Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 23: Teknik Rahasia Suku Moon


__ADS_3

“Pertahankan barisan! Jangan panik! Jangan panik!” Di tengah kekacauan, suara serius Robert terdengar, memberikan sedikit ketenangan kepada para tentara yang panik.


Baju besi Robert sudah robek, rambutnya berantakan, ada sedikit jejak darah di tubuhnya. Dia mencengkeram seorang bawahan lalu mendorongnya kuat, berteriak, “Berbaris! Lindungi Tuan! Berbaris! Jangan lari-lari!”


Griffin di langit terbang ke bawah diikuti lolongan. Lolongannya memang memiliki sihir yang membuat orang pusing. Beberapa bawahan keluarga Rollin merasa kepala mereka berdengung setelah mendengarnya. Tubuh mereka bergoyang, pedang di tangan pun tidak bisa dipegang dengan erat.


Robert merebut busur dan panah dari seorang pemanah yang berbaring di lantai, dengan cepat memanah seekor griffin di langit. Anak panah dengan rasa dendam berubah menjadi cahaya dan melesat. Hanya saja busur dan anak panah biasa seperti ini tidak mampu menahan dendam kesatria. Ketika di udara, anak panah meledak sendiri dan berubah menjadi cahaya.


Untungnya, griffin itu terkejut, Robert lalu melangkah mundur. Dia memaksa belasan orang berkumpul, mengangkat pedang dan tembiang untuk melindungi diri.


Saat ini, lebih banyak griffin turun dari langit. Sesekali ada orang yang dilukai oleh cakar dan gigi griffin yang tajam. Suara jeritan terdengar di mana-mana. Ada juga yang ditangkap oleh griffin, dilempar ke udara, kemudian beberapa griffin terbang ke sana, mencabik-cabik orang yang ada di udara dengan paruh dan kuku.


Pemandangan tersebut membuat semua orang ketakutan.


Pedang Kesatria Spann tersisa setengah. Dia baru saja diserang oleh seekor griffin, dan lolos karena berguling di lantai. Hanya saja kakinya berdarah, berdiri pun tidak stabil.


Baik Spann maupun Robert merasa takut sekaligus syok.


Bagaimana binatang buas semengerikan griffin bisa tiba-tiba muncul di pedalaman selatan kekaisaran?!


Di bawah teriakan Robert yang menyuruh orang-orang melindungi Dewey, semakin banyak kavaleri keluarga Rollin yang mengepung Dewey.


Griffin-griffin di langit masih semenakutkan pembunuh. Setiap kali mereka mendarat, suara jeritan yang mengenaskan akan terdengar. Setiap griffin menyerang, nyawa seorang tentara akan diambil.


Lantai sudah penuh dengan darah dan beberapa mayat yang tercabik-cabik saat ini. Banyak orang mati dalam kondisi yang sangat menyeramkan. Di depan binatang buas seganas ini, tidak ada orang yang mati dengan anggota tubuh lengkap.


Dewey tadi melihat seekor griffin bergegas menuju dirinya. Dia didorong ke lantai oleh Joline, lalu mendengar suara menciak yang keras dari belakang. Meski telungkup, dia seolah merasakan lingkaran berwarna kuning melintas di depannya.


“Tuan, cepat bangun. Kita harus segera tinggalkan tempat ini.” Suara cemas Joline terdengar. Joline kemudian dengan kuat menarik Dewey, membawanya menuju sebatang pohon dan bersandar.


Banyak prajurit keluarga Rollin telah mengepung ke sini. Robert melangkah lebar ke sini. Bagaimanapun, prajurit keluarga Rollin memiliki rasa hormat dan loyalitas keluarga yang tinggi. Dalam menghadapi krisis ini, mereka masih tidak melupakan tanggung jawab mereka, pun tidak ada yang kabur. Biarpun setiap orang merasa takut, mereka tetap dengan berani membawa senjata mendekati Tuannya.


“Solskjaer! Solskjaer!” teriak Dewey.


“Aku di sini.” Jawaban terdengar dari sebelah. Solskjaer berdiri dari lantai dengan wajah mengenaskan. Jubahnya sudah kotor, wajahnya juga berlumuran tanah. Pada serangan pertama griffin tadi, dia adalah orang pertama yang telungkup.


“Apa yang sedang kamu lakukan!” Dewey dengan marah bergegas ke sana lalu mencengkeram kerah baju penyihir itu. “Orang-orangku sedang berdarah! Kenapa kamu tidak menggunakan sihir! Cepat! Kalau kamu ingin hidup, cepat serang mereka dengan sihir!”


Topi penyihir jatuh karena diguncang oleh Dewey. Dia mengangguk cepat, kemudian mengangkat tangan ke udara dan menembakkan beberapa bola api. Apa daya, kemampuan Solskjaer terbatas. Serangan sihir yang bisa dia lakukan saat ini hanya teknik bola api berlevel paling rendah. Adapun mantra melambat, sepertinya tidak berefek dalam menghadapi gerombolan griffin.


Saat ini griffin sedang mendorong tentara garnisun lokal Spann untuk melarikan diri. Orang-orang dari keluarga Rollin baru menunjukkan kualitas berbeda saat ini. Mereka berkumpul dan bergabung menjadi kekuatan yang cukup besar. Walau griffin tidak berhenti menyerang, setiap serangannya akan dihadapi dengan pedang dan tembiang. Meski griffin tampaknya tidak berani mendekati senjata-senjata itu, hanya berputar-putar di luar dan mencakar sesekali. Bagaimanapun, binatang buas semacam ini sangat hebat. Prajurit keluarga Rollin tetap mati dengan cepat. Setiap kali griffin menyerang, mereka bisa merenggut satu nyawa.


Tim sedang mundur perlahan. Teknik bola api Solskjaer bisa menghambat dan mengintimidasi griffin, tetapi semakin banyak griffin mengepung mereka. Mereka telah sepenuhnya menghabiskan bawahan Spann. Mayat ada di mana-mana. Bahkan Kesatria Spann sendiri pun berbaring tak bergerak di tempat yang jauh. Entah hidup atau mati.


Raut Robert buruk sekali. Dia meremas pegangan pedang, buku-buku jarinya memutih karena memegang terlalu kuat. Dia dengan suara serak berkata, “Tuan, sepertinya hari ini….” Kesatria ini menggeleng kuat, spontan menarik Joline lalu berbisik, “Aku akan membawa orang bergegas ke sana nanti, lalu kamu segera bawa Tuan turun gunung. Harus cepat! Ingat, harus cepat! Aku akan menarik perhatian makhluk-makhluk ini. Tuan… akan diserahkan padamu.”


Joline dengan terharu berkata, “Kamu mau bunuh diri?”

__ADS_1


Suara Robert terdengar masam. “Aku mengenal makhluk jenis ini. Mereka suka membantai. Kita adalah buruan mereka sekarang. Perjalanan dari sini ke bawah gunung terlalu jauh. Dilihat dari situasi saat ini, kita tidak dapat keluar, hanya bisa mengacaukan situasi supaya Tuan bisa kabur.”


“Tapi….”


“Tapi apa! Nona Joline, jangan lupa kalau kamu adalah seorang kesatria sekarang!” Robert tiba-tiba marah dan berteriak dengan mata memelotot. “Kamu bukan lagi tentara bayaran seperti dulu! Jika kamu tidak mengerti semangat dari kesatria, maka kamu tidak pantas menjadi seorang kesatria! Aku terluka sehingga tidak bisa berlari cepat, kalau tidak aku tidak akan memilihmu untuk mengantar Tuan pergi! Apakah kamu ingin menjadi kesatria sesungguhnya, Joline? Buktikan padaku!”


Joline terguncang dan menatap Robert dengan terkejut. Saat ini tatapan Joline tampak gelisah. Dia mengangkat pedangnya dan berseru, “Aku akan membuktikannya!”


Robert tertawa kemudian menoleh kepada Tuannya.


Dengan mata memicing, Dewey menatap griffin-griffin yang terbang ke sana sini, mencari kesempatan untuk menyerang orang. Dia melihat sampai melamun, melupakan segala hal yang terjadi di sekitarnya. Dia seolah tidak mendengar percakapan Robert dan Joline tadi. Entah apa yang sedang anak ini pikirkan.


Ekspresi syok dan gelisah di wajah Joline sebelumnya tiba-tiba lenyap dan digantikan oleh ketenangan.


Di bawah tatapan terkejut Robert, kesatria perempuan ini spontan menggenggam bilah pedangnya, lalu menarik dengan kuat.


Telapak tangannya langsung tergores dan berdarah.


“Apa yang sedang kamu lakukan!” tanya Robert berseru. Tanpa menjawab, Joline maju beberapa langkah, memisahkan para prajurit keluarga Rollin di depan.


Joline berdiri di depan barisan. Melihat seekor griffin mendekat, sontak kesatria perempuan ini merentangkan kedua tangannya, membuat sidik jari aneh, kemudian lingkaran cahaya berwarna kuning muncul dari tubuhnya.


Di tengah lingkaran cahaya, darah di telapak tangannya tiba-tiba muncrat, lalu menghilang cepat dalam cahaya ini. Seberkas cahaya besar keluar dari Joline, kemudian menyelimuti griffin yang mendekat itu. Griffin tersebut bahkan belum sempat bersuara ketika… hush, menghilang dalam cahaya.


Berubah menjadi debu, griffin ini lenyap begitu saja.


Jangan-jangan… kesatria perempuan ini menggunakan sihir? Jangan-jangan dia seorang penyihir wanita?!


Setelah membuat seekor griffin menghilang dengan teknik aneh, tubuh Joline terhuyung. Dia kemudian melafalkan sepenggal kalimat yang aneh dan sulit dimengerti. Cahaya kuning yang menyelimutinya semakin besar, pada saat yang sama darah di tangan Joline pun mengalir kian deras.


Ketika cahaya kuning secara perlahan menyelimuti semua orang, griffin di sekeliling melolong tapi tidak berani mendekati cahaya ini. Dengan adanya perlindungan dari cahaya, orang-orang keluarga Rollin akhirnya aman. Hanya saja tubuh si kesatria perempuan melemas dan hampir jatuh.


Dari semua orang yang syok, Robert sadar terlebih dulu. Dia mendekat dan memapah kesatria perempuan yang lemah, lalu berkata dengan suara tinggi. “Dia terluka! Siapa yang membawa pengobat luka? Pendarahannya perlu dihentikan!”


Melihat luka di tangan Joline, Robert tertegun.


Luka apa ini! Lukanya terbuka hampir dua kali lipat, kulit di sekitar luka memutih. Ini jelas pertanda kehilangan banyak darah! Namun, kenapa luka gores bisa mengeluarkan darah sebanyak ini? Sekarang, darah Joline masih mengalir deras. Kecepatannya membuat Robert merasa takut.


“Tidak! Tidak boleh dihentikan,” ucap Joline rendah, menggigit bibirnya dengan kuat. “Mantraku perlu dipertahankan dengan darahku. Cepat, cepat lari. Gunakan waktu sekarang untuk lari.”


Meski tidak tahu ini mantra apa, Robert tahu saat ini bukan waktunya bertanya. Dia berteriak, “Semuanya mundur! Kita akan meninggalkan tempat ini!”


“Suruh mereka jangan keluar dari lingkaran cahaya,” tambah Joline.


Namun, tepat ketika semua orang melangkah mundur, hanya Dewey yang bergeming. Robert mengernyit lalu menarik majikan kecilnya yang melamun. Dia pikir majikan kecil ini terlalu syok.


“Tuan, ayo pergi! Cepat!”

__ADS_1


“Tidak.” Dewey tidak bergerak, masih menatap griffin-griffin di depan dengan tatapan berpikir.


Robert tidak sabar. “Kalau tidak pergi akan mati!”


“Tidak.” Dewey masih menggeleng. Sepertinya dia belum sadar.


Robert tidak bisa menahan kemarahannya lagi.


Prajuritnya sedang berdarah, kesatria perempuan sedang mempertahankan mantra dengan darahnya sendiri. Jika tidak segera dihentikan, dia akan mati.


Namun, apa yang sedang dilakukan majikan kecil yang tidak mengerti ini?


Tepat ketika Robert merasa kesal, Dewey akhirnya tertawa.


Heran, bisa-bisanya anak ini tertawa.


Dewey melihat Joline sekilas lalu berkata, “Joline, simpan mantramu. Meskipun ‘alam penghancur sihir’ suku Moon adalah musuh dari semua sihir, itu harus dibayar dengan darah. Aku berterima kasih atas semangat berkorbanmu, tapi sepertinya kita telah dikerjai.”


Robert tertegun. Apakah majikan kecil ini tidak waras? Kenapa ia tidak mengerti ucapannya?


“Robert, cepat hentikan pendarahan kesatria perempuan kita! Apakah kamu ingin melihatnya mati kehabisan darah?” teriak Dewey. Perintah kali ini lebih jelas. Robert tertegun, Dewey menggenggam tangan Joline, lalu mendorong Robert dengan kuat. “Kenapa masih melamun!”


Kemudian Dewey menatap Joline dan berkata, “Terima kasih, atas keberanianmu hari ini. Itu sungguh mengagumkan.”


Selesai berbicara, Dewey tiba-tiba memisahkan prajurit di depan, lalu tertawa pada kelompok griffin di luar. “Sini! Biar aku lihat kemampuan apa lagi yang kalian punya!”


Semua orang berseru terkejut ketika Dewey berlari beberapa langkah. Roh Robert hampir keluar dari tubuhnya. Dia hendak menarik majikannya, tetapi griffin yang berputar di luar lingkaran untuk mencari kesempatan melihat Dewey keluar, lantas griffin tersebut terbang menuju Dewey.


Robert mencoba menyelamatkan Dewey, tetapi griffin itu menabrak. Dia hanya sempat menahan dengan pedang, lalu terdorong. Semua orang membelalakkan mata. Cakar griffin itu dengan mudah menembus badan Dewey, seolah menusuk kertas tipis.


Para prajurit keluarga Rollin merasa pandangan mereka menggelap. Robert nyaris pingsan, sedangkan kesatria perempuan yang lemah menjerit dan melemas.


Melihat Dewey dilempar oleh griffin tersebut lalu mendarat di tanah, hati semua orang mencelos.


Habislah! Habislah!


Majikan kecil mati di sini, maka riwayat mereka semua akan tamat. Sekalipun mereka bisa pulang dalam kondisi hidup, majikan yang harus mereka lindungi telah mati. Mereka pasti akan dihukum mati atas kesalahan ini.


Robert tertegun di tempat. Dia bahkan tidak sadar jika pedang di tangannya jatuh. Saat ini, kesatria pun putus asa.


“Hehe….”


Suara tawa yang aneh terdengar, kemudian ‘mayat’ Dewey berdiri terhuyung-huyung.


Pemandangan tersebut membuat mata semua orang membola.


Badan Dewey berlumuran darah, dadanya berlubang. Lubang darah ini hampir menembus tubuhnya. Darah tak henti-hentinya mengalir, tetapi Dewey hanya mengernyit, melihat lukanya kemudian tertawa. “Ini cukup sakit, hehe… seperti sungguhan.”

__ADS_1


Dia menyentuh darah pada lukanya, melihat lalu menciumnya, kemudian bergumam sendiri. “Hm, memang mirip, darah saja seperti benaran.”


__ADS_2