkurap, Simba mengambil guling untuk memukul punggungnya.


BHUGGG...


"Argh!!!"


"Bangun Loe, Molor aja," ucap Simba yang langsung menjatuhkan diri di samping Ziyan.


"Ngapain Loe kesini?" tanya Ziyan dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.

__ADS_1


Simba hanya diam saja mengingat pertengkarannya dengan Mawar.


Bersambung...


__ADS_2