Hijrahnya Bunga Desa

Hijrahnya Bunga Desa
Masa Lalu


__ADS_3

Hari pun berlalu dengan cepat tak terasa pernikahan Mawar dan Simba telah menginjak usia satu tahun. Dan selama itu pula mereka tidak memiliki konflik yang serius. Namun setelah melewati tahun pertama Fandi mantan suami Mawar kembali menghubunginya melalui media sosial berwarna ungu.


Tidak mau membuat Simba salah paham. Mawar pun menunjukan pesan itu kepada Simba. Menanggapi kejujuran Mawar padanya, Simba pun meminta Mawar membalas pesan itu. Akan tetapi Mawar tidak mau melakukan itu dan malah memblokir akun Fandi.


Tidak menyerah begitu saja, Fandi kembali membuat akun baru dan kembali menghubungi Mawar. Dan lagi-lagi Mawar menyerahkannya pada Simba untuk mengambil keputusan atas pesan itu.


Tidak mau terus di ganggu oleh masa lalu Mawar yang terus membayangi pernikahan mereka, Simba pun membalas pesan itu dan menyetujui pertemuan itu sesuai keinginan Fandi.


"Apa! Mas setuju Aku bertemu dengan Pak Fandi?"


Simba hanya menganggukkan kepalanya.


"Mas... Wajib hukumnya bagi suami memiliki rasa cemburu kepada istrinya. Karena menurut ajaran agama kita, Dayust atau suami/kepala keluarga yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap istrinya, Termasuk dalam Tiga golongan yang tidak akan masuk syurga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat. Seorang suami dituntut untuk memiliki cemburu kepada istrinya agar terjaga rasa malu dan kemuliaannya. Cemburu ini merupakan fitrah manusia dan termasuk akhlaq mulia. Cemburu ini dapat menjaga dan melindungi harga diri dan keluarga dari tindakan melanggar syariat, Aku rasa Mas juga tau akan hal ini, Tapi bagaimana bisa Mas menyuruh ku menemui laki-laki yang bukan mahram ku, Terlebih laki-laki itu pernah menikah dengan ku?"


"Tenanglah Sayang, Kamu tidak akan datang sendiri. Aku akan bersama mu."


"Aku tetap tidak mau Mas."

__ADS_1


"Sayang beri kesempatan untuk nya mengatakan apa yang ingin dia katakan. Mungkin dengan itu dia akan berhenti menganggu kita."


Mawar terdiam mempertimbangkan apa yang Simba katakan.


"Ayolah Sayang, Kita tidak ingin kan selama pernikahan kita, Terus di bayangi olehnya?" bujuk Simba.


Setelah memikirkan matang-matang akhirnya Mawar setuju untuk bertemu dengan Fandi di tempat yang sudah di tentukan. Tepatnya di salah satu resto tepi pantai Jakarta Utara.


Sesampainya di sana Simba terdiam melihat pemandangan laut serta sunset yang begitu indah, Susana yang sangat romantis untuk orang yang tengah di mabuk cinta.


Melihat hal yang sama, Mawar pun mendekati Simba.


"Pergilah..." ucap Simba memotong pembicaraan.


"Mas... Mas benar-benar tidak merasa cemburu?"


"Tidak ada seorang laki-laki di dunia ini yang rela orang yang paling di cintai dengan laki-laki lain apa laki mantan kekasih bahkan mantan suaminya. Tapi kita harus selesaikan ini Ana, Akhirnya bayang-bayang tentangnya, Pergi dan tanya apa yang dia ingin katakan."

__ADS_1


Mawar madih enggan melangkah. Susah payah dia lari dari masa lalunya. Namun kini ia harus menemuinya untuk pertama kali semenjak ia bekerja di Singapura.


"Ana... Aku memantau mu dari kejauhan. Aku akan bicara dengannya di waktu yang tepat."


"Janji...?"


"Kapan Aku ingkar janji?"


"Baiklah, Tapi Mas tidak boleh terlalu jauh, Harus ikut mendengarkan apa yang dia katakan."


"Baiklah..."


Mawar pun menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Setelah itu ia mulai melangkah mendekati meja yang sudah Fandi pesan untuk mereka.


Langkahnya terhenti ketika melihat sosoknya yang dulu begitu ia cintai. Meskipun Mawar baru melihat punggungnya karena posisi Fandi yang menghadap laut, Kaki Mawar terasa gemetar untuk kembali melangkah.


Sementara Simba yang sudah bersembunyi tak jauh dari sana hanya memperlihatkan sang istri seolah mencari tau perasaan sang istri kepada mantan suaminya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2