Hijrahnya Bunga Desa

Hijrahnya Bunga Desa
Melamar


__ADS_3

Bibi yang telah mengasuh Simba sejak masih bayi hanya tersenyum melihat Simba yang melangkah maju menghampiri mereka dan mengambil tas pakaian Mawar yang ada di tangannya.


"Di suruh antar tamu spesial ku Bibi malah bergosip, Sekarang pergilah biar Aku saja yang mengantarnya."


Bibi hanya tersenyum dan tetap berdiri di sana.


"Bibi... Apa Bibi tidak mendengar ku?"


"Bibi dengar, Bibi hanya ingin lihat bagaimana seorang Den Simba malu-malu di depan seorang wanita." goda Bibi.


"Apa? Sejak kapan seorang Simba malu-malu di depan wanita?" tanya Simba sembari melirik Mawar yang hanya diam menundukkan kepalanya.


"Ahh... Sudahlah Bibi, Mawar ku akan layu jika terus di diamkan."


Mendengar nama Mawar di sebut, Mawar langsung mengangkat kepalanya dan menatap Simba dengan tatapan terkejut.


"Darimana kamu tau?"


"Apa?"


"Yang baru saja kamu ucapkan."


"Mawar? Layu, Di diamkan?" tanya Simba bingung.


"Mawar! Darimana kamu tahu itu?"


"Ada apa dengan mu Ana, Semua orang pasti tahu dengan bunga Mawar, Lalu salahnya dimana?" Simba menjeda ucapannya.


"Aku hanya mengatakan itu sebagai perumpamaan, Kenapa sikap mu tiba-tiba berubah, Ada apa dengan bunga Mawar?"


"Bahkan kamu tidak tahu siapa nama lengkap ku, Tapi kamu mau menikahi ku?!" Mawar yang menjadi marah melangkah pergi mendahului Simba.


"Hey... Salihah... Mau kemana, Kamar mu bukan di sana tapi di sini."

__ADS_1


Mendengar itu Mawar menghentikan langkahnya dan putar balik untuk masuk kamar yang Simba tunjukkan. Dengan isengnya Simba berdiri di depan pintu menghalangi jalan mengikuti pergerakan Mawar ke kanan dan ke kiri sehingga membuat Mawar gugup bukan main.


"Permisi Tuan Zaidan Faaiq Shaikh."


Mendengar Mawar menyebutkan nama lengkapnya Simba tercengang dan menghentikan kejahilannya.


"Apa Aku boleh masuk?" tanpa menunggu jawaban Simba yang masih bengong, Mawar masuk melewati Simba hingga sedikit menabrak bahunya.


"E-Hey... Dari mana kamu tahu nama ku yang sebenarnya? Apa Bibi yang memberitahukan kepada mu?"


Mawar hanya tersenyum dan menutup kedua pintu kamar sehingga secara otomatis Simba terdorong keluar.


"Assalamualaikum..." pekik Mawar sambil menahan tawanya.


"Waalaikumsalam..." dengan terpaksa, Simba pun meninggalkan kamar Mawar.


Pagi harinya dengan penuh semangat Simba sudah berdiri di depan pintu kamar Mawar. Mengetuk pintunya dan mengajaknya turun. Hal itu membuat Mawar yang hanya tidur kurang dari tiga jam merasa heran.


"Apa kamu tidak tidur?" tanya Mawar.


"Gombal terusss..." ucap Zayn yang baru datang. Di susul oleh Faza yang berjalan di belakangnya.


"Papa... Mama..."


"Selamat pagi jagoan, Selamat Pagi...?"


"Ana." saut Mawar.


"Ya, Selamat Pagi Ana kapan singa ku menculik mu sehingga sepagi ini kamu sudah ada di sini?"


"Papa..." protes Simba.


"Apa Papa bertanya pada mu? Ayo Ana, Silahkan duduk."

__ADS_1


Sebelum duduk Mawar mengangguk dan menjabat tangan Faza terlebih dahulu. Sementara Simba dengan cepat menarik kursi untuk mempersilahkan wanita pujaannya duduk di depan kedua orang tuanya untuk pertama kalinya.


"Perhatian banget..." goda Faza.


"Iya dong, Emang cuma Papa saja yang bisa?" jawab Simba.


Semua orang pun tersenyum dan memulai sarapan sambil berbincang santai mengenai bagaimana Simba membawa Mawar ke rumah mereka. Setelah selesai makan, Obrolan pun semakin serius ketika Zayn menanyakan kesediaan Mawar untuk menjadi menantunya.


Mawar yang mendengar pertanyaan itu seketika tersedak membuat Simba panik dan hampir saja menepuk punggung nya. Namun sebelum itu terjadi, Faza terlebih dahulu memberikannya minum.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Faza.


"Aku baik-baik saja, Maafkan Aku Tante."


"Kenapa terkejut Mawar bukankah Zaidan sudah mengutarakan niatnya untuk mempersunting mu?"


"E-ya... Tapi Aku belum merasa yakin, Lagipula dia belum tahu banyak tentang ku, Begitupun dengan Om dan Tante."


"Saat Aku menikahi Mamanya Zaidan, Aku juga tidak tahu banyak tentangnya, Aku langsung jatuh cinta saat pertama kali melihatnya, Tapi sejak saat itu Aku yakin jika dia lah jodohku. Jika sekarang Zaidan melakukan hal yang sama, Lalu apa masalahnya."


"Tapi Aku dan Tante Faza beda Om, Tante Faza jelas dari keluarga baik-baik, Bahkan seorang putri Kiyai, Sedangkan Aku... Aku hanya anak broken home, Dan Aku sendiri pun pernah gagal dalam pernikahan selain itu Aku juga bukan dari keluarga berada, Aku tidak layak untuk keluarga ini."


"Pada hakekatnya manusia mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT. Tidak ada yang membedakan kita kecuali amal ibadah serta ketaatan kepada-Nya." saut Faza.


"Istri ku benar, Lagi pula kami tidak mempermasalahkan masa lalu maupun status mu, Yang terpenting adalah dirimu sekarang dan selalu Istiqomah memperbaiki diri, Benarkan Zaidan?"


"Itu benar sekali Papa, Papa memang yang terbaik selalu mewakili perasaan ku."


Semua orang tersenyum. Tak terkecuali dengan Mawar yang merasa begitu beruntung karena mendapatkan cinta dari Simba dan kedua orang tuanya meskipun mereka baru bertemu dua kali.


"Baiklah Ana, Kedua orang tua ku sudah setuju, Sekarang Aku ingin melamar mu di depan mereka, Apakah kamu bersedia menjadi menantu keluarga Shaikh?" dengan berlutut Simba memberikan bunga yang ada di atas meja makan.


Seperti halnya Simba, Zayn dan Faza juga menunggu jawaban dari Mawar yang terlihat masih mempertimbangkan lamaran tersebut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2