
Malam harinya Simba kembali masuk ke kamar dan melihat Mawar yang masih asik dengan ponselnya. Tidak ingin marah terlalu lama Simba pun mendekati Mawar dan memulai pembicaraan.
"Lagi lihat apa, Kok senyum-senyum begitu."
"Bukan apa-apa." saut Mawar sambil terus tersenyum menatap layar ponselnya.
Meskipun merasa di abaikan, Simba masih bersabar dan meminta Mawar beristirahat. Namun Mawar tidak menjawab perkataan Simba dan justru berlari ke balkon untuk menerima telepon.
Melihat demikian, Simba pun bergegas menyusul Mawar dan mendengar Mawar berbicara dengan Fandi melalui telponnya. Hal itu pun membuat Simba marah dan langsung merebut ponsel Mawar.
Simba terkejut melihat layar ponsel Mawar yang tidak memiliki panggilan masuk dan justru menampilkan pesan di aplikasi berwarna ungu dari Fandi. Simba pun mulai membaca satu persatu pesan yang dikirim Fandi sejak beberapa bulan lalu hingga terakhir kemarin malam dan baru di balas Mawar beberapa menit lalu. Melihat kenyataan itu, Simba menatap Mawar dan meminta penjelasan.
"Apa kamu sengaja melakukan ini supaya Aku menerima pernikahan yang kamu tawarkan?"
__ADS_1
"Tidak juga."
"Lalu apa Ana?"
"Aku sedang berpikir, Pak Fandi masih begitu setia menantiku meskipun bertahun-tahun sudah berlalu dia..."
"Dia apa Ana?! Apa yang kamu pikirkan, Apa menurut mu selama ini Aku tidak setia? Bahkan ketika kamu ngotot ingin Aku menikah lagi Aku tidak mau, Apa menurut mu itu bukan bentuk kesetiaan?!" Simba mulai meninggikan nada suaranya.
"Mungkin itu bentuk kesetiaan tapi bukan bentuk besarnya cinta mu kepada ku, Kenapa kamu tidak menuruti keinginan ku demi cinta mu pada ku?"
"Aku sedang melakukan demi cintaku padamu dan keluarga ini, Maka dari itu Aku memaksa mu untuk menikah kembali dengan Nurul."
"Ana kamu masih saja bersikeras dengan keinginan mu?! Kenapa kamu tidak mengerti jika Aku dan Keluarga ku tidak pernah menuntut apalagi menekan mu untuk memberikan kami keturunan tapi kenapa kamu justru ngotot ingin Aku menikah lagi? Apa kamu pikir setelah seseorang berhijrah hanya berfokus merelakan suaminya berpoligami?"
__ADS_1
Ana hanya diam mendengarkan apa yang Simba katakan.
"Ajaran kita memang menunjukkan poligami bisa dilakukan dalam kondisi darurat dengan prinsip adil. Tapi bukan menjadi anjuran apalagi kewajiban untuk dilakukan!" setelah meluapkan kekesalannya, Simba meninggalkan Mawar dan pergi ke kamar mandi. Ia tidak ingin kemarahan terus menguasai hatinya sehingga ia merasa perlu untuk mengambil air wudhu untuk meredamkan amarahnya.
•••
Keesokan harinya setelah pulang kerja. Simba tidak menemukan Mawar dimanapun, Simba hanya menemukan secarik kertas di atas nakas yang di sertai bunga mawar merah di atas kertas tersebut.
Dengan perasaan tak karuan Simba membuka kertas itu dan mulai membaca apa yang Mawar tuliskan di sana.
"Mungkin saat Mas membaca surat ini, Aku sudah pergi jauh dari rumah ini. Maaf jika pergi tanpa seizin mu, Tapi Aku sudah tidak tahan lagi dengan pernikahan ini, Kebaikan kalian justru membuat ku merasa tertekan di setiap harinya. Sekarang Aku ingin lepas dari tekanan ini, Aku ingin bebas dan menikmati hidupku tanpa terbebani oleh apapun. Tapi di balik itu semua, Alasan utama ku meninggalkan mu adalah Aku ingin kembali bersama Pak Fandi, Cinta pertamaku yang hingga kini belum sepenuhnya hilang dari hatiku, Jadi tidak perlu mencari ku lagi."
Membaca itu semua Simba menggenggam kertas itu beserta bunga mawarnya hingga jemarinya mengalir darah segar akibat tertusuk durinya.
__ADS_1
Bersambung...