Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 22: Monster Di Kota Setengah Sudut (2)


__ADS_3

Bawahan memang tidak bisa mengalahkan Dewey. Robert pusing karena majikan ini bersikeras untuk melihat monster itu di gunung.


Tatapan Robert ketika melihat Spann menjadi kurang bersahabat. Menurutnya, masalah ini dipicu oleh Spann. Jika majikan kecil terluka atau terkejut sedikit saja di sana, ialah yang harus bertanggung jawab.


Meskipun ia memiliki kesan baik terhadap majikan kecil yang tidak berlagak dan memperlakukan dengan hangat, menurut Robert, keputusan melihat monster di gunung sedikit kekanakan.


Apa daya, Robert menghela napas. Ia hanya bisa memutuskan untuk tidak jauh-jauh dari majikan setelah masuk ke gunung. Dengan pedang di tangannya, ia bisa melindungi keselamatan majikan, kan.


Selain itu, monster yang muncul di dataran seperti ini seharusnya bukan monster level tinggi.


Robert menghibur diri. Harus diakui bahwa itu berhasil. Karena ada hukum khusus dalam makhluk monster di daratan Rollin.


Monster adalah binatang buas yang terlahir dengan kemampuan sihir. Namun tingkat kekuatan monster memiliki standar ukur yang aneh. Dilihat dari sebagian besar monster yang dikenal sejauh ini, tingkat kebahayaan berbanding terbalik dengan ukuran mereka.


Dengan kata lain, monster berukuran besar biasanya lebih tidak mengancam. Yang benar-benar membahayakan justru makhluk yang sangat kecil.


Spann mengatakan bahwa yang muncul adalah monster yang besar, maka seharusnya ia masih bisa melawannya dengan keterampilan bela dirinya.


Spann pun merasa terjebak saat ini. Dibandingkan dengan masalah monster, dia lebih mengkhawatirkan keselamatan Tuan Muda keluarga Rollin ini.


Tapi Dewey sudah berkata akan melihatnya. Spann lebih memilih tidak mendapat bantuan dari belasan penjaga ini.


Namun maksud Dewey sudah sangat jelas. Sekalipun Spann menolak niat baiknya, dia akan tetap membawa orang-orang ke gunung. Setelah dipertimbangkan, Spann merasa sebaiknya mereka bergabung saja. Dengan begitu, lebih banyak orang lebih aman.


Para tentara bayaran itu cukup efisien. Setengah jam kemudian, lebih dari dua puluh tentara bayaran sudah memakai perlengkapan dan menunggu di depan penginapan. Sedangkan Dewey meninggalkan para pelayan di penginapan, dan membawa dua regu kavaleri berangkat.


Dewey memakai baju besi ringan. Meskipun masih terlihat lemah, setidaknya orang lain lebih tenang. Joline tahu kali ini pergi ke gunung untuk mencari monster. Dia juga pernah melakukannya dulu. Membunuh monster kemudian menggantikannya dengan koin emas. Ini adalah sumber penghasilan banyak tim petualang di daratan.


Spann mengumpulkan dua puluh orang terakhir dari kamp garnisun di Kota Setengah Sudut. Jadi total sudah hampir delapan puluh atau sembilan puluh orang. Meski masih agak lemah, melihat pengawal keluarga Rollin berbaju besi dan bersenjata bagus, Spann merasa terhibur.


Ini memang tentara berstandar lokal kekaisaran. Spann dan Robert, dua kesatria berlevel tertinggi, berdiskusi kemudian membagi orang-orang ini ke dalam tiga regu. Selain itu, tentara lokal, tentara bayaran, dan pengawal keluarga Rollin juga dibubarkan sesuai jenis senjatanya. Setiap regu dijamin diberikan tentara yang berbeda. Prajurit dalam pertempuran jarak dekat, serta pemanah telah diatur.


Dua regu lainnya dipimpin oleh kedua wakil Spann. Sedangkan Spann dan Kesatria Robert, dua orang dengan keterampilan bela diri tertinggi malah tinggal di sisi Dewey.


Saphn telah memutuskan untuk menjamin keselamatan Tuan Muda keluarga Rollin ini, sekalipun misi kali ini gagal. Kalau tidak, jika putra sulung dari pemimpin kedua kemiliteran kekaisaran mengalami kecelakaan karena dirinya, masa depannya sebagai tentara akan habis. Bila dibandingkan, berhasil atau gagalnya menangkap monster tidak lagi penting.


Perlu ditandai, dua regu lainnya masing-masing hanya memiliki dua puluh orang. Sedangkan regu Dewey ada empat puluh orang. Tiga puluh di antaranya adalah pengawal keluarga Rollin. Sedangkan sepuluh lainnya adalah bawahan pemanah Spann.


Spann bahkan memberi Dewey panah militer yang berharga untuk pertahanan diri. Karena dia bisa melihat bahwa Tuan Muda kecil ini tidak pandai memanah. Ada panah militer juga meningkatkan keamanannya.


Dengan begitu, regu Dewey memiliki empat puluh tentara berstandar paling elit. Pengawal keluarga Rollin juga tidak kalah dari tentara berstandar, dengan dua kesatria level empat dan seorang penyihir.


Kekuatan seperti ini sudah besar.


Tiga regu segera keluar dari kota, kemudian masuk ke Gunung Setengah Sudut melalui jalan berbeda. Arah penelusuran ketiga regu juga berbeda. Setiap regu membawa beberapa benda yang Dewey ketahui mirip suar. Regu mana pun yang menemukan monster akan bertanggung jawab untuk menjeratnya, dan pada saat yang sama memanggil kawan.


Titik pertemuan yang disepakati adalah area paling tengah di Lembah Setengah Sudut.


Dewey masuk ke Gunung Setengah Sudut dengan menunggang kuda dan dikelilingi orang banyak. Anak ini seolah tidak sadar bahwa dia telah menjadi beban semua orang. Atau mungkin dia tahu tapi berpura-pura bodoh.


Setelah empat puluh bawahan bersenjata lengkap masuk ke Gunung Setengah Sudut, mereka segera menyebar jadi dua, mencari jejak yang mencurigakan. Spann dan Robert melindungi Dewey.


Jejak monster di Gunung Setengah Sudut ditemukan oleh pemburu di sebuah desa kecil di lereng selatan gunung. Berdasarkan perkenalan Spann di sepanjang jalan, ketika pemburu melihat jejak kaki di hutan, dia pikir itu adalah binatang besar yang melarikan diri ke hutan ini, bahkan mengumpulkan beberapa pemburu berpengalaman untuk memburunya, tapi malah menemukan jejak monster di selatan gurung. Para pemburu tahu bahwa monster bukan sesuatu yang bisa mereka lawan, lantas pulang dan melapor kepada garnisun lokal. Menurut deskripsi para pemburu, monster yang ditemukan sangat besar, seukuran singa dan harimau. Saat itu mereka berdiri terlalu jauh sehingga tidak melihat dengan jelas. Namun sekujur tubuh makhluk itu bersinar, jelas bukan binatang buas biasa.


Setelah masuk ke Gunung Setengah Sudut, semua orang turun dari kuda, tak terkecuali Dewey. Para tentara mencari di kedua sisi. Di depan, ada lima prajurit dengan keterampilan bela diri terbaik untuk menjelajahi jalan.


Alih-alih melihat monster, setiap jalan yang akan dilewati Dewey bahkan diperiksa. Kelinci keluar dari rerumputan pun tidak akan ada.


Dewey merasa bosan. Melihat hutan lebat di sekitar, dan kicauan burung yang terdengar sesekali, Dewey tersenyum melihat Kesatria Saphn yang agak tegang.


Dia tahu betul apa yang Spann pikirkan. “Kesatria Spann, apakah kamu pernah melihat monster sesungguhnya?”


Spann tertegun dan berpikir. “Pernah. Aku pernah bertugas di Legiun Badai Kekaisaran di utara selama empat tahun. Saat itu pasukanku ditempatkan di sisi timur ‘hutan beku’ di bagian utara daratan. Hutan beku diakui sebagai tempat paling angker di daratan. Kami mengalami beberapa hal ketika sedang berpatroli. Tapi untungnya, monster yang beraktivitas di luar hutan biasanya adalah monster level rendah. Ancamannya terhadap manusia terbatas. Kami juga tidak berani masuk jauh ke dalam hutan ketika berpatroli. Karena monster level tinggi di dalam hutan tidak dapat dilawan oleh tentara biasa.”


Dewey berpikir. “Seperti apa monster itu?”


Spann merenung sejenak. “Monster sebenarnya seperti binatang buas, hanya saja mereka lebih ganas dari binatang buas biasanya. Binatang buas biasa hanya menggunakan cakar dan taring untuk melukai orang. Tapi monster bisa menggunakan beberapa sihir level rendah, sehingga agak merepotkan.”


“Apakah kamu pernah membunuh monster dengan tangan sendiri?”


Wajah Spann memerah lalu berkata dengan suara rendah. “Tuan Muda Dewey, aku hanya seorang kavaleri level dua saat itu. Dengan kemampuanku, aku tidak mungkin bisa membunuh monster sendirian. Tapi aku benar-benar bertemu monster hebat ketika timku berpatroli suatu saat. Itu adalah Serigala Setan Badai yang hanya hidup di hutan beku utara. Kecepatannya sangat cepat. Pemanah pun tidak bisa memanahnya. Bulu di tubuhnya dapat beku dan mengkristal dalam sekejap. Kekerasannya bahkan sebanding dengan baju besi kami. Pedang juga sulit untuk melukainya. Selain itu, dia juga bisa menyemburkan bilah angin bisa melolong. Sangat sulit untuk dihadapi. Ketika salah satu tim kami bertemu monster itu, sepuluh tentara pun bukan lawannya. Aku ingat ada empat rekanku yang mati pada pertempuran itu, yang bertahan hidup pun terluka-luka. Akhirnya ketua tim kami memotong ekor Serigala Setan itu dengan bilah angin. Kelemahan Serigala Setan itu ada pada ekornya. Kekuatan sihirnya melemah setelah kehilangan ekor. Setelahnya, bulu Serigala Setan itu dilucuti oleh kami. Sangat berharga. Inti sihirnya juga bisa dijual dengan harga tinggi. Inti sihir monster adalah benda yang disukai penyihir. Karena inti sihir monster adalah alat bagus yang penyihir gunakan untuk menyimpan kekuatan sihir, pada saat yang sama juga bahan untuk membuat berbagai gulungan sihir.”


Spann tidak bisa tidak merasa emosional ketika mengingat masa lalu. “Mengingat ketika kami bertugas di hutan beku saat itu, ada banyak tim petualang yang mengabaikan larangan kami dan bersikeras berburu monster di hutan untuk menghasilkan uang. Tapi sepertiga dari mereka tidak dapat keluar hidup-hidup. Entah berapa banyak orang yang mati di hutan, bahkan ada penyihir juga.”


Dewey menghela napas. Dia melihat Solskjaer sekilas.


Mereka berdua tahu bahwa penyihir tidak berburu monster demi uang, tetapi inti sihir monster sangat menarik bagi penyihir. Itu adalah bahan sihir yang penting.


Spann berkata sambil mengeluarkan pedang untuk menjauhkan ranting-ranting pohon di depan lalu tersenyum. “Tuan Muda Dewey, Anda tidak perlu cemas. Menurut hukum, semakin besar ukuran monster, kekuatannya semakin rendah. Monster yang kami temui ini seharusnya tidak terlalu membahayakan. Ada aku, um… ada Kesatria Robert. Kami tidak akan membiarkan Anda terluka.”


Dewey mengangguk, tidak membantah juga tidak menanggapi, melainkan melihat Robert yang diam sekilas. “Bagaimana denganmu, Robert? Apakah kamu pernah membunuh monster?”


Dengan raut serius, Robert berpikir sejenak, lalu menyingkirkan rambut keritingnya yang tebal, memperlihatkan lehernya.


Dewey baru menemukan bahwa ternyata ada bekas luka mengerikan di leher Robert. Itu jelas bekas luka tusukan. Seperti ada sesuatu yang tajam menusuk ke dalam lehernya saat dia terluka. Meski ini luka lama dan jelas sudah lama sekali, bekas luka itu masih berwarna merah daging. Bisa dilihat separah apa lukanya saat itu.


“Inilah yang ditinggalkan oleh sebuah monster untukku.” Nada Robert terdengar rendah. “Aku pernah pergi ke Rawa Matahari Terbenam di selatan. Di rawa itu, kami bertemu segerombolan griffin.”


Sebelum Dewey membuka mulut, Kesatria Spann dan Solskjaer, bahkan Joline yang mengekor di belakang, terkesiap bersamaan. Spann lepas kendali dan bertanya, “Segerombolan griffin? Ya Tuhan, bagaimana kamu bertahan hidup?”


“Griffin? Apakah dia sangat hebat?” tanya Dewey.


Solskjaer menggeleng. “Bukan hanya hebat, griffin adalah sejenis monster yang bisa terbang. Jika tidak termasuk binatang buas yang dilegendakan, maka griffin termasuk salah satu monster yang paling merepotkan. Dia adalah sejenis burung monster. Ukuran tubuh mereka tidak jauh berbeda dengan elang biasa, tapi bisa mengeluarkan auman singa. Bulunya sekeras besi, cakarnya bisa menembus baju besi kita dengan mudah, mulutnya bahkan dapat mematuk pedang kesatria hingga patah. Yang paling merepotkan adalah dia bisa terbang. Lalu bulunya yang keras membuat pemanah tidak dapat melukainya. Aumannya bisa membuat orang ketakutan, dan pingsan kalau yang lebih hebat lagi.”


“Kekuatan spiritual menyerang sihir?” Dewey menghirup napas.


“Fatalnya, bukan apa-apa jika makhluk menakutkan ini hanya sendiri, tapi mereka adalah salah satu jenis hewan yang hidup berkelompok. Dengan kata lain, mereka beraktivitas bersama-sama. Di daerah rawa selatan, tentara akan memilih untuk mundur jika bertemu mereka. Karena jika makhluk kuat menyerang secara berkelompok dan dari arah langit, itu sungguh tak tertahankan.”


Joline melihat bekas luka di leher Robert dan mengernyit. “Bagaimana kamu bertahan hidup?”


Robert menggeleng. “Aku awalnya mengira aku pasti mati. Setengah dari orang-orang yang pergi ke rawa kali itu tewas. Leherku dicakar oleh seekor griffin hingga menembus. Tapi kemudian kami menemukan sebuah lubang pohon yang besar di rawa. Kami bersembunyi di sana selama satu hari. Pintu masuk lubang pohon tidak besar, mereka yang kehilangan superioritas udara, tidak bisa menyerang kami dari langit. Kondisi kami barulah membaik. Bersandar di lubang pohon yang sempit, kami bertahan satu hari sebelum para griffin pergi. Dan akhirnya aku dibawa kembali oleh tim penyelamat dari keluarga sehingga mempertahankan nyawa.”


Raut wajah Robert menggelap. “Adik laki-lakiku meninggal di sana. Sama sepertiku, lehernya juga dicakar oleh seekor griffin. Sayangnya dia tidak seberuntung aku. Kepalanya terlepas di tempat.”


Dewey merasa terkejut, menatap Robert dan segera berkata, “Maaf, Kesatria Robert. Aku tidak tahu….”


“Tidak, tidak apa-apa.” Kesatria ini menggeleng dan mengulas senyum paksa. “Ini adalah kejadian beberapa tahun yang lalu. Dan jika mengabdi pada keluarga, nyawa kami sudah siap dikorbankan untuk keluarga kapan saja.”

__ADS_1


Semua orang tidak bisa tidak mengagumi Kesatria Robert. Joline pun menatap kesatria ini lama sebelum mengajukan pertanyaan. “Tuan Robert, Tuan Spann, aku punya sebuah pertanyaan.”


“Apa? Katakan saja, Kesatria Joline.” Spann sangat menghormati kesatria kehormatan Tuan Muda bangsawan ini.


Joline perlahan berkata, “Setahuku, monster biasanya hidup di dalam hutan, tetapi jarang sekali hidup di tengah daratan. Karena monster harus mengisi kembali kekuatan sihir, mereka hanya akan hidup di tempat-tempat aneh di pinggiran daratan, seperti hutan beku di utara, dan Rawa Matahari Terbenam di selatan. Tempat-tempat ini dipenuhi dengan jenis tanaman bahan sihir yang digunakan penyihir obat. Atau, tempat yang kaya akan jenis mineral khusus. Itu juga menarik monster untuk tinggal di sekitarnya. Tapi Gunung Setengah Sudut hanyalah hutan biasa. Tidak ada tanaman sihir di sini, hanya beberapa pohon pinus biasa. Selain itu, tidak ada juga mineral khusus. Jadi apakah kalian tidak merasa heran atas kemunculan mendadak sebuah monster?”


Spann dan Robert menghentikan langkah mereka dengan raut serius. Penyihir Solskjaer pun mengernyit dan berpikir.


“Joline, apakah kamu tahu banyak tentang monster?” Dewey-lah yang bertanya.


“Aku memiliki pengalaman berpetualang yang tidak sedikit, juga pernah berburu monster di hutan beku bersama beberapa tentara bayaran yang masuk,” jelas Joline. “Jadi, sepertinya akulah orang yang paling sering bertarung dengan monster di antara kita semua.”


“Kamu pernah masuk ke hutan beku di utara?” Spann tampak terkejut. Menurut dia, kesatria perempuan ini pasti mengandalkan kecantikannya untuk mendapatkan gelar kesatria kehormatan dari Tuan Muda Bangsawan. Tak sangka jika Joline memiliki pengalaman seperti ini.


Ekspresi Robert pun berubah.


Joline berkata dengan suara rendah. “Benar, aku pernah masuk beberapa kali.”


“Aku kurang tahu tentang kebiasaan hidup monster. Jika apa yang Kesatria Joline katakan memang benar, mungkin kita harus berpikir baik-baik,” ucap Robert. “Kemunculan monster memang sangat mencurigakan.”


Sedangkan Spann, wajahnya menunjukkan ekspresi tak setuju meski dia tidak mengatakannya.


Spann jelas tidak memercayai ucapan Joline.


Spann yang berpengalaman bisa melihat bagaimana keterampilan Joline. Dia menilai kalau kesatria perempuan ini tidak terlalu terampil. Ia dipandang penting oleh Tuan Muda bangsawan pasti mengandalkan wajahnya yang cantik dan kakinya yang panjang.


Masuk ke hutan beku di utara? Beberapa kali pula? Pasti bohong!


Semua orang tidak menemukan apa pun setelah mencari sepanjang hari. Bahkan jejak atau kotoran monster pun tidak ditemukan.


Dua regu lainnya juga tidak menyampaikan apa-apa.


Melihat matahari terbenam, Kesatria Spann mengusulkan semua orang untuk beristirahat sejenak kemudian kembali ke kota selagi langit terang. Besok pagi baru melanjutkan pencarian.


Keputusan ini dibuat karena keberadaan Dewey.


Jika tidak ada Tuan Muda bangsawan ini, Spann berencana untuk mencari semalaman. Tapi kini ada seorang Tuan Muda yang perlu dijaga, Spann tidak berani terburu-buru, masih mengutamakan keselamatan. Kalau tidak, mencari monster di gunung pada malam hari akan meningkatkan kebahayaan.


Waktu istirahat, Robert mengatur dua orang untuk berjaga di sekitar. Spann mengutus dua pemanahnya memanjat pohon untuk mengamati lingkungan sekitar.


“Joline,” panggil Dewey ketika melihat kesatria perempuan ini hendak merapikan pelana.


“Ada apa, Tuan?”


“Aku percaya padamu.” Dewey berkata dengan suara rendah. Kalimat tersebut membuat Joline terkejut dan menoleh untuk melihat Dewey.


Dewey memainkan bunga liar yang tidak diketahui namanya, senyumnya sangat santai. “Aku tahu bahwa Kesatria Spann tidak percaya padamu. Dia pikir kamu sedang membual.”


Joline tersenyum pahit.


Apakah hanya membual? Kesatria Spann mungkin berpikir kalau ia adalah wanita rendahan yang mengandalkan kecantikan dan tubuhnya untuk memperoleh identitas kesatria.


Tak hanya Spann, mungkin sebagian besar prajurit keluarga Rollin juga berpikir demikian.


Joline merasa tidak berdaya.


Joline terkejut dan berkata, “I-Ini pun Anda tahu?”


“Buku.” Dewey tersenyum. “Buku adalah sumber pengetahuan manusia. Banyak membaca buku tidak akan rugi.”


Setelah itu pemuda ini berjalan ke sisi Joline dan menepuk bahunya sambil tersenyum. “Kesatria perempuanku, kita harus berusaha, kalau tidak akan diremehkan orang lain. Contohnya, hari ini. Apa kamu tidak melihat jika mereka semua menganggapku sebagai beban? Dan kamu adalah kesatria kehormatan pertamaku. Kita harus berusaha melakukan sesuatu!”


Menatap pemuda ini lekat, Joline merasa ucapan Dewey membuat hatinya menghangat.


Ya! Mereka semua menganggapku sebagai wanita yang menjual diri demi pangkat! Sedangkan orang yang benar-benar menghormati dan memercayaiku adalah Tuan kecil ini!


Joline menunduk kepada Dewey lalu berkata dengan suara bergetar. “Baik, Tuanku! Joline akan berusaha, tidak akan mempermalukan kehormatan Anda!”


Setelah beristirahat sejenak, Spann segera mengumpulkan orang dan bersiap untuk turun gunung. Dia menyuruh orang mengirimkan sinyal kepada dua tim lainnya. Salah satunya segera merespon. Satu tim lainnya berada tak jauh dari rombongan Dewey. Dilihat dari tempat yang dipancarkan sinyal, jarak antara mereka hanya sekitar satu mil.


Kedua kesatria segera memerintah semua orang untuk berbaris dan bergabung dengan teman mereka.


Tapi di tengah jalan, bahkan Kesatria Robert, yang berada di paling depan, bisa melihat bahwa rekan satu tim itu sedang melambai kepada mereka.


Pada saat ini, auman terdengar dari samping, kemudian terlihat sebuah sosok besar berlari cepat dari hutan di samping. Makhluk ini seperti berapi, begitu dia lari, pohon dan rerumputan di kedua sisi terbakar.


“Monster!” Entah siapa berteriak lebih dulu, kemudian semua orang terperanjat.


“Berbaris!” Teriakan stabil terdengar dari belakang orang-orang. Kesatria Robert telah mencabut pedangnya dan berseru, “Jangan panik! Berbaris! Kepung dia dari dua sisi, jangan biarkan dia kabur! Pemanah siap-siap! Orang di depan pasang perisai!”


Perintah demi perintah keluar dari mulut Robert. Lebih dari setengah orang di sini adalah pengawal keluarga Rollin. Suara Robert langsung menenangkan semua orang.


Gerakan Spann juga tidak lambat. Dia telah mengumpulkan pemanah, dan memerintah mereka untuk memanjat pohon.


Entah kenapa monster itu tiba-tiba keluar pada saat ini, seolah tidak takut menghadapi banyak manusia.


Dewey akhirnya melihat monster yang dilegendakan sesuai keinginannya.


Makhluk ini lebih besar dari bayangan Dewey. Ukurannya sebesar gajah. Ada tanduk besar di dahi, kulitnya kasar dan tebal, keempat kakinya setebal pilar. Dia menginjak tanah dan mengamuk sambil mengaum, seluruh tubuhnya berapi.


Makhluk besar yang aneh dan ganas ini berapi, membuat orang sulit menghentikannya. Para prajurit yang awalnya berbaris dan memegang perisai pun tidak berani menghalanginya, hanya bisa menyingkir. Pemanah yang ada di atas pohon telah menembakkan panah. Namun sepertinya anak panah tidak memberikan luka berarti bagi si monster.


Untungnya, makhluk ini berukuran besar sehingga kecepatan larinya sangat lambat. Semua orang berteriak, seorang prajurit segera mengambil tombak dan menakutinya dari jauh.


“Tidak perlu takut, ini hanya seekor badak api.” Joline-lah yang berbicara, dia sepertinya menghela napas. Kesatria perempuan ini berdiri di sisi Dewey, bahkan maju ke depan Dewey. Suaranya tidak keras, sepertinya hanya menjelaskan kepada Dewey. “Badak api termasuk jenis monster yang paling rendah. Tidak ada yang perlu ditakuti, selain tenaganya yang agak besar dan bisa mengeluarkan api. Kecepatan larinya juga sangat lambat. Jika ada beberapa busur keras, dia sama dengan sasaran tembak.”


Ucapan Joline terdengar oleh Kesatria Robert. Dia segera memberi perintah dengan suara keras. “Dirikan tombak! Halangi dia!”


Badak api ini berlari beberapa langkah, tetapi menemukan bahwa manusia di sekitar menghalanginya, dan mendirikan tombak menghadap dirinya. Badak api tidak berani menyeruduk. Meskipun kulitnya tebal, dia belum sebanding dengan monster level tinggi yang tidak dapat dilukai oleh pedang. Mengaum beberapa kali, dia tidak berani menabrak deretan tombak, hanya bisa menghentikan langkahnya, kemudian berbalik dan berlari ke arah lain. Tapi kecepatannya melambat.


Para prajurit dengan cepat mengepungnya, menghalangi jalannya. Pemanah di atas pohon masih menembakkan panah. Meskipun anak panah tidak terlalu melukainya, bagaimanapun jumlahnya banyak, beberapa anak panah bahkan menancap di punggung badak api.


Di bawah kepungan manusia, lingkup gerak badak api semakin kecil, aumannya terdengar kian cemas. Saat ini Solskjaer, penyihir Dewey, turun tangan.


Penyihir mengangkat kedua tangannya. Lengan baju jubahnya bergetar cepat, kemudian beberapa bola api keluar dari tangannya dan menembak badak api.


Bom! Di bawah puluhan pasang mata, beberapa bola api mengenai monster itu dengan akurat. Api berkobar, semua orang hampir tidak bisa membuka matanya.

__ADS_1


Auman marah dan tidak terima terdengar, kemudian badak api tiba-tiba bersinar merah. Kemudian di bawah tatapan semua orang….


Menghilang!


Semua prajurit tertegun sebelum akhirnya bersorak.


Tampaknya penyihir lebih hebat. Sekali turun tangan langsung membunuh makhluk ini.


Para tentara tidak menemukan bahwa penyihir Solskjaer sendiri tampak bingung.


Menghilang?


Aku menggunakan teknik bola api. Kalaupun bola api bisa membunuh makhluk itu, seharusnya bangkainya tidak menghilang.


Tentara-tentara yang biasa tidak mengerti tentang itu. Namun sebagai kesatria level empat, Robert dan Spann paham.


Ketika badak api tiba-tiba menghilang, kedua orang itu menunjukkan ekspresi terkejut dan gelisah. Kemudian ketika semua orang masih bersorak, Robert berteriak, “Semuanya mundur! Hati-hati!”


Dewey tertegun. Ketika melihat monster itu menghilang mendadak, dia tidak bisa tidak bertanya, “Joline, apakah bangkai monster jenis ini akan menghilang setelah mati?”


“Tidak.” Ekspresi Joline juga berubah. “Bangkai menghilang, aku belum pernah melihatnya.”


Pada saat ini, tempat di mana badak api menghilang tiba-tiba memunculkan api berwarna biru. Kemudian terdengar lolongan tajam dan keras dari api.


Ini jelas lolongan serigala.


Lalu, seekor serigala besar keluar dari kobaran api biru tersebut.


Serigala besar ini memiliki bulu berwarna biru yang terlihat seperti kristal. Tubuhnya besar dan kuat, cakarnya tajam, gerakannya gesit.


Setelah melihatnya mengkilap, terdengar seruan kesakitan dari beberapa tentara.


Serigala ini kemudian melolong, bilah angin keluar dari mulutnya.


“Serigala Setan Badai! Itu Serigala Setan Badai!” Spann berseru terkejut. Ekspresi kesatria ini berubah ketakutan.


Makhluk yang muncul mendadak ini adalah monster bernama Serigala Setan Badai, yang Spann bicarakan dengan Dewey dan yang lainnya tadi, yang ditemui dan diburu dengan mengorbankan beberapa temannya saat itu.


Bukan Serigala Setan Badai ini yang membuat Spann takut. Namun, ini aneh sekali, bukan?


Ia tidak pernah mendengar jika setelah badak api mati akan berubah menjadi Serigala Setan Badai.


Tidak sempat berpikir banyak, seperti yang Spann katakan, serigala ini berbulu kristal dan sulit dilukai dengan pedang. Kecepatannya juga sangat lincah. Dengan gigi dan cakar yang tajam, serta beberapa gerakan, seorang tentara berteriak karena terluka oleh cakarnya.


Bilah angin ditembakkan, dua tentara yang memegang perisai terkena, perisai di tangan mereka hancur. Kedua tentara itu juga terpental.


Dewey menyaksikan dari jauh dan menghela napas. “Hebat! Joline, apakah monster bisa berubah? Apakah badak api bisa berubah menjadi makhluk lain? Tapi bentuk kedua makhluk ini berbeda jauh.”


“Tidak, Tuan, sepertinya ada yang salah. Monster yang kita temui ini sepertinya jenis yang aku tidak ketahui. Dia pasti bukan badak api biasa.” Dengan wajah muram, Joline berdiri di depan Dewey sambil memegang pedang tajam, menatap Serigala Setan itu.


Berteriak keras, Robert bergegas ke sana. Cahaya perak bersinar di pedang yang ada di tangannya. Dia hendak memenggal Serigala Setan.


Mata Joline berbinar. “Energi.”


Serigala Setan itu sepertinya bisa merasakan bahwa cahaya pada pedang Robert mengancamnya, sehingga tidak berani menyerang dengan tubuh, melainkan melompat pergi. Kemudian berbalik dan hendak mencakar dada dan bahu Robert.


Robert berteriak, sedikit membungkuk, lalu mengarahkan pedangnya ke perut Serigala Setan.


Serigala Setan ini memang hebat. Tubuhnya masih berubah di udara. Tubuhnya memelintir lalu menghindari serangan energi Robert. Setelah mendarat, cakarnya menggores lengan Robert dengan cepat.


Robert mengerang, lengannya berdarah. Untungnya, Serigala Setan itu memperkirakan bahwa pedang Robert tidak mendekat, sehingga luka ini tidak parah.


Pada saat ini, seruan terdengar, lalu Spann bertindak. Dia merebut tombak seorang tentara, kemudian melemparnya dengan kuat.


Tombak meluncur layaknya meteor, kemudian mengenai punggung Serigala Setan. Tombok tidak berhasil menancapnya, justru terpental. Bisa dilihat sekeras apa kristal di tubuh Serigala Setan.


Meski berhasil menahan serangan tombak Spann, Serigala Setan ini sepertinya sangat tidak nyaman. Dia bergulung beberapa kali karena kekuatan benturan, lalu kecepatannya menurun setelah berdiri kembali. Tampaknya dia terluka.


“Solskjaer, lakukan!” Robert berteriak, lagi-lagi mengayunkan pedang untuk memaksa Serigala Setan mundur.


Penyihir yang dipanggil, segera mengangkat tangan dan menembakkan bola api lagi.


Bola api tak henti-hentinya menyerang. Ada yang mengenai tanah di tengah, hanya tiga yang mengenai Serigala Setan.


Serigala Setan jelas sangat menolak sihir api. Dia melolong, lalu tubuhnya menjadi kian sulit. Robert segera mendekat, melihat kesempatan lalu memotong ekor Serigala Setan.


Ketika mereka mengobrol tadi, Spann mengatakan bahwa kelemahan Serigala Setan Badai ada pada ekornya. Robert mengingatnya dengan baik.


Dan benar. Setelah ekornya dipotong, Serigala Setan melolong, lalu tumbang. Tapi kemudian Robert melihat cahaya muncul di pedangnya.


Setelah itu, bukan hanya bangkai Serigala Setan yang menghilang, tetapi juga ekornya yang putus.


Menghilang? Sama lagi?


Dewey berteriak, “Semuanya hati-hati, takutnya makhluk ini akan berubah lagi!”


Ekspresi Robert memucat, dia hendak mengatakan sesuatu.


Tiba-tiba, auman rendah terdengar dari langit. Seperti auman singa.


Kemudian auman singa terdengar semakin banyak. Dari jauh, entah ada berapa banyak singa yang tengah datang ke sini.


Jangan-jangan kerumunan singa? Heran, ini di dataran, bagaimana mungkin ada singa banyak?


Mendengar suara yang mendekat, sontak Kesatria Robert menyadari sesuatu. Ekspresinya berubah, dia tiba-tiba berteriak, “Hati-hati! Semuanya hati-hati! Yang datang adalah….”


Sebelum dia selesai berbicara, semua orang sudah melihatnya. Terlihat sekelompok makhluk bersayap turun dari langit. Mereka menutupi langit. Mereka memiliki cakar dan gigi tajam, bulu sekeras besi, dan suara lolongan seperti singa.


“Griffin! Itu sekelompok griffin!”


Seolah melihat mimpi buruk lama berputar kembali, Robert tampak putus asa. Dia punya pengalaman menghadapi sekelompok griffin. Itu adalah pengalaman yang mengerikan.


Dengan jumlah orang yang tak seberapa, mereka yang menghadapi sekelompok griffin hampir sama dengan menunggu mati.


Sebelum kesatria menyelesaikan ucapannya, jeritan mengenaskan terdengar duluan. Griffin menangkap dua tentara lalu melemparnya.


Darah menyembur, sekelompok griffin turun satu per satu dari langit.

__ADS_1


Ekspresi Joline juga sangat buruk. Dia langsung mendorong Dewey ke tanah.


__ADS_2