
Kedua pria yang menjadi masa lalu dan suami Mawar saat ini masih saling berhadapan. Tidak seperti Simba yang mampu berdiri dengan membusungkan dada serta tatapan tajam penuh percaya diri, Fandi justru tak mampu menatap lama Simba. Ia terus memalingkan pandangannya kesana-kemari seperti seorang pencuri.
"Apa yang kamu pikirkan sehingga mengajak bertemu seorang wanita yang sudah bersuami?" tanya Simba.
"Jangan besar kepala, Sebelum Mawar menjadi istri mu, Dia pernah menjadi istri ku dan sangat mencintai ku, Bahkan Aku yakin cintanya masih ada untuk ku hingga saat ini, Itu sebabnya saat ini dia berdiri di sini untuk menemui ku." kepercayaan diri Fandi kembali muncul ketika mendengar apa yang Simba katakan.
Simba tersenyum menggelengkan kepalanya dan mengulurkan tangannya pada Mawar. Tanpa ragu, Mawar pun meraih tangan Simba dan melangkah maju sejajar dengan Simba.
Melihat genggaman tangan keduanya membuat Fandi terbakar cemburu dan rasa tak percaya jika Mawar telah benar-benar melupakannya dan mencintai suaminya.
"Kamu terlalu percaya diri Pendi."
"Fandi." protes Fandi.
__ADS_1
"Ya Pandi."
"Fandi! Aku bilang Fandi!"
"Ya ya ya... Aku tidak peduli nama mu Pandi Pendi atau apapun, Yang jelas kamu terlalu percaya diri sehingga mengira Ana datang kemari atas Keinginannya sendiri, Asal kamu tau saja, Ana kemari atas keinginan ku, Aku yang memaksanya untuk menemui mu untuk terakhir kalinya. Jadi katakan apa yang ingin kamu katakan sekarang juga!".
Melihat tangan Simba yang terus berada di bahu Mawar. Membuat Fandi semakin terbakar api cemburu dan memprotes tindakan itu.
"Mempertontonkan kemesraan di depan umum apa lagi di depan mantan suaminya tidak menandakan jika kalian hidup bahagia."
Simba menoleh ke arah Mawar, Mencari jawaban atas apa yang Fandi katakan. Begitupun dengan Fandi yang juga menunggu jawaban yang sama.
"Aku tidak perlu menjelaskannya kepada Pak Fandi Aku bahagia atau tidak. Yang jelas Aku sangat bersyukur memiliki suami sepertinya."
__ADS_1
"Sudah ku duga, Kamu tidak akan pernah bisa mengatakan cinta selain kepada ku." Fandi membusungkan dada kepada Simba yang terlihat terdiam menatap Mawar.
"Sekarang kamu percaya jika Mawar hanya mencintaiku?"
"Tidak ada yang seperti itu! Perasaan ku kepada Pak Fandi sudah lama berakhir, Jika Aku mengatakan bersyukur karena memiliki suami sepertinya, Itu berarti Aku bukan hanya mencintainya tapi Aku sangat-sangat mencintainya."
Fandi tercengang mendengar apa yang Mawar katakan. Begitu pun dengan Simba yang seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Cintanya bukan hanya sekedar kata-kata, Tapi cintanya di barengi dengan tindakan. Dia tau betapa buruknya masa lalu ku bersama mu, Tapi dia menerima ku tanpa syarat, Dan yang paling penting seluruh keluarganya menerimaku dengan baik. Apa lagi yang lebih membahagiakan dari itu?"
Fandi terdiam, Memang sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang tidak ada perjuangannya untuk membuat kedua orang tuanya menerima cinta mereka.
"Hubungan kita sudah lama berakhir, Dan selama itu juga kita bisa menjalani hidup kita masing-masing jadi lanjutkan saja seperti itu. Tidak perlu menghubungi ku lagi." dengan senyum yang tersembunyi di balik cadarnya, Mawar mengulurkan tangannya kepada Simba, Kemudian mengajaknya pergi dari sana sembari menyandarkan kepala di bahu Simba sepanjang perjalanan menuju mobil mereka.
__ADS_1
Fandi hanya bisa menatap punggung Mawar yang bergelayut manja di lengan Simba dengan penuh sesal. Wanita yang dulu begitu mencintainya dengan tulus, Kini telah pergi membawa serta cintanya untuk pria lain.
Bersambung...