Hijrahnya Bunga Desa

Hijrahnya Bunga Desa
Beralasan


__ADS_3

Mawar menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian ia kembali melangkah mendekati meja dan kembali berhenti ketika berdiri tepat di belakang Fandi.


Cukup lama Mawar berdiam diri hingga akhirnya Fandi melihat bayangan Mawar dari layar ponselnya. Fandi yang terkejut langsung menoleh ke belakang dan berdiri mendekatinya.


"Mawar..."


Mawar langsung berjalan mundur dua langkah mengikis jarak dari Fandi yang berdiri terlalu dekat.


"Bagaimana kabar mu Mawar?" Fandi mengulurkan tangannya namun Mawar hanya menangkup kedua tangannya sebagai pengganti berjabat tangan.


Fandi pun menarik kembali tangannya dan membuat dirinya menjadi canggung.


"Kamu sudah begitu banyak berubah Mawar."


"Pak Fandi yang memaksa ku untuk berubah."


"Mawar... Kamu masih marah dengan ku?"


"Tidak. Untuk apa Aku marah, Kini Aku telah hidup bahagia bersama suami ku, Yang menerima ku dengan segala kekurangan ku, Tidak seperti Pak Fandi yang selalu bersembunyi di ketiak orang tua!" Mawar masih cukup berapi-api mengingat betapa pahitnya cinta mereka tanpa restu kedua orang tua serta tidak tegasnya Fandi mengambil sikap.


"Mawar... Kamu menikah hanya karena kamu ingin melupakan ku, Jika tidak, Kenapa bicaramu masih emosional begitu?"

__ADS_1


Simba yang menguping pembicaraan mereka dari jarak yang cukup dekat seolah membenarkan apa yang Fandi katakan. Begitupun dengan Mawar, Kenapa ia masih begitu emosi dan berdebar saat bertemu dengan Fandi. Mawar segera menepis itu dan mengalihkan pembicaraan.


"Katakan untuk apa Pak Fandi meminta ku kemari?"


"Duduklah Mawar..."


Tanpa menjawab, Mawar menatap Fandi tajam solah menolak tawaran Fandi.


"Mawar ayolah sebentar saja, Aku ingin mengatakan apa yang tidak ku katakan hari ini."


Mendengar itu akhirnya Mawar duduk namun menyamping agar tidak berhadap-hadapan dengan Fandi.


"Kenapa dengan Tante?"


"Mama punya penyakit jantung, Aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya jika Mama tau Aku masih tetap berhubungan dengan mu."


"Lalu kenapa sekarang Pak Fandi menemuiku?"


"Mama telah tiada," ucapnya sedih.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un." lirih Mawar.

__ADS_1


"Karena itu Aku terus berusaha menghubungi mu Mawar. Aku ingin kamu tidak menikah dengan nya, Karena meskipun Aku tidak bersama mu, Cintaku selalu ada untuk mu. Tapi kamu selalu tidak memberi ku kesempatan untuk mengatakannya dan justru kamu memutuskan untuk menikah."


Mawar menarik nafas dalam-dalam. Dan beranjak dari duduknya.


"Karena Aku sudah menemukan laki-laki yang menerima segala kekurangan ku meskipun ia tau masa lalu ku yang penuh dosa. Dan yang terpenting adalah, Keluarga besarnya menerima ku dengan baik tanpa memandang masa lalu maupun latar belakang ku yang hanya gadis desa dan pernah bekerja menjadi asisten rumah tangga."


Simba yang mendengarnya dapat bernafas lega. Tapi tidak dengan Fandi, Ia masih berusaha menghentikan Mawar dan merayunya seperti dulu. Namun kali ini rayuan itu tidak mempan lagi.


"Sudahlah Pak Fandi, Jangan karena Tante sudah tidak ada lalu Pak Fandi datang kepada ku, Tante tidak menyukai ku jadi jangan membuatnya sedih dengan Pak Fandi mendatangiku."


Melihat Mawar melangkah pergi, Fandi bergegas menghentikannya. Namun dengan cepat Simba muncul di tengah-tengah keduanya.


Fandi terkejut melihat Simba yang tiba-tiba berdiri di hadapannya di tengah-tengah dirinya dan Mawar yang kini terhalang tubuh tinggi suaminya.


"Kamu terkejut?" tanya Simba.


"Apa kamu pikir Aku akan membiarkan istri ku pergi seorang diri menemui mantan suaminya?" lanjutnya lagi.


Fandi terdiam. Ia memang mengira Mawar datang seorang diri sehingga ia tidak mempersiapkan diri ketika berhadapan dengan suami Mawar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2