Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 7: Hati Gelisah


__ADS_3

Awan di langit terbakar oleh matahari terbenam. Pada petang musim semi, sebuah kereta berdekorasi mewah melaju di jalan provinsi selatan Cotte. Kereta indah ini terbuat dari bahan terbaik. Badan kereta berwarna hitam keren, serta ukiran indah dan pola bercat emas. Semua menunjukkan identitas mulia pemilik kereta ini.


Terutama lencana keluarga di kereta.


Lingkaran iris berputar di sekitar bilah dua pedang yang bersilangan. Di gagangnya ada mahkota, diselimuti api membara.


Hanya bangsawan yang memiliki pemahaman tentang lencana barulah mengetahui betapa menakjubkannya lencana itu. Dari semua keluarga di kekaisaran, hanya sedikit yang bisa mengukir dua pedang bersilangan di lencana. Dua pedang ini menandakan bahwa setidaknya ada satu orang setingkat marshal kekaisaran dalam sejarah keluarga. Sedangkan mahkota di atas adalah simbol hubungan darah keluarga dengan keluarga kerajaan.


Di bagian depan dan belakang kereta, ada sepuluh ksatria pelindung dengan baju besi dan pedang yang menunggang kuda. Baju besi mereka dipoles dan senjata mengkilap. Tapi yang tidak sesuai dengan pakaian indah itu adalah setiap ksatria tampak murung.


Sia duduk di sebelah kusir. Dia menggigit akar rumput dengan bosan, melihat langit sekilas, lalu menghela napas dalam-dalam sebelum berbalik, membungkuk lalu mengetuk jendela kereta kuda. “Tuan Dewey, maukah kita mencari tempat untuk istirahat? Langit sudah gelap.”


Di kereta kuda, Dewey yang bacaannya terganggu, mengangkat kepalanya, membuka jendela dan melihat matahari terbenam di cakrawala. “Baiklah.”


Sia segera menyahut. Saat ini seekor kuda berlari kencang dari depan dan tiba di depan kereta kuda. Seorang ksatria pelindung keluarga Rollin sedikit terengah-engah. “Tuan Pengurus, ada sebuah kota kecil di depan. Tampaknya itu tempat satu-satunya yang bisa kita pilih untuk beristirahat malam ini.”


Sia yang dulunya pemberi makan kuda masih belum terbiasa dipanggil ‘Tuan Pengurus’. Tapi pria jujur itu mengangkat topinya dan mengangguk pada ksatria muda berkuda yang ada di depannya. “Tuan sudah angkat bicara. Kita beristirahat di depan hari ini.”


Melihat wajah setia dan tegas ksatria muda itu, Sia menghela napas dalam hati. “Anak muda yang sederhana.”


Hanya dua puluh ksatria pelindung yang mengikuti Tuan Muda Dewey pulang ke rumah leluhur Rollin.


Sebagai putra sulung Earl Raymond - orang kedua dari komando militer kekaisaran, Dewey melakukan perjalanan jauh tetapi hanya membawa dua puluh pelindung, dirinya yang merupakan ‘pengurus’ dan seorang kusir.


Barisan pengikutnya terlalu sedikit.


Harus diketahui bahwa keluarga bangsawan di ibukota kekaisaran akan membawa banyak pelayan dan penjaga walau hanya bertamasya.


kedua-puluh ksatria pelindung ini pun dipilih dengan ‘cermat’.


Semua orang tahu bahwa Tuan Muda Dewey telah sepenuhnya tak disukai oleh keluarga. Masa depan keluarga ada pada adiknya. Meskipun tidak dikatakan secara gamblang, semua orang tahu bahwa status ‘pewaris keluarga’ telah dicabut dari Tuan Muda Dewey.


Tak diragukan lagi masa depan mereka yang mengikuti majikan yang dikirim ke kampung halaman untuk mengurus properti keluarga sangat suram. Setiap orang memiliki keinginan untuk maju. Setiap orang ingin tinggal di ibukota kekaisaran yang makmur. Tidak ada yang ingin mengikuti majikan tak berguna ke pedalaman untuk menjalani kehidupan biasa.


Terutama para ksatria itu. Siapa yang tidak ingin tinggal di ibukota kekaisaran? Jika tinggal di sisi Earl, ada kemungkinan untuk naik pangkat dengan mengandalkan keterampilan bela diri. Jadi ketika diatur untuk menemani Tuan Muda Dewey pulang kampung, setiap orang menghindar. Tidak ada ksatria yang bersedia membuang waktunya untuk menemani majikan gagal kembali ke kampung guna mengurus para petani.


Alhasil, dua puluh ksatria yang akhirnya terpilih tak diragukan lagi sekelompok orang sial. Di antaranya ada yang kurang hebat dalam seni bela diri, tidak dipandang penting, biasanya menyendiri, tidak disukai dan dikucilkan rekan kerja, dan anak muda polos yang mudah ditipu.

__ADS_1


Melihat ksatria muda yang kembali setelah mencari petunjuk jalan, Sia menilainya dalam hati. Dia pasti anak muda polos yang tidak mengerti. Belum sadar kalau mereka semua telah diasingkan.


Setelah keluar dari ibukota kekaisaran, semuanya merasa lesu sepanjang jalan. Hanya Tuan Muda Dewey yang masih mempertahankan sikap santai.


Biarpun diasingkan, mereka tidak mendengar Tuan Muda ini mengeluh sama sekali. Setiap hari dia hanya membaca buku yang dibawa dari rumah di kereta kuda, jarang berbicara, dan bersikap lembut terhadap orang-orang.


Menarik kembali pikiran rumit, Sia berteriak keras, menyuruh semuanya bergerak lebih cepat. Suasana hati mantan pemberi makan kuda yang sekarang menjadi pengurus ini cukup baik. Setidaknya dia sangat pandai menghibur diri. Persetan. Mau diasingkan atau apa pun, terserah. Lagi pula dia dulu hanya seorang pemberi makan kuda. Dia bisa seperti hari ini berkat Tuan Muda. Biarpun hanya seorang ‘pengurus’ yang diasingkan, setidaknya gaji bulanannya bertambah beberapa koin emas. Ini kenyataan.


Menyentuh kantong uang di dekapannya, Pengurus Sia mengulas senyum.


Hm, dengar-dengar, gadis di provinsi Cotte bagian selatan kekaisaran memiliki kulit halus dan tubuh kecil. Siapa tahu aku bisa menikahi seorang wanita di sini.


Kota Kayu Raksasa adalah kota satu-satunya dalam radius seratus mil. Kota dengan ratusan penduduk ini hanya memiliki satu kedai dengan nama yang sangat sederhana: Kedai Kayu Raksasa.


Kedai itu kedai satu-satunya sehingga bisnisnya lumayan bagus. Minuman beralkohol murah, barbekyu murah, pelacur murah. Masyarakat golongan bawah juga memerlukan hiburan, bukan?


Ketika kereta Dewey tiba di depan kedai ini, Dewey mengangkat kepala dan menutup buku, kemudian memadamkan lantera.


Keluar dari kereta, Dewey melihat papan berkarat yang tergantung di atas kedai berayun karena angin. Suara bising di dalam terdengar sampai luar. Ada lampu di jendela.


Dewey masuk terakhir. Para ksatria telah menyelesaikan tugas ketika dia masuk. Mengosongkan sebuah tempat, membersihkan meja, lalu mengepung Dewey dalam lingkaran yang aman.


Pelanggan kedai menilai Dewey, anak yang sangat belia itu.


Dewey berperawakan tinggi. Bagaimanapun, dia terlahir di keluarga Rollin - keluarga seni bela diri. Hanya saja tubuhnya agak kurus. Pakaian indah di tubuhnya, bahkan kerah dan ujung lengan pun dihiasi renda, menunjukkan status bangsawannya. Selain rambut kemerahan khas darah Rollin yang agak mencolok, kesan yang dia berikan adalah terpelajar dan lemah.


Wajah pucat, tubuh ramping, putih dan diam, dengan sebuah buku di tangan.


Ksatria pelindung lain sudah mulai memindahkan koper. Sia memberikan beberapa koin. Bos kedai segera membersihkan beberapa kamar, mengatur orang untuk memberi makan kuda dan lain-lain.


Dan saat ini Dewey sedang menahan berbagai tatapan aneh dari sekeliling.


“Oh, tampaknya dia seorang tuan bangsawan!”


“Wah, kenapa seorang tuan bangsawan datang ke tempat seperti ini?”


“Bos, kurasa kamu harus menyimpan kursi yang diduduki anak itu. Siapa tahu bisa menjualnya dengan harga tinggi!”

__ADS_1


Hening sesaat kemudian, kedai kembali bising. Orang-orang membicarakan Dewey dan rombongannya. Kedai kecil murahan kedatangan tuan bangsawan berpakaian mewah jelas hal yang langka.


Beberapa wanita dengan riasan tebal, pakaian tipis yang mengekspos pundak dan belahan dada mencoba melakukan pendekatan dengan Dewey. Tapi Sia Tua mengusir semua pelacur itu.


Setelah didorong ke samping, dua pelacur tidak bisa menahan diri untuk tidak memarahi Sia dengan bahasa gaul daerah itu. Sia juga tidak peduli. Seseorang yang mabuk memeluk pelacur itu. “Aha! Sayang, apa bagusnya anak kecil? Sebaiknya biarkan aku menyayangimu.” Selesai berbicara, dia mencubit bokong wanita tersebut. Pelacur itu tersenyum dan segera duduk di pangkuan si lelaki mabuk.


Dengan tenang, Dewey minum segelas bir. Ketika orang-orang di sekeliling menunjuk-nunjuknya, dia hanya mengernyit.


Para ksatria juga tampak lesu. Di tempat yang penuh dengan minuman keras dan bedak murah ini, mereka mulai meratapi masa depan.


Aish… andaikan bisa tinggal di ibukota kekaisaran!


Pada saat ini, pintu kedai dibuka, lalu beberapa orang masuk, tiga lelaki dan satu perempuan. Dilihat dari wajah berdebu dan pakaian mahalnya, mereka jelas bukan penduduk lokal. Orang luar kota seperti Dewey dan yang lainnya.


Kedai seketika hening karena semua pria memfokuskan tatapan mereka pada gadis di antara beberapa orang itu.


Gadis itu berusia sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun, dengan rambut cokelat panjang dan wajah cantik yang jelas memiliki daya tarik kuat terhadap lawan jenis. Baju besi kulit yang dikenakan jelas berkelas dan entah terbuat dari kulit monster apa, memancarkan warna biru. Bagian atas juga terdapat beberapa pola aneh. Tubuh bagian bawahnya sangat panas. Dia memakai celana pendek, mempertontonkan paha montoknya yang seputih salju. Sebuah belati terikat di pahanya. Parang menggantung di pinggang, busur kecil di punggung, dengan deretan panah perak yang tertancap di tabung.


Dilihat dari perak cerah panah, Dewey mengenali bahwa itu perak murni. Sungguh mewah menggunakan busur dan anak panah yang terbuat dari perak murni.


Paha montok gadis cantik itu langsung menjadi titik fokus para lelaki di kedai. Dia tidak sengaja membungkuk, dan garis leher baju besi kulit yang unik memperlihatkan belahan dada yang putih. Seketika, dua pria mabuk yang duduk berdekatan itu membelalakkan mata dan gelas bir di tangan mereka jatuh ke lantai.


Dari beberapa teman pria gadis itu, seorang pria kuat dengan tubuh seperti banteng mengenakan baju besi dan membawa perisai berat di punggung. Dilihat dari tampilan maskulin dan otot-otot luar biasa dan bekas luka di lengannya, dia pasti prajurit yang kuat. Yang satu lagi kurus dan terlihat tajam. Busur panjang menggantung di bahunya. Dilihat dari tali busur hitam, jari ramping dan kuatnya, serta cincin besi hitam di jari, dia pasti seorang pemanah.


Dan pria terakhirlah yang paling Dewey perhatikan.


Dia berjubah abu-abu panjang dengan paras sederhana, tetapi matanya memancarkan kilat tajam. Pakaiannya sangat sederhana sehingga semua orang mengabaikannya.


Namun, Dewey malah paling memperhatikan lelaki tersebut. Karena seluruh tubuhnya terbungkus jubah, dan di dadanya ada sebuah lencana berbentuk daun perak.


Penduduk tempat ini tidak mengenal lencana tersebut, tapi lain halnya dengan Dewey. Para ksatria keluarga Rollin yang berpengetahuan luas juga mengenalnya.


Lelaki berjubah abu ini adalah seorang penyihir. Meskipun hanya penyihir level terendah.


Tapi lencana daun perak di depan dadanya tak diragukan lagi menunjukkan bahwa dia adalah penyihir sejati yang lulus sertifikasi masyarakat sihir.


Setelah menelisik lencana itu untuk beberapa waktu, sebuah pikiran muncul di benak Dewey.

__ADS_1


__ADS_2