Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 19: Jalan Yang Berbeda


__ADS_3

Di luar penjara bawah tanah kastil, Dewey melihat Joline, ksatria perempuan pertama yang ia rekrut. Sejak tiba di kastil ini, Joline mengambil inisiatif untuk menjaga si penyihir.


Joline melakukan ini karena bagaimanapun juga si penyihir pernah menjadi temannya. Meskipun telah mengabdikan diri pada Dewey, dia harus mengingat pertemanan lama. Meskipun penyihir ini bergabung karena tertarik oleh kecantikannya, dan mereka hanya bekerja sama selama beberapa hari. Meskipun Joline tidak berani menentang Dewey dengan membebaskan si penyihir, setidaknya dia bisa merawat mantan temannya ini sebisa mungkin untuk membalas sedikit jasa.


Setidaknya, setelah tiba di sini tadi malam, penyihir ini bisa makan dengan kenyang karena perawatan Joline. Walau masih tidak mengizinkannya tidur dan bermeditasi. Kedua pengawal Joline, si prajurit banteng dan pemanah, menjaga si penyihir secara bergilir agar ia tidak memiliki kesempatan untuk memulihkan kekuatan sihir.


Ketika tiba di penjara bawah tanah, Dewey agak tidak biasa dengan aroma lembab dan bau di sini.


Joline yang telah mengenakan pakaian ksatria, membuat mata Dewey berbinar. Gadis berkaki panjang ini memang berparas menawan dan menggoda. Namun dia melakukan beberapa perubahan. Memotong rambutnya menjadi sedikit lebih pendek, mengingat pita di dahi, dan memangkas alisnya. Mengurangi kelembutan dan menambah kemaskulinan.


Terutama sesudah memakai pakaian ksatria, dia tampak lebih serius. Rok pendek tidak dikenakan lagi, kedua kaki montoknya yang indah juga tak terekspos lagi. Namun dengan sebuah pedang tipis, ditambah pelindung dada ksatria di tubuh bagian atasnya, dia jadi memiliki gaya ksatria.


“Tuan yang terhormat.” Joline segera mendekat kala melihat Dewey masuk ke penjara bawah tanah. “Anda….”


“Aku datang untuk melihat tawananku.” Raut Dewey sangat dingin, suasana hatinya agak buruk. Dia melihat Joline sekilas. “Apakah kamu berjaga di sini sepanjang malam?”


Joline memperlihatkan ekspresi sulit. “Tuan, bagaimanapun anak di dalam ini adalah temanku dulu. Aku ingin….”


“Memohon untuknya?” Dewey menggeleng. “Tidak perlu. Aku tidak berpikir untuk mempersulitnya. Aku akan segera melepaskannya jika dia menjawab beberapa pertanyaan dariku.”


Selesai berbicara, Dewey melewati Joline dan berkata, “Aku ingin berbicara empat mata dengannya. Kalian semua tunggu di luar, jangan masuk sembarangan.”


Kamar di mana penyihir dikurung adalah kamar terbesar di penjara bawah tanah kastil. Saat Dewey masuk, wajah penyihir itu sudah pucat dan kedua matanya hampir tidak bisa dibuka.


Kekuatan spiritual penyihir memang kuat, tetapi dia telah menghabiskan banyak kekuatan spiritual dan sihir ketika bertarung dengan orang-orang di kedai bir. Setelah itu, dia ditangkap dan tidak memiliki kesempatan untuk bermeditasi dan memulihkan kekuatan spiritual, tidak boleh tidur selama dua hari terakhir pula. Dia sudah tidak bisa bertahan.


Kemudian dia dikurung di penjara bawah tanah ini. Setiap kali matanya terpejam, dia langsung disiram dengan air dingin.  Walau Joline memperlakukannya lebih sopan, kedua bawahan Joline tidak demikian.


Prajurit banteng dan pemanah itu sudah tidak menyukai penyihir ini ketika masih di tim petualang. Penyihir ini bergabung karena tertarik oleh kecantikan Joline, sehingga sering dipandang rendah oleh prajurit banteng dan pemanah. Hubungan mereka pun selalu tidak rukun.


Penyihir merasa dirinya nyaris hancur ketika melihat bangsawan kecil ini masuk ke penjara bawah tanah. Dia tidak dirantai, sebab penyihir yang kehilangan kekuatan sihir memang lebih lemah dari orang biasa. Hanya saja penjara bawah tanah gelap dan lembab. Dia disiram entah berapa ember air. Bibirnya pucat karena dingin. Ketika Dewey masuk, penyihir duduk dalam posisi memeluk lutut di atas kasur batu. Si prajurit banteng berteriak, “Hei, jangan pejamkan mata! Kalau tidak aku harus menyirammu dengan air lagi! Aku bolak-balik entah berapa kali sepanjang malam hanya untuk mengambil air!”


Begitu usai berbicara, dia menoleh dan melihat Dewey masuk, lantas menutup mulut. Dewey mengodenya untuk keluar dengan mengibaskan tangan, kemudian berjalan ke depan penyihir. “Bagaimana, Tuan Penyihir yang terhormat? Apakah semuanya baik-baik saja?”


Baik? Apakah aku terlihat ‘baik’? Penyihir bergumam dalam hati. Namun wajahnya menunjukkan ekspresi memohon. “Tuan, mengapa bangsawan seperti Anda harus mempersulitku seperti ini? Jika tersebar bahwa Anda si putra sulung Earl dari keluarga Rollin memperlakukan seorang penyihir seburuk ini, kelak keluarga Anda akan sulit untuk berteman dengan penyihir.”


Masih ingin mengancamku?


Dewey mengerucutkan bibir. “Oh, benarkah? Kalau begitu, apa konsekuensinya jika tersebar bahwa seorang penyihir level satu menguasai teknik instan?”


Wajah penyihir memucat, rasa takut muncul di matanya.


Konsekuensi?


Konsekuensinya sangat sederhana. Bila penyihir lain mengetahui informasi ini, maka ia akan menjadi mangsa para penyihir di seluruh dataran. Penyihir mana pun ingin mempelajari teknik instan seperti ini. Ketika penyihir level kecil menguasai kemampuan ini, apakah konsekuensinya masih perlu ditanyakan?


Seperti anak berusia tiga tahun yang tidak terlindungi, tetapi memiliki ratusan juta koin emas.


“Katakanlah.” Dewey tersenyum. “Sebenarnya aku tahu bahwa teknik instanmu itu bukan teknik instan sesungguhnya. Kamu pasti melakukannya dengan metode pengganti oportunistik, kan? Aku bukan penyihir, tidak ada ruginya bagi kamu jika memberitahuku. Aku hanya ingin memuaskan rasa penasaranku.”


Penyihir menunduk, tampak bimbang.


“Apa lagi yang harus diragukan?” Dewey menghela napas. “Kamu hanya penyihir level satu. Meskipun penyihir adalah profesi yang langka dan dihormati di dunia ini, itu hanya sebatas penyihir level menengah ke atas. Sekalipun aku membunuh atau mengurungmu di sini selamanya, tidak ada yang akan peduli dengan penyihir level rendah sepertimu. Bahkan masyarakat sihir pun tidak akan menyinggung bangsawan besar demi seorang penyihir level rendah, kan?”


“Kamu….” Tatapan penyihir akhirnya goyah. Pertahanan mentalnya mulai runtuh. Dia menggigit bibirnya. “Jika aku memberitahumu, kamu harus bersumpah tidak akan menyebarnya. Karena ini terkait dengan identitas penyihirku.”


“Bisa, sepenuhnya bisa.” Dewey segera mengangkat tangannya dan bersumpah, “Aku, Dewey Rollin, bersumpah jika aku akan mengingat semua yang kamu katakan padaku dalam hati, tidak akan memberitahu orang lain. Kalau tidak biarkan Dewi Cahaya menghukumku.”


“....” Raut penyihir tampak rumit. Rasa takut melintas di matanya, kemudian bibirnya bergerak. “Aku… sebenarnya aku hanya seorang murid penyihir.”

__ADS_1


“Apa?” Dewey tertegun. “Apa maksudnya?”


“Aku….” Penyihir butuh usaha besar untuk mengatakannya. “Aku mengatakan bahwa sebenarnya aku hanya seorang murid penyihir. Kekuatan sihirku yang sesungguhnya hanyalah level murid penyihir. Kualifikasiku sebagai penyihir level pertama diperoleh dengan cara menipu.”


“Menipu?” Dewey mulai tergoda.


Menipu kualifikasi penyihir?


Setahu Dewey, ujian masyarakat sihir di daratan tidak mudah dicurangi. Bukankah lucu jika kualifikasi penyihir dapat ditipu dengan mudah?


“Aku mulai belajar sihir sejak kecil. Guruku adalah seorang penyihir level rendah. Dia pikir aku memiliki bakat sihir sehingga menerimaku sebagai murid. Aku memperoleh kualifikasi dari masyarakat sihir pada usia tiga belas tahun. Ini tidak sulit.” Nada penyihir terdengar mengeluh. “Penyihir sesungguhnya di daratan hanya ada ratusan. Namun orang yang memiliki kualifikasi menjadi murid penyihir ada ribuan. Sayangnya, jalan untuk menjadi penyihir sesungguhnya terlalu sulit. Sebagian besar murid penyihir berusaha selamanya pun tidak dapat melewati ujian level satu. Hanya bisa berhenti di level murid penyihir. Dan aku adalah salah satu dari orang-orang malang ini.”


“Setiap penyihir akan menerima beberapa murid. Namun penyihir sendiri juga tahu bahwa tidak semua muridnya bisa menjadi penyihir. Dan ada kemungkinan tidak dapat menghasilkan seorang murid penyihir. Akan tetapi setiap penyihir di daratan masih menerima banyak murid. Karena penyihir begitu dihormati dan ditakuti, bagaimana mungkin mereka kekurangan pengikut? Jadi setiap penyihir akan membawa banyak murid sihir. Kebanyakan murid ini memiliki mimpi terhadap sihir. Namun hasilnya hanya sedikit orang yang dapat mewujudkan mimpinya. Parahnya, ada banyak penyihir yang jelas tahu bahwa murid-murid ini tidak punya kemungkinan untuk menjadi penyihir, tetapi tidak memberitahu mereka. Karena para penyihir memerlukan murid penurut, memerlukan orang membantu mereka melakukan eksperimen sihir, menjadi asisten mereka, bahkan seperti pelayan. Dan pelayan seperti ini tidak perlu dibayar koin emas satu pun.


Aku mengalaminya. Guru yang aku temui pada usia tiga belas tahun memberitahuku bahwa aku memiliki bakat, kemudian membawa aku pergi dari rumah. Katanya, dia akan membimbingku menjadi penyihir hebat. Aku membawa mimpi-mimpiku bersamanya, sayangnya, kemudian aku menemukan bahwa ini adalah mimpi mustahil. Guruku memiliki belasan murid, setiapnya melewati ujian murid penyihir. Guru hanya memanfaatkan kami sebagai pelayan dan asisten gratis.


Dia akan membohongi kami. Dia jelas-jelas tahu bahwa banyak di antara muridnya tidak mungkin menjadi penyihir. Namun dia tidak mengatakannya!


Aku menjadi murid penyihir selama sepuluh tahun, dan akhirnya menemukan bahwa aku tidak memiliki bakat dalam bidang ini. Kekuatan sihirku memang lebih kuat dari orang biasa sejak kecil, dan juga bisa merasakan sedikit kekuatan alam. Namun hanya sebatas itu. Bakatku terbatas.


Kemudian, karena terpaksa, aku mempelajari ilmu farmasi.”


Ilmu farmasi?


Mata Dewey berbinar.


Pengalaman anak ini sangat mirip dengannya.


Hanya saja, ia bahkan tidak dapat melewati ujian murid penyihir level terendah. Dewey tersenyum masam dalam hati.


Sebenarnya, Dewey sendiri juga tidak tahu bahwa situasinya tidak seperti yang dia pikirkan.


Sebenarnya murid yang direkrut oleh kebanyakan penyihir tidak seberbakat Dewey. Namun Dewey membutuhkan pengikut. Meski punya uang, penyihir tidak dapat merekrut pelayan seperti bangsawan biasa. Akan dikatakan seperti apa itu!


Sebagai penyihir yang suci dan misterius, pelayannya tentu harus berstatus sebagai murid penyihir. Bukankah merendahkan harga diri jika menggunakan orang biasa?


Namun orang yang memiliki bakat sihir sangatlah sedikit. Oleh karena itu demi memiliki murid penyihir, kebanyakan penyihir bahkan merekrut murid dengan merendahkan standar. Orang yang tidak memiliki bakat, atau hanya sedikit lebih kuat dari orang biasa, akan diterima penyihir dengan godaan ‘membimbingmu menjadi penyihir’.


Setelahnya, orang-orang yang tak memiliki bakat untuk menjadi penyihir ini akan bekerja untuk sang guru selamanya.


Kondisi tersebut menyebabkan ujian murid penyihir di daratan sangat kacau. Standar pun berbeda-beda.


Hanya saja, ujian yang Dewey ikuti di ibukota kekaisaran terakhir mengikuti standar ketat yang sesungguhnya. Karena Penyihir Clark itu tidak berani menipu sosok kedua di kemiliteran kekaisaran, putra sulung dari kepala keluarga Rollin.


Karena identitas Dewey-lah, Penyihir Clark tidak berani menjadikannya sebagai tenaga kerja murah.


Bila Dewey adalah orang biasa, Penyihir Clark sudah menerima Dewey ketika melihat kekuatan spiritual yang dia miliki.


Sekalipun tahu bahwa Dewey tidak memiliki bakat sihir, Clark pasti akan menerimanya sebagai murid. Karena memiliki murid dengan kekuatan sihir hebat akan memudahkannya dalam melakukan pengujian sihir.


Sebenarnya, mayoritas penyihir di daratan melakukan ini. Seandainya Dewey bukan putra sulung Earl, mungkin dia akan ditipu juga, kemudian menjadi tenaga kerja murah penyihir dengan mimpi menjadi penyihir. Bahkan menghabiskan seumur hidupnya dan menunda masa depan sendiri.


“Secara kebetulan, aku mengetahui sebuah fakta. Sebenarnya guruku sudah tahu bahwa aku tidak mungkin menjadi penyihir.” Suara tawanan ini terdengar pahit. “Bahkan ketika dia membawaku dari rumah saat itu. Hanya saja, dia merasa kekuatan sihirku bagus dan berpikir jika memiliki pelayan gratis sepertiku akan memudahkannya ketika melakukan pengujian sihir di kemudian hari. Ada banyak murid guru yang sama sepertiku. Ada yang kekuatan sihirnya sangat kuat, ada yang kekuatan merasanya bagus. Namun semuanya memiliki sebuah kecacatan besar. Alhasil ditipu dengan mimpi indah, tinggal di sisi guru dan membuang-buang waktu mereka.”


“Kemudian?” Dewey menghela napas.


“Seperti yang kukatakan tadi. Awalnya aku sangat marah setelah mengetahui fakta ini. Kemudian aku memutuskan untuk mengubah nasibku. Aku tidak dapat mempelajari sihir sesungguhnya, maka memutuskan untuk meneliti ilmu farmasi.” Penyihir menghela napas. “Karena ilmu farmasi juga diakui sejenis sihir oleh masyarakat sihir. Meskipun sebagian besar orang merasa lucu dengan pandangan ini. Meskipun sebagian besar orang merasa bahwa penyihir obat tidak termasuk penyihir sesungguhnya.”


“Kemudian?” Dewey merasa jantungnya berdebar cepat.

__ADS_1


Jangan-jangan anak ini….


Tidak memiliki bakat sihir seperti dirinya. Namun dia telah menjadi penyihir sekarang. Selain itu, dia benar-benar menggunakan sihir ketika di kedai bir.


Jika dia, seseorang yang tak punya bakat, akhirnya berhasil mempelajari sihir dengan cara entah apa. Kalau dia bisa mengatakan cara yang dia gunakan, mungkin ia juga bisa melakukannya!


Apabila menemukan jalan untuk mempelajari sihir, maka….


Bukankah ia bisa mempelajari sihir bintang yang diciptakan dan perbintangan yang ditinggalkan oleh Semel di ruang rahasia kastil?


“Apakah dengan menguasai ilmu farmasi sudah bisa menjadi penyihir?” Dewey menatap tawanan ini. “Tapi setahu aku, ujian kualifikasi masyarakat sihir dan ujian penyihir sihir berbeda dengan penyihir lain.”


Di daratan, penyihir sesungguhnya dibagi menjadi sepuluh level. Setiap melewati satu level, tingkat kesulitan akan bertambah. Jadi penyihir dengan level kian tinggi tentu lebih kuat.


Namun ujian penyihir obat yang disebut juga sejenis penyihir, jauh lebih mudah.


Bahkan sampai membuat orang menganggap remeh.


Ujian penyihir obat tidak ada level.


Hanya satu level.


Jika lolos ujian, maka kamu adalah penyihir obat. Kemudian masyarakat sihir akan memberiku sebuah lencana. Lencana ini melambangkan pengakuan resmi bahwa kamu adalah penyihir.


Biarpun sebagian besar orang tidak mengakui pengakuan ini.


Bahkan lencana yang diberikan masyarakat sihir pun memiliki perbedaan.


Lencana untuk penyihir obat berbentuk lingkaran tembaga dan sangat sederhana. Selain itu, tidak ada sihir anti-pemalsuan.


Mungkin masyarakat sihir sendiri juga tahu bahwa tidak ada yang akan tertarik untuk menyamari profesi yang dipandang rendah ini.


Status sosial penyihir obat, yang umumnya dikenal sebagai penyihir racun, bahkan lebih rendah dari tabib biasa.


Sedangkan lencana penyihir sesungguhnya, yang level satu sekalipun, terbuat dari perak. Lencana penyihir level satu terbuat dari perak!


Dewey tidak akan lupa jika ia memperoleh lencana perak sesungguhnya dari penyihir ini ketika bertempur di kedai bir hari itu.


Dengan kata lain, dia bukan lolos ujian penyihir obat, melainkan ujian penyihir sesungguhnya.


Bagaimana dia melakukannya?


Belajar sihir seperti mimpi yang telah hancur. Saat ini harapan mulai tumbuh dalam hati Dewey.


“Bakatku adalah memiliki kekuatan sihir hebat, kekuatan spiritual juga lebih kuat dari orang biasa. Jika orang biasa, palingan memiliki energi kuat, tidak mudah lelah, dan lain-lain. Namun aku kekurangan kekuatan merasa. Bermeditasi sekeras apa pun, aku tidak dapat merasakan gelombang kekuatan alam.” Tawanan ini perlahan berkata, “Kemudian setelah meneliti ilmu farmasi selama sepuluh tahun, aku tiba-tiba punya pertanyaan. Apa sebenarnya kekuatan alam itu? Guru memberitahuku bahwa itu adalah segalanya. Segala hal yang ada di dunia ini. Angin, api, air, sekecil itu apa pun itu. Namun pernyataan itu masih terlalu abu-abu. Sebuah pikiran lalu muncul di benakku. Jika aku mengerti apa itu ‘kekuatan alam’, mungkin aku masih punya harapan.”


Dewey mendengarkan dalam diam, pada saat yang sama juga merenungkan ucapan orang ini.


“Misalnya, sihir api. Penyihir bisa meminjam elemen api di dunia melalui mantra, kemudian membuat api dengan sihir. Itu contoh yang paling sederhana.” Dewey melihat Dewey sekilas. “Kamu mengerti apa yang aku katakan?”


“Silakan teruskan, aku mengerti.” Dewey tersenyum simpul. “Aku pernah melihat beberapa buku tentang ilmu farmasi.”


“Baiklah.” Penyihir lanjut berkata, “Dalam ilmu farmasi, ada belasan cara untuk mencapai dasar yang sama dengan sihir api. Menghasilkan api. Misalnya, yang paling dasar, bisa membakar diri dengan bubuk yang terbuat dari fosfor api. Lalu aku berpikir, fosfor api bisa menghabiskan api. Sihir api penyihir juga bisa menghasilkan api. Jangan-jangan fosfor api mengandung elemen sihir dalam kekuatan alam? Atau, ada elemen sihir api dalam fosfor api?”


Dewey seperti terpikir sesuatu tapi masih tidak bisa menangkapnya dalam sekejap.


Lalu terdengar penyihir lanjut berkata, “Aku kemudian menemukan lagi sebuah hal yang sukar dipahami. Semua teknik sihir, aku tekankan semua. Meskipun kekuatan mantra ada kecil dan besar. Ambil sihir api sebagai contoh. Teknik bola api yang paling mudah, dan ‘pembakaran kota’ yang dilegendakan itu dapat menghancurkan langit dan bumi. Meskipun kekuatannya berkali-kali lebih buruk, pada dasarnya sama saja. Semuanya membakar dengan api. Namun hal aneh terjadi. Hal yang dapat dilakukan oleh berbagai penyihir bisa dilakukan juga oleh penyihir obat. Misalnya, sihir api. Walau penyihir obat tidak dapat menghasilkan kekuatan ‘pembakaran kota’ sekuat itu, prinsip membuat api sama. Contoh lain adalah sihir angin, sihir air, dan lain-lain. Semua sihir bisa dilakukan dengan ilmu farmasi. Meskipun hanya bisa melakukan prinsip dasar yang paling sederhana, intinya bisa dilakukan. Mengapa demikian? Mungkin, aku berpikir kalau mungkin bahan baku ilmu farmasi yang berharga itu sebenarnya mengandung ‘elemen sihir’ dari berbagai sihir. Bukankah begitu?”


Tawanan ini menunjukkan ekspresi sombong. “Aku tidak dapat mengekstrak elemen sihir di alam dengan bermeditasi, maka aku mengambilnya dengan menggunakan ilmu sihir.”

__ADS_1


__ADS_2