Hijrahnya Bunga Desa

Hijrahnya Bunga Desa
Takjub


__ADS_3

Simba mencondongkan tubuhnya ke bawah, Memeriksa apakah ada tangga, Tali dan alat bantu lainnya untuk turun seperti cerita saat istri pertama Opa Faraz kabur di malam pernikahan. Namun Simba tidak melihat apapun di sana. Masih tidak percaya, Simba melihat sekitar rumah yang memperlihatkan para pekerja mulai membongkar tenda dan mengangkat barang-barang lainnya keatas truk.


"Dimana Ana..." batin Simba yang mulai merasa frustrasi.


"Zaidan..."


"Ya..." saut Simba tanpa menoleh ke belakang.


"Zaidan..."


Kali ini Simba tidak menjawab, Hatinya mulai merasa gusar, Air matanya seolah tak bisa lagi ia bendung memikirkan kemungkinan wanita yang baru ia nikahi melarikan diri di malam pertamanya.


"Apa yang kamu lihat?"


"Aku sedang..." Simba menoleh sejenak dan kembali melihat kebawah. Namun beberapa detik kemudian Simba seolah melihat Mawar di sampingnya. Ia pun kembali menoleh ke samping dan memastikan siapa yang sejak tadi bertanya padanya.


"Ana..." senyum itu pun mengembang ketika ia benar-benar melihat Mawar ada di hadapannya.


"Ada apa? Kenapa menatap ku seperti itu?"


"Ana Aku pikir kamu..."


"Melarikan diri?"


Simba yang tidak bisa menahan kebahagiaannya langsung memeluk Mawar untuk pertama kalinya.


Deg...!

__ADS_1


Seketika jantung Mawar berdebar kencang saat tidak ada lagi jarak di antara keduanya. Kedua tangannya terangkat seakan ingin membalas pelukan sang suami. Namun ia masih ragu untuk melakukannya.


"Aku pikir kamu pergi meninggalkan ku, Aku takut sekali..." Simba mempererat pelukannya seakan tak ingin jauh dari Mawar walau sebentar saja.


Merasakan besarnya cinta Simba kepadanya, Akhirnya Mawar membalas pelukan Simba dan membenamkan wajahnya di bahu kanannya. Mawar memejamkan mata merasakan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sekalipun bersama Fandi Pria yang menjadi cinta pertamanya yang belum sepenuhnya hilang dari hatinya.


"Ana darimana saja kamu, Aku sejak tadi mencari mu?"


Mawar mengurai pelukannya dan mengatakan jika dia habis mengantar Nurul dan keluarganya ke bawah.


Mendengar penjelasan Mawar, Simba bernafas lega dan kembali ingin memeluknya. Namun kali ini ia merasa canggung sehingga membuat keduanya menjadi salah tingkah.


"Eummm... Ayo kita masuk ini sudah sangat larut." ajak Mawar yang langsung mendahului masuk. Kemudian Simba mengikuti di belakangnya.


Mawar dan Simba berhenti di samping ranjang dan mebatap satu sama lain ketika melihat ranjang yang sudah di hias sedemikian rupa. Membuat keduanya kembali canggung tak tahu apa dan mau memulai dari mana.


"Kamu duluan..." lagi-lagi keduanya mengatakan secara bersamaan.


Namun kali ini membuat suasana menjadi cair karena mereka menertawakan hal tersebut.


"Kamu duluan," ucap Simba.


"Tidak, Kamu saja yang duluan."


"Biasanya seorang wanita minta di dahulukan."


"Tapi seorang lelaki adalah imam dan pemimpin bagi wanita, Jadi silahkan kamu yang lebih dulu."

__ADS_1


"Baiklah..." Simba menjeda ucapannya. Kemudian melangkah untuk berdiri lebih dekat lagi dengan Mawar.


"Apa sekarang Aku boleh melihat wajah mu?"


Mawar menatap Simba beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk dan sedikit menundukkan kepalanya seolah mempersilahkan Simba untuk membuka sendiri cadar yang ia kenakan.


Dengan perasaan yang semakin deg-degan Simba mengangkat kedua tangannya dan melepaskan talinya, Perlahan Simba menarik cadar itu dan terlihat kecantikan yang Mawar sembunyikan selama ini.


"Masyaallah," ucap Simba yang begitu takjub dengan kecantikan Mawar. Sebelumnya Simba tidak pernah menduga jika wanita yang ia cintai tanpa memandang wajahnya memiliki kecantikan yang melebihi ekspektasinya.


"Sekarang Aku boleh mengatakan keinginan ku?"


Pertanyaan Mawar membuat Simba tersentak dari pandangannya yang tidak bisa lepas dari kecantikan sang istri.


"A-e-ya... Katakan."


"Aku hanya ingin mengingatkan sebelum tidur, Kita sholat sunah dua rekaat dulu."


"Oh... Itu, Ya... Papa dan Mama juga bilang seperti itu, Sholat sunah, Membersihkan diri, Memakai wangi-wangian, Membaca doa sebelum..." Simba menghentikan ucapannya dan menatap Mawar.


"Tunggu, Apa ini artinya malam ini kamu siap melakukannya?"


Pertanyaan Simba dengan tatapan penuh damba membuat Mawar susah payah menelan salivanya.


Bersambung...


📌 Tahan dulu buat yang udah lama gak dapet jatah dari Author Gragas wkwkwk 🤣

__ADS_1


__ADS_2