
Setelah selesai melakukan resepsi hari itu juga, Seluruh keluarga beristirahat di kamar masing-masing. Namun tidak dengan Ziyan dan Zayed yang belum membiarkan Simba menyusul istrinya ke kamar.
Mereka berdua, Terutama Ziyan masih asik menggoda Simba bagaimana dia akan melakukan malam pertamanya dengan Ana yang begitu tertutup dan pendiam. Meskipun Simba bukanlah pria alim yang tidak pernah menyentuh wanita. Namun ini pertama kalinya dia akan melakukan kewajibannya sebagai seorang suami. Terlebih dia akan melihat wajah Mawar untuk pertama kalinya.
"Ahh sudahlah, Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajahnya." ujar Simba bangkit dari duduknya.
"Kamu tidak sabar ingin melihat wajahnya atau tidak sabar untuk menidurkan junior mu yang sudah bangun?" tanya Ziyan yang langsung di pukul kepalanya oleh Zayed. Namun Ziyan hanya tertawa ngakak sembari memegangi kepalanya.
"Ziyan... Berhenti menghalangi saudara mu memenuhi kebutuhan batinnya seperti Opa mu mengganggu Papa dan Mama saat ingin memproduksi mu," ucap Bryan yang menimbrung obrolan mereka.
Mendengar ucapan Bryan semua orang tertawa terbahak-bahak mengingat cerita betapa menyebalkan Opa mereka kala masih muda. "Bukan cuma saat muda, Saat sudah tua pun Opa kalian tetap menyebalkan." lanjut Bryan yang membuat tertawa anak-anak semakin kencang, Membuat Faraz yang ada di ruangan sebelah mendengar dan datang melihat apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
"Duhhh parah nih Opa Faraz," ucap Ziyan di iringi dengan tawanya yang tidak bisa berhenti.
"Jadi kalian tertawa ngomongin Papa?" tanya Faraz yang mendengar ucapan Ziyan.
"Opa bukan Papa, Ingat Papa mertua sudah tidak muda lagi, Sudah banyak cucunya," ucap Bryan tertawa puas.
"Suka-suka Saya mau di panggil apa dan sedang apa kamu masih di sini, Pergi dari sini dan jangan menghasut anak-anak menjadi menyebalkan seperti mu!"
Seperti saat dulu, Ucapan Faraz tidak pernah Bryan ambil hati dia hanya tertawa dan mengajak putranya pulang karena malam sudah kian larut.
Faraz yang mengingat pengalaman pahit di pernikahan pertamanya segera berlari menyusul Simba. Ia khawatir Simba akan merasakan hal yang sama dengan apa yang pernah ia rasakan dahulu kala.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan Opa tidak boleh terjadi kepada ku," ucap Simba yang terus berlari dengan perasaan paniknya.
Ckleekkk...
Dengan nafas terengah-engah Simba sampai di kamarnya.
Ia masih berdiri memegang gagang pintu melihat semua sudut kamarnya, Melihat ranjang pengantin yang di penuhi dengan mawar merah berbentuk love nampak masih utuh seperti belum ada yang menyentuhnya.
"Ana... Dimana dia?" Dengan langkah yang terasa berat Simba masuk memeriksa seluruh sudut ruangan yang ada di kamarnya, Tak terkecuali dengan kamar mandi dan juga balkon. Namun Simba tidak menemukan Mawar di semua tempat.
Simba berdiri di tepi balkon mengingat sebelum pernikahan Mawar menerima panggilan dari Fandi dan membuatnya ragu menikah dengan dirinya.
__ADS_1
"Apa Aku akan benar-benar mengalami hal yang sama dengan apa yang Opa Faraz alami?"
Bersambung...