
Mawar yang khawatir Simba akan salah paham kepadanya bergegas menghampiri Simba dan mencoba untuk menjelaskan apa yang terjadi. Namun Simba mengangkat kelima jarinya untuk menghentikan Mawar bicara.
"Zaidan... Simba..." air mata mulai menetes membasahi cadar yang ia kenakan mengira Simba akan marah kepada. Namun yang terjadi adalah sebaliknya.
"Tidak perlu menjelaskan apapun, Aku sudah melihat dan mendengar semuanya."
Mawar masih merasa bingung dengan apa yang Simba katakan, Ia hanya bisa melihat Simba yang terus melangkah melewatinya dan mendekati Raka.
"Berraninya kamu menyentuh istri ku dengan tangan kotor mu!" tanpa ampun Simba menarik dan memelintir tangan Raka hingga tulangnya berbunyi.
"Aaa...!" Raka hanya bisa menahan sakitnya tanpa bisa melawan diri.
Mendengar keributan, Lily dan Mona serta suaminya berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi. Mereka terkejut melihat Simba yang masih menahan kedua tangan Raka dari belakang dan terus memakainya.
"Kamu pikir kamu siapa sampai berani memegangnya dan berbicara kotor padanya, Hah!!!" Simba melepaskan tangan Raka sembari mendorong tubuh Raka. Tubuh Raka pun terpental beberapa langkah hingga ia menabrak Lily yang berdiri di sana.
"Kamu benar-benar tidak tau diri, Kamu kesini karena Ana masih menganggap mu keluarga, Suami dari kakaknya. Tapi apa yang kamu lakukan, Kamu bahkan tidak bisa bicara dengan sopan kepada Nyonya rumah ini!"
Semua orang hanya terdiam melihat kemarahan Simba, Tak terkecuali dengan Mawar yang merasa takut melihat sisi lain dari Simba, Sumi yang belum lama ini ia kenal.
__ADS_1
"Sekarang juga kemasi pakaian mu dan pergi dari rumah ku!"
Mendengar itu, Lily merasa terkejut, Ia melihat kesal Raka, Keinginannya untuk tinggal lebih lama lagi di rumah mewah itu gagal karena ulah suaminya."
"Maaf tapi Aku harus mengatakan ini. Pergilah bawa anak dan istri mu dari rumah ku, Jalani rumah tangga kalian dengan baik."
"Dan kamu Ana..." Simba kembali melangkah mendekati Mawar.
"Untuk orang tua mu, Aku serahkan kepada mu, Kamu boleh memutuskan apapun yang kamu inginkan." Setelah mengatakan itu, Simba masuk ke dalam, Meninggalkan Mawar dan seluruh keluarganya.
"Mawar..."
"Maafkan Aku ibu, Aku tidak bermaksud durhaka kepada ibu, Tapi demi kebaikan kita bersama, Terutama untuk kebaikan suami dan keluarga ku, Sebaiknya ibu pulang secepatnya, Aku tidak ingin ada..."
"Wahhh... Lihatlah dia ibu..." Lily langsung memotong ucapan Mawar yang belum selesai.
"Dia Baru satu hari menjadi Nyonya Shaikh tapi gayanya sudah seperti Ratu. Sekarang ibu lihat sendiri kan, Meskipun seluruh tubuh sudah tertutup, Bahkan wajahnya juga ia sembunyikan, Namun hatinya masih tetap sama seperti dahulu, Bahkan ia lebih durhaka dari sebelumnya."
"Kak Lily..."
__ADS_1
"Kenapa Mawar? Bukankah kamu pernah mengatakan dalam ajaran agama Islam Ridho Allah SWT ada pada ridho kedua orang tua dan kemurkaan Allah SWT ada pada kemurkaan orang tua?
Kamu juga pernah menceramahi Aku jika Abu Darda mendengar Rasulullah bersabda "Orang tua merupakan pintu syurga paling pertengahan, Jika engkau mampu maka tetapilah atau jagalah pintu tersebut. Lalu sekarang apa Mawar?"
Mendengar itu Mawar menundukkan kepalanya dan menangis, Ia tidak bermaksud mengusir ibunya seperti Simba mengusir kakaknya. Namun sesuai kesepakatan awal yang mereka hanya akan tinggal beberapa hari serta pengalaman pahit Mawar saat tinggal bersama Ayah tirinya membuat ia takut dan harus meminta ibunya pergi sebelum ibunya yang meminta izin untuk pergi.
"Meskipun Aku tidak menutup aurat seperti mu, Tapi Aku mengingat semua ceramah mu saat Aku bersikap buruk pada ibu, Tapi sekarang Kamu melupakan itu semua setelah mendapatkan kemegahan ini, Kamu lupa jika seburuk apapun ibu kita, Dia adalah ibu yang harus di hormati."
"Kak Lily..." Mawar mencoba memegang tangan Lily namun Lily langsung menghempasnya dengan kasar.
"Raka... Ibu Ayo kemasi barang kita, Kita pulang dari sekarang."
"Ibuuu..." Mawar memegang tangan ibunya untuk menghentikannya, Mawar benar-benar merasa bersalah dan merasa jika yang di ucapkan Lily memanglah benar adanya.
Mona hanya tersenyum kecil dan melepaskan tangan Mawar dengan pelan, Kemudian menyusul Lily masuk untuk mengemasi pakaiannya.
Mawar hanya bisa menangis dan tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Bersambung...
__ADS_1