Hijrahnya Bunga Desa

Hijrahnya Bunga Desa
Konflik


__ADS_3

Karena tidak mendapat jawaban dari Simba, Ziyan membalikkan tubuhnya dan duduk melihat sepupunya yang hanya terdiam menatap langit-langit kamar.


"Hey pengantin baru kok wajah di lipat begitu, Kenapa, Belum di beri izin unboxing?" tanya Ziyan tertawa.


"Sembarangan, Bukan itu masalahnya."


"Lalu?"


"Begini..."


Simba menceritakan semua kejadian sebelum akad di laksanakan hingga kejadian pagi ini yang membuatnya pergi dari rumah.


Mendengar apa yang Simba katakan Ziyan menggelengkan kepalanya dan menyalahkan Simba yang bersikap seperti anak kecil yang ngambek lalu bersembunyi.


"Hadapi masalah mu, Dengarkan penjelasannya terlebih dahulu, Jika kamu mencintainya maka kamu harus bisa menerima orang-orang yang bersangkutan dengannya baik orang-orang di masa lalunya maupun saat ini!"


Simba terdiam menatap Ziyan seolah membenarkan apa yang Ziyan katakan.


"Ayolah Singaku, Jangan bersikap seperti anak kecil, Kamu selalu ingin di panggil Simba karena kamu merasa seperti Singa yang mampu menguasai segalanya, Kenapa kamu tidak bisa menguasai rasa cemburu mu itu, Ingat kamu hidupnya saat ini, Dan si Pandi, Pendi atau siapalah itu namanya dia hanya masa lalunya jadi fokuslah pada cinta mu, Ingat kalian baru kemarin menikah masa udah bertengkar."


"Itu sebabnya Aku tidak ingin jatuh cinta dan menikah di usia muda."

__ADS_1


Ziyan dan Simba terkejut mendengar jawaban dari Zayed yang tiba-tiba muncul di depan pintu.


"Kamu kesini juga?" tanya Simba.


"Hey Zayed... Kamu kalau tidak menyukai wanita jangan jadi kompor."


"Apa! Jadi Zayed benar-benar penyuka...?"


"BHUGGG..." Zayed langsung memukul Simba dengan bantal menghentikan tuduhannya itu.


Ziyan hanya tertawa melihat kedua sepupunya itu.


"Aku kesini hanya ingin mengantarkan berkas, Cepatlah bangun hari ini jangan sampai terlambat," ucap Zayed menyodorkan berkas tersebut.


Setelah kedua mertuanya pergi, Mawar berjalan mondar-mandir di depan rumah menunggu kepulangan Simba. Ia benar-benar merasa resah karena telah membuat pria yang begitu tulus menerima segala kekurangannya pergi dengan kemarahan.


Disaat Mawar merasa tak tahan lagi menahan keresahannya, Mawar di kejutkan oleh Raka yang tiba-tiba berdiri di depannya.


"Raka...!"


"Hallo Mawar, Sejak Aku kesini kita belum sempat bicara, Bagaimana kabar mu?"

__ADS_1


"Seperti yang kamu lihat." saut Mawar memalingkan wajahnya.


"Kamu tidak perlu menyembunyikan wajah mu Mawar, Aku masih ingat jelas betapa cantiknya dirimu, dan Aku yakin seiring bertambahnya usia mu kecantikan mu jauh lebih terpanc..."


"Diam lah Raka!" hardik Mawar.


"Kamu sedang membicarakan wanita yang sudah bersuami, Dan kamu juga suami dari Kakak ku, Jadi jaga bicaramu!"


"Oh iya... Aku hampir lupa jika kemarin kamu sudah menikah, Bagaimana malam pertama mu, Apa lebih nikmat dari suami pertama mu, Atau kamu sudah mencoba memperagakan seperti yang kamu lihat ketika Aku bersama kakak mu dulu?"


"Raka tutup mulut mu, Kami benar-benar menjijikkan!" tidak dapat menahan emosinya Mawar mengangkat tangannya untuk menampar Raka. Tamparan pertama berhasil mendarat di pipi Raka. Tamparan kedua Mawar tidak berhasil melakukannya karena Raka menahan kedua tangan Mawar dan mencengkeram kuat pergelangan tangannya.


"Kamu tidak bisa memukul ku lagi Mawar!" dengan tatapan bengisnya Raka manarik kedua tangan Mawar hingga tubuh keduanya hanya terhalangi oleh kedua tangan mereka. Membuat Mawar tersadar jika emosinya membuatnya semakin dalam masalah, Membuat dirinya bersentuhan dengan pria yang bukan mahramnya.


"Bertahun-tahun Aku menginginkan mu, Tapi kamu selalu membuatku dalam masalah, Dan sekarang Aku tidak ingin gagal lagi karena sepertinya alam sedang berpihak kepada ku." Raka semakin mempererat cengkeramnya dan membuat keduanya hanya berjarak beberapa centi.


"Ana!"


Raka dan Mawar terkejut dan menoleh ke arah Simba yang sudah berdiri di pintu gerbang.


"Zaidan..." lirih Mawar yang khawatir melihat kemarahan di wajah Simba. Kemudia Mawar menghempaskan tangan Raka yang juga sudah merenggangkan cengkramannya karena takut dengan tatapan tajam Simba.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2