Hijrahnya Bunga Desa

Hijrahnya Bunga Desa
Pertengkaran


__ADS_3

Setelah terdiam beberapa saat. Mawar menarik nafas dalam-dalam dan mengambil tasnya yang tergeletak di tempat tidur.


"Baiklah, Jika kamu tidak mau, Aku akan mencari wanita lain untuk menikah dengan suami ku."


"Ana! Apa yang kamu katakan?" tanya Nurul terkejut.


"Jadi kamu benar-benar serius ingin menikahkan Simba dengan wanita lain?"


"Apa kamu pikir sejak tadi Aku bercanda? Nurul, Laki-laki boleh menikahi empat wanita, Apalagi jika istrinya tidak bisa memberinya keturunan. Jika Aku ikhlas lalu dimana letak kesalahannya?"


"Aku tahu itu Ana, Tapi jika si lelaki tidak bisa berlaku adil maka Allah memerintahkan nikahi satu wanita saja."


Mawar terdiam mendengar itu, Dalam hati kecilnya memang tidak mengingan hal itu terjadi, Tapi ketidak berdayaannya membuat dirinya bersikeras untuk mencari wanita yang siap menikah dengan suaminya dan memberi keluarganya keturunan.


"Aku pergi dulu ya..."


"Ana..." Nurul menghentikan Mawar karena khawatir Mawar akan benar-benar mencari wanita lain untuk menikah dengan Simba.


Namun Mawar hanya tersenyum masam dan menurunkan tangan Ana dari bahunya.


"Ana kenapa kamu keras kepala sekali?" teriak Nurul.


Mawar tidak peduli dengan kata-kata Nurul dan tetap melangkah keluar dari kamar Nurul. Seperti halnya dulu saat Mawar ingin menikah dengan Fandi, Kali ini pun Mawar bersikeras ingin mencari istri untuk suaminya.


"Ana... Baiklah..."


Mendengar itu Mawar langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ia menatap Nurul seakan masih tak percaya dengan apa yang baru saja Nurul ucapkan.


"Baiklah?" tanya Mawar memastikan.

__ADS_1


Nurul memejamkan mata, Sebenarnya ia tidak ingin menyetujui itu, Tapi dia tidak ingin Mawar menikahkan Simba dengan wanita lain dan membuat Mawar terluka di kemudian hari.


"Ya..." saut Nurul dengan berat hati.


"Ya apa, Katakan dengan jelas."


"Ya Ana, Aku bersedia menikah dengan Simba."


Mendengar itu Mawar langsung tersenyum lebar dan memeluk Nurul. "Terimakasih Nurul... Terimakasih... Kamu memang benar-benar teman terbaik ku."


"Bagaimana Aku menjelaskan ini kepada Abi dan Umma." batin Nurul.


•••


Setelah pulang dari rumah Nurul, Mawar yang melihat Simba berdiri di depan lemarinya, Langsung berlari memeluk Simba dari belakang.


Ia mencondongkan tubuhnya ke samping untuk melihat wajah Simba yang juga menoleh ke arahnya.


"Mas benar sekali, Aku memang sedang sangat-sangat bahagia."


Mendengar itu, Simba memegang kedua tangan Mawar denfan gerakan memutar sehingga mereka saling berhadapan.


"Sekarang katakan padaku, Apa yang membuat mu sangat bahagia."


"Kita akan segera memiliki keturunan."


"Apa!? Kamu hamil?" Simba begitu bahagia mendengar hal itu. Namun senyum itu memudar ketika Mawar menggelengkan kepalanya.


"Lalu?"

__ADS_1


"Akan ada istri lain yang memberikan keturunan untuk mu."


"A-apa yang coba ingin kamu katakan Ana?"


"Menikahlah dengan Nurul."


Bak disambar petir Simba begitu tercengang dengan apa yang Mawar katakan.


"Aku sudah mengatakan kepada Nurul untuk menikah dengan Mas, Dan dia telah... Se-tu-ju." seketika Mawar merasa tegang ketika Simba langsung melepaskan kedua tangannya dari genggamannya.


"M-mas..."


"Lancang sekali kau memutuskan ini tanpa bertanya terlebih dahulu padaku!?"


Mawar merasa gemetar melihat Simba yang untuk pertama kalinya membentak dengan penuh kemarahan.


"Kamu pikir siapa dirimu sampai mengatur ku untuk menikah lagi?"


Mawar mulai meneteskan air mata dengan kepala tertunduk.


"Bahkan orang tuaku saja tidak pernah meminta ku menikah lagi meskipun kamu belum bisa memberinya cucu, Lalu kenapa kamu meminta ku menikah lagi, Apa kamu sudah bosan dengan ku, Sudah tidak mencintai ku lagi?!"


"Tidak Mas, Bukan begitu..."


"Lalu apa Ana!?"


"Justru Aku sangat mencintai mu dan keluarga ini sehingga Aku rela meminta mu untuk menikah lagi agar rumah ini terasa sempurna dengan kehadiran seorang cucu."


"Bahkan jika Aku menikah sepuluh kali pun jika Allah tidak berkehendak, Maka Aku tetap tidak akan memiliki seorang anak!" dengan kesal Simba meninggalkan Mawar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2