Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 54: Guru Vivian


__ADS_3

“Benar, aku adalah guru Vivian.”


Penyihir tua mengangkat jarinya dan mengait, Dewey tiba-tiba merasa tangannya kosong. Gulungan sihir yang dia sembunyikan di saku tiba-tiba berada di tangan penyihir tua.


“Lihat, gulungan sihir ini adalah buatanku.” Penyihir tua melihatnya sekilas, lalu memasukannya ke dalam jubahnya. “Kembali ke pemilik semula.”


“Kamu … kamu datang untuk meminta barang Vivian.” Dewey tersenyum masam.


“Awalnya itu tujuanku, tetapi setelah melihatmu, aku berubah pikiran.” Penyihir tua tersenyum.


Dewey tiba-tiba memiliki firasat buruk. Sayangnya, ketika berdiri dari kursi, dia merasa tubuhnya terasa ringan.


Tanpa membaca mantra, penyihir tua mengaitkan jari kepada Dewey, tubuh Dewey langsung menjadi kaku, menggantung dan membeku di udara.


Selain matanya yang bisa bergerak, Dewey merasa dirinya seperti sepotong daging gantung.


“Dengar, Nak.” Penyihir tua tiba-tiba mengulurkan tangan untuk menyentuh kepala Dewey. “Tampaknya aku tidak salah lihat. Kepalamu memiliki sesuatu yang menarik. Apakah kamu mengandalkan itu untuk menggunakan sihir?”


Kali ini bola mata Dewey pun tidak bergerak.


Bagaimana dia tahu?!


“Murid kecilku yang imut keluar sekali, alhasil semua barangnya ditipu, hampir mati di sebuah pulau terpencil, dan kehilangan naganya.” Nada penyihir tua terdengar mengejek. “Setelah pulang, aku bahkan menemukan bahwa sedikit ingatan dari murid kecilku yang malang dihapus dengan sihir. Sebagai guru yang bertanggung jawab, aku harus melakukan sesuatu, kan?”


Penyihir tua mengibaskan tangan, Dewey langsung bisa berbicara. “Kamu … kamu tidak berpikir kalau aku pelakunya, kan?”


“Sulit dikatakan. Awalnya aku tidak berpikir demikian.” Cahaya tak kentara melintas di mata penyihir tua. “Tetapi, kamu seorang anak keturunan keluarga Rollin yang awalnya tidak punya bakat sihir, tiba-tiba menggunakan sihir. Aku rasa itu pasti ada kaitannya dengan pulau terpencil itu.”


Dewey menatap penyihir tua itu dengan teliti, ingin mencari tahu tentang sesuatu. Namun, kalimat berikut dari penyihir tua membuat semua kata-kata Dewey tertelan kembali.


“Oh ya, bagaimana kabar Chris?”


Kali ini ekspresi Dewey sepenuhnya berubah.


Bisa-bisanya dia mengetahui pelayan iblis itu, Chris!


Keesokan paginya, para pelayan panik karena Tuan Muda kecil mereka menghilang.


Di teras tempat Tuan Muda Dewey beristirahat terdapat catatan dengan tulisan tangan Dewey.


Aku dibawa pergi oleh penyihir.


Kalimat tersebut ditulis oleh Dewey sendiri. Dia tidak menggunakan kata ‘culik’, melainkan ‘dibawa pergi’ yang ambigu.


Selain itu, jelas sekali jika Dewey menulis surat itu seizin penyihir yang membawa Dewey pergi.


Karena tidak hanya ada tanda tangan Dewey di sana, tetapi ada sebuah simbol juga.


Semua orang tidak mengerti simbol itu, akhirnya satu-satunya penyihir di kastil, Solskjaer, yang mengerti.


“Sepertinya ini tanda pribadi seorang penyihir.” Solskjaer berpikir sejenak. “Beberapa penyihir tua terbiasa menggunakan benda semacam ini sebagai tanda tangan. Kita bisa mencari tahu milik siapa tanda tangan ini di Serikat Sihir.”


Hal yang membuat seluruh penghuni kastil tegang adalah Dewey dibawa pergi oleh seorang penyihir. Ini baru sebulan lebih sejak insiden dia diculik oleh seorang penyihir terakhir kali.


Jangan-jangan dendam muncul antara keluarga Rollin dan penyihir itu karena kejadian terakhir kali? Penyihir itu menculik Tuan Muda Dewey lagi sebagai balas dendam?


Masalah ini langsung dilaporkan kepada Earl Raymond.


Anehnya, setelah simbol pada catatan itu dibawa ke Serikat Sihir, Serikat Sihir hanya diam.

__ADS_1


Bahkan Earl Raymond yang awalnya murka mengetahui bahwa putra sulungnya lagi-lagi dibawa pergi oleh penyihir – setidak-suka apa pun dia terhadap putranya itu, tindakan penyihir yang menculik anaknya sebanyak dua kali bisa dianggap sebagai provokasi terhadap keluarga Rollin – setelah melihat simbol itu, amarahnya langsung menghilang, kemudian dia hanya diam dan tidak mengungkit satu kata pun kepada dunia luar.


Berbeda dengan pertama kali Dewey diculik penyihir, kali ini baik keluarga Rollin maupun Serikat Sihir hanya diam. Kedua belah pihak menekan hal itu seperti memiliki kesamaan.


Solskjaer yang cemas akhirnya mendapat sebuah kabar dari seseorang yang bertanggung jawab menjual bahan sihir di Serikat Sihir.


“Simbol dari penyihir yang membawa pergi Tuan Muda keluarga Rollin itu milik seorang penyihir kuat yang bahkan tidak berani diusik oleh Serikat Sihir. Dia tidak ada dalam catatan maupun dokumen apa pun di Serikat Sihir. Jangankan membawa Tuan Mudamu pergi, sekalipun anak Yang Mulia Kaisar yang dibawa pergi, Yang Mulia juga hanya bisa diam.”


Dewey sangat kesal sekarang.


Pertama, dia tidak tahu sihir apa yang pria tua itu terapkan padanya. Dewey merasa tubuhnya bukan lagi milik dia sendiri.


Ini adalah kejadian ‘penculikan’ yang aneh.


Pikiran, kesadaran, otak Dewey adalah milik dia sendiri, tetapi tubuhnya dikendalikan oleh penyihir tua.


Seperti sekarang.


Penyihir tua duduk santai di rerumputan dan bersandar pada sebatang pohon, menonton Dewey yang sedang sibuk membuat api.


Dewey sudah memaki pria tua itu berulang kali dalam hati, tetapi dia tidak bisa melakukan apa pun.


Karena pria tua hanya mengatakan “nyalakan api” padanya, alhasil Dewey melihat dirinya berdiri, mengumpulkan cabang dan menyalakan api unggun, meniup asap hingga terbatuk. Biarpun marah, dia kehilangan kendali atas tubuhnya.


Dia seperti boneka yang sepenuhnya mematuhi kata-kata penyihir tua.


Penyihir tua mengeluarkan tas kain dari bawah jubahnya. Tas kain kecil itu jelas merupakan alat sihir juga sebab penyihir tua mengeluarkan kaki domba, sebotol anggur enak, bahkan satu set pakaian baru, dan beberapa botol.


Tas kain itu seolah mengisi banyak barang.


Penyihir tua kemudian memberi perintah. “Panggang!”


Ini adalah siksaan.


Awalnya Dewey memaki dengan emosi, tetapi penyihir tua memberi hukuman dengan mudah. Dia hanya melihat Dewey sekilas, lalu berkata, “Tampar mulut.”


Kemudian Dewey melihat tangannya terangkat dan menampar mulutnya sendiri.


Setelah menampar sebanyak lima hingga enam kali, Dewey hanya bisa menahannya. Meskipun dalam hati mengutuk hampir semua leluhur penyihir tua, dia tidak berani mengatakan apa pun lagi.


Setelah penyihir tua kenyang, dia melihat Dewey yang memutar bola mata di samping, tiba-tiba tersenyum. “Kamu lumayan terampil. Aku sudah lama tidak makan barbekyu selezat ini.”


Dewey langsung memutar bola mata.


“Sekarang tidur.” Penyihir tua mengakhiri percakapan, kemudian membalikkan badan, bersandar di batang pohon dan memejamkan mata.


Sedangkan Dewey?


Dia tidak ingin tidur, tetapi tubuhnya dikendalikan oleh orang lain. Dia hanya bisa membiarkan tubuhnya meregangkan pinggang, kemudian berbaring dan memejamkan mata.


Bagaimana dia berusaha, matanya tetap tidak dapat terbuka, dia juga tidak bisa duduk.


Karena perintah penyihir tua adalah tidur.


Apa-apaan ini? Dewey merasa dia seperti berubah menjadi komputer di kehidupan sebelumnya. Setelah dimasukkan ke dalam program, maka akan dieksekusi tidak peduli apakah dia bersedia.


Penyihir tua membawa Dewey melakukan perjalanan menuju utara selama lima hari berturut-turut.


Malam itu, penyihir tua membawa Dewey terbang dari kastil, lalu berjalan menuju utara. Sehari kemudian, ketika keduanya melewati sebuah kota kecil, penyihir tua menyuruh Dewey untuk membeli dua ekor kuda.

__ADS_1


Dewey tidak bisa memberontak, apalagi kabur. Selain pikirannya, tubuhnya milik penyihir tua.


Dewey sempat bertanya kepada penyihir tua tentang sihir apa yang diterapkan padanya.


Penyihir tua tidak menjawab.


Dewey juga bertanya, “Kenapa kamu tahu Chris? Apa kamu mengenalnya? Kamu tahu pulau kecil itu?”


Penyihir tua tidak menjawab.


Dewey bertanya, “Kita akan pergi ke mana?”


Penyihir tua tidak menjawab juga.


Dewey nyaris gila.


Melakukan perjalanan sepanjang hari, terutama menunggangi kuda jarak jauh, benar-benar merupakan ujian sulit bagi Dewey yang kebugaran fisiknya biasa saja. Tubuhnya yang kurus dan lemah sudah tidak tahan, tetapi penyihir tua tidak berniat untuk melepaskannya.


“Haruskah kita naik kuda?” Dewey akhirnya tidak tahan. “Bukankah penyihir hebat seperti kamu bisa terbang kemana pun yang kamu inginkan?”


Kali ini penyihir tua akhirnya menjawab.


“Tempat yang akan kita kunjungi sangat spesial. Terbang jarak jauh akan mengurus kekuatan sihirku. Aku harus mempertahankan kekuatan sihir sebelum tiba di sana.”


Itu adalah satu-satunya pertanyaan Dewey yang dijawab oleh penyihir tua.


Dewey murung karena dia tidak dapat memanggil Semel.


Dia tahu bahwa Semel pasti berada di sisinya, tetapi makhluk sihir itu sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya.


Semakin menuju utara, cuaca semakin dingin. Dataran Rollin ada di selatan yang iklim hangat. Dewey hanya mengenakan kemeja tipis. Setelah beberapa hari, Dewey jelas merasakan bahwa cuaca sangat dingin. Tangan kakinya membeku, dia gemetar saat menunggang kuda.


Akhirnya penyihir tua memperlihatkan rasa ibanya. Dia mengajari Dewey beberapa gerakan aneh dan menyuruh Dewey melakukannya setiap hari sekali sebelum istirahat.


Gerakan-gerakan itu seperti gerakan senam di kehidupan sebelumnya, tetapi lebih aneh. Ada beberapa postur yang mengharuskan tubuh menekuk dengan terampil dan sulit dilakukan. Namun, di bawah perintah penyihir tua, biarpun Dewey kesakitan hingga air matanya hampir keluar, tubuhnya tetap melakukan perintah penyihir tua.


Anehnya, gerakan-gerakan itu berefek. Setiap kali selesai melakukannya, Dewey merasa tubuhnya hangat. Rasa hangat itu mengusir rasa dingin.


Setiap hari melakukan gerakan aneh itu, Dewey merasa tubuhnya jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Pada hari kedua puluh, mereka tiba di wilayah utara daratan. Cuaca di sana beberapa kali lipat lebih dingin dibandingkan wilayah selatan. Tidak ada tumbuhan di sekitar, semuanya dilapisi salju.


Angin wilayah utara menerpa wajah rasanya seperti disayat pisau. Jalan pun semakin hari semakin sulit dilewati.


Mereka mengalami badai salju.


Salju menutupi jalan sehingga kuda tidak bisa melewatinya, dan setinggi paha ketika diinjak.


Akhirnya penyihir tua berbaik hati. Mereka mencari sebuah kota kecil dan tinggal di penginapan. Penyihir tua meninggalkan Dewey di dalam kamar, kemudian keluar.


Dewey tidak bisa melarikan diri karena penyihir tua memberi perintah, “Duduk, jangan bergerak dan bersuara.”


Penyihir tua kembali ketika senja dan membawa sebuah tas besar. Dia membuka tas berisi jaket kulit tebal, baju besi kulit, topi kulit domba, sepatu bot tinggi untuk berjalan di salju, dan pedang di depan Dewey.


“Pakai. Kita akan berangkat.” Perintah penyihir tua sangat sederhana.


“Kita akan pergi ke mana?” Dewey bertanya lagi.


Kali ini penyihir tua akhirnya menjawab, “Hutan Beku.”

__ADS_1


__ADS_2