
Setelah di perbolehkan pulang dari rumah sakit, Semua orang beraktivitas seperti biasa. Mereka sudah sepakat untuk tidak membicarakan apa yang Dokter sampaikan demi kepulihan Mawar.
Hari-hari pun terus berlalu hingga pada suatu hari ketika pernikahan Mawar dan Simba telah memasuki usia tiga tahun, Mawar begitu bahagia ketika mendapati dirinya sudah lima hari terlambat datang bulan. Mawar pun tidak sabar untuk mengecek apakah hasilnya positif atau negatif. Namun setelah melihat hasilnya, Lagi-lagi Mawar harus merasa kecewa untuk sekian kalinya, Seperti bulan-bulan sebelumnya kali ini Mawar juga hanya melihat ada garis satu di benda pipih itu.
"Sayang... Kamu di sini, Kok di panggil-panggil tidak menyahut?" tanya Simba yang menyusul ke dalam kamar mandi. Namun Mawar tidak menjawab apa yang Simba katakan karena ia masih merenungi hasil dari alat tes kehamilan itu.
Melihat Mawar memegang alat tes kehamilan itu, Simba pun langsung mengerti apa yang terjadi. Ia mengambil alat itu dan melihat garis satu tertera di sana. Tidak ingin larut dalam kesedihan yang sama, Simba pun berusaha menghibur sang istri.
"Hey... Memangnya sudah berapa hari kamu telat?" tanya Simba tanpa menunjukkan rasa sedihnya.
"Lima hari."
"Lima hari? Ya ampun Sayang... Baru lima hari tapi kamu tidak sabar untuk mengeceknya?" Simba mencubit gemas pipi Mawar untuk membuat sang istri melupakan kesedihannya.
Mawar hanya mencebikan bibirnya sambil mengusap-usap pipi yang baru di cubit.
"Tunggu lah beberapa hari lagi." imbuh Simba.
"Tapi ini sudah ke sekian kalinya, Kemarin Aku telat satu minggu juga hasilnya negatif."
Mendengar itu Simba merasa sedih dan memgingat apa yang Dokter katakan.
__ADS_1
"Mas, Apa saat Aku keguguran Dokter mengatakan sesuatu?"
Simba langsung berbalik badan membelakangi Mawar. Ia tidak tahu jawaban apa yang bijaksana untuk istrinya.
"Mas..." Mawar melangkah ke hadapan Simba untuk mendapatkan jawabannya.
"Apa ada yang Mas sembunyikan?"
"A-e... Sudah berapa kali Aku bilang Sayang, T-tidak ada yang ku sembunyikan. Memangnya apa yang bisa ku sembunyikan darimu, E-sudah lah Ana, Ayo kita keluar jangan sampai Mama dan Papa menunggu kita terlalu lama." Simba langsung bergegas keluar untuk menyembunyikan rasa yang sebenarnya. Namun hal itu justru membuat Mawar semakin merasa curiga jika memang ada yang di sembunyikan dari suaminya.
•••
Mawar menyusul Ibu mertuanya di dapur. Melihat ada tumpukan piring kotor, Mawar pun berinisiatif mencuci piring sambil sesekali melihat ke arah ibu mertuanya yang sedak sibuk merapikan meja dapur.
"Biar saya aja Non," ucap Asisten rumah tangga yang baru datang, Membuat Faza tersentak dan menoleh ke belakang.
"Ana..."
"Ma..."
"Ngapain di sini Sayang, Kan Zaidan bilang kamu gak boleh melakukan pekerjaan yang akan membuatmu lelah."
__ADS_1
"Memangnya kenapa dengan ku ma, Aku keguguran sudah tiga tahun lalu tapi kenapa Aku tidak boleh beraktivitas seperti biasa, Memang apa yang Dokter katakan setelah Aku mengalami keguguran?"
Seketika Faza langsung terdiam, Ia tidak tahu jawaban apa yang harus di berikan kepada menantunya tersebut.
"Ma... Kenapa diam? Setiap kali Aku bertanya masalah ini kepada Mas Zaidan, Dia selalu mengalihkan pembicaraan, Lalu sekarang Mama juga diam, Sebenarnya apa yang terjadi dengan ku, Apa yang kalian sembunyikan dari ku, Apa setelah Aku keguguran Dokter mengatakan Aku tidak bisa hamil lagi?"
"Ana!" Faza sedikit berteriak untuk menghentikan ucapan Mawar. Membuat Mawar langsung menundukkan kepala menyadari jika ia sudah terbawa emosi nya.
"Jangan pernah berpikir seperti itu apa lagi sampai kamu mengucapkannya!" tegas Faza.
"Apa kamu meragukan kuasa Allah?"
Mawar yang masih menunduk hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu baru menikah tiga tahun, Kenapa bersikap seperti sudah menikah tiga puluh tahun? Bahkan yang belasan bahkan puluhan tahun juga ada yang baru di beri keturunan jadi bersabarlah, Bicara yang baik-baik saja." Faza menjeda ucapannya menarik nafasnya dalam-dalam dan membaca istighfar dalam hati.
"Sayang... Kalian berdua masih muda, Kenapa kamu begitu terbebani dengan memikirkan momongan, Nikmati kebersamaan kalian tanpa harus memikirkan kapan kalian memiliki momongan."
Mawar hanya mengangguk dan memeluk ibu mertuanya. Setelah itu ia melangkah meninggalkan dapur, Meskipun ia tidak membantah apa yang ibu mertuanya katakan, Namun firasatnya mengatakan jika ada yang di sembunyikan dari suami dan seluruh keluarga besarnya.
Bersambung...
__ADS_1