
Setelah beramah tamah dan juga saling memperkenalkan diri, Keluarga Mawar pun beristirahat di kamar masing-masing, Tak henti-hentinya Lily menatap takjub kamar tamu yang sepuluh kali lipat lebih bagus dari kamar pribadi yang ia tempati bersama Raka.
"Kamu pasti sedang berhayal menjadi Mawar kan?" tanya Raka mengetahui apa yang sedang istrinya pikirkan.
"Aku tidak berhayal menjadi Mawar, Tapi Aku berhayal kapan kamu bisa memiliki rumah seperti ini."
"Teruslah bermimpi, Karena jika Aku sudah memiliki rumah seperti ini, Maka istri ku bukan lagi diri mu!"
Lily terdiam kesal mendengar jawaban Raka.
Pernikahan mereka memang tidak harmonis lantaran Raka yang memang hanya terpaksa menikahi Lily lantaran desakan sang Ayah. Namun meskipun begitu, Mereka masih mempertahankan rumah tangganya demi kepentingan masing-masing.
Tak jauh beda dari Lily dan Raka, Ari suami baru Mona juga tengah membicarakan tentang kemewahan rumah calon menantunya. Dimana mereka tidak pernah menyangka jika Mawar yang selama ini tinggal jauh darinya, Masih mau meminta mereka mendampingi di hari bahagianya.
"Aku benar-benar merasa beruntung Mas, Padahal selama ini Aku selalu menyakiti dan mengabaikan Mawar." ujar Mona
"Apa kamu yakin jika Mawar berniat tulus ingin kita mendampingi?"
"Maksud Mas?"
"Kamu terlalu naif Mona, Apa kamu lupa jika kita tidak datang saat Mantan suami mu tiada, Apa kamu pikir Mawar akan mengabaikan itu begitu saja? Tidak Mona, Justru Aku curiga jika dia mengundang kita kemari hanya ingin mempermalukan kita dan menunjukkan jika dia telah berhasil mendapatkan suami yang kaya raya."
__ADS_1
Mona terdiam dan mulai terpengaruh dengan perkataan suaminya.
Sementara Mawar yang di antar oleh Bibi menemui Simba yang tengah berjemur di kursi tepi kolam renang.
Melihat Mawar datang, Simba langsung melepaskan kacamata hitam nya dan beranjak dari kursinya.
"Ana..."
Mawar langsung berbalik badan ketika melihat Simba hanya mengenakan celana pendek sehingga dada bidangnya terekspos sempurna.
"M-maafkan Aku," ucap Mawar tanpa menoleh ke belakang.
Simba memberikan instruksinya pada pelayan untuk mengambilkan bathrobe. Setelah mengenakan bathrobe tersebut Simba melangkah mendekati Mawar.
"Tidak, Aku kesini hanya ingin mengucapkan terimakasih... E... T-terimakasih telah membawa keluarga ku kesini. Terimakasih juga meminta Nurul datang untuk menemaniku."
"Kamu kesini hanya ingin mengucapkan terimakasih atau kamu diam-diam ingin menatap wajah ku?" goda Simba.
"A-e... A-a-apa yang kamu katakan, Aku benar-benar hanya ingin mengucapkan terimakasih."
Simba menaikkan kedua alisnya dan mencebikan bibir seraya mengangguk-anggukkan kepalanya, Membuat Mawar yang berdiri di depannya menjadi salah tingkah.
__ADS_1
"E... Itu saja, A-aku pergi dulu."
Dengan jailnya Simba menghadang Mawar mengikuti langkahnya ke kanan dan ke kiri. Andai saja wajah Mawar tidak tertutup oleh cadar maka Simba dapat melihat wajah Mawar yang memerah bak kepiting rebus.
"Simba!" Mawar memekik kecil dan menghentikan usahanya karena Simba terus menghalangi jalannya. Kemudian dengan cepat Mawar berlari mencari jalan lain untuk pergi dari sana. Namun lantai yang basah terkena air, Membuat Mawar terpeleset.
"Ana!" dengan sigap Simba menangkap tubuh Mawar dari belakang sehingga Mawar tidak jadi terjatuh.
Mawar yang masih terkejut menatap ke atas di mana saat bersamaan Simba juga menatap dirinya. Tatapan mata keduanya pun tak dapat di hindarkan untuk beberapa saat sebelum moments itu terhenti oleh kedatangan Zayn.
"Jangan terlalu mengumbar pandangan karena kalian akan diserang kegelisahan."
Mendengar perkataan Zayn, Simba dan Mawar segera berdiri dan saling menjauh satu sama lain.
Mawar menundukkan kepalanya karena menahan malu yang teramat sangat, Berbeda dengan Simba yang nampak cuek melihat kedatangan Papanya.
"Sabarlah sedikit Zaidan, Tinggal satu hari lagi kamu akan menikahinya." lanjut Zayn.
"Aku tidak melakukan apapun Papa, Situasi yang mengharuskan ku memeluk dan menatap matanya," ucap Simba sembari menatap Mawar.
Mawar hanya menunduk dan meminta izin pergi untuk menghindari obrolan antara Simba dan Ayahnya yang pasti akan terus menggodanya.
__ADS_1
Bersambung...