
Tapi dia tidak punya waktu untuk berdebat dengan wanita ini. Tatapan benci muncul di mata wanita ini, lalu tangannya terulur ke pinggangnya.
“Kamu cari ini?” Dewey mengeluarkan seruling hijau dari pinggangnya. Ini adalah senjata wanita cantik es yang Dewey curi selagi dia pingsan.
“Huh, kamu pikir dengan mengambil tongkat sihirku, aku bukan lawan kalian?” Wanita cantik es tertegun sebelum berteriak, “Sini, Vivian! Tanpa naga pun, aku bisa mengalahkanmu! Kamu tidak pernah menang dariku sejak kecil!”
Selesai berbicara, wanita cantik es ini menghirup napas dalam-dalam, kemudian terbang dan membaca mantra.
Sial! Dewey sungguh ingin menampar dirinya sendiri. Dia sudah menebak jika hal ini akan terjadi. Dia berbaik hati menyelamatkannya, tapi wanita jahat ini ingin menyerangnya begitu sadar.
Tepat ketika Dewey merasa kesal, hal aneh terjadi.
Wanita cantik es, yang melayang setinggi cabang pohon, tiba-tiba mengubah ekspresinya. Tubuhnya terhuyung di udara kemudian jatuh.
Untungnya, Vivian yang baik hati berlari ke sana untuk membantunya. Mereka berdua bergulung ke rerumputan. Wanita cantik es memekik, ekspresinya berubah takut. “Kalian! Apa yang kalian lakukan padaku! Sihirku! Sihirku!”
Dia mendorong Vivian, dengan tidak terima membaca mantra lagi. Namun kali ini, ujung jarinya hanya mengeluarkan es sebesar telapak tangan. Meskipun sedikit sangat saat mengenai Dewey, Dewey mengabaikan rasa sakit itu dan berteriak, “Sihirmu sudah tidak bekerja!”
“Sihirku!” Wanita cantik es itu tertegun, ia menatap kedua tangannya dengan mata membola.
Tadi ia jelas menggunakan sihir ‘Gas Beku’ level menengah, tetapi hanya keluar sepotong kristal kecil seukuran telapak tangan.
Ekspresi Dewey berubah aneh, kemudian dia tertawa terbahak-bahak. “Sihirmu juga tidak bekerja! Haha, tidak bekerja juga!”
“Sialan!” Wanita cantik es meraung marah. “Apa yang kalian lakukan padaku? Vivian, sihir apa yang kamu lakukan padaku!”
Dewey dengan dingin menatap wanita emosi ini, lalu mendengus. “Tolong, ya, kita musuh bukan teman. Haruskah kami menunggumu sadar kemudian menyerang kami?”
“Kalian yang melakukannya!” Wajah wanita cantik es memucat. Tatapannya berubah takut.
“Bu-bu-bukan, Kakak.” Gadis bodoh yang naif membuka mulut. Dia memeluk wanita cantik es lalu berkata dengan suara rendah. “S-sihirku juga ti-tidak bekerja, Kakak.”
“Huh, untuk apa kamu beritahu wanita jahat ini?” Dewey cemberut. Tetapi dia berpikir sesaat kemudian tersenyum. “Tampaknya kita sudah menemukan sumbernya. Vivian, sihirmu tidak bekerja, sihir wanita jahat ini juga demikian. Sepertinya masalah tidak ada pada kalian, melainkan tempat ini. Mungkin ada semacam kekuatan yang menekan semua sihir di tempat ini.”
Dewey menghela napas lega ketika tahu bahwa wanita cantik es yang menakutkan ini juga kehilangan sihir.
Harimau memang menyeramkan, tetapi Dewey tidak akan takut pada harimau yang tak punya taring.
Dia bahkan berjalan ke sana dan sengaja mencondong kepada wanita cantik es, lalu terkekeh rendah. “Bagaimana, Yang Mulia Penyihir, apa yang ingin kamu lakukan pada kami? Gunakan sihirmu? Atau jadikan aku semacam esensi jiwa? Huh….”
Melihat Dewey mencondong padanya, wanita cantik es agak terkejut. Dewey bahkan hampir menyentuh ujung hidungnya. Kilat tajam melintas di matanya.
Dewey merasakan firasat buruk.
Kemudian dia merasa perutnya sakit sebelum tubuhnya melayang, lalu mendarat di lantai.
Wanita cantik es mengepalkan tangan dan menatap Dewey marah. “Huh, sekalipun aku tidak punya sihir, apa kamu pikir aku bisa ditindas seenaknya? Aku bukan hanya seorang penyihir, tetapi juga seorang samurai! Pendekar pedang yang lolos ujian level enam!”
Gawat….
Dewey, yang berbaring, tersenyum pahit.
Tampaknya dia agak lupa diri, hampir melupakan kekuatan yang ditunjukkan oleh wanita cantik es ketika bertarung kemarin. Wanita ini bukan gadis lemah yang hanya bisa menggunakan sihir seperti si gadis bodoh. Dia adalah orang kuat yang bisa sihir maupun bela diri.
Tanpa sihir sekalipun, dia masih punya keterampilan bela diri yang luar biasa, cukup untuk mengalahkannya.
Setelah wanita cantik es menyerang, dia mendekat untuk melayangkan tendangan. Vivian segera berlari ke sana dan berdiri di depan Dewey dengan dua lengan terentang. “Ja-jangan! Kakak, jangan sa-sakiti dia!”
Wanita cantik es tersenyum dingin melihat Vivian. “Vivian yang tak berguna, tampaknya tebakanku benar. Bangsawan kecil yang menyebalkan ini adalah kekasihmu. Kamu begitu melindunginya.”
“B-bukan….” Mendengar kata ‘kekasih’, wajah Vivian langsung merona, tatapannya malu melintas di matanya. Dia menunduk dan bergerak tak nyaman. “B-bukan begitu. Ka-kami jatuh di sini, dia… dia sangat merawatku, men-mencarikan a-a-air dan m-makanan untukku. D-dia juga yang me-menolongmu. K-kamu tidak boleh me-menyakitinya!”
__ADS_1
Mendengar ucapan Vivian, si wanita cantik es merenung sejenak, kemudian menyimpan tinjunya dan berdiri, lalu berkata dengan dingin. “Baiklah. Anak ini yang menyelamatkanku, maka aku akan mengampuninya sekali.”
“T-terima kasih.” Vivian mendesah lega.
Dewey yang berbaring di tanah, tertawa dingin. Dia bangun sambil menahan rasa sakit di perut, kemudian membersihkan tanah dari tubuhnya. “Huh, kalau tahu begitu, aku tidak akan menyelamatkanmu dari laut.”
“Huh!” Wanita cantik es mendengus. “Sayangnya kamu tidak bisa melemparku ke laut lagi.”
Dewey tidak marah. “Benar, sayang sekali, aku tidak punya kemampuan untuk itu. Ini benar.”
“Vivian bilang, kamu yang menyelamatkan dan menggendongku ke sini? Huh, aku berhutang satu kali padamu, jadi aku maafkan sekarang. Tapi lebih baik kamu tidak memancing emosiku lagi.” Wanita cantik es berbalik.
Dewey tidak marah dan justru tertawa. Dia bertepuk tangan dengan kuat sambil berkata, “Bagus, bagus! Menarik! Aku pernah melihat banyak wanita yang tidak masuk akal, tetapi tidak pernah melihat wanita yang begitu cantik namun setidak masuk akal ini. Kamu menambahkan pengetahuanku.”
Mendengar ucapan Dewey, wanita cantik es merasa canggung. Dia berkata dengan galak. “Kenapa, kamu keberatan?”
“Tidak.” Dewey sangat tenang, nadanya terdengar santai. “Aku bahkan merasa ini sangat adil. Siapa yang kuat, dialah ketua, dialah yang benar. Aturan di dunia selalu begitu. Sekarang kamu lebih kuat dariku, aku tidak bisa mengalahkanmu, memang pantas ditindas olehmu. Jika kekuatanku lebih kuat darimu, mungkin aku sudah menendangmu ke laut.”
Wanita cantik es tertegun dan menelisik Dewey. Kali ini dia tidak marah, melainkan memperlihatkan ekspresi heran. “Kamu ini sangat spesial, cara bicara juga menarik. Tidak semunafik bangsawan lain yang aku kenal.”
Dewey mengusap perutnya lalu berkata datar. “Berantem sudah dilakukan, ayo bahas hal serius sekarang. Kamu kehilangan kekuatan sihir sama dengan kita akan terjebak di pulau ini. Di sini tidak ada makanan, air tawar juga sangat sedikit. Kita juga tidak punya cara untuk pergi. Selain itu, kamu tadi mengatakan bahwa di sini adalah monster yang bisa makan naga, benar? Sekarang, aku rasa kita harus duduk dan diskusi.”
Nadanya terdengar serius.
Wanita cantik es tertegun. Dia tampak sedih lagi ketika mengingat naganya. “Octer-ku… Octer-ku….”
“Sekarang bukan waktunya bersedih. Lebih baik kamu beritahu kami tentang apa yang terjadi,” ucap Dewey dingin. “Monster itu bisa makan nagamu, mungkin bisa datang dan makan kita. Sebaiknya kamu katakan agar kita punya persiapan.”
Karakter wanita cantik es lebih kuat dari adiknya. Setelah menangis sebentar, dia akhirnya tenang. Meskipun masih ada ekspresi duka, emosinya sudah lebih stabil.
“Ketika aku naik Octer untuk mendarat, sebuah monster tiba-tiba keluar dari laut di pantai. Dia berukuran besar, sangat besar. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan penampilannya. Dia seperti bola besar, kedua matanya ada di samping. Aku tidak tahu dia sebesar apa, karena dia hanya menunjukkan sebagian tubuhnya. Sebagiannya lagi ada di dalam air. Octer sangat panik saat itu. Monster itu meraung kemudian menyerangku. Dia menggunakan sihir elemen air. Kekuatan sihirnya sangat kuat. Dia membuat ombak setinggi 30 meter, hampir menjatuhkan aku dan Octer dari langit.”
Suara wanita cantik es agak gemetar.
“Lalu?” Dewey mengerutkan alis.
“Lalu aku berpikir untuk kabur.” Ekspresi wanita cantik es menggelap. “Karena tidak bisa mengalahkan makhluk itu, aku segera ingin pergi. Tapi saat itu aku menemukan bahwa itu sudah terlambat. Entah penghalang apa yang dipasang oleh monster itu. Aku naik Octer terbang kembali. Kami baru terbang sedikit lalu terpental seolah menabrak dinding tak berwujud. Aku mencoba beberapa kali dan tidak dapat pergi dari sana. Akhirnya….”
“Bagaimana akhirnya?”
“Akhirnya….” Wanita cantik es menyeka air matanya. “Akhirnya monster itu membuat ombak. Aku tidak pernah melihat ombak setinggi itu. Aku rasa, guruku sekalipun tidak dapat membuat ombak seperti itu. Ombak itu langsung menjatuhkan kami dari langit, kemudian aku jatuh dari tubuh Octer, melihat monster itu makan Octer dalam satu suap. Nagaku jatuh dari langit, lalu monster itu langsung menelannya!”
Satu… satu suap?
Menelan naga sebesar itu dalam satu suap?
Sebesar apa monster itu?
Wajah Dewey memucat.
Informasi dari wanita cantik es membuat semua orang terdiam. Dewey merasa berat dan berpikir keras.
Sebuah monster yang bisa menelan seekor naga dengan mudah.
Sebuah monster yang bisa mengalahkan seekor naga dan seorang penyihir level delapan dengan mudah.
Dewey meninggalkan kedua saudari itu dan berjalan ke pinggir pantai, mencoba untuk membiarkan angin pantai menghilangkan pikirannya yang kacau.
Hm, monster… tempat yang menekan sihir… tidak dapat menggunakan sihir… tidak ada makanan dan air tawar….
Dewey menghela napas lalu berbicara sendiri. “Tampaknya hanya bisa begitu.”
__ADS_1
Setelah itu dia berbalik dan kembali ke hutan di mana kedua saudari itu berada. Saat ini wanita cantik es dan Vivian sedang mendebatkan sesuatu.
Oh, mungkin tidak bisa menggunakan kata ‘berdebat’, karena hanya wanita cantik es yang sedang berbicara. Pada dasarnya, dengan penyakit gagap Vivian kecil, dia tidak mungkin bisa berdebat dengan kakaknya.
“Seharusnya kamu berikan Setan Ilusi sialan itu kepadaku, tahu? Tua bangka itu bahkan tidak tahu di mana kita sekarang. Kamu masih berharap dia datang menyelamatkanmu? Huh!”
“Ada apa?” Dewey berjalan ke sana dan melihat Vivian sekilas. Vivian tampak sedih, matanya merah. Dia melihat Dewey dengan hati-hati. “T-tidak ada apa-apa.”
“Ada apa dengan kalian berdua? Yang satu seperti anak ayam yang baru lahir, satunya lagi seperti naga betina.” Dewey duduk dan menumpuk cabang pohon, hendak membuat api unggun.
Wanita cantik es mendengus. Meski agak kesal dengan keberanian Dewey, dia telah berkata tidak akan mempersulit Dewey lagi karena Dewey menyelamatkannya. Oleh karena itu dia tidak bisa langsung menyesali ucapan yang baru dia lontarkan, hanya bisa bersabar.
Vivian melihat kakaknya dan Dewey bergantian, lalu beringsut ke arah Dewey.
Wanita cantik es melihat itu dan memaki rendah. “Penjahat kecil yang mengalap gadis.”
Dewey segera membalasnya. “Perampok wanita yang merebut barang orang lain.”
Wanita cantik es marah dan memelototi Dewey, dia akan meledak.
Tapi saat ini suara memalukan menghilangkan kemarahan dan aura wanita cantik es.
Dewey menatap wanita cantik es dengan senyum samar.
Wajah wanita cantik es merona. Kemarahan di wajahnya berkurang, tergantikan oleh ekspresi malu, sehingga tidak begitu menakutkan lagi.
“Eh… aneh sekali. Apakah aku salah dengar? Suara apa tadi? Apakah suara monster di pulau ini?” Dewey berbicara sendiri dengan suara keras.
Wajah wanita cantik es lebih merah lagi. Dia menatap Dewey kesal lalu berkata dengan suara rendah. “Itu… itu aku!”
“Kamu?” Dewey sengaja membelalakan mata.
“....” Wanita cantik es merasa paru-parunya akan meledak karena marah. Dia akhirnya berteriak, “Itu aku! Perutku berbunyi! Aku lapar! Langit sudah gelap! Apakah kalian tidak makan!!!”
“Makan, tentu saja makan.” Dewey meregangkan pinggang dengan malas. “Kalau ada nasi, aku tentu ingin makan.”
Di bawah tatapan memelotot wanita cantik es, Vivian mengeluarkan rimpang tanaman yang hitam dan mencurigakan, lalu berkata pelan. “Ka-kakak, kalau kamu lapar, ma-makan ini dulu.”
“Apa ini?” Wanita cantik es mengernyit, kemudian dia berdiri dan memelototi Dewey dengan marah. “Anak sialan, kamu membiarkan adikku makan ini? Akar tanaman begini?!”
Dewey berkata dengan dingin. “Kalau kamu tidak ingin makan, tahan lapar saja.”
Wanita cantik es lebih marah lagi. “Bajingan! Apakah kamu tidak bisa menangkap satu atau dua ekor binatang buas?”
Dewey terkekeh. “Binatang buas? Tangkap sana! Jika kamu bisa menangkapnya, aku akan memuji kehebatanmu di depan Tuhan Yang Maha Esa. Pergilah!”
Vivian diam-diam menarik wanita cantik es lalu berbisik, “Kakak, ti-tidak ada apa-apa di pulau ini.”
Dewey berbalik, suaranya terdengar dingin. “Kamu putuskan sendiri. Makan atau tahan lapar. Ketika kamu tidak bertenaga besok, mungkin aku akan menendangmu ke laut untuk balas dendam.”
Ucapan tersebut lebih efektif dari apa pun.
Wanita cantik es segera mengambil rimpang tersebut dari Vivian, lalu menggigitnya.
Dia makan dengan alis berkerut. Dia tidak pernah makan makanan seburuk ini seumur hidupnya. Tuhan! Bisa-bisanya biarkan aku makan rumput? Memangnya aku kuda atau sapi?
Semakin makan, semakin kesal, dia makan semakin cepat. Bagaimanapun juga, perutnya sudah kelaparan. Dia menghabiskan rimpang dengan cepat. Meskipun tidak enak, perutnya sedikit terisi. Dia melihat Vivian. “Masih ada?”
“Sudah habis….” Vivian tampak tak berdaya.
“Sudah habis?” Wanita cantik es tertegun.
__ADS_1
Apa-apaan ini! Tidak ada ikan dan daging, ia makan akar tanaman dengan terpaksa dan tidak bisa makan sampai kenyang pula!