Hijrahnya Bunga Desa

Hijrahnya Bunga Desa
Setuju


__ADS_3

Asisten rumah tangga yang datang ke kamar begitu terkejut melihat tangan Simba yang meneteskan darah hingga ke lantai, Dengan panik ia langsung berlari memanggil Zayn dan Faza yang tengah bersantai di depan TV.


Zayn dan Faza pun segera berlari ke atas untuk melihat putra semata wayangnya. Begitu sampai atas Zayn langsung mendekati Simba sementara Faza bergegas mengambil kotak obat.


"Apa yang terjadi?" tanya Zayn sembari mengambil tisu untuk membersihkan darahnya.


"Akan ku ambilkan es batu biar darahnya berhenti," ucap Faza.


"Jagoan apa yang terjadi, Kenapa kamu mekukan ini?"


Tanpa menjawab Simba memberikan kertas yang sudah lusuh dan di penuhi darahnya sehingga Zayn tidak bisa membaca semuanya.


"Apa ini, Aku ingin bebas..." Zayn terus mengamati surat itu namun tak lagi bisa membacanya.


"Ana pergi Pa."


"Apa!"


"Ini Mas..." Faza menyela pembicaraan mereka dengan memberikan es batu kepada Zayn. Zayn pun segera menempelkan es batu tersebut ke tangan Simba dengan tujuan untuk menghentikan darahnya. Setelah itu Zayn memberikan obat tetes dan membalutnya dengan kain kasa.


"Kata mu Ana pergi?" tanya Faza.


Simba mengangguk sedih dan mulai menceritakan alasan Ana meninggalkan rumah sesuai yang Ana tulis di surat tersebut. Belajar dari pengalaman, Zayn tidak buru-buru menyimpulkan jika Ana benar-benar pergi karena ingin kembali ke mantan suaminya.

__ADS_1


"Mungkin saja dia pergi dengan terpaksa karena ingin kamu menikah dengan Nurul kan?" tanya Zayn.


"Ya, Papa mu benar, Selama ini kan Ana bersikeras ingin kamu menikah lagi, Jika sekarang tiba-tiba beralasan ingin kembali ke mantan suami nya Mama rasa itu hanya alasan agar kamu membencinya dan menikah dengan orang lain."


Mendengar itu Simba menatap kedua orang tuanya dan mulai memikirkan jika benar begitu adanya, Kemana Mawar akan pergi.


Memikirkan itu semua Simba bergegas bangkit mengambil kunci motor dan jaketnya.


"Zaidan kamu kemana?" pekik Faza.


"Aku akan mencarinya." jawab Simba sembari berlari meninggalkan kamarnya.


Zayn dan Faza saling menatap dan tersenyum satu sama lain. Mereka tidak keberatan jika Simba terus mengejar Mawar sekalipun apa yang sudah terjadi.


Mendengar itu, Simba pun menyusul Nurul ke stasiun.


Tak memerlukan waktu lama Simba yang telah sampai di stasiun bergegas masuk melalui pintu utama. Namun ia di hentikan oleh petugas karena tidak memiliki tiket. Demi bisa masuk akhirnya Simba membeli tiket ke sembarang tujuan.


Begitu berhasil masuk Simba menghubungi Nurul yang juga tengah mencari Mawar kesana-kemari.


"Apa kamu sudah menemukan Ana?" tanya Simba begitu telponnya di angkat.


"Belum Simba, Aku sudah mencari ke semua kereta yang ada tapi tidak menemukannya."

__ADS_1


"Kemana Ana pergi," ucap Simba yang kemudian mematikan panggilannya.


Di saat keputusasaannya, Simba tersentak ketika mendengar bunyi kereta di depannya siap berangkat. Ia pun melangkah mundur menghindari kereta tersebut. Dan ketika kereta itu telah pergi, Simba melihat ke seberang jalur lain dan melihat Mawar tengah termenung menyandarkan kepalanya di jendela.


"Ana...!" Simba bergegas turun melewati rel satu ke rel lainnya, Ia mendekati jendela dimana Mawar duduk. Ia pun menggedor-gedor jendelanya hingga membuat Mawar sadar dari lamunannya.


Sementara dari arah lain, Nurul yang melihat Simba bicara dari luar kereta bergegas menghampirinya untuk melihat dengan siapa Simba bicara.


"Mas Zaidan..." Mawar begitu terkejut melihat Simba di luar jendela. Sementara di saat bersamaan kereta api juga siap berangkat. Hal itu membuat panik Simba dan juga Mawar yang melihat Simba berlari ke arah pintu.


Tidak mau terbawa kereta, Simba langsung menarik tangan Mawar dan mengajaknya turun dari kereta. Meskipun Mawar menolaknya namun Simba terus menariknya hingga mereka berhasil turun dari kereta.


"Lepaskan!" ucap Mawar menghempaskan tangan Simba.


"Untuk apa kalian kesini, Bukankah Aku sudah mengatakan agar tidak mencariku?"


"Kamu pergi supaya kami menikah kan?"


Mawar terdiam dan tidak bisa berbohong kepada suami maupun sahabatnya itu.


"Baiklah jika itu memang keinginan mu, Maka Aku akan menikahi Nurul."


Mendengar itu bukan hanya Nurul yang tercengang menatap Simba, Mawar pun menatap Simba dengan perasaan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2