
Sebenarnya, tidak ada yang berani memanggil Dewey Rollin ‘idiot’ ketika dia baru lahir. Bahkan dia pernah dianggap sebagai jenius dari keluarga Rollin.
Tiga tahun lalu, setelah Dewey keluar dari perut sang Countess, dia membuat para pelayan yang bertanggung jawab atas proses kelahiran terkejut.
Karena dia tidak menangis juga tidak berteriak, bahkan tidak perlu dihibur. Rutinitasnya lebih teratur dari orang dewasa. Bangun di waktu yang sama, makan dan tidur di waktu yang sama. Selain membuka mulut untuk makan, mulut anak ini tidak mau mengeluarkan suara apa pun. Hal satu-satunya yang dia lakukan setiap hari adalah melamun dan melamun.
Dia bahkan jarang ngompol. Karena dia bisa menggoyang lonceng di samping buaian, seiring berjalanya waktu, setiap kali mendengar suara lonceng dari buaian Tuan Muda Dewey, pelayan akan segera mengambil pispot untuknya. Aksi tersebut membuat keluarga memuji kepintaran Tuan Muda ini. Kelak dia pasti menjadi orang jenius dari keluarga Rollin.
Sayangnya, kata ‘jenius’ kehilangan gemilangnya setelah disematkan kepadanya selama kurang dari setengah tahun. Karena dia tidak bisa berbicara.
Anak seumuran Tuan Muda Dewey sudah belajar ngomong atau mengeluarkan lafal sederhana, seperti ‘papa, mama, pipis’, dan lain-lain di usianya. Tapi mulut Tuan Muda Dewey seperti disegel dengan mantra oleh penyihir. Countess mengajarinya berbicara sampai mulut kering, dia juga tidak mengeluarkan satu lafal pun.
Seandainya terlahir bisu, setidaknya bisa berdengung. Tapi Tuan Muda ini diam seperti batu. Jika merasa dingin, panas, lapar, atau mau buang air, dia hanya akan menggunakan lonceng.
Tuan Muda belum pernah membuka mulut emasnya sampai usia 3 tahun. Countess mengundang banyak tabib, bahkan beberapa penyihir terkenal untuk melihat apakah putranya terkena sihir tertentu. Tapi semua sia-sia juga. Pada akhirnya, Countess yang paling optimis pun menghela napas sedih. Tampaknya, putranya ini memang idiot.
__ADS_1
Untungnya, Tuan Muda Dewey yang berusia 3 tahun bisa belajar berjalan. Meski tersandung-sandung, ini tidak ada bedanya dengan anak sebayanya.
Tetapi anak sekecil itu hanya melamun sepanjang hari - tidak bisa menangis, tertawa, atau berbicara. Selain ‘idiot’, tak ada kata lain yang bisa menjelaskannya.
Lebih dari sebulan yang lalu, tiba-tiba ada badai, petir dan guntur bersahutan, hujan turun deras. Bahkan kanal besar di luar ibukota kekaisaran hampir meledak. Dan hal besar terjadi di kediaman Earl.
Tuan Muda Dewey merangkak keluar dari kamar ketika pelayan yang merawatnya lengah. Di tengah hujan, dia berdiri di halaman dan melihat langit dengan kepala terdongak. Petir dan guntur tidak membuat anak ini takut sama sekali. Mungkin yang namanya idiot tidak mengerti apa itu rasa takut.
Tuan Muda Dewey mengepalkan kedua tangannya sambil berteriak pada langit.
Countess yang datang setelah mendengar kabar langsung pingsan saat melihat itu. Para pelayan segera mengangkat Tuan Muda Kecil dan Countess ke kamar. Countess siuman dengan cepat, lalu menangis seraya menggendong putranya yang pingsan. Tabib yang dipanggil ke sini buru-buru meracik berbagai jenis obat untuk Tuan Muda Dewey. Dua penyihir menggunakan mantra penyembuhan untuk menjaga putra Countess.
Tapi ketika suhu tubuh anak ini masih tidak berhenti menurun, Countess berlari ke kuil Dewi Cahaya. Pandita berbaju hitam diundang untuk melakukan pemberkatan pada anak itu. Dan Countess berlutut di depan patung dewi di kuil Dewi Cahaya selama satu malam, tak henti-hentinya berdoa untuk sang anak.
Hingga keesokan harinya, badan Tuan Muda Dewey akhirnya menghangat. Nyawanya terselamatkan. Tapi dia pingsan lagi selama satu hari satu malam. Ketika anak itu pingsan, Countess menggendong putranya terus hampir tanpa makan dan tidur. Dua hari kemudian, wajah cantik Countess berubah kusam. Tuan Muda Dewey mengigau dalam tidurnya. Beberapa lafal keluar dari mulutnya. Hanya saja semua orang tidak paham apa artinya setelah mendengar sekian lama. Kalau dipikir-pikir, Tuan Muda Idiot ini belum pernah belajar bicara. Apa yang dia ucapkan mungkin ngigau tak berarti.
__ADS_1
Namun, Countess menangis saking senangnya. Dia telungkup di sisi anak dan mendengarnya untuk waktu yang lama, akhirnya mendapat sedikit petunjuk. Countess menoleh, melihat kelompok pelayan yang diam, lalu berkata dengan suara rendah. “Apakah ada pelayan yang bernama Sia di antara pelayan yang biasanya merawat Tuan Muda?”
Semua orang bersitatap, akhirnya seorang pemberani membungkuk sebelum berkata, “Nyonya, sepertinya tidak ada yang bernama Sia di antara pelayan yang bertanggung jawab atas rutinitas harian Tuan Muda.”
Setelah itu semua orang mencari di seluruh kediaman Earl dan akhirnya menemukan seorang pemberi makan kuda bernama Sia di kandang kuda. Dia langsung dipanggil oleh Countess.
“Putraku memanggil namamu di dalam mimpi. Sia. Meski tidak tahu mengapa dia menyebut namamu, itu mungkin petunjuk dari Dewi Cahaya. Dewi memberkati. Mulai sekarang, kamu tidak perlu memberi makan kuda lagi, pindahlah ke sisi Tuan Muda.”
Sia merasa gembira. Dia tiba-tiba menjadi pelayan Tuan Muda di dalam kediaman Earl dari seorang pemberi makan kuda. Dia seolah melihat masa depan cerah sedang melambaikan tangan padanya.
Namun, Dewey yang ada di alam mimpi tidak tahu jika nyawa kecilnya hampir melayang karena kehujanan akibat marah pada langit. Juga tidak tahu bahwa dirinya yang mengumpat ‘sial’ di bawah alam sadar malah menguntungkan seseorang.
Tuan Muda Dewey sakit selama satu bulan. Tubuhnya yang memang merupakan tubuh anak kecil menjadi semakin lemah. Satu bulan kemudian, wajah mungil itu baru berwarna lagi.
Tetapi, seperti biasa, Tuan Muda ini masih tidak berbicara. Sejak dia siuman, tidak ada lagi lafal yang keluar dari mulutnya. Bahkan pelayan bernama ‘Sia’ yang dia ‘pilih sendiri’ di alam mimpinya juga tak digubris. Setiap hari hanya melamun dan melamun. Perbedaan satu-satunya adalah ketika pelayan sesekali membicarakan tentang Countess menggendongnya selama dua hari dua malam tanpa istirahat, dan berlutut di depan patung dewi sepanjang malam ketika dia sakit parah.
__ADS_1
Semenjak itu, ketika mengunjungi putranya setiap hari, Countess menemukan bahwa tatapan anak ini yang awalnya datar berubah sedikit lebih hangat saat menoleh padanya.