Hijrahnya Bunga Desa

Hijrahnya Bunga Desa
Hari H


__ADS_3

Hari yang di nantikan pun tiba, Kedua keluarga telah berkumpul di tempat yang akan menjadi saksi hidup terpenting dalam hidup Simba dan Mawar. Para tamu undangan pun mulai berdatangan, Begitupun dengan penghulu yang akan menikahkan keduanya juga telah duduk di tempat yang telah di sediakan.


Kini Zaidan atau biasa di panggil Simba sang mempelai pria di apit kedua sepupunya yakni Ziyan dan juga Zayed menuju ke lokasi pernikahan yang di adakan di ruang terbuka. Tepatnya pelataran rumahnya yang begitu luas. Semua pasang mata tertuju pada ketampanan ketiga cucu Faraz Shehzad Shaikh. Ketampanan yang di warisi oleh Ayah dan Kakeknya yang memang terkenal tampan bahkan di usia mereka yang tak lagi muda.


Faraz yang dari dulu selalu sentimentil kepada Bryan, Kali ini harus mengakui jika Ziyan tak kalah tampan dari Zayed yang paling mirip dengan dirinya. Begitupun dengan Simba, Meskipun wajahnya lebih ikut ke keluarga sang ibu. Namun ketampanannya tidak kalah dari kedua sepupunya.



"Gila ganteng-ganteng banget." celetuk Nurul memecah keheningan dan membuat orang menoleh kepadanya.


Faza menyikut Nurul karena merasa malu kepada orang-orang yang melihatnya. Begitupun Nurul yang menjadi salah tingkah dan menggaruk-garuk kepalanya.


"OMG... Ini sih gila parah, Udah tampan, Anak sultan pula." batin Lily yang menatap ketiganya.


"Kenapa sih dari dulu hudup Mawar selalu beruntung, Beda banget sama Aku yang hanya dapat Raka, Udah tampang biasa aja, Kaya juga hanya di kampungnya doang." batinnya lagi sambil melirik kearah Raka.


Tidak berbeda dengan Nurul dan Lily semua orang juga berbisik-bisik mengenai ketampanan ketiga cucu Faraz seolah melupakan jika mempelai wanita belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Dimana Ana?" tanya Zayn yang menyadari Mawar belum hadir di tengah-tengah mereka.


"Ana..." Faza menoleh kesana kemari mencari calon menantunya yang belum juga menampakkan diri.


"Seluruh keluarganya sudah berkumpul di sini, Kenapa Mawar belum juga kelihatan," ucap Faza melihat keluarga Mawar yang duduk tak jauh dari mereka.


"Itulah yang ku katakan Sayang, Kenapa keluarga tidak ada yang mendampinginya?" tidak menunggu Faza menjawab pertanyaannya, Zayn menghampiri calon besannya.

__ADS_1


"Maaf Bu Mona, Dimana Ana?"


"Ana..." Mona menjeda ucapannya melihat kesana-kemari mencari Mawar.


"Tadi Ana bilang mau angkat telpon sebentar dan akan menyusul kami."


Melihat Papanya cemas, Simba yang sudah duduk di depan Pak Penghulu menjadi resah, Ia beranjak duduk dan ingin meninggalkan meja. Namun Ziyan dan Zayed menahannya dan kembali membuatnya duduk.


"Biar Aku yang menyusulnya." ujar Faza bergegas masuk ke dalam.


Simba yang terus memperhatikan mereka semakin di buat resah karena Mamanya tidak juga kembali, Ia pun kembali bangkit dari duduknya. Akan tetapi Ziyan dan Zayed lagi-lagi menahannya.


"Sabarlah sedikit jagoan, Pengantin mu akan segera datang," ucap Ziyan menertawakan ketidaksabaran Simba.


Zayed yang di kenal dingin seperti Ayahnya hanya tersenyum tipis menggelengkan kepalanya.


"Ada apa Zayn?" tanya Faraz mendekati putranya.


"Tidak ada Papa, Biasalah Zaidan selalu tidak sabaran." jawab Zayn menenangkan hati Faraz meskipun hatinya juga mulai merasa resah.


"Nurul, Kenapa kamu tidak menemani Ana, Kenapa kamu malah di sini seharusnya sebagai sahabatnya kamu kan harus terus mendampinginya selama persiapan hingga mengantarnya ke pelaminan," ucap Sakinah yang juga melihat keresahan seluruh keluarga Zayn.


"Umma... Tadi Aku haus sekali, Dan air di kamar habis, Tapi setelah minum Aku melihat ketampanan saudara-saudara Simba jadi lupa deh harus kembali ke kamar. Ya udah deh kalau begitu Aku susul Ana dulu." Nurul bergegas masuk ke dalam menyusul Simba yang sudah terlebih dulu menyusulnya.


Ckleekkk...

__ADS_1


Mawar dan Faza terkejut mendengar pintu terbuka.


Melihat Mawar berada di kamarnya dan telah siap dengan gaun pengantinnya, Simba yang masih terengah-engah bernafas lega.


"Apa kamu takut pengantin mu lari?" goda Faza.


"Aku hanya tidak sabar menjemput pengantin ku." ujar Simba sembari melangkah mendekati Mawar.


"Baiklah kalau begitu bawa pengantin mu ke hadapan penghulu," ucap Faza tertawa.


Simba tersenyum dan tak melepaskan pandangannya pada Mawar yang nampak begitu cantik di balik cadar putih yang menutupi wajahnya.


"Kamu sudah siap Ana?" tanya Simba.


Dengan sangat pelan, Mawar mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya. Namun baru beberapa langkah, Dering telpon membuat Mawar berhenti dan menoleh kearah meja rias melihat ponsel yang ia letakkan di sana. Begitupun dengan Simba yang ikut menoleh ke belakang, Membuat Mawar segera mengambil ponsel tersebut dan langsung mengakhiri panggilan telponnya.


"Siapa, Kenapa langsung di matikan?" tanya Simba.


"B-bukan siapa-siapa, Ayo semua orang sudah menunggu kita."


Tanpa rasa curiga, Simba menganggukkan kepalanya dan kembali melangkahkan kakinya. Namun lagi-lagi ponsel Mawar berdering.


Kali ini Mawar menjadi panik melihat layar ponselnya dan juga Simba yang menatapnya penuh selidik.


Mawar kembali mengakhiri panggilan telponnya. Namun panggilan itu kembali masuk, Membuat Mawar berusaha mematikan telponnya. Namun karena kegugupannya ponsel Mawar jatuh tepat di kaki Simba yang langsung melihat nama yang tertera di layar ponsel Mawar.

__ADS_1


"Pak Fandi?!" ucap Simba terkejut.


Bersambung...


__ADS_2