
Malam harinya Simba yang belum juga pulang, Membuat Mawar merasa kesepian. Dan untuk menghilangkan perasaan sepinya, Ia membuka aplikasi berwarna biru. Begitu ia masuk ke akunnya netranya tertuju pada pojok kanan atas, Dimana ada beberapa pesan masuk ke akun nya. Karena merasa penasaran, Mawar pun mengeklik nya dan melihat pesan dari orang-orang yang tidak ia kenal. Satu persatu Mawar memeriksakannya hingga jarinya berhenti pada satu akun yang dulu pernah mengisi masa lalunya.
"Pak Fandi..." lirih Mawar yang kemudian membuka pesan itu.
"Hai Mawar... Bahagia kabar mu? Apakah kamu masih mengingat ku, Aku harap kamu masih mengingat ku sebagaimana Aku mengingat mu, Meskipun kini Aku telah berkeluarga namun hanya harum tubuh mu yang bisa ku rasakan saat Aku bersamanya. Untuk melupakan mu Aku terpaksa menikah dengan pilihan Papa karena merasa hancur saat kamu mengatakan telah bahagia bersama suami mu. Tapi ternyata Aku salah Mawar, Aku tetap tidak bisa melupakan mu, Justru Aku semakin merasa tersiksa setiap kali memenuhi tanggung jawab ku sebagai...."
Mawar menghentikan bacaannya yang masih begitu panjang. Ia merasa kesal kenapa ada kata-kata yang mengingatkan saat kemaksiatannya bersama Fandi.
"Astaghfirullah'haladzim." Mawar memejamkan mata mengelus-elus dadanya untuk menenangkan hatinya yang gusar. Saat bersamaan Simba masuk ke kamar dan melihat apa yang tengah Mawar lakukan.
"Ana..."
Mawar tersentak ketika melihat Simba yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Mas Zaidan..." dengan gugup, Mawar langsung menyembunyikan ponselnya di bawah bantal. Tanpa melihatnya Simba melangkah mendekati Mawar dan bertanya apa yang terjadi.
"Kenapa kamu terlihat cemas?"
"E-tidak... Aku hanya merasa cemas karena tadi Mas belum pulang."
"Masya Allah istri ku... Maaf ya, Mas tadi suruh gantiin Papa meeting di luar kantor."
__ADS_1
Mawar hanya mengangguk dan merasa bersalah ketika Simba mengecup keningnya kemudian masuk ke kamar mandi.
"Astaghfirullah'haladzim... Seharusnya Aku tidak berbohong." sesal Mawar.
Sementara di kamar lain, Faza tengah menceritakan apa yang terjadi tadi siang kepada Zayn. Dimana Mawar sudah mulai merasa curiga jika ada yang di sembunyikan dari keluarga suaminya.
"Sampai kapan kita akan menyembunyikannya Mas, Ana berhak tau agar tidak merasa tersiksa sendiri dengan harapannya yang begitu besar. Jika dia tahu kita lebih mudah mencarikan solusi untuk permasalahan mereka. Kasihan dia, Sudah tiga tahun ini hampir setiap bulan ana mengecek apakah dia hamil atau tidak."
Setelah mencerna apa yang Faza katakan. Kemudian menarik nafas dalam-dalam dan bangkit dari duduknya. "Aku harus bicarakan ini kepada Zaidan terlebih dahulu, Kamu sendiri tahu jika Zaidan lah yang bersikeras untuk tidak memberitahu Ana karena tidak ingin melihatnya sedih."
"Sekarang pun Ana sudah sangat sedih dengan terus berharap tanpa mengetahui kondisi yang sebenarnya."
"Tapi setidaknya kita ada untuk menghadapinya bersama-sama, Dengan adanya dukungan dan kasih sayang kita, Ana tidak akan merasa sendiri."
"Ya baiklah, Kalau begitu Aku temui Zaidan dulu."
"Ehhh... Zaidan ada di luar gak, Ntar lagi di kamar lagi, Dia kan baru pulang."
"Oh ya udah kalau begitu besok aja." Zayn kembali ke tempat tidurnya memeluk perut Faza dengan gerakan menarik sampai membuatnya terbaring.
Di kamar lain Mawar pun tengah memeluk Simba dengan berbantalkan dada kirinya. Sementara Simba terus membelai rambut Mawar dan sesekali mengecup kepalanya.
__ADS_1
Mawar memejamkan mata merasakan ketenangan berada dalam dekapan sang suami, Melupakan sejenak tentang betapa sulitnya ia memiliki momongan. Tapi itu hanya beberapa menit karena di saat ia memejamkan mata pikirannya juga mengingat percakapannya dengan ibu mertua.
Mendapati Mawar merenggangkan pelukannya Simba pun menurunkan tangannya dan menatap Mawar.
"Ada apa?"
"Bagaimana jika ternyata Aku tidak bisa hamil lagi?"
Simba terkejut mendengar pertanyaan Mawar. Namun ia berusaha tenang menanggapi pertanyaan itu.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Ya nggak, Ini sudah tiga tahun loh Mas dari Aku keguguran. Aku hamil juga."
"Jangankan tiga tahun, Bahkan tiga puluh tahun jika Allah tidak menghendaki kita memiliki momongan maka Aku akan selalu setia menemani mu di hari tua."
"Maaasss... Jangan bicara macam-macam, Aku akan merasa tidak sempurna jika tidak bisa memberimu keturunan."
"Aku juga demikian Ana. Tapi apa yang bisa ku buat, Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya jika kamu mengetahui apa yang pernah Dokter sampaikan." batin Simba yang menjadi begitu sedi.
Bersambung...
__ADS_1