
Sebelum matahari terbit, Zayn yang melihat Faza dan Mawar sibuk di dapur bergegas menemui Simba di kamarnya. Tidak melihat Simba di kamar, Zayn pun masuk dan memeriksanya di balkon. Dan benar saja Simba tengah melakukan berolahraga ringan di balkon kamarnya.
"Bisa Papa bicara sebentar?"
Simba yang mendengar suara Papanya langsung menghentikan olahraganya dan mengambil handuk untuk menyeka keringatnya.
"Begini Zaidan, Papa sudah mendiskusikan ini sama Mama, Dan Mama bilang sudah saatnya kita memberitahukan kepada Ana tentang kondisinya agar bisa segera di tangani atau mencari solusi untuk masalahnya, Papa harap kamu juga setuju dengan saran kami."
Simba terdiam, Ia tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Mawar ketika mengetahui kondisi sebenarnya.
"Zaidan kita tidak bisa terus-terusan mendiamkan masalah ini tanpa di tangani, Seperti yang Mama mu bilang, Selain berdoa harus ada usaha yang maksimal, Jika Ana tidak bisa hamil alami maka kita harus...."
"Ana..."
Zayn dan Simba terkejut melihat Mawar yang sudah berdiri di balik pintu. Simba bergegas menghampiri Mawar dan melihat Mawar yang menunduk menyembunyikan air matanya.
"Ana..."
"Aku kesini untuk memanggil Mas sarapan. Mama sudah menunggu." setelah mengatakan itu Mawar bergegas ke kamar mandi. Ia menyalahkan semua kran air dan menangis sejadi-jadinya.
Sementara Zayn dan Simba masih terdiam bingung atas apa yang sudah terjadi. Mereka tidak menyangka jika Mawar akan mengetahuinya dengan cara yang demikian.
"E-papa tunggu di bawah," ucap Zayn dengan berat hati.
__ADS_1
Simba mengangguk dan mendekati pintu kamar mandi. Zaidan menempelkan telinganya di daun pintu dan dapat mendengar dengan jelas gemercik air dan tangisan Mawar mengalir menjadi satu. Namun ia tidak bisa berbuat apapun kecuali membiarkan Mawar menangis agar hatinya merasa lega.
Setelah tak terdengar lagi suara air mengalir Simba menjauhkan telinganya dari pintu. Dan benar saja dalam hitungan detik pintu itu terbuka.
Mawar pun terkejut melihat Simba berdiri di depan pintu, Ia kembali menurunkan pandangannya dan melewati Simba yang masih berdiri di sana.
"Maaf ya Mas kalau lama," ucap Mawar berdiri membelakangi Simba.
"Meskipun kamu menyembunyikan air mata mu dari air wudhu, Aku masih dapet melihat betapa sedihnya kamu Ana."
"Dan selama apapun kalian menyembunyikan kebenaran, Maka kebenaran ku tak bisa memiliki anak tidak bisa kalian rubah dengan hanya diam." dengan sedikit menaikan nada bicaranya, Mawar menumpahkan air matanya yang sebelumnya sempat kering.
"Ana... Maafkan Aku, Aku tidak bermaksud membuat mu sedih, Aku hanya tidak ingin melihat mu seperti ini ketika mengetahui yang sebenarnya."
"Baiklah, Aku minta maaf untuk itu, Tapi jamgan pernah mengatakan kamu tidak bisa memiliki anak, Dokter hanya mengatakan sulit, Sulit bukan berarti tidak bisa di atasi, Sesulit apapun masalah pasti kita akan bisa mengatasinya, Percayalah pada ku Ana."
"Bagaimana jika ternyata Aku benar-benar tidak bisa hamil? Katakan Mas, Apa Mas masih bisa menerima?"
"Aku akan tetap menerima mu baik kamu memberiku seorang anak atau tidak."
Mendengar jawaban tegas dari Simba, Mawar pun menangis haru dan menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Simba.
"Maafkan Aku jika selama ini aku dan keluarga ku menyembunyikan ini dari mu, Aku hanya perlu waktu untuk mengatakannya Aku tidak tahan melihatmu sedih seperti ini." Simba memeluk erat Mawar yang terus menangis antara sedih dan terharu karena memiliki suami yang luar biasa menerima segala kekurangannya.
__ADS_1
Faza yang di beritahu oleh Zayn jika Mawar mendengar percakapan Mereka datang ke kamar Simba untuk melihat mereka. Melihat Simba dan Mawar yang saling berpelukan, Faza pun tersenyum lega dan melangkah mendekati mereka.
"Ana..."
Mendengar suara ibu mertuanya, Mawar langsung mengurangi pelukannya dan menghapus air matanya.
"Mama..."
"Kamu tidak sendiri Sayang, Kami akan bersama mu untuk menghadapi ini bersama-sama."
Mawar mengangguk-anggukkan kepalanya dan memeluk ibu mertuanya.
"Terimakasih Ma..."
"Sama-sama Sayang, Sudah jangan sedih lagi, Besok kita konsultasi dengan Dokter, Jika kalian memang ingin segera memiliki anak, Tapi jika tidak, Kami tidak akan membebani mu."
"Terimakasih banyak Ma, Maafkan Aku karena belum bisa membahagiakan Mama, Khususnya Mas Zaidan."
Faza hanya mengangguk dan terus mengusap-usap kepala Mawar yang berada di pundaknya.
Bersambung...
Maaf yah, Beberapa hari ini review lama, Padahal gak ada anu anunya 😂 🙏
__ADS_1