Hijrahnya Bunga Desa

Hijrahnya Bunga Desa
Penasaran


__ADS_3

Zayn membangunkan Simba yang masih tertidur pulas menikmati mimpinya di siang bolong. Meskipun Zayn membebaskan Simba menekuni hobinya. Namun Zayn cukup tegas dalam mendidik Simba untuk menyeimbangkan dengan ilmu agama, Seperti saat ini Zayn mengajak Simba untuk ikut menghadiri majlis ta'lim bersamanya.


"Apaan sih Pa, Ngantuk banget nih," ucap Simba dengan mata yang masih terpejam.


"Zaidan, Selama ini Papa membebaskan mu untuk menekuni hobi mu, Sekarang kamu harus menuruti perintah Papa atau Papa tidak akan lagi memberimu izin untuk mendaki gunung maupun touring."


Mendengar itu, Simba duduk dengan mata yang terus terpejam. Kemudian ia kembali menjatuhkan diri dan memeluk bantalnya.


"Zaidan! Hey... Bangun... Jangan tidur lagi." Zayn menarik bantal yang di peluk Simba untuk memukul punggungnya.


"Papa please jangan ganggu Aku, Aku benar-benar tidak bisa membuka mata ku." Simba menarik selimut menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Jadi kamu memilih untuk tidak lagi menekuni hobi mu?"


Belum sempat Simba menjawab, Faza datang memanggil Zayn.


"Maaas... Cadar hitam yang Aku minta Mas taruh di laci di mana, Kok gak ada?"


"Cadar?" Simba yang mendengar kata itu membuka selimut yang menutupi kepalanya.


"Cadar..." dengan penuh semangat Simba bangkit dan bertanya kepada ibunya dengan antusias.


"Tadi Mama bilang apa?"


"Cadar?"


"Lalu Papa?"


"Apa, Papa hanya meminta mu bangun dan menghadiri majlis ta'lim bersama kami."

__ADS_1


"Cadar, Menghadiri majlis ta'lim dan tadi malam Ana ada di stasiun, Apa ini artinya Ana akan menghadiri majlis yang sama dengan Papa?"


Zayn dan Faza saling memandang satu sama lain melihat putra mereka yang komat kamit seperti baca mantera.


"Hey sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Zayn.


"Calon menantu mu Papa, Eeummmuach..." sambil mencium pipi Faza, Simba berlari ke kamar mandi.


Zain dan Faza kembali saling menatap dan merasa heran dengan melakukan putranya.


Sementara Mawar dan Nurul sudah bersiap meninggalkan rumah, Begitupun dengan Ustadz Adnan dan Sakinah. Karena mereka berempat ingin ke majlis yang sama maka Ustadz Adnan mengajak serta Mawar dan juga Nurul naik mobilnya.


"Lalu bagaimana dengan motor ku Abi?"


"Nurul Asqiyah, Ayolah kali ini naik mobil Abi, Kasian Ana jika harus memakai motor tua mu itu."


•••


Sesampainya di sana tanpa di duga mobil Ustadz Adnan parkir di samping mobil Zayn yang juga baru sampai.


Ustadz Adnan dan Zayn saling melihat ketika sama-sama turun dari kemudi. Kemudian mereka saling mengucapkan salam dan membukakan pintu untuk istri masing-masing, Sementara anak-anak membuka pintu sendiri.


Pintu mobil yang terbuka secara bersamaan membuat kedua pintu mobil itu beradu.


"Hey hati-hati Zaidan." pekik Zayn yang melihat hal itu.


Mendengar itu, Ustadz Adnan dan Sakinah segera menuju pintu belakang, Begitu pun dengan Zayn dan Faza.


"Biarkan Nurul yang membuka terlebih dahulu," ucap Zayn.

__ADS_1


Dengan patuh, Simba menutup pintunya kembali. Namun Simba yang melihat dari kaca mobil merasa jika yang turun bukanlah Nurul.


"Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar kencang seperti ini?" batin Simba yang kemudian bergegas turun.


Begitu turun, Simba melihat dua wanita bercadar mendekati Faza dan menjabat tangannya.


"Anak perempuan Ustadz Adnan kan cuma Nurul, Lalu siapa yang bersamanya." batin Simba yang coba melihat mata Mawar yang masih menghadap ibunya.


"Kenalin ini Ana teman Nurul," ucap Nurul kepada Faza dan Zayn.


"Oh ya, Salam kenal Ana."


"Salam kenal Om... Tante..."


"Ya sudah, Ayo kita masuk, Nanti keburu di mulai." seru Faza menggandeng tangan Sakinah di belakang anak-anaknya.


Melewati Simba, Nurul hanya menyapa sekilas sementara Mawar terus menundukkan kepalanya.


Simba yang masih penasaran siapa yang bersama Nurul, Bergegas mendahului Ayahnya untuk melihat wajah yang tersembunyi di balik cadar itu. Namun dengan cepat, Zayn mencengkeram kerah belakang Simba dan menarik ke sisinya.


"Mau ngapain, Di sana khusus perempuan."


"P-pa..." Simba tergagap bingung dan terus melihat punggung Nurul dan yang lain yang memasuki ruangan khusus wanita.


"Zaidan... Apa yang kamu lihat, Apa kamu ingin duduk bersama para wanita?"


Mendengar ucapan Zayn, Adnan tersenyum menggelengkan kepalanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2