
Dengan kesal Lily mengemasi pakaiannya. Meskipun ia terkesan membela Raka di depan Mawar. Namun hatinya begitu sakit atas apa yang Raka lakukan. Bagaimana tidak, Meskipun bertahun-tahun sudah berlalu namun Raka masih saja menginginkan Adiknya.
Setelah selesai mengemasi pakaiannya Dengan menggendong putri kecilnya, Lily keluar tanpa sepatah katapun. Melewati Raka yang mencoba bicara padanya, Ia langsung ke kamar ibunya untuk mengajaknya pulang.
Mona yang juga telah bersiap mengangguk dan meninggalkan kamarnya. Mereka bersama-sama turun melewati Mawar yang diam saja tanpa mengucapkan selamat jalan apalagi menahan mereka untuk tetap tinggal. Hal itu membuat Lily semakin membenci Mawar, Karena bukan kali ini saja Mawar membuatnya kesal, Semenjak mereka kecil hingga tumbuh dewasa, Lily merasa Mawar selalu lebih unggul dalam berbagai hal di bandingkan dirinya.
"Maafkan Aku Bu..." kata itu terlontar ketika mereka telah sampai pintu, Mona yang mendengar langsung menoleh ke belakang beniat mendekati Mawar. Namun Lily segera menarik tangan ibunya di ikuti dengan gelengan kepalanya.
Mona pun mengurungkan niatnya dan kembali melangkah pergi dengan Lily dan juga yang lainnya.
Mawar tak bisa lagi menahan tangisnya untuk tidak bersuara.
Dengan perasaan hancur Mawar berlari ke atas dan kembali ke kamarnya.
Ckleekkk...
Simba menoleh ketika mendengar pintu terbuka. Belum sempat ia bicara sepatah katapun, Mawar langsung berlari memeluknya.
Mawar memeluk erat Simba, Membenamkan wajahnya di dada Simba dan menangis sejadi-jadinya.
Simba membiarkan itu untuk beberapa menit sambil mengusap kepala serta punggungnya.
Setelah Mawar merasa sedikit tentang, Dan menyadari ia menangis di pelukan Simba yang tidak mengenakkan pakaian, Mawar segera melepaskan pelukannya dan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"M-maafkan Aku..." ucap Mawar.
"Aku tidak keberatan." ujar Simba yang sengaja membuat suasana menjadi tidak canggung.
"Bukan itu."
"Lalu?"
"Maafkan Aku untuk masalah tadi pagi."
"Oh... Aku sudah melupakannya, Jangan di pikirkan."
"Tapi Aku harus menjelaskan, Aku tidak ingin ada salah paham lagi di antara kita hanya gara-gara telpon dari masa laluku yang sebenarnya Aku juga tidak menginginkannya."
Simba menarik nafas dalam-dalam dan mempersilahkan Mawar menjelaskannya.
"Dan kamu mengangkat nya." saut Simba memotong pembicaraan.
"Ya, Aku mengangkat nya dan mengatakan padanya untuk tidak lagi menganggu ku karena hari ini Aku akan menikah, Setelah itu Aku hapus dan blokir nomornya, Aku benar-benar tidak menyangka jika ia kembali mencoba menghubungi ku menggunakan nomor lain..."
Simba terdiam mengingat nasehat Ziyan.
"Mas Zaidan..." dengan ragu-ragu Mawar meraih tangan Simba dan menggenggam jemarinya. Mawar terus menundukkan kepalanya melihat jemari suaminya untuk menyembunyikan ketegangan hatinya untuk melanjutkan cerita.
__ADS_1
"Dan untuk masalah tadi..." Mawar menceritakan segalanya tentang masa lalunya dimana beberapa kali Raka pernah mencoba merengguk madunya. Simba pun hanya diam membiarkan Mawar selesai bercerita.
Setelah Mawar selesai bicara, Simba meraih tubuh Mawar dan memeluknya.
"Aku berkata yang sebenarnya, Tidak ada lagi yang ku sembunyikan."
Mawar terus menangis karena tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir suaminya.
"Tenanglah Ana.... Jangan menangis lagi." akhirnya kata itu pun terucap dari bibirnya. Membuat mawar lega dan semakin menangis haru.
"Kok malah makin kenceng nangisnya, Hey..." Simba mengurangi pelukannya mencoba melihat wajah Mawar yang terus menangis. Kemudian Simba membuka cadarnya dan menghapus air matanya.
"Maafkan Aku karena Aku langsung pergi tanpa memberimu kesempatan menjelaskan semuanya, Dan untuk kejadian Raka, Aku melihat dan mendengar segalanya, Sebelumnya Aku membiarkan perdebatan kalian karena Aku pikir kalian memiliki hubungan khusus, Tapi Aku salah. Maafkan Aku Ana, Maafkan Aku jika Aku meragukan mu." Simba kembali mendekap erat Mawar.
"Kita lupakan semuanya, Kita mulai lembaran baru dengan saling percaya satu sama lain dan..."
"Dan...?" tanya Mawar ketika Simba tidak melanjutkan ucapannya.
"Dan penuh gair'ah." bisik Simba yang langsung membuat Mawar membulatkan kedua matanya. Kembali menyadari Simba tidak mengenakan pakaian dan hanya handuk yang melilit di pinggangnya, Mawar segera mundur dengan sedikit mendorong tubuh Simba.
"Hey... Ana... Apa kamu mau membalas ku dengan melarikan diri dari ku?"
Mawar tertawa dan berlari ke belakang sofa untuk menghindari kejaran Simba.
__ADS_1
Bersambung...