
Hari-hari terus berlalu, Persiapan pernikahan pun mulai di lakukan. Melihat keluarga besar calon suaminya yang begitu kompak dan turut andil dalam mempersiapkan pernikahannya, Mawar pun teringat akan ibu dan juga Kakak nya. Meskipun selama ini hubungan mereka kurang baik. Namun dalam hati kecil Mawar ingin mereka berada di sisinya saat hari pernikahannya tiba.
"Ana..."
Suara Simba yang memanggil namanya membuat Mawar tersentak. Ia menoleh ke arah pintu dan menundukkan kepalanya saat Simba melangkah mendekatinya.
"Pernikahan kita tinggal tiga hari lagi, Apa kamu memiliki keinginan yang sebelum kita menikah?"
Mendengar itu Mawar mengangkat kepalanya.
"Apakah Aku harus mengatakan keinginan ku pada Simba jika Aku ingin keluarga ku hadir?" batin Mawar yang masih merasa ragu.
"Ana... Katakan apa mahar yang ku siapkan sudah sesuai keinginan mu atau masih ada yang kurang?"
"Ya... Masih ada yang kurang."
"Apa? Apa yang kurang katakan Aku akan pergi membelinya saat ini juga."
"Kamu tidak perlu membelinya."
"Lalu?"
"Aku ingin keluarga ku hadir di hari pernikahan kita."
__ADS_1
"Oh... Oke, Lalu?"
"Hanya itu yang ku inginkan."
"Baiklah jangan khawatir Aku menyuruh supir untuk menjemput mereka."
Setelah mengatakan itu, Simba meninggalkan kamar Mawar dan tanpa sengaja bertabrakan dengan Nurul yang baru datang.
"Awhhh! Kalau jalan lihat-lihat, Sakit tau!" ujar Nurul memegangi bahunya.
"Gitu aja cengeng." saut Simba yang berlalu pergi tanpa rasa bersalah.
"Nyebelin banget sih!"
"Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan di sini, Jika ada kamu kan Aku jadi ada temannya." lanjut Mawar.
"Maaf ya Ana, Aku baru sempetin datang, Kemarin Aku sedang di rumah Kakek."
Mereka terus berbincang-bincang tentang bagaimana Simba membawa Mawar hingga setuju untuk menikah. Sementara Nurul menceritakan bagaimana kedua orang tuanya bisa dekat dengan orang tua Simba hingga saat ini meskipun Faza dan Adnan pernah hampir menikah.
"Kalian benar-benar luar biasa, Kalian bisa mengenyampingkan masa lalu itu dan terus menjalin silaturahmi dengan baik." untuk sejenak Mawar terdiam mengingat saat Fandi kembali menghubunginya ketika ia sudah berada di Singapura. Bahkan Fandi juga pernah mendatangi rumah untuk meminta dirinya rujuk kembali. Akan tetapi hal itu tidak terjadi karena Fandi kembali menghilang tanpa kabar.
"Ana..."
__ADS_1
"Hah!"
"Kok bengong?"
"A-e... Tidak, Aku hanya merasa iri dengan keharmonisan keluarga kalian."
"Kenapa harus iri Ana, Keluarga ini akan jadi keluarga mu, Kamu sangat beruntung karena mendapat mertua seperti Om Zayn dan Tante Faza, Bahkan seluruh keluarga mereka pun sangat baik dan menyenangkan."
Mawar tersenyum menganggukkan kepalanya. Meskipun hati kecilnya belum begitu mencintai Simba. Namun melihat dari kebaikan keluarga dan kegigihan Simba mendapatkannya membuat Mawar setuju untuk menikah.
•••
Keesokan harinya seluruh keluarga Mawar tiba di rumah Simba. Seperti halnya Mawar, Mereka juga begitu takjub melihat rumah calon suami Mawar. Terutama Lily yang sampai ternganga melihat kemegahan rumah itu, Beda jauh dari rumah suaminya yang ada di kampung.
"Gila, Pake pelet apa Mawar sampai bisa dapetin suami sultan begini." batin Lily.
"Apa kita tidak salah rumah, Benarkah ini rumah calon suami Mawar?" tanya Mona mendekati suaminya dengan terus menatap rumah megah di hadapannya.
"Silahkan masuk Ibu... Bapak..." ucap supir mempersilahkan mereka semua.
Mona yang datang dengan suami barunya dan Lily yang datang dengan Raka serta anaknya melangkah masuk mengikuti supir.
Begitu sampai pintu mereka telah di sambut ramah oleh pelayan yang langsung meminta barang-barang mereka untuk di letakkan di kamar yang akan mereka tinggali selama berada di rumah itu.
__ADS_1
Bersambung...