Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 55: Hutan Beku, Dunia Monster


__ADS_3

Dewey murung karena semua barang yang dibeli oleh penyihir tua menggunakan uang Dewey. Ketika diculik, Dewey membawa sekantong yang yang berisi ratusan koin emas.


Dia buru-buru mengenakan jaket kulit, topi kulit domba – pinggirannya yang tebal menutupi telinga – memakai sepatu bot salju, lalu menggantung pedang di pinggang. Dewey sudah terlihat seperti petualang yang akan berpetualang di Hutan Beku.


Keluar dari penginapan, sebuah kereta luncur kecil sudah ada di luar. Empat kaki anjing salju abu-abu yang kokoh menginjak salju.


Ruang kereta luncur sangat kecil. Dewey terpaksa berhimpitan dengan penyihir tua. Penyihir tua masih mengenakan jubah putih yang sama. Dia sepertinya tidak takut dingin. Setelah berdekatan dengannya, Dewey baru menyadari sebuah misteri. Entah sihir apa yang pria tua ini lakukan, Dewey merasa seperti berada di dekat tungku ketika di sebelahnya. Tubuh penyihir tua mengeluarkan rasa hangat.


“Huh, bisa sihir, hebat?” Dewey mendengus.


Dia merasa heran karena tidak ada kusir di kereta luncur ini.


Penyihir tua ini benar-benar serba bisa. Dia bahkan mahir mengendarai kereta luncur.  Dia meneriakkan apa pun, hanya duduk di kereta luncur, lalu berkata, “Jalan.”


Keempat kaki anjing penarik kereta langsung berlari. Kapan harus berbelok atau melambat tidak perlu dikendalikan oleh penyihir tua. Anjing salju itu membawa kereta luncur dengan baik. Ia meninggalkan jejak di salju putih di sepanjang jalan menuju utara.


Biarpun memakai jaket dan topi, Dewey masih merasa kedinginan. Matanya tidak dapat dibuka. Dia hanya bisa mendekati penyihir tua yang hangat untuk mendapat kehangatan.


Angin dingin di wilayah utara terbuat dari pisau. Baik di kehidupan sebelumnya maupun di kehidupan ini, Dewey tinggal di wilayah selatan dan tidak pernah pergi ke wilayah utara. Dia tidak pernah melihat salju tak berujung seperti ini dalam hidupnya.


Di sepanjang jalan, dia memaki penyihir tua dan cuaca terkutuk.


Matahari masih menggantung di atas, tetapi sama sekali tidak terasa hangat. Dewey meringkuk. Tak lama kemudian, ingus sudah membeku di hidungnya. Dia menyeka dengan kuat dan hampir melecetkan kulitnya. Dewey kesakitan hingga hampir menangis.


Hutan Beku terletak di ujung utara daratan, yang katanya bagian paling utara dari daratan.


Tempat itu juga merupakan batas yang ditetapkan oleh kekaisaran Roland secara resmi. Dalam keadaan biasa, rakyat kekaisaran tidak diizinkan untuk pergi ke utara.


Lebih jauh ke utara tidak hanya ada badai dingin dan salju yang bisa membekukan orang sampai mati, tidak hanya ada hutan tanpa batas, tetapi juga merupakan salah satu dari dua area di daratan di mana monster beraktivitas.


Kekaisaran menempatkan pasukan di ujung selatan Hutan Beku. Pasukan Badai dari utara kekaisaran menyebar di sepanjang perbatasan selatan Hutan Beku. Semua jalan menuju Hutan Beku didirikan pos.


Semua itu hanya yang terlihat.


Tetapi yang tidak terlihat, setiap tahun masih ada banyak tim tentara bayaran serta tim petualang kecil yang menjelajahi Hutan Beku. Mereka biasanya memiliki sedikit keterampilan. Monster menakutkan di Hutan Beku adalah koin emas bagi mereka.


Kulit dan inti sihir dari berbagai jenis monster yang bisa diperoleh bisa dijual dengan harga tinggi di wilayah selatan.


Kekaisaran mengizinkan kegiatan penyeludupan semi publik seperti itu.


Pasukan yang berjalan di perbatasan selatan Hutan Beku hanya mencegah orang biasa memasuki area berbahaya itu. Sedangkan petualang, penyihir, atau samurai level tinggi yang memiliki keterampilan sering kali berhasil menghindari patroli pasukan. Beberapa tim petualang berskala besar bahkan berani melawan pasukan patroli demi kepentingan menyeludup.


Dataran Roland menghargai pemberani. Meskipun penyihir sedikit, samurai sangat banyak. Masih ada banyak orang yang bersedia mengambil risiko demi keuntungan.


Setelah berjalan kurang dari setengah hari dari kota kecil tempat Dewey dan penyihir tua berangkat, mereka sudah tiba di sebuah pos. Terlihat pasukan kekaisaran berjubah kulit putih. Mereka jelas lebih tahan dingin daripada Dewey. Bahkan ada beberapa samurai level tinggi yang hanya mengenakan rompi kulit, memperlihatkan bulu dada. Di sebelah pos, mereka mencuci tubuhnya dengan salju sambil bernyanyi dengan keras.


Pos ini dibangun di daratan tanpa menggunakan batu. Tanah beku di wilayah utara lebih keras daripada batu. Tanah lunak yang digali pada musim panas, ditumpuk, kemudian diterpa angin dingin selama satu malam saja bisa menjadi dinding tanah yang kokoh.

__ADS_1


Melihat para prajurit yang mengenakan jubah kulit putih tebal dan topi kulit, Dewey tidak tahu harus memuji atau mengagumi. Pokoknya dia hanya meringkuk.


Penyihir tua bersiul, keempat kaki anjing salju berhenti di depan pos.


Ada sekitar ratusan prajurit di depan pos ini. Melihat kereta luncur kecil berhenti di depan mereka, semua orang langsung mengepungnya. Para prajurit spontan mengulurkan tangan untuk menyentuh pisau di pinggang. Pria kuat yang mandi dengan salju jelas kapten mereka. Dia segera melempar salju di tangan, berlari mendekat sambil membawa tombak.


Di salju, samurai itu berlari dengan cepat dan tiba di depan Dewey dalam beberapa langkah. Pria itu tampak seperti orang barbar. Jenggot panjangnya menutup hampir sepertiga wajahnya. Dia terlihat kasar. Dilihat dari larinya di salju, sepertinya bela dirinya cukup mengesankan.


Para prajurit menghalangi jalan. Seseorang hendak berbicara dan seketika terdiam ketika melihat pakaian penyihir tua.


Para prajurit di Hutan Beku berpengetahuan luas. Sering ada penyihir yang suka datang ke sini untuk menangkap monster langka. Inti sihir adalah bahan sihir yang disukai penyihir.


Ketika melihat pakaian penyihir tua, mereka langsung mengetahui identitasnya meskipun tidak ada lencana level penyihir di pakaian penyihir tua.


Sebenarnya itu bukan hal baru di Hutan Beku. Para penyihir yang datang ke sini sudah mengetahui larangan kekaisaran. Meskipun status penyihir tinggi, mereka tidak akan menantang kekaisaran secara terbuka. Jadi, agar pasukan tidak menghalangi mereka dan untuk menyembunyikan identitas dan nama asli, mereka tidak akan memakai lencana level sihir mereka.


Bagaimanapun juga, penyihir di daratan tidak banyak. Kalau memakai lencana, prajurit mudah untuk mengetahui level mereka. Kalau ingin membuat perhitungan, prajurit bisa pergi ke Serikat Sihir untuk menyelidiki level dan penampilan mereka.


Oleh karena itu, penyihir hanya mengenakan jubah sihir di Hutan Beku tanpa memakai lencana. Itu sudah merupakan kebiasaan semi publik. Inilah yang disebut berbuat jahat tanpa meninggalkan nama.


Dewey membulatkan mata, tampak bersemangat. Menurut dia, pasukan kecil ingin tidak punya harapan untuk menghalangi jalan mereka. Meskipun Dewey tidak tahu pria tua itu sehebat apa, dilihat dari bakat sihir Vivian dan bagaimana dia memberi seekor naga kepada muridnya sebagai hadiah, mungkinkah keterampilannya biasa saja?


Kalau mereka akan bertarung, Dewey bertaruh bahwa dalam beberapa detik, penyihir tua bisa mengalahkan ratusan prajurit itu.


Namun, Dewey kecewa.


“Tuan-tuan, aku punya dokumen resmi dari Serikat Sihir.” Penyihir tua tersenyum dan menyerahkan perkamen itu kepada samurai barbar itu. “Serikat Sihir memberiku hak istimewa untuk memasuki Hutan Beku.”


Melihat penyihir tua berwajah tenang ini, kapten prajurit tertegun.


Meskipun terlihat kasar, dia cukup teliti. Dia sudah diinstruksikan untuk menjaga pintu masuk Hutan Beku selama bertahun-tahun sehingga cukup berpengetahuan. Penyihir yang dia temui juga bukan hanya satu dua.


Biasanya para penyihir bersikap sombong. Kalau tidak terbang menggunakan sihir, mereka akan membuat embusan angin sehingga para prajurit tidak bisa menangkap mereka.


Ada juga yang menghentikan para prajurit dengan satu tangan, kemudian berjalan masuk dengan angkuh.


Semua itu sudah biasa. Mereka tahu jika penyihir benar-benar ingin menerobos, mereka yang berjumlah ratusan orang pasti tidak bisa mencegatnya.


Namun, penyihir baik yang dengan sopan mengeluarkan dokumen hukum dan tampak bernegosiasi seperti ini sangat langka.


Dengan ekspresi curiga, kapten prajurit menerima perkamen lecek itu.


Entah sudah berapa lama benda ini. Teksnya agak memudar, bahkan perkamen sedikit compang-camping. Kapten memegangnya dengan hati-hati, takut merusaknya.


Begitu melihat teks di sana, ekspresi kapten sontak berubah, matanya hampir keluar.


“Salinan surat resmi. Pemegang surat resmi ini boleh memasuki Hutan Beku tanpa syarat. Anggota militer maupun pemerintah lokal kekaisaran tidak boleh menghalanginya. Surat resmi ini berlaku selama … seratus tahun?!”

__ADS_1


Benda apa-apaan ini? Berlaku selama seratus tahun? Pria tua ini tidak mempermainkanku, kan?


Kapten mulai berpikir yang bukan-bukan ketika membaca sampai di situ. Dia pernah bertemu beberapa penipu juga.


Semua orang tahu bahwa pasukan militer tidak berani mencegat penyihir di sini, jadi ada beberapa penipu yang pernah membuat jubah penyihir agar bisa lewat.


Namun, melihat tanda tangan di bawah surat itu….


“Kaisar Kekaisaran Roland, Augustine V. Ketua Serikat Sihir Daratan Roland, Zuridya.”


Dokumen yang ditandatangani oleh Yang Mulia Kaisar dan Ketua Serikat Sihir?


Parahnya, Kaisar Augustine V yang menandatangani dokumen ini sudah meninggal selama enam puluh tahun, sedangkan Ketua Serikat Sihir Daratan Roland saat ini telah ganti orang. Ketua yang tanda tangan juga sudah meninggal empat puluh tahun yang lalu pada usia 119.


Tanda tangan mantan Kaisar Kekaisaran dan mantan Ketua Serikat Sihir?


Siapa orang ini?


Kapten tentu bisa membedakan apakah benda ini asli atau palsu. Tanda tangan bisa dipalsukan, lain halnya dengan stempel. Baik stempel Yang Mulia Kaisar maupun Ketua Serikat Sihir ditandai dengan sihir anti-pemalsuan.


Ketika memegang dokumen tersebut, kedua stempel itu akan muncul di perkamen, kemudian menghilang perlahan.


Kapten langsung bersikap serius dan hormat.


Identitas penyihir tua ini pasti sudah hebat sekali. Setidaknya dia adalah orang tua di era yang sama dengan mantan Kaisar Kekaisaran dan mantan Ketua Serikat Sihir.


Kapten kecil seperti dia tidak sanggup menyinggung orang semacam itu.


Karena surat itu berlaku selama seratus tahun, kapten pun menebak-nebak usia penyihir tua.


Dia menggulung perkamen dan memberikannya kepada penyihir dengan dua tangan, nadanya pun terdengar lebih sopan. “Yang Mulia Penyihir, selamat datang di Hutan Beku. Tim patroli kedua puluh tujuh dari Infanteri Serigala Putih di bawah Pasukan Badai wilayah utara kekaisaran memberi hormat kepada Anda. Apakah Anda memiliki permintaan lain? Kami pasti akan berusaha memenuhinya.”


Penyihir tua bersikap sungkan. “Tidak ada, cukup berikan jalan saja.”


Kalimat tersebut membuat prajurit yang menghalangi jalan sontak melangkah mundur, bahkan mengambil inisiatif untuk menyapu sapu di depan, kemudian berbaris untuk mengantar penyihir tua itu.


Setelah pos tertinggal di belakang, Dewey bertanya, “Surat itu beneran?”


“Ya,” jawan penyihir tua datar. “Tetapi hari ini adalah hari terakhir surat itu berlaku.”


Dewey menjulurkan lidah. “Hari terakhir?”


Dia menatap sisi wajah penyihir tua dan bertanya, “Berapa sebenarnya usiamu?”


“Nak, apakah disiplin keluarga Rollin sudah semerosot ini? Bertanya kepada orang yang lebih tua harus menggunakan kata-kata yang sopan.” Penyihir tua tersenyum. “Usiaku….”


Tatapan murung melintas di mata penyihir tua ketika mengatakannya. “Aku sendiri pun sudah lupa.”

__ADS_1


__ADS_2