Hijrahnya Bunga Desa

Hijrahnya Bunga Desa
Ukhti Tomboi


__ADS_3

Mawar begitu terkejut melihat Nurul menjemput dirinya menggunakan motor gede bak sinetron Anak Jalanan. Terlebih Nurul menggunakan gamis serta cadar seperti dirinya, Membuat Mawar yang mengenal Nurul saat bekerja di Singapura menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana mungkin Aku naik motor seperti ini?"


"Kenapa tidak, Bukankah kamu tau jika sebelum Aku mengenakan cadar Aku selalu menggunakan motor ini?"


"Ya Aku tau, Tapi Aku pikir setelah Mbak Nurul mengenakan cadar dan sering menghadiri majlis, Mbak Nurul tidak lagi pake motor seperti ini."


"Mana mungkin Ana, Motor ini sebagian dari jiwaku, Ini adalah Hadian terindah yang pernah Umma berikan kepada ku."


Mendengar itu Mawar terdiam dan berpikir bagaimana jika ia naik di motor besar itu.


"Ana apa kamu tau jika dulu sewaktu Aku masih bayi, Umma sering menggendongku dan menggunakan motor seperti ini?"


"Hagh! Benarkah?"


Nurul mengangguk-anggukan kepalanya.


Meskipun telah mengenakan gamis dan cadar, Nurul masih terlihat begitu tomboi.


"Hey Ana, Apa kamu akan terus berdiri disini dan tidak ingin ikut dengan ku?"


"Percayalah padaku, Aku akan membawamu dengan selamat tanpa ada drama gamis terlilit roda."

__ADS_1


Karena tidak ada pilihan lain, Akhirnya Mawar duduk menyamping berpegangan pundak Nurul. Namun Nurul memprotes cara duduk Mawar dan menyuruhnya duduk menghadap depan demi keselamatannya dalam berkendara.


Kurang dari tiga puluh menit, Mawar sampai di rumah Nurul.


Terlihat Ibu Nurul keluar untuk menyambut mereka, Begitupun dengan Ayah Nurul yang melangkah di belakang sang istri.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Melihat kedua orang tua Nurul, Mawar menjabat dan mencium tangan Ibunda Nurul dan menganggukkan kepalanya kepada sang Ayah dengan menangkup kdua tangannya.


"Siapa namanya?" tanya Ibunda Nurul.


"Ana."


"Abi... Jangan mulai lagi, Umma mau mengenakan gamis juga setelah menikah sama Abi, Sebelum menikah Umma juga berpakaian seperti Lady rockers, Jadi Aku masih lebih baik dari Umma."


"Benarkah, Tapi ibu mu terlihat sangat anggun dan feminim tidak terlihat tomboi seperti mu."


"Hey Ana! Bukan Umma yang seperti Aku, Tapi Akulah yang seperti Umma. Sakinah Khumaira siapa yang tidak mengenalnya, Dia adalah pimimpinan geng motor di masa mudanya. Tomboi ku ini belum ada apa-apanya."


"Hagh! Apa itu benar?"

__ADS_1


"Siapa yang menceriterakan semua kepada mu, Bukankah kami hanya menjelaskan cara berpakaian Umma dulu dan sekarang karena kamu bertanya saat menemukan foto Umma yang dulu?"


"Siapa lagi Abi, Om Zayn lah." saut Nurul tertawa.


"Nurul Asqiyah... Berhenti menceritakan masa lalu Umma yang kurang baik. Lagipula setelah Umma bertemu dengan Abi mu si Ustadz tampan ini, Umma meninggalkan semua kebiasaan itu, Kecuali motor yang sekarang menjadi motor kesayangan mu, Jika Abi masih mengizinkan Umma naik motor, Maka motor itu tidak akan Umma berikan padamu."


Mawar tersenyum haru melihat keakraban antara anak dan kedua orang tuanya yang terlihat seperti sahabat. Jauh sekali seperti keluarganya yang berantakan akibat perselingkuhan ibu dan keponakan Ayahnya.


Tidak berhasil menangkap si pencopet, Dengan santainya Simba kembali ke rumah. Ia tidak mengambil pusing meskipun identitas diri serta beberapa kartu kredit ikut raib bersama dompetnya. Membuat Faza yang di beri tahu hal tersebut memarahinya.


"Ini sudah berapa kali kamu kehilangan dompet, Bukankah sudah Mama bilang jika kehilangan dompet mu segera pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan!"


"Mama ini sudah hampir pagi, Aku sudah ngantuk sekali, Howammm..." saut Simba sambil menguap.


"Zaidan, Kenapa sih kamu sulit sekali di atur, Kenapa kamu tidak berdiam diri mempelajari sesuatu, Jika kamu tidak berminat memperdalam ilmu agama, Kamu bisa mempelajari ilmu bisnis seperti Papa mu, Kenapa waktu mu hanya di habiskan di jalanan dan menaklukkan pegunungan?"


"Karena Aku belum menemukan bukit indah untuk menemani tidur ku, Hahahaha..." dengan santainya Simba tertawa melewati Ibu dan juga Ayahnya yang juga mendengar apa yang Simba katakan.


Zayn menoleh ke belakang melihat punggung putranya yang menaiki tangga satu persatu, Kemudian menatap Faza yang juga menatapnya kesal.


"Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Zayn.


"Lihatlah putra mu, Tengilnya gak beda jauh darimu!" dengan mengerucutkan bibirnya, Faza melewati Zayn dan sengaja menabrak pundaknya.

__ADS_1


"Hey Ning Faza Sayang..." Zayn berlari mengejar Faza untuk membujuknya.


Bersambung...


__ADS_2