Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 0: Anak Laki-Laki Earl


__ADS_3

Ketika melihat kembali sejarah, kita akan menemukan bahwa di bawah arus sejarah, bahkan pemimpin yang paling bijaksana pun pasti akan kehilangan akal sehatnya.


Pasal 35 ayat 7 dalam kronik kekaisaran tentang refleksi retrospektif pada era Roland.


Saat itu sore musim panas, matahari terik yang menggantung di langit masih memancarkan panas tanpa ampun. Untuk menyambut upacara kemenangan yang akan datang, penjaga-penjaga yang mengenakan baju besi merah cerah telah mengepung bagian depan pelabuhan nomor satu di dermaga.


Dan seratus langkah di luar dermaga, para prajurit keamanan ibukota kekaisaran telah mengerahkan seluruh kekuatan. Banyak di antara mereka yang pakaiannya robek, tanda pangkat yang awalnya mengkilap telah copot, topi kebanggaan terlepas, bahkan sepatu bot diinjak berkali-kali.


Hal yang membuat seribu prajurit keamanan yang perintahkan untuk menjaga ketertiban di sekitar pelabuhan ini merasa tak berdaya adalah mereka menghadapi lebih dari lima puluh ribu warga ibukota kekaisaran yang antusias.


Warga yang antusias telah menyiapkan bunga, bersorak dan bertepuk tangan. Tentu, ada juga gadis-gadis remaja yang siap untuk memberikan ciuman dan kesucian mereka. Di bawah gejolak emosional seperti itu, seribu prajurit keamanan merasa kalau mereka seperti kapal rusak di lautan yang bisa terbalik kapan saja.


Saat ini seribu prajurit itu merasa iri pada prajurit yang berdiri di dalam penjagaan dermaga sebab mereka bisa berbaris dengan santai, menunjukkan baju besi dan senjata yang baru saja mereka keluarkan. Pada saat yang sama juga tak perlu khawatir wajahnya dicakar oleh warga tertentu.


Demi acara kemenangan kali ini, Kaisar Agung - Yang Mulia Augustine VI - memberi perintah untuk menggandakan ukuran kanal besar Lancang ke sungai ibukota kekaisaran. Untuk itu, ibukota kekaisaran membayar sepuluh ribu pekerja sungai buat bekerja selama setengah tahun. Perbendaharaan kekaisaran juga membayar hampir tiga juta koin emas.


Tujuan dari membayar harga-harga itu hanya agar Danton - armada ekspedisi ke-sekian kapal perang kekaisaran - dapat langsung tiba di pelabuhan luar gerbang timur ibukota kekaisaran dengan lancar melalui kanal untuk menerima sorakan warga guna menunjukkan kekuatan kekaisaran yang luar biasa.


Tidak ada yang peduli, apakah setimpal membayar harga sebanyak itu demi sensasional?


Karena Kanselir Bendahara Kekaisaran terakhir yang pertama mengajukan keberatan telah dihentikan oleh Yang Mulia Kaisar yang marah. Dan pilihan satu-satunya Kanselir Bendahara baru adalah memeras otak buat mengumpulkan uang di tengah berbagai pengeluaran kekaisaran untuk memuaskan ‘orang tua boros’ itu.


Sebutan ‘orang tua boros’ tentu hanya bisa dikubur di lubuk hati terdalam Kanselir Bendahara. Sangat, sangat dalam.


Saat matahari sore menyinari permukaan kanal yang luas, ketika kapal layar pertama menunjukkan bayangan, kerumunan orang mulai bersorak tak terkendali.


Saat kapal perang besar dengan panjang dua ratus langkah di kanal perlahan mendekati pelabuhan, bayangan besar kapal perang yang megah dan perkasa mengejutkan semua warga ibukota kekaisaran yang datang menonton.


Danton - armada ekspedisi keenam kapal perang kekaisaran, kebanggaan angkatan laut kekaisaran, kapal perang terbesar angkatan laut kekaisaran sepanjang sejarah. Dalam rangka menyambut upacara penyambutan ini, kapal perang telah dicat dan diperbaharui secara menyeluruh. Lambung kapal dicat dengan warna hitam yang menakutkan. Di tengah sorak-sorai, Danton seperti monster raksasa hitam yang perlahan mendekati pelabuhan. Bendera bergambar bunga duri berkibar tertiup angin di tiang.


Ketika jangkar dijatuhkan, puluhan ribu warga di pelabuhan sudah mendidih. Banyak topi dilempar ke udara, banyak sepatu terlepas, banyak kaki yang terluka. Dan prajurit keamanan yang malang hanya bisa mengurangi barisan sekuat tenaga.


Earl Raymond - komandan armada ekspedisi kekaisaran - berdiri di dek dan menatap kosong kerumunan yang bersorak di pelabuhan saat ini.


Jenderal kelas satu kekaisaran yang berusia 39 tahun ini - Earl Kekaisaran - mengenakan pakaian termegahnya. Baju besi menutupi seluruh tubuhnya, jubah merah di belakang berkibar tertiup angin. Ada dua medali di dadanya yang didapatkan pada dua armada ekspedisi sebelumnya. Dan tak diragukan lagi bahwa kemenangan ini akan memberinya medali kekaisaran ketiga.

__ADS_1


Tatapan sang Earl agak tak fokus. Pandangannya tidak berhenti pada kerumunan orang di pelabuhan. Jika dilihat dari jarak dekat maka bisa menemukan bahwa alis sang Earl berkerut, sepertinya tidak sabar.


Heran, baju besi ini terlalu berat dan sangat bodoh!


Sang Earl tidak berpikir bahwa prajurit armada angkatan laut perlu mengenakan baju besi seberat ini ketika bertempur di laut. Itu pakaian yang digunakan prajurit angkatan darat. Sedangkan medali-medali ini adalah benda yang lebih bodoh lagi bagi sang Earl, seperti orang kaya baru yang memamerkan kekayaannya. Orang kaya sesungguhnya tak sudi melakukan ini. Dia merasa jika tindakan seperti ini sangat merendahkan kehormatannya.


Selain itu, kerumunan yang bersorak di bawah terlalu berisik. Sorakan mereka layaknya gelombang besar dalam tsunami, mengikis kesabaran sang Earl yang memang tersisa sedikit.


Dia melihat geledak di bawah kakinya tanpa sadar.


Danton ini telah dicat ulang tiga hari yang lalu untuk upacara penyambutan hari ini. Tak ada lagi darah di geledak. Dek yang dipakai dalam perang ekspedisi telah dibangun kembali. Haluan kapal juga sudah diganti baru. Heran, bisa-bisanya orang-orang yang suka menjilat Yang Mulia Kaisar mengubah haluan kapal menjadi patung Yang Mulia Kaisar sendiri. Dan katanya, patung ini dibuat oleh seorang pematung kekaisaran terkenal beberapa hari yang lalu.


Angkatan laut kekaisaran membayar sepuluh ribu koin emas tambahan untuk itu.


Perkasa, sih, cukup perkasa. Tapi, apakah para idiot itu tak tahu bahwa saat menghadapi pertempuran di laut, bagian pertama yang terbentur setelah kapal perang bertabrakan adalah haluan?


Menurut sang Earl, sepuluh ribu koin emas itu dihabiskan dengan sia-sia. Karya pematung master itu bahkan tak lebih praktis dari pasak kayu yang dicari asal.


Sebenarnya, Earl Raymond bahkan berpikir kalau membangun armada ekspedisi kekaisaran ke-sekian ini adalah keputusan salah yang konyol.


Tak dapat dipungkiri ada banyak pulau di Laut Cina Selatan, seperti mutiara bertebaran di lautan luas. Di sana ada hutan aneh, ada suku pedalaman biadab dan bodoh yang masih di tahap klan, ada emas, batu permata, rempah-rempah, dan makanan laut.


Namun, sang Earl tidak berpikir bahwa ‘membawa belasan kapal perang besar untuk menggertak sampan kecil penduduk asli di sana’ disebut ‘ekspedisi’.


Itu adalah perampokan, pembantaian, perampasan, agresi, penjarahan!


Sang Earl tidak berpikir ada yang salah dengan itu. Dalam sejarah, yang lemah selalu ditindas oleh yang kuat, yang lemah harus menyerah pada yang kuat. Akan tetapi, sang Earl merasa jika kesalahan kebijakan kekaisaran terhadap Laut Cina Selatan terletak pada ekspedisi semacam ini dilakukan terlalu sering, dan hasil yang diterima sepertinya melemah.


Dalam dua tiga ekspedisi pertama, ketika angkatan laut kekaisaran yang kuat tak terkalahkan membawa kembali emas, permata, dan makanan laut, itu menimbulkan sensasi di seluruh kekaisaran.


Tapi lumbung sekaya apa pun tidak tahan dengan panen yang begitu sering. Penjarahan yang berlebihan menyebabkan kepunahan suku pedalaman yang agak dekat dengan Laut Cina Selatan. Setelahnya, pasukan ekspedisi harus berlayar lebih jauh. Perpanjangan perjalanan merupakan ujian besar bagi pasokan armada.


Bagaimanapun Laut Cina Selatan tak hanya memiliki pendudukan asli yang mudah digertak, emas, dan permata. Tetapi juga cuaca yang panas, perubahan iklim, ombak yang mengerikan, serta terumbu karang yang tak terhitung jumlahnya, pusaran air, dan badai.


Panen berlebihan membuat ladang subur yang bisa menjadi lumbung kekaisaran ini mengosong cepat. Lalu, hasil panen ekspedisi berikutnya akan berkurang dan berkurang. Namun ironisnya, upacara kemenangan selalu lebih agung dan lebih agung.

__ADS_1


Earl Raymond sendiri telah memimpin tiga ekspedisi dalam beberapa tahun terakhir, membuat reputasi sang Earl gemilang di Laut Cina Selatan. Laksamana kekaisaran ini, sang Earl, mempunyai sederet julukan di Asia Tenggara.


Perampok, penjagal, algojo. Kedua tangannya berlumur darah penduduk pedalaman. Dia adalah penjajah bereputasi busuk di hati para suku pedalaman, iblis yang membakar rumah dan memperbudak mereka.


Sang Earl tentu tidak mengindahkan hal-hal tersebut. Tetapi, hal satu-satunya yang membuat dia gelisah adalah perang agresi yang berlebihan telah memicu perkembangan penduduk pedalaman Asia Tenggara ini dalam beberapa hal, terutama dalam aspek kekuatan. Sebelum kali ini pulang, dia bahkan mendengar bahwa pendudukan beberapa pulau di ujung selatan telah membentuk aliansi untuk melawan penjarahan kekaisaran yang tak ada habisnya.


Untungnya, hal-hal memusingkan itu tak perlu dia pikirkan lagi. Karena sang Earl tahu betul jika ini adalah ekspedisinya yang terakhir. Setelahnya, dia akan tinggal di ibukota kekaisaran. Jika semuanya lancar, dia akan mendapatkan posisi penting di komando tinggi kekaisaran, kemudian bekerja sekitar sepuluh tahun. Setelah menteri militer saat ini pensiun, dengan pengaruh keluarganya, dia akan menjadi menteri militer yang baru. Jika nasibnya sedikit lebih baik lagi, mungkin dia bisa berkarir di politik sebagai perdana menteri untuk beberapa tahun terakhir.


Sedangkan ekspedisi, persetan saja. Itu adalah masalah yang harus dipusingkan oleh komandan armada ekspedisi berikutnya.


Seandainya pendudukan pedalaman telah berevolusi sampai bisa membuat meriam pun, itu bukan hal yang harus dia khawatirkan.


Di tengah sorakan seperti gelombang panas, sang Earl turun dari dek di bawah tatapan semua orang. Kakinya akhirnya menginjak tanah ibukota kekaisaran. Dia melambai kepada kerumunan yang bersorak. Namun, gerakannya lebih seperti mengusir lalat.


Lalu, seorang pegawai negeri yang berpakaian dinas pengadilan naik ke kapal dan membacakan pujian dari Yang Mulia Kaisar, serta mengumumkan bahwa sang Earl akan menemui Yang Mulia Kaisar untuk menerima penghargaan di istana besok pagi.


Seperti yang diharapkan, masa depan politik cerah.


Tapi kemudian seorang pelayan berpakaian abu-abu mendekat, membisikkan sebuah kabar di telinga sang Earl. Dan kabar tersebut membuat suasana hati Earl Raymond menurun.


Kabar itu berasal dari rumah.


Berekspedisi di lautan luas selama lebih dari tiga tahun tidak mudah untuk berkomunikasi. Raymond tidak tahu bagaimana kondisi rumah sekarang.


Yang paling penting adalah istrinya. Ketika dia berangkat untuk ekspedisi tiga tahun lalu, istrinya sudah akan melahirkan. Dan sekarang, dia bahkan tidak tahu apakah anaknya laki-laki atau perempuan.


Kabar dari rumah, sih, laki-laki.


Tapi putra yang dilahirkan sepertinya idiot.


Kabar tersebut nyaris membuat sang Earl jatuh dari puncak kebahagiaan.


Nyaris!


Tapi hampir setiap pejabat kekaisaran yang datang menyambut melihat bahwa raut komandan ekspedisi yang menang itu begitu suram hingga berada di ambang kehancuran.

__ADS_1


__ADS_2