
Sampai di PT, Simba langsung menerobos masuk ke dalam seperti sebelumnya. Satpam yang ingin mengejarnya pun tidak jadi menahan Simba karena pemilik PT sudah menyambut dan membiarkannya masuk.
Setelah Satpam keluar, Simba menawarkan uang yang sudah mereka sepakati. Namun sebelum mentransfernya, Simba meminta di bertemu dengan Mawar.
Tidak membutuhkan waktu lama, Mawar pun keluar dan terkejut melihat Simba kembali.
"Assalamualaikum Ana..."
"Waalaikumsalam." jawabnya lirih.
"Begini Ana, Pria ini ingin membawa mu pergi dari sini dengan membayar denda, Apa kamu mau ikut dengannya, Atau kamu ingin tetap ingin bekerja di luar negeri?"
Mawar terdiam dan melirik Simba sejenak. Kemudian ia mengingat perkataan Mam Maria yang tidak memperbolehkannya berhijab dan harus memotong pendek rambutnya. Dengan pertimbangan itu Ana menarik nafas dalam-dalam dan memberikan keputusannya.
"Ya."
"Ya?" saut Simba.
"Kamu yakin Mawar?" timpal penilik PT.
"Iya, Aku ingin ikut dengannya."
"Yesss..." ucap Simba melompat kegirangan.
"Baiklah selesaikan urusan kita setelah itu kamu boleh membawanya."
Setelah mentransfer denda yang harus ia bayar. Simba mengajak Mawar keluar. Saking semangatnya ia menarik tangan Mawar dengan menggenggam jemarinya seolah mereka sudah mengenal begitu lama.
__ADS_1
Mawar yang terkejut menatap Simba dan menarik kembali tangannya.
"A-mmm... Maafkan Aku," ucap Simba kemudian mempersilahkan Mawar melangkah terlebih dahulu. Namun sebelum itu Mawar mengambil pakaiannya di dalam asrama.
Setelah meninggalkan PT, Simba mengajak Mawar menunggangi motor gedenya, Membuat Mawar berpikir ulang untuk ikut dengannya.
"Kenapa Ana?"
"Aku tidak bisa jika harus menaiki motor seperti ini,"
"Kenapa, Bukankah kemarin bersama Nurul kamu juga menggunakan motor yang tidak beda jauh dari ini?"
"Ya tetapi kamu berbeda. Kamu laki-laki, Lagi pula kemana kamu akan membawa ku?"
Mendengar itu Simba kembali turun dari motornya dan berdiri tepat di hadapan Mawar.
"Nurul bilang kamu tidak lagi memiliki orang tua, Karena itu juga kamu ingin kembali bekerja di luar negeri, Ana... Kamu tidak perlu lagi melakukan itu karena Aku akan menikahi mu."
"Kamu tidak salah dengar Ana, Sejak pertemuan pertama kita, Aku yakin jika kamu jodoh ku, Jadi menikahlah denganku..." dengan berlutut Simba memohon jawaban dari Mawar.
"Aku memang tidak membawa cincin untuk menyematkan di jari manis mu, Tapi Aku membawa seluruh hati dan jiwaku untuk ku serahkan kepada mu."
"Bangunlah, Kamu tidak perlu melakukan itu, Aku tidak sesempurna yang kamu kira, Kamu belum mengenalku, Kamu belum mengetahui..."
"Masa lalu mu?"
Mawar terdiam menatap lekat Simba yang masih tidak mau berdiri.
__ADS_1
"Masa lalu mu biarlah melebur dengan jalan Hijrah mu, Yang terpenting sekarang adalah dirimu sekarang. Aku mencintaimu yang sekarang bukan masa lalu."
"Simba kamu tidak mengerti, Aku belum menceritakan semuanya tentang ku."
"Aku tidak ingin mendengar apapun lagi, Kita hidup untuk hari ini dan seterusnya, Jadi kamu juga harus melupakan masa lalu mu dan mulailah hidup baru bersama ku."
"Simba..."
"Aku telah belajar dari seseorang (Faza), Jika dia bisa menerima masa lalu suaminya (Zayn) yang berjelajah dengan banyak gadis, Lalu kenapa Aku tidak bisa menerima mu yang hanya memberikan kepada satu orang pria?"
Mawar termangu menatap Simba, Perasaan haru dan merasa dirinya menjadi wanita yang istimewa setelah selama ini menerima perlakuan dari para lelaki yang hanya menginginkan madunya.
"Jika kamu tidak ingin naik motor ini, Kita bisa pergi menggunakan taksi."
"Lalu motor mu?"
"Tidak perlu khawatir, Aku akan menyuruh seseorang mengambilnya."
Simba langsung menelpon anak buahnya untuk mengambil motornya di alamat yang sudah ia kirimkan. Kemudian Simba menghubungi taksi Online untuk mengantarnya ke terminal Bus.
"Demi dirimu, Ini pertama kalinya Aku naik bus." ujar Simba sembari bersiap duduk di sebelah Mawar yang sudah lebih dulu duduk di dekat jendela. Namun melihat Mawar yang menoleh kesana-kemari, Simba mengurungkan niatnya untuk duduk di sebelahnya.
"Ada apa?" tanya Simba yang juga menoleh ke bangku penumpang lain. Melihat bangku penumpang penuh, Mawar menggelengkan kepalanya dan melihat ke luar jendela.
"Jangan khawatir, Aku tidak akan menyentuh mu, Tapi jika jaket ku sedikit menyentuh mu, Maka maafkanlah dia." ujar Simba mencoba berkelakar. Namun usahanya tidak berhasil membuat Mawar tertawa. Namun bukan Simba namanya jika menyerah begitu saja. Simba kembali berusaha dengan menggoda Mawar yang mau saja ikut dengannya.
"A-e... Apa ini artinya kamu bersedia menikah dengan ku?"
__ADS_1
Mendengar itu Mawar begitu terkejut. Seolah baru tersadar kenapa ia mau pergi bersama Simba, Mawar menjadi merasa gugup dan canggung.
Bersambung....