Hijrahnya Bunga Desa

Hijrahnya Bunga Desa
Rumah


__ADS_3

Simba yang terus menatap Mawar terkejut ketika Bus tiba-tiba berhenti mendadak.


"Awas!" pekik Simba menahan kepala Mawar agar tidak terbentur bangku di depannya dengan telapak tangan kanannya. Sementara tangan kirinya merangkul pundaknya, Membuat Mawar terbelalak mebatap Simba.


Menyadari hal tersebut, Simba menarik tangannya.


"M-maaf..."


Mawar hanya diam dan kembali ke posisinya. Setelah beberapa menit ia kembali mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya tanpa menatap Simba.


"Dengar, Aku ikut dengan mu bukan karena Aku mau menikah dengan mu, Tapi karena peraturan di PT yang mengharuskan ku melepas hijab ku."


"Lalu?" jawab Simba dengan santai. Bahkan ia terus tersenyum menatap Mawar dengan mencondongkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di bangku depan Mawar. Hal itu membuat Mawar gugup dan terus mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


"Aku mohon jangan menatap ku seperti itu."


"Apa kamu takut jatuh cinta kepada ku?" tanya Simba semakin menggodanya.


"Tidak!"


"Jika memang tidak, Maka lihat Aku sebentar saja."


"Aku tidak akan melakukannya karena sesuai yang ku pelajari, Baik laki-laki maupun perempuan hendaknya menahan pandangannya."


Mendengar itu Simba menarik nafas dalam-dalam dan kembali duduk di bangkunya. Ia tersenyum dan kembali melirik Mawar tanpa ada rasa tersinggung maupun merasa di ceramahi oleh Mawar. Justru ia semakin yakin jika Mawar adalah calon istri yang tepat untuk dirinya dan juga ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak.


Malam pun kian larut, Susana di dalam Bus sudah sepi karena seluruh penumpang sudah tidur, Begitupun dengan Mawar. Namun rasa dingin yang menusuk tulang membuat Mawar menggigil kedinginan. Sayup-sayup Simba yang mendengar rintihan Mawar terbangun dan membangunkan Mawar.


"Ana... Ana..."


"Hah!"


"Kamu kedinginan, Pakailah jaket ku."


Mawar terdiam seakan berpikir.


"Aku bisa saja langsung memakaikan jaket ku kepada mu tanpa membangunkan mu, Tapi Aku tidak ingin kamu salah paham dan menganggap ku tidak sopan kepada mu."


Karena rasa dingin yang teramat sangat Mawar pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Simba yang mendapat persetujuan dari Mawar tersenyum lebar dan langsung ingin memakaikannya. Namun Mawar segera menahan hal itu dan meminta memakainya sendiri.


"Maaf," ucap Simba menggaruk-garuk kepalanya.


Dibalik cadarnya, Mawar menahan senyumnya dan menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan.


•••


Dini hari akhirnya mereka sampai di rumah Simba dengan di jemput oleh supir pribadi yang sudah di hubungi terlebih dahulu sebelum mereka sampai terminal.


Seperti halnya Simba, Mawar pun di perlakukan dengan hormat oleh supir yang mempersilahkan Mawar turun dengan membukakan pintu untuknya.


Begitu turun dari mobil, Mawar terperangah melihat rumah besar bak istana yang di dominasi warna putih bergaya Eropa modern. Lebih besar dari rumah majikannya saat ia bekerja di Singapura.


"Ana..."


"Hah!" Mawar tersentak dari lamunannya ketika Simba tersenyum memanggil namanya.


"Ayo kita masuk."


"T-tunggu..."


"Untuk apa Aku kesini, Apa yang akan Aku lakukan nanti?" tanya Mawar yang menjadi tegang.


"Bukankah sudah ku katakan, Kamu akan menjadi istri ku jadi tidak perlu memikirkan apa yang akan kamu lakukan."


"Simba... Pernikahan bukanlah permainan, Banyak hal yang harus kamu pikirkan dan pertimbangkan tentang diriku, Kamu juga belum pernah melihat wajah ku, Bagaimana jika ternyata di balik cadarku Aku cacat dan tak secantik, Apa kamu tidak akan menyesal nantinya?"


Simba hanya tersenyum menggelengkan kepalanya. Kemudian kembali mengajaknya masuk. Tanpa menyentuh kulit tangan Mawar secara langsung, Simba menggenggam pergelangan tangan Mawar dan menariknya. Mawar yang begitu terkejut dengan tindakan itu hanya bisa mengikuti Simba sembari terus melihat tangannya.


Begitu sampai depan pintu dua pelayan sudah menyambut kedatangan mereka dengan ramah.


"Selamat datang Den Simba."


"Terimakasih Bi, Oh ya dia Ana, Tamu istimewa ku jadi kalian harus melayaninya dengan sangat baik. Buat dia senyaman mungkin agar tidak lagi berpikir untuk meninggalkan rumah ini."


"Siap Den..."


"Sepertinya Papa dan Mama ku belum bangun, Kamu beristirahat lah."

__ADS_1


"Bibi... Antar Ana ke kamar tamu, Bawakan tas nya."


"Siap Den, Mari Non..."


Mawar hanya mengangguk patuh dan mengikuti pelayan membawanya masuk kedalam lift.


Keluar dari lift Mawar tak hentinya menatap takjub seluruh sudut rumah yang mungkin akan membuatnya tersesat karena banyaknya lorong menuju banyak ruangan.


"Non Ana bisa kenal dimana dengan Den Zaidan?" pertanyaan itu membuat Mawar tersentak dari pikirannya.


"Hah!"


"Bisa kenal Den Zaidan dimana?"


"Siapa Zaidan?" tanya Mawar bingung. Membuat pelayan yang bisa di sebut Bibi itu tersenyum.


"Baru kenal yah?" Bibi kembali tersenyum, Membuat Mawar tersipu malu.


"Zaidan Faaiq Shaikh, Pria tampan yang membawa mu ke mari." godanya.


"M-maksudnya Simba?"


"Iya... Dia hanya mau di panggil Simba. Hanya orang tua dan saudara terdekat saja yang berani memanggil Zaidan tanpa peduli meskipun Den Zaidan melarangnya." ceritanya Bibi.


Mendengar itu Mawar hanya tersenyum.


"Gak nyangka loh Den Zaidan bisa menyukai gadis seperti mu."


"Seperti apa Bibi?"


"Ya seperti Non Ana ini, Den Zaidan kan anak jalanan suka keluar malam gak nyangka aja sukanya sama gadis bercadar seperti Non Ana."


"Apa sebelumnya Simba juga pernah membawa seorang gadis ke rumah?"


"Tidak pernah, Ini untuk pertama kalinya Den Zaidan membawa seorang gadis ke rumah."


"Bibi... Apa Bibi mulai bergosip tentang diriku?" Mawar dan Bibi menoleh ke belakang menatap Simba yang sudah berdiri tak jauh dari mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2