
“Dengar.” Dewey berputar balik dan menatap wanita cantik es dengan dingin. “Aku rasa kamu perlu tahu kondisi kita sekarang. Kita ada di sebuah pulau terpencil tanpa makanan dan minuman. Apa kamu tahu bahwa rimpang yang kamu makan tadi adalah jatah yang Vivian simpan hari ini? Apa kamu tahu bahwa aku berkeliling sepanjang pagi demi mendapatkan makanan yang tak seberapa itu? Sedangkan kamu? Kamu hanya duduk dan habiskan jatah adikmu. Kamu tidak merasa bersalah juga tidak berterima kasih, hanya bisa mengeluh. Aku beritahu, jika kamu merasa kurang kenyang, cari makanan sendiri! Semoga kamu tidak mengambil jatah orang lain lagi besok. Tidak ada bangsawan di sini. Kamu, aku, Vivian, semuanya bukan. Tidak ada orang yang akan melayanimu!”
Ekspresi Dewey yang tidak sopan jelas membuat wanita cantik es marah, omelan Dewey juga mempermalukannya.
Tapi…. Wanita cantik es melihat Dewey yang tampak serius dan dia tidak bisa membantah. Dia jelas bisa menendang pemuda kurus nan lemah ini, tetapi wanita cantik es merasa bersalah ketika menghadapi omelannya. Ya, bersalah! Dia bahkan tidak berani melihat mata Dewey.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, wanita cantik es ini merasa dirinya tidak dapat membantah ketika diomeli dengan tidak sopan. Tatapan pemuda lemah ini begitu tenang dan dingin. Di bawah langit malam, tubuh lemahnya seperti pohon besar.
“A-aku tahu. A-aku tidak sengaja makan makanan Vivian. Aku….” Wanita cantik es tiba-tiba menyadari bahwa nadanya begitu lemah hingga tidak seperti dirinya.
Mengapa aku harus tunduk pada anak ini?
Dewey tersenyum tipsi lalu memandang langit.
Kabut belum memudar sehingga bintang di langit tidak terlihat.
Dewey menghela napas. “Tidurlah, ada banyak hal yang harus kita kerjakan besok.”
Dia menambahkan beberapa cabang pohon ke api, kemudian melihat Vivian yang duduk dan tidak berani bersuara, hati Dewey melunak. Dia refleks mengulurkan tangan untuk menepuk kepala Vivian, nadanya pun melembut. “Gadis bodoh kecil, apa kamu lapar?”
Vivian tertegun, lalu menggeleng, tapi kemudian mengangguk malu.
“Maaf, aku adalah pria satu-satunya di sini, seharusnya aku merawatmu.” Dewey tersenyum pahit. “Sayangnya aku membiarkanmu lapar. Hm, begini saja. Tidurlah, kamu bisa bayangkan bahwa pulau ini adalah sepotong kue besar dan pohon-pohon di sekitar adalah lilin yang tertancap di atas kue. Kamu berbaring di atas kue yang besar, harum dan manis. Tidurlah, kamu bisa memakannya di dalam mimpi.”
Kue? Mata Vivian berbinar.
Dewey telah membalikkan badannya, tapi Vivian masih menatap punggungnya.
Dewey bangun di pagi hari.
Lebih tepatnya, dia bangun karena lapar. Kemarin dia hanya makan sedikit buah yang tidak enak, lambungnya nyaris lubang. Buah itu asam dan kasar, ditambah asam lambung, Dewey tersiksa sepanjang malam sehingga kurang tidur.
Ketika bangun, dia menemukan bahwa wanita cantik es itu juga sudah bangun, sedang duduk melamun sambil memegang perutnya.
“Sudah bangun? Lapar?” Dewey merasa kata-katanya agak kasar tadi malam. Bagaimanapun, wanita ini belum mengetahui kondisi di pulau ini. Nada Dewey menjadi sedikit lebih bersahabat.
“Tidak lapar.” Wanita cantik es menggeleng. Dia jelas berbohong. Setelah berpikir, dia berkata, “Di mana ada air? Aku mau cuci muka.”
“Berjalan sebentar menuju luar, kamu sudah bisa melihat laut.”
“Kamu menyuruhku cuci muka dengan air laut?” Wanita cantik es membelalakan mata.
“Maaf, air tawar kita sangat sedikit, hanya bisa untuk minum.”
Kali ini wanita cantik es tidak berdebat, hanya mendesah, lalu berdiri dan berjalan menuju tepi laut.
Pagi hari, Dewey lagi-lagi pergi mencari makanan. Dia menghabiskan lebih banyak waktu kali ini karena bertambah satu orang. Dia membawa segenggam rimpang tanaman lagi.
Kali ini wanita cantik es mengambilnya dan makan tanpa bicara.
Dewey tersenyum.
“Apa?!”
“Sebenarnya….” Dewey tiba-tiba merasa wanita ini tidak lagi begitu menyebalkan. Dilihat dari perilakunya sekarang, dia hanya anak pemarah. Dewey menahan senyumnya. “Meskipun makanannya agak sederhana, setidaknya kamu bisa membersihkan tanahnya sebelum makan.”
“....”
Melihat raut wanita ini menggelap lagi, Dewey segera mengalihkan topik. “Sekarang kita terjebak di sini berarti teman senasib. Aku belum tahu namamu.”
Setelah itu, Dewey berdiri dan memberi salam sesuai standar bangsawan, lalu tersenyum. “Aku Dewey Rollin, putra sulung Earl Raymond, kepala keluarga Rollin saat ini sekaligus wakil komando tinggi kekaisaran.”
Wanita cantik es tampak ragu, dia jelas merasa sedikit enggan, tetapi dia tetap berkata, “Namaku Joanna.”
Joanna…. Nama yang cukup bagus.
Melihat Dewey dan kakaknya akhirnya tidak bertengkar lagi, Vivian segera menambahkan, “Ka-kamu juga bisa me-memanggilnya Jojo.”
Jojo…. Nama yang aneh.
“Diam, Vivian!” Joanna berseru dingin kemudian melihat Dewey sekilas. “Hanya orang tuaku yang boleh memanggilku seperti itu. Kamu akan mati jika berani memanggilnya.”
“Baiklah.” Dewey juga tidak peduli. “Nona Joanna, kita sudah berkenalan. Selanjutnya adalah waktunya bekerja.”
“Bekerja? Kerja apa?”
__ADS_1
Senyum Dewey menghilang, dia berkata dengan raut serius. “Kita harus pikirkan cara untuk pergi dari sini. Ada sebuah ide di benakku.”
“Apa? Membuat rakit untuk pergi dari sini?” Joanna mengernyit dan menatap Dewey dengan tatapan curiga. “Inilah ide bagus yang kamu pikirkan? Kamu mau berlayar di laut, membawa kita kembali ke daratan dengan rakit kecil? Kamu pasti gila!”
Dewey tertawa lalu mengatakan tebakannya.
“Aku merasa kalau harapannya sangat besar. Kamu dan Vivian adalah penyihir kuat. Kalian bisa terbang jauh dengan alat apa pun, benar? Jika kekuatan sihir kalian masih ada, pasti sudah meninggalkan pulau terkutuk ini dengan teknik terbang dari elemen angin, benar?”
“Tentu saja!” Joanna berkata dengan dingin. “Aku sudah pergi jika masih bisa terbang.”
“Masalahnya ada di sini.” Dewey tersenyum. “Kalian kehilangan sihir. Tapi aku menebak jika alasannya tidak ada pada kalian, melainkan pada pulau ini. Aku curiga ada benda penahan sihir di sini, misalnya penghalang atau sesuatu seperti larangan sihir. Kemungkinan besar ada hubungannya dengan monster yang kamu lihat itu. Jadi aku berpikir, lingkup penahan sihir ini seluas apa? Hanya menyelimuti pulau ini atau dengan sebagian kecil laut di sekitarnya? Tapi kurasa lingkupnya tidak akan terlalu luas.”
Joanna akhirnya mengerti. Tanpa perlu Dewey jelaskan lebih lanjut, dia menyambung kata-katanya. “Jadi maksudmu bukan membawa kita kembali ke daratan dengan rakit kecil, tapi hanya menggunakannya untuk keluar dari lingkup larangan sihir di sini. Setelah kekuatan sihirku dan Vivian kembali, kita bisa terbang kembali ke daratan, benar?”
“Benar.” Dewey mengangguk.
“Bagaimana jika tidak bisa?” Joanna mengernyit. “Bagaimana jika tebakanmu salah? Maksudku, mungkin saja aku dan Vivian terkena semacam sihir sehingga kekuatan sihir kami tidak dapat pulih sekalipun meninggalkan pulau ini. Atau perlu beberapa hari, bahkan beberapa bulan untuk pulih. Bagaimana kalau seperti itu? Kami tidak bisa terbang sekalipun keluar dari sini. Dengan hanya sebuah rakit kecil, kita pasti akan mati di tengah lautan.”
“Itu hanya cara mati yang lain.” Dewey mengangkat alis. “Aku bisa dengan jelas memberitahumu bahwa jika kita tidak pergi dari sini, dua tiga hari lagi kita akan mati kelaparan. Meskipun ada banyak pohon di pulau ini, rimpang-rimpang yang bisa dimakan sangatlah sedikit. Aku sudah menemukan poin tersebut ketika mencari makanan. Aku tidak jamin apakah besok masih bisa menemukan makanan.”
“Kita bisa tangkap ikan!”
“Haha!” Dewey tertawa. “Ikan? Coba saja! Monster itu membuat ombak dan gempa seheboh itu kemarin, kalaupun ada ikan di sekitar pulau ini, mereka pasti sudah kabur.”
Biarpun ide Dewey agak berbahaya, setelah Joanna berpikir, dia merasa ucapan Dewey masuk akal.
Tinggi di sini hanya bisa mati kelaparan, lebih baik coba keberuntungan.
Selanjutnya adalah bagaimana cara membuat rakit.
Mereka kesulitan karena tidak punya alat sama sekali.
Untuk membuat rakit, setidaknya harus memiliki kapak untuk menebang pohon, kan?
Kalaupun tidak ada kapak, pedang juga boleh.
Tapi jangankan pedang, belati saja mereka tidak punya.
Joanna adalah seorang samurai, tetapi senjatanya adalah seruling.
Sebagai pendekar pedang, Joanna juga tidak punya kemampuan hebat seperti mematahkan pohon dengan telapak tangan.
Awalnya, Dewey terpikir baju besi Joanna. Bagaimanapun juga, baju besi terbuat dari logam. Cukup ambil sepotong, lalu mengasahnya hingga bisa dijadikan pisau.
Sayangnya, Dewey harus kecewa.
Joanna tidak pelit untuk membagikan baju besinya yang ditambahkan sihir. Namun baju besinya penuh dengan pola berlubang, tidak ada sepotong besi seukuran telapak tangan yang utuh.
Setelah berpikir, Dewey punya ide lagi.
Sisik naga.
Sesayang apa pun dengan peliharaannya, Vivian tetap membiarkan Dewey mencabut beberapa sisik naga.
Sisik naga sangat keras dan kuat. Di zaman kuno, bahkan ada pahlawan legendaris yang menggunakan sisik naga untuk membuat perisai yang kokoh.
Vivian menenangkan naga apinya dengan sedikit sihir yang tersisa. Dewey dengan berani melepaskan dua sisik naga.
Lalu mereka menghabiskan satu hari lagi mencari batu besar di tepi laut, mengasah dua buah sisik naga menjadi pisau yang tajam.
Ketiga orang itu menghabiskan lagi dua hari untuk bekerja.
Dewey dan Joanna menebang beberapa pohon, sementara Vivian bertanggung jawab mengikat batang pohon dengan tanaman merambat.
Dewey bahkan membuat beberapa dayung dari batang pohon. Lalu dia pergi mencari beberapa kundur besar lagi. Ini tak hanya bisa mengisi air, tetapi juga bisa diikat pada rakit untuk menambahkan daya apung.
Terakhir, Joanna menyumbangkan cape putihnya untuk membuat layar.
Ketika semuanya hampir beres, Vivian tiba-tiba teringat sebuah hal yang penting.
“Ba-ba-bagaimana dengan nagaku?” Vivian yang malang mendadak terpikir hal tersebut.
Rakit tidak bisa menampung naga.
Sebenarnya, Dewey dan Joanna sudah terpikir sejak awal, tetapi mereka sulit untuk mengatakannya kepada Vivian.
__ADS_1
Jika sihir Vivian masih normal, dia bisa menggunakan sihir untuk membungkus naganya dan membawanya ke mana-mana. Ketika ingin menggunakan naga, dia cukup memanggilnya.
Sayangnya, dia tidak punya sihir saat ini sehingga tidak dapat membawa naganya pergi bersama.
Dewey dan Joanna bersitatap. Mereka merasa sulit untuk menjawab pertanyaan Vivian yang malang.
Vivian langsung mengerti dan menangis. “Tidak! Tidak! A-aku tidak mau tinggalkan Hot Sun-ku! Hot Sun-ku!!!”
Dia berlari ke sana sambil menangis, lalu memeluk naganya yang tidur dan tidak mau melepaskannya.
Dewey menghela napas. Melihat gadis polos kecil ini, Dewey merasa bersalah.
Tapi apa yang bisa dilakukan?
Mereka tidak dapat membawa naga sebesar ini.
Terlebih lagi, Dewey tidak seperti manusia di dunia ini yang menganggap naga sebagai makhluk kuat dan hebat.
Logika Dewey adalah manusialah yang paling penting. Baik naga maupun ular, semua dalam kategori ‘binatang’.
Nyawa manusialah yang paling penting. Mengorbankan nyawa manusia demi seekor binatang adalah hal bodoh yang Dewey tidak dapat mengerti.
Selain itu, kalau bukan karena menghargai Vivian, Dewey bahkan punya niat untuk menjadikan hewan besar ini sebagai makanan.
Tapi jika dia melakukan itu, Vivian pasti akan menangis sampai mati di tempat.
Biarpun Vivian tidak mau meninggalkan naga kesayangannya, Dewey dan Joanna tetap membawanya secara paksa.
Dewey merasa heran karena wanita galak itu bersikap lembut pada adiknya kali ini.
“Tidak perlu heran.” Joanna sudah agak mengenal Dewey. Hanya melihat tatapannya, dia tahu apa yang Dewey pikirkan. “Aku juga baru kehilangan nagaku, jadi bisa mengerti kesedihan anak ini.”
Dewey menangkap tatapan duka di mata Joanna.
Kedua gadis duduk di atas rakit, Dewey mendorong rakit ke laut, kemudian melompat ke sana. Joanna mengendalikan layar, Dewey mendayung.
Sedangkan Vivian kecil yang malang, setelah dibawa paksa ke rakit oleh kedua orang itu, dia meneteskan air mata sambil memandang pulau kecil di mana naganya berada.
Untungnya, ombak sangat kecil.
Tapi Dewey dan Joanna tampak tegang.
Karena mereka sedang berdoa.
Semoga mereka tidak bertemu monster itu dalam perjalanan. Monster itu bisa menyerang naga dengan mengintai di laut. Jika dia menargetkan mereka, membalikkan rakit ini adalah hal yang mudah.
Dewey hanya berharap kedua penyihir bisa terbang setelah mereka agak jauh dari pulau kecil ini.
“Tuhan Yang Maha Esa, berkatilah kami,” gumam Joanna.
Mendayung rakit adalah hal yang agak berat bagi pemuda sekurus Dewey. Tetapi keinginan melarikan diri membuatnya gigih. Biarpun lengannya agak pegal, Dewey tetap bertahan.
Kalau dilihat-lihat, mereka telah meninggalkan pantai setidaknya 200 meter.
“Bagaimana kamu?” Dewey bertanya pada Joanna.
“Tidak, masih tidak bisa.” Joanna mencoba menggunakan sihir elemen angin untuk memperkuat kerja layar, sayangnya sihir masih tidak bekerja.
“Berusaha lagi,” ucap Dewey menggertakkan gigi.
Namun, Tuhan di dunia ini sepertinya ditakdirkan untuk tidak memberkati Dewey.
Tepat setelah rakit berlayar sejauh 100 meter lagi….
Ombak tiba-tiba muncul di laut, lalu auman mengerikan itu terdengar lagi.
Kemudian, di bawah tatapan ngeri mereka bertiga, ombak setinggi empat atau lima meter tiba-tiba menggulung rakit kecil ini.
Di tengah ombak besar, tanaman merambat di rakit langsung putus. Rakit patah, dan mereka bertiga jatuh ke air bersamaan.
Dewey merasa seolah ada kekuatan yang mengikatnya di laut ketika dia jatuh.
Dia tidak dapat bergerak, dan air laut masuk ke mulutnya begitu dia membuka mulut. Dewey pikir dia akan mati. Pandangannya menggelap, pusaran air menelannya, menariknya cepat.
Dewey merasa dirinya terus tenggelam dan tenggelam.
__ADS_1