
Beberapa pelaut di atas perahu juga melihat tiga orang di atas rakit. Saat kapal perlahan mendekat, beberapa pelaut sudah berdiri di tepi kapal, memandang Dewey dan dua gadis lainnya yang ada di atas rakit dengan penuh minat.
Dua gadis penyihir juga tahu bahwa kapal ini mungkin bukan kapal yang baik, karena tidak terlihat seperti kapal dagang dan lambung kapalnya sedikit rusak. Selain itu, ada beberapa ballista di kapal. Namun, tidak ada bendera angkatan laut kekaisaran.
“Hei, lihat ke sana! Ada beberapa bocah … oh, ada dua perempuan juga!” Seruan pelaut terdengar dari atas kapal, kemudian terdengar suara tawa. Pelaut-pelaut lainnya mendekat ke tepi kapal untuk melihat Dewey dan kawan-kawan yang ada di atas rakit.
Dewey menghela napas sebelum berteriak, “Kami terdampar, bisakah kalian membantu kami?”
Para pelaut tertawa semakin keras dan tawanya jelas mengandung niat jahat.
Seutas tali diturunkan. Dewey menghela napas lega, kemudian melihat Joanna sekilas. Joanna mengerti maksud Dewey. Dia menjadi orang pertama yang naik ke kapal.
Joanna unggul dalam bela diri sekaligus pemberani. Meskipun kekuatan sihirnya belum sepenuhnya pulih, sudah ada dua atau tiga persen dan mencapai kekuatan seorang penyihir level rendah. Pada saat yang sama, dia juga memiliki keterampilan bela diri yang luar biasa.
Kekuatan seperti itu tidak cukup untuk melawan master, tetapi lebih dari cukup untuk melawan puluhan bajak laut.
Joanna naik terlebih dulu, kemudian diikuti oleh Dewey, lalu terakhir Vivian.
Para pelaut di tepi kapal segera mengerumuni mereka dan menatap ketiga muda-mudi ini sambil tertawa seolah melihat domba yang datang untuk disembelih.
“Oh, lihat! Dua gadis cantik!”
“Ya! Lihat yang kiri, kakinya panjang sekali! Kapten pasti sangat menyukainya!”
Ia tertawa. “Anak-anak, kalian naik ke kapal yang tepat!”
Pria-pria ini berpakaian berantakan dan mayoritas telanjang kaki, ada juga yang mengenakan pakaian robek. Wajah mereka kotor, tetapi mendambakan Vivian dan Joanna.
Vivian sedikit takut. Keberaniannya jauh lebih kecil dari kekuatannya. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekat pada Dewey. Sedangkan Joanna, ekspresinya sangat buruk dan sudah ada tanda-tanda untuk meledak.
Wanita cantik dingin ini bahkan berani menyerang kamp garnisun lokal tentara secara terbuka, apalagi hanya bajak laut di kapal kecil rusak ini.
“Diam!”
Sebuah suara serak terdengar dari dalam, kemudian terdengar suara sepatu bot. Seorang pria tinggi besar berjalan keluar. Dia mengenakan seragam angkatan laut kekaisaran yang sedikit compang-camping, yang tanda pangkat dan lencananya dicopot. Seragamnya itu sedikit kotor, tetapi sepatunya mengkilap.
Sebuah pedang menggantung di pinggangnya seperti kebiasaan perwira angkatan laut kekaisaran. Kepalanya memakai topi kapten. Satu tangannya menolak pinggang, tangan lainnya memegang sebuah jam saku.
Sepertinya dia adalah kapten. Meskipun terlahir tinggi nan besar, wajahnya sangat jelek. Dengan bentuk mata segitiga, hidung besar, belum lagi kumis yang sengaja ditumbuhkan. Kata ‘cabul’ langsung muncul di benak Dewey.
“Diam! Jangan takuti tamuku!” Kapten tersenyum jahat, kemudian menatap Dewey dan yang lainnya sekilas. Ketika melihat paras Joanna dan Vivian, tatapan cabul muncul di matanya. Tetapi saat melihat baju besi Joanna, dia tertegun.
Dia kemudian berpikir, gadis semuda ini bisa sehebat apa? Huh, dia paling-paling hanya anak bangsawan!
Sedangkan Dewey sepenuhnya diabaikan.
Pakaian Dewey sudah compang-camping. Dengan kaki telanjang, pakaian robek, rambut berantakan, bahkan lima atau enam kundur besar yang diikat di tubuhnya, yang digunakan untuk berenang, dia terlihat seperti orang liar.
“Selamat datang di kapalku. Perkenalkan, aku adalah kapten dari kapal ini. Kalian boleh memanggilku Kapten Morales atau langsung memanggil Yang Mulia Kapten.” Nada bicaranya terdengar bangga. “Aku tidak menyangka bisa bertemu dua gadis secantik ini pada hari membosankan ini. Oh, kamar kaptenku ada di belakang. Kurasa kalian pasti perlu mengganti pakaian cantik, kemudian makan-makan. Benar?”
Dewey dan yang lainnya jelas sudah kelaparan selama beberapa hari. Bahkan kedua gadis penyihir cantik juga terlihat mengurus.
Kapten ini sudah tidak sabar untuk berterima kasih kepada Tuhan.
Dia benar-benar sial selama beberapa hari terakhir.
Pertama, Provinsi Lille memerintahkan seluruh armada angkatan laut timur kekaisaran untuk berpatroli di perairan sekitar. Entah apa yang dilakukan angkatan laut itu.
Oleh karena itu, para bajak laut akan hidup menderita. Dua hari lalu, kapal bajak laut kapten bertemu dengan kapal perang angkatan laut kekaisaran. Alhasil setelah melakukan pertempuran yang mengenaskan dan tergesa-gesa, kapten segera memberi perintah untuk melarikan diri. Mentang-mentang lambung kapalnya ringan sehingga bisa berlayar dengan cepat, dia bermain kejar-kejaran dengan kapal perang angkatan laut kekaisaran itu di laut selama dua hari. Hingga sore ini, mereka baru terlepas dari kejaran mereka karena berlayar ke tengah kabut.
Kapten kelelahan selama beberapa hari terakhir.
Tidak sangka Tuhan langsung mengirimkan beberapa ekor domba sebagai hadiah untuknya.
Oh, lihatlah kulit mulus kedua gadis ini. Mereka seribu kali lebih menakjubkan daripada pelacur-pelacur di pelabuhan. Akan seperti apa rasanya jika melucuti pakaian mereka, membersihkannya, kemudian menindih mereka?
“Ayo, Nona-Nona Cantik.” Kapten bersikap santai. Dia bahkan mengulurkan tangan untuk menarik Joanna. “Nona cantik seharusnya tidak menderita. Aku akan membuat kalian menyukai kapalku.”
Ketika tangan kapten bertengger di bahu Joanna, Dewey sudah menghela napas, kemudian memejamkan mata.
__ADS_1
“Argh!”
Terlihat seberkas tiba-tiba terpancar dari tubuh Joanna. Itu adalah keterampilan yang hanya dimiliki oleh samurai level menengah ke atas.
Aura kuat!
Kapten berteriak lalu melayang, topi indah itu jatuh di geladak, sedangkan kapten….
Lihat sesuatu yang melayang di udara itu? Dewey terkekeh, kemudian kapten jatuh ke laut.
Semua orang tercengang selama satu detik.
Para bajak laut segera bereaksi. Semuanya mengambil senjata, berteriak sambil bergegas mendekat.
Joanna hanya mendengus. Emosi yang dia pendam selama berhari-hari akhirnya bisa dilampiaskan.
Dengan tangan kosong tanpa senjata, dia mengulurkan tangan dan menangkap seorang bajak laut yang bergegas ke hadapannya. Bajak laut itu kemudian diangkat dan dijadikan sebagai senjata manusia.
Setelah itu terdengar jeritan-jeritan serta suara orang jatuh ke laut.
Dewey menghitung satu sampai sepuluh dalam hati hingga sepertiga bajak laut jatuh ke laut.
“Cukup! Hentikan, Joanna.” Dewey merasa sudah cukup.
Joanna masih tidak mau berhenti. Dia menendang lagi satu orang ke laut, kemudian tidak ada orang lagi di sekitarnya. Para bajak laut menatap Joanna seakan melihat hantu. Mereka mundur dengan takut.
“Aku bilang berhenti!” Dewey mengernyit dan meletakkan tangannya di bahu Joanna. Joanna berkata dengan marah. “Kita sudah tidak di pulau itu, apakah kamu berpikir bahwa kamu masih bisa memerintahku?!”
Gadis ini membalikkan tangannya untuk mencekal tangan Dewey. Dewey tidak memberontak. Dia hanya menatap Joanna dan tiba-tiba berteriak dengan suara dalam. “Lihat aku!”
Joanna terkejut dan tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap kedua mata Dewey.
Apakah dia berhalusinasi?
Joanna merasa bahwa mata bocah ini tidak pernah … tidak pernah seindah ini.
Kedua mata itu sepertinya berubah menjadi warna hitam. Warna hitam yang begitu dalam hingga membuat orang gemetar. Kedua matanya seperti langit malam bertaburkan bintang. Jika dia menatap lebih lama, rasanya seperti akan terhisap ke dalam.
Jiwanya seperti akan terhisap ke dalam.
“Aku bilang berhenti.” Suara Dewey melambat dan menjadi luar biasa jernih, mengetuk hati Joanna layaknya palu.
“Hm….” Joanna mengiyakan tanpa sadar. Nadanya terdengar patuh dan lembut, tidak mendominasi seperti sebelumnya.
“Bagus.” Dewey masih memandang mata Joanna. Suaranya tiba-tiba terdengar begitu merdu di telinga Joanna, membuatnya ingin melakukan apa pun yang Dewey katakan.
“Sekarang, berdiri di belakangku dan jangan lakukan apa pun tanpa kusuruh,” ucap Dewey dengan suara rendah.
Tatapan Joanna tampak bimbang sejenak, sepertinya kekeraskepalaannya masih sedikit memberontak, tapi dia tetap menuruti perasaan aneh itu. Rasanya nyaman sekali.
Joanna melangkah mundur dan berdiri di belakang Dewey dengan patuh. Setelah terlepas dari tatapan Dewey, Joanna seketika merasa seperti kehilangan sesuatu. Segala sesuatu di sekitar menjadi jelas lagi. Dia juga sedikit bingung.
Ada apa denganku? Kenapa aku mau menuruti bocah ini?
Semakin berpikir, dia merasa marah terhadap dia sendiri, kemudian ingin bertanya kepada Dewey. Namun, niat memberontak tidak muncul di hatinya. Dia merasa jika membantah perintah Dewey akan membuatnya sangat tidak nyaman. Dia baru merasa senang bila berdiri di belakang Dewey dan menurutinya.
Perasaan ini aneh sekali.
Ekspresi Joanna berubah aneh. Tanpa memberinya waktu untuk berpikir lebih jauh, Dewey langsung tersenyum sambil berkata, “Joanna, dengan kehebatanmu, kalau kamu menghajar mereka lebih lama, mungkin semua orang di kapal akan dibuang olehmu ke laut. Sebenarnya tidak masalah, tapi kita bertiga tidak bisa menjalankan kapal sebesar ini. Kita membutuhkan beberapa pelaut untuk mengendarai kapal ini.”
Heran … membutuhkan pelaut untuk apa? Satu hari lagi aku bisa pulang dengan cara terbang.
Meskipun berpikir demikian, Joanna tetap mengangguk. “Baiklah.”
Dewey memungut topi kapten yang jatuh di lantai, kemudian memakainya di kepala. Dengan adanya topi ini, dia tidak perlu khawatir jika tanduknya akan terlihat.
“Dengar, orang-orang hina!” Dewey berteriak tanpa sungkan sambil menatap para bajak laut yang ketakutan.
Mereka memang takut. Joanna terlalu kuat, jauh dari yang bisa mereka lawan.
__ADS_1
“Kalian adalah sekelompok sampah kotor! Parasit! Makhluk hina!” Dewey memelototi mereka. “Kalian merampok, membunuh, menjarah. Kalian hanya pantas digantung di tiang gantung. Kalian semua sudah kutawan sekarang! Benar, kapal ini dan kalian semua sudah kutawan!”
Dewey menendang seseorang yang berbaring di lantai. Dia adalah pria malang yang kakinya patah ditendang oleh Joanna. Dewey menginjak tubuhnya tanpa sungkan. Bersamaan dengan terdengarnya jeritan tragis dari orang itu, suara Dewey masuk ke telinga setiap bajak laut dengan jelas.
“Sebagai tawanan, aku bebas melakukan apa pun terhadap kalian. Aku bisa melempar kalian semua ke laut sekarang, membiarkan kalian bertahan hidup sendiri. Juga bisa mencari sebuah pelabuhan, kemudian menyerahkan kalian kepada garnisun lokal, melihat kalian semua digantung mati.” Dewey tersenyum tipis. “Tapi karena aku baik, aku akan melepaskan kalian dengan syarat mulai hari ini, detik ini, kalian bukan lagi bajak laut yang kotor, melainkan budakku, pelayanku. Berdasarkan dekrit kekaisaran, aku seorang bangsawan berhak melakukan apa pun terhadap tawananku. Sekarang, aku memaafkan dosa kalian dan menjadikan kalian sebagai budak dan pelayanku. Apakah kata-kataku bisa dimengerti?”
Semua bajak laut diam.
“Aku bertanya sekali lagi. Siapa pun yang tidak menjawab kali ini, boleh melompat sendiri ke laut untuk menemani kapten kalian!” Dewey menatap semua orang. “Apakah kalian mengerti?”
“Mengerti!” Semua orang rebutan untuk menjawab.
Dewey mengangguk puas. “Sekarang, bersihkan geladak. Lempar orang-orang yang berbaring di geladak ke laut.”
Para bajak laut bertindak tanpa ragu.
Mereka adalah penjahat yang pernah membunuh. Demi melindungi diri, mereka langsung membuang mantan rekan mereka tanpa ragu saat ini.
Satu per satu orang dilempar ke laut, Dewey kemudian memberikan perintah kedua. “Lempar dua perahu penyelamat ke bawah.”
Ada lebih dari dua puluh bajak laut yang mengambang di laut. Melihat dua perahu kecil dilempar ke bawah, mereka berenang dengan sekuat tenaga untuk naik ke perahu.
“Dengar, seharusnya aku membunuh kalian, tapi aku berbaik hati.” Dewey berdiri di geladak sambil melihat para bajak laut yang ada di laut. “Aku membiarkan kalian hidup dengan memberikan kedua perahu ini untuk kalian, jadi kalian tidak akan mati tenggelam. Untuk yang lain, ikuti takdir saja.”
Jeritan marah dan memohon segera terdengar dari bawah.
Dengan hanya dua perahu penyelamatan tanpa makanan dan air tawar di laut seluas ini, peluang mereka untuk mati lebih tinggi daripada hidup.
“Tentu saja, aku bisa lebih baik lagi.” Dewey menunjuk ke arah yang jauh sambil tersenyum licik. “Di arah sana ada sebuah pulau kecil. Jika kalian mendayung dengan sepenuh tenaga, mungkin kalian akan tiba di sana besok siang. Pergilah, ini adalah kebaikan terakhir dariku.”
Selesai berbicara, Dewey mengabaikan para bajak laut yang meraung di bawah dan menoleh untuk melihat para pelayan yang tercengang. Dewey tersenyum sambil berkata, “Siapkan makanan dan air, semakin cepat semakin bagus. Apakah kata-kataku bisa dimengerti?”
Para pelayan segera pergi menyiapkannya.
“Dewey, ti-ti-tidakkah kamu… ter-terlalu kejam?” Vivian tampak tidak tega. Dia berkata dengan gagap sambil menatap Dewey.
“Terlalu kejam?” Dewey berkata dengan datar. “Mereka bukan orang baik, jadi tidak perlu bersikap baik kepada mereka. Mereka adalah bajak laut. Vivian kecil yang malang, tahukah kamu tahu apa itu bajak laut? Mereka berlayar di laut, menyerang kapal-kapal dagang, membunuh awak kapal, merampas barang-barang mereka, bahkan memperkosa wanita yang ada di kapal. Mereka adalah parasit di laut, pembunuh yang berlumuran dosa. Setiap orang di sini pernah membunuh. Menurutmu, perlukah aku berbaik hati kepada mereka?”
“Tapi ….” Vivian masih ingin membantah.
Dewey menghela napas, memandang gadis yang kelewat polos ini sambil berkata dengan suara rendah. “Apa kamu tahu seandainya bukan kita yang mereka temui, melainkan tiga orang biasa, kalian berdua sudah digilir oleh puluhan bajak laut kotor itu.”
Kali ini Joanna pun menatap adiknya sekilas dan berkata dengan dingin. “Dia benar.”
Meskipun makanan di kapal tidak termasuk mewah, Dewey dan dua penyihir yang hanya makan rerumputan selama beberapa hari, makan dengan lahap hingga hampir meledakkan perut mereka.
Bacon, ikan kering, beberapa sayuran kering sederhana dan satu tong bir langka.
Kedua gadis itu bahkan makan bersama Dewey tanpa memperhatikan sikap dan citra.
Apakah mereka tidak takut diracuni para bajak laut itu?
Lucu! Memangnya Tuan Muda Dewey mempelajari ilmu farmasi selama bertahun-tahun dengan sia-sia?
Setelah puas mengisi perut, Dewey mengumpulkan semua pelaut untuk berbicara di geladak.
“Sekarang aku umumkan bahwa kapal ini dan kalian telah bergabung dengan armada pribadiku! Apakah kalian mengerti? Aku adalah seorang bangsawan. Berdasarkan dekrit, aku berhak memiliki tentara pribadi.” Dewey berpikir sejenak. “Oh ya, aku juga harus memilih seorang kapten baru untuk kalian.”
Dewey memandang semua orang, kemudian menunjuk seorang lelaki yang paling enak dipandang.
“Kamu, sini! Beri tahu aku siapa namamu.”
Orang itu tertegun, melangkah beberapa langkah, dan menatap Dewey dengan sedikit gugup. “Na-namaku….”
“Tunggu.” Dewey menggeleng. “Lupakan. Karena semuanya harus diganti menjadi baru, nama juga harus diganti.”
Anak ini tiba-tiba tidak bisa menahan keusilan di hatinya.
“Mulai hari ini, kamu adalah kapten dari kapal ini dan namamu adalah… Jack Sparrow, paham? Kapten Jack Sparrow! Sedangkan kapal ini… akan diberi nama ‘Mutiara Hitam!”
__ADS_1
Melihat semua orang yang tercengang, Dewey tertawa dalam hati.
Kapal Mutiara Hitam, Kapten Jack Sparrow, bajak laut Karibia yang terkenal. Hahaha…. Ini adalah awal pertama dari armada pribadiku.